Peace Money dan Please, Jangan Terima Susu Banci*, Please…

“Berdoalah Nak!

Jika kau pulang larut malam, berdoalah tak terjadi apa-apa. Apabila ternyata bertemu dengan perampok atau pencoleng, bersyukurlah. Karena kau akan selalu berada di posisi yang benar.  Jangan pernah berdoa untuk bertemu dengan polisi di jalanan, karena posisimu dipastikan berada di pihak yang salah.”

“Banksy”, 2015 – Setelah berwisata ke Indonesia (ya, ngaku deh ini ngarang).

Salah satu kota yang saya suka adalah Semarang. Selain karena lumpianya, Semarang adalah kota dimana dunia intelektual dapat tumbuh kembang dengan sempurna. Terbukti dua Nobel Prize telah diraih oleh dua sosok kelahiran Semarang.

Willem_Einthoven

Pertama, namanya Willem Einthoven. Dia lahir 21 Mei 1860 di Semarang saat ayahnya bertugas di kota ini. Willem menciptakan mesin pembaca denyut jantung yang dikenal dengan EKG, atau istilah britisnya jadi electro cardiogram. Atas jasanya ia mendapat hadiah nobel di bidang kesehatan pada tahun 1924. Keren bukan?

Peraih nobel selanjutnya adalah bukan sosok manusia, namun institusi. Di Semarang lahir lembaga yang mendapat hadiah nobel perdamaian. Ya. Namanya Akademi Polisi. Akademi yang melahirkan banyak sekali perwira polisi yang cinta damai.

Polisi terbagi dalam beberapa bidang tugas, antara lain: lalu lintas, reserse kriminal, reserse kriminal khusus, ada juga reserse narkoba, polisi intelejen dan keamanan,  polisi yang bertugas dalam bimbingan masyarakat, sabhara, pengamanan obyek vital, polisi air, polisi tahanan dan barang bukti, dan masih banyak lainnya.

Dari sekian banyak bidang tugas, mana yang kita ketahui dan seringkali kita jumpai? Polisi lalu lintas?

Mereka menertibkan jalan raya dengan sepenuh hati. Tidak pernah sekalipun polisi lalu lintas dengan sengaja mencari-cari kesalahan pengendara. Jika pun kita ditilang, pasti karena kesalahan kita. Jika kita tak merasa bersalah, dengan senang hati dan penuh sabar, polisi akan menunjukkan apa salah kita. Bisa khilaf maupun sengaja. Tapi ya tetap salah.

Lantas kita diberi surat bukti pelanggaran. Disingkat tilang. Nanti uang hukuman dari tilang ini harus disetorkan ke kas negara. Jarang sekali selesai di tempat. Bahkan di era Jokowi ini sepertinya sudah ndak ada lagi. Jika pun ada yang meminta, maklumi saja. Bisa jadi karena tanggal tua. Ada baiknya kita berbagi rejeki dengan mereka. Berbagi itu indah dan menentramkan. Hati menjadi damai.

Ya.

Polisi itu cinta damai. Semua pengendara sebaiknya menyisihkan sebagian rejekinya  di dalam dompet untuk uang tak terduga yang lebih dikenal dengan uang damai. Salah belok, lupa bawa helm, atau plat motor yang  tak terpasang sempurna adalah jalan menuju kedamaian. Peace Money.

Bisa jadi ini adalah alasan mengapa Polisi mendapat hadiah nobel.

Saat adik mahasiswa ingin mencari kerja, mereka dengan ikhlas berbondong-bondong datang ke kantor polisi. Mereka dengan senang hati, senyum sumringah akan menyambut kita.

“Ada yang bisa kami bantu, Dik?”

Kami perlu Surat Keterangan Berkelakuan Baik, Pak.

“Baik Dik”.

Mereka langsung mengetik. Mereka akan menulis identitas kita. Mereka baik-baik. Polisi tak meminta imbalan apapun. Sungguh! Surat itu lalu menjadi syarat adik mahasiswa melamar kerja. Lihat! Betapa baiknya mereka.

—-

Bagaimana dengan penegakan hukum?

Wah keren abitz bro! Bayangin aja, kita bikin laporan polisi tanpa dipungut biaya. Motor gue pernah raib bro, terus gue lapor ke kantor polisi terdekat. Tanpa ba-bi-bu, setelah mendapat laporan kita, mereka langsung bergerak, berpencar, dan melakukan olah TKP. Lalu mereka saling kontak antar rekan. Tidak lama setelahnya motor gue balik lho Bro! Katanya penjahat yang ngambil motor gue mati diberondong peluru.

Begitulah teman saya cerita tentang Polisi, saat dirinya sedang kuliah S3 di Amerika, tapi.

Bagaimana dengan polisi dalam negeri! Tidak jauh beda. Motor kita kembali! Tanpa syarat! Bohong saja jika ada yang bilang harus kita kita tebus, dengan sebelumnya  jual macbook dan sepatu nike. Toh kita ikhlas. Uang administrasi dapat dimengerti. Selamat datang kembali motorku sayang!

Ini salah salah satu sebab mengapa motor di Jakarta dan kota besar lainnya suka sradak-sruduk. Maklum saja, sekarang kita tahu penyebabnya. Mereka ndak punya laptop dan sepatu lari lagi.

Dalam sejarahnya jarang kasus terhenti. Semua polisi jagoan dalam mencari pemenuhan unsur pidana. Mereka gape banget lah Bro! Ndak ada yang kasus terhenti di tengah jalan dengan desas-desus ada udang di balik batu. Polisi kita kompeten dan berintegritas.

Polisi itu adalah peninggalan nenek moyang kita. Sejarahnya, Gadjah Mada membuat satu pasukan khusus yang menjaga kerajaan dan harta bendanya. Mereka disebut Bhayangkara. Mereka jago berkelahi tapi ndak bisa nyanyi. Jika saja mereka jago nyanyi, Gadjah Mada bakalan menyematkan nama lain yang lebih cucok: Bagaskara.

Agak maju ke depan, pada tahun 1867 sejumlah warga Eropa di Semarang, merekrut 78 orang pribumi untuk menjaga keamanan mereka. Inilah cikal bakal Polisi. Maka jangan aneh jika Akademi Polisi letaknya di Kota Semarang.

Pada masa Hindia Belanda terdapat bermacam-macam bentuk kepolisian, antara lain veld politie (polisi lapangan), stands politie (polisi kota), cultur politie (polisi pertanian), bestuurs politie (polisi pamong praja).

Polisi saat ini ketambahan dua lagi. Polis Asuransi dan Polis babe, give me one more chance,  Polis..

Bayangkan, betapa hidup kita tanpa kehadiran polisi.  Polisi itu seperti musik. Ada lagu yang menjadi penanda momen saat kita senang, sedih, gembira, linglung, lapar dan atau jatuh cinta.

Saat saya masih mahasiswa, setiap melihat polisi di perempatan jalan maka reflek bokong saya serta-merta agak dinunggingkan dan tangan kanan saya mengecek saku kanan belakang. Bawa duit ndak ya.

Lihat! betapa mereka bisa menjadi pengingat juga bukan? Amazing!

Sejak era reformasi, Polisi tak lagi dibawah bayang-bayang TNI (dahulu dikenal dengan ABRI).

Maka dari itu, polisi memiliki penyebutan tersendiri, berbeda dengan kepangkatan di lingkungan militer. Misalnya, polisi tidak mengenal pangkat kolonel. Mereka saat ini mengenal pangkat kombes. Tentu saja artinya bukan komisinya besar. Sama sekali bukan. Jika ada yang berkata begitu, anda sungguh akan tetapi!

Adapun bawahan mereka disebut dengan AKBP. Ini pun bukan Asal Kreatif Banyak Penghasilan. Bukan! Jangan ngawur ya Sodara! Lantas di bawahnya lagi ada Kompol. Jika ada yang berani bilang bahwa kompol itu artinya  “kalau meminta komisi selalu pol”, silakan berhadapan dengan saya. Kita akan jabat tangan dan tertawa renyah sembari makan kuaci matahari.

Lebih kurang ajar lagi jika menuduh polisi itu mirip MLM. Iya MLM yang itu! Setiap downline akan membawa hasil bagi pihak perekrut. Semacam piramida. Kurang ajar sekali! Tidak mungkin polantas yang sudah susah payah mengurusi jalanan harus menyetor uang tilang ke komandan! Tidak mungkin juga penyidik polisi yang berdasi dan wangi bekerja dengan tidak profesional dan mementingkan materi. TIDAK! Atasan dan komandan hanya soal wewenang dan tanggung jawab. Ndak ada urusannya dengan MLM.

Saya ndak bakalan percaya jika ada yang cerita komandan polisi senang menekan anak buahnya untuk kejar setoran. Selain gaji, saya yakin komandan menerima hanya uang yang baik-baik, ikhlas dan suasananya damai. Saking damainya, bisa bikin sehat dan gendut-gendut……

… baik tubuh maupun rekening.

Akhir kata, mari kita berdoa semoga kita semua ikhlas mencintai polisi.

Salam hangat,

Roy, yang sudah punya sepeda lipat.

 

 

 

 

 

*)Susu Banci adalah istilah guyon internal dan sifatnya informal di Kepolisian. Kependekan dari Sumbangan Sukarela Bantuan Cina.

Iklan

10 thoughts on “Peace Money dan Please, Jangan Terima Susu Banci*, Please…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s