Beberapa belas tahun yang lalu, waktu masih remaja, saya pernah menonton film berjudul Days of Wine and Roses. Film ini bercerita tentang pasangan suami istri yang alkoholik. Yang main Jack Lemmon dan Lee Remmick. Film produksi tahun 1962. Filmnya cukup singkat, tapi pengaruhnya terasa sampai sekarang. Waktu itu nontonnya di malam hari. Saya kaget melihat akting mereka. Sutradara film, Blake Edwards, tidak tanggung-tanggung mengambil close-up muka Jack Lemmon waktu menjerit karena dilarang minum alkohol di rumah sakit. Saya menggigit bantal melihat Lee Remmick membakar rumah dan nyaris membakar anaknya sendiri saat di bawah pengaruh alkohol. Akhir film yang memperlihatkan mereka berdua takluk di bawah tulisan “Bar” membuat hati mencelos. Saya langsung menelepon teman saya yang belum tidur (maklum, waktu itu belum ada telepon seluler yang bisa dipakai ngobrol pakai WhatsApp), dan berkata, “Bok, amit-amit gue kecanduan minum. Ingetin ya kalo kebablasan.”

Days of Wine and Roses (sumber: Google)
Days of Wine and Roses (sumber: Google)

Beberapa tahun kemudian, waktu Googling tentang film yang barusan ditonton sudah menjadi kebiasaan, saya baru tahu kalau film di atas jadi tayangan wajib bagi penderita kecanduan alkohol di Amerika Serikat. Sutradara dan pemain film pun mengakui bahwa mereka sempat mengalami kecanduan alkohol di dunia nyata. Lewat film yang mereka buat, mereka memutuskan untuk berhenti.

Namun apakah semudah itu berhenti dari kecanduan?

Tak seberapa lama setelah menonton Days of Wine and Roses, saya ingat pernah nonton film tahun 1945 berjudul The Lost Weekend. Menilik tahunnya, film ini salah satu pioneer film-film bertema alcoholism. Namun ditonton puluhan tahun kemudian, masih membuat hati sedih. Melihat tokoh yang diperankan Ray Milland dibuat tak berdaya melihat gelas whiskey, dan sedemikian rupa menyembunyikan botol-botol minuman keras dalam mesin tik, lemari obat, ranjang, tangga darurat dan sebagainya, membuat saya terhenyak waktu itu.

The Lost Weekend (sumber: Google)
The Lost Weekend (sumber: Google)

Angelina Jolie dalam wawancara dengan James Lipton dalam program Inside the Actor’s Studio pernah menyebutkan hal di bawah ini saat mendiskusikan film Gia yang dibintanginya, film biografi tentang model 1980-an Gia Carangi:

Angelina Jolie (AJ): … but addiction? I know addiction.
James Lipton (JL): You know it you say.
AJ: Uh huh.
JL: You know addiction.
AJ: I know addiction in all forms, yeah.
JL: Drug addiction?
AJ: I know addiction in all forms, yes.

Meski tak menjelaskan lebih lanjut tentang detil dari kecanduan yang dimaksud, saya melihat wawancara tersebut dengan rasa penasaran.
Begitu banyak jenis candu dan kecanduan yang ada, mulai dari substance abuse sampai yang tidak pakai jenis obat apapun, yang kita alami sendiri atau yang kita lihat di lingkungan kita, yang kita tonton atau yang kita baca, apakah mungkin “all forms of addiction” ini semuanya dialami sendiri oleh mbak Angie?

Waktu menulis postingan ini, saya ingat pernah menonton di VCD film The Basketball Diaries. Film ini dirilis waktu Leonardo DiCaprio masih kinyis-kinyis (rhyming bener, manis!), bahkan sebelum dia jadi “king of the world” di Titanic. Yang membuat film ini istimewa dan masih nempel di ingatan adalah adegan Leo, yang sedang sakaw heroin, menggedor pintu rumahnya sambil menangis. Dia memohon ibunya agar bisa masuk ke rumah (dan mengambil heroin), dan adegan yang memperlihatkan Leo meratapi dirinya sendiri sambil bersender di pintu, sementara ibunya menahan pintu sambil terisak-isak, mengangkat film ini menjadi berkualitas jauh lebih baik. Dan yang pasti, adegan ini masih menempel kuat di ingatan.

The Basketball Diaries (sumber: Google)
The Basketball Diaries (sumber: Google)

Saya sendiri tidak merokok, jarang minum, tidak memakai heroin atau jenis narkotika lainnya. Kalaupun pernah masuk rumah sakit, itu karena kecelakaan motor di usia belasan, lalu beranjak karena penyakit asam urat, gara-gara saya tidak pernah bisa berhenti mengkonsumsi kacang goreng dan emping. True story. Bahkan waktu menonton lagi film-film di atas, saya masih nonton sambil ngemil, meski dokter sudah melarang. Kecanduan? Bisa jadi.

Banyak hal yang membuat kita kecanduan. Kurang lebih sama dengan “mantra” dari Gordon Gekko, tokoh yang dimainkan dengan cemerlang oleh Michael Douglas di film Wall Street: “Greed is good”.
Setuju atau tidak setuju, tergantung dalam konteks apa dulu.

Namun kecanduan lain yang mungkin kita alami, saya pernah melihat di separuh akhir sampai akhir film She’s so Lovely. Film yang tidak terlalu terkenal, namun berkesan.
Silakan Google sendiri mengenai cerita lengkap film ini. Yang jelas, ketika Robin Wright melihat lagi Sean Penn dengan tatapan penuh rindu, meskipun sepuluh tahun yang lalu mereka pernah di ambang kematian gara-gara kebodohan mereka sendiri, dan sekarang Robin sudah menikah dengan John Travolta yang di cerita ini adalah pria baik-baik, kita memahami bahwa ada satu jenis kecanduan yang tak mungkin terobati: cinta.

She's so Lovely (sumber: Google)
She’s so Lovely (sumber: Google)

Cinta membutakan kita. Membuat kita kecanduan, apalagi terhadap sosok yang mampu membuat hati berdebar-debar. Padahal terkadang kita sudah ajeg dalam kemapanan.

Dan kalau kita sudah kecanduan terhadap jatuh cinta itu sendiri, apa lagi yang bisa kita perbuat?
Sakit hati tidak ditanggung BPJS, demikian kata beberapa meme yang beredar akhir-akhir ini. Karakter-karakter di film di atas pun jatuh dalam jurang kecanduan karena pembuktian diri atas kata cinta, baik terhadap diri, terhadap pasangan, maupun terhadap apa pun yang membuat kita “terasa” lebih baik.

Love is the greatest addiction, indeed. That’s fact.

7 thoughts on “Candu Leave a comment

  1. Kalau dari lokal, ada film Selamanya (Julie Estelle dan Dimas Seto) yang bercerita soal kecanduan obat terlarang.

  2. Cinta memang candu. Tapi selalu ada burger enak dan creme brule rasa caramel plus teman ngomong yang muncul di stasiun kereta hari itu. Lumayan mengobati

Leave a Reply