Kenapa Profil @RadityaDika Tidak Ada di IDWriters.com ?

Aku paling suka tiba di sebuah kota pada pagi hari. Pagi selalu menahan perasaan, memperlambat sesuatu. (Aruna  & Lidahnya- Laksmi Pamuntjak 2015 )

Sekitar tahun 2004, ketika facebook belum merangsek, twitter belum ada, path apalagi, mayantara kita lebih banyak bergerilya di bawah permukaan.  Iya. Saat itu masih zamannya friendster, blogspot,  geocities dan milis (mailing-list). Dan saat itu milis dari yahoogroups menjadi kesayangan para penggiat internet pada masanya. Saya memilih untuk aktif sekaligus pasif. Aktif mengikuti banyak milis, namun pasif untuk ikut nimbrung dalam obrolan.

Ada dua kutub dalam dunia maya nusantara atau kita sebut saja mayantara. Bukan utara atau selatan melainkan kiri dan kanan. Walaupun pada akhirnya saya sadar terlalu dini untuk menyimpulkan kiri dan kanan ini.

Pertama, saya menyimak benar milis Sastra Pembebasan, yang dihuni oleh Heri Latief dan Sobron Aidit. Keduanya para penulis yang setiap hari memproduksi tulisan melalui milis dimaksud. Heri tinggal di Amsterdam dan Sobron tinggal di Paris. Sobron, adik DN. Menarik jika dua penulis ini juga membolehkan Ikranegara ikut dalam milis dimaksud. Ikra, tinggal di Amerika. Jika Heri dan Sobron agak “kiri” banget, maka Ikra agak kanan. Iya betul, Ikranegara yang menjadi Pak Harfan dalam filem  Laskar Pelangi, juga Kyai Abubakar dalam Sang Pencerah.

Milis ini setiap hari mendiskusikan, memperdebatkan dan saling ejek dengan bungkus “pergerakan.” Bicara kebijakan Megawati dan kepemimpinan baru militeris dari seorang SBY. Juga bicara dunia lama. Keadilan di muka bumi berawal dari kerja dan memperjuangkan kebenaran. Bicara tentang penindasan. Bicara kebijakan luar negeri Indonensia. Bicara tentang orang-orang kelayapan yang tak pernah bisa pulang di zaman Soeharto. Lewat sastra, manusia dibebaskan. Kira-kira begitu.

Kedua, saya menyimak betul milis JalanSutra, yang diasuh Wasis Gunarto dan  Bondan Winarno, dengan penggiat  antara lain Alm. Gatot Poerwoko, Lidya Tanod, Irvan Kartawiria, dan penyuka wine Yohan Handoyo. Jalansutra berarti cara untuk pelesir. Iya, karena milisnya bicara dunia jalan-jalan dan makan-makan. Bikin hidup lebih hidup. Bicara senang-senang. Orang dengan banyak uang. Makan, tidur enak, jalan-jalan dan nikmati kekinian. Jalansutra bukan versi lain SilkRoad. Sutra disini sama artinya dengan sutra dalam Kamasutra. Sutra adalah cara.

Saat itu Bondan masih aktif mengasuh kolomnya di kompas online: “jalansutra” dan rutin menulis di harian sore Suara Pembaruan. Bondan belum menjadi bintang televisi dan belum tertarik menjadi caleg saat itu. Bondan adalah veteran penulis cerpen dan karyanya jauh lebih keren dibanding penulis stensilan semacam Arman Dhani.

Dua milis ini lumayan produktif. Sering mengadakan kopdar. Yang menarik adalah keduanya memiliki hubungan yang akrab dengan koperasi. Sastra Pembebasan dengan sebagian penggiatnya bekerja dan berkumpul di  Koperasi Restoran Indonesia kota Paris sedangkan JalanSutra membentuk Koperasi  JS untuk memudahkan para anggotanya melakukan transaksi dan membeli sesuatu secara kloteran.

Kesamaan lainnya adalan, tulisan dalam milis begitu memesona. Ringkas tapi padat. Berbagi pengalaman dalam tulisan ringan dengan begitu sastrawi.

——

Dunia tulis menulis adalah dunia yang sederhana. Dunia dengan bermacam format. Menulis dengan penuh khidmat saya golongkan menjadi sastra. Pergumulannya selalu sama: Apakah semua tulisan disebut karya sastra. Ini semacam apakah infotainment dapat dianggap sebagai karya jurnalistik?

Mundur lagi ke belakang, ketika tahun 1993, muncul esai di kolom Kompas “Ketika Jurnalisme dibungkam dan Sastra Bicara”,  Seno Gumira Ajidarma  menyampaikan sejarah kita adalah sejarah dengan kecenderungan sejarah penguasa. Fakta yang direka untuk membuat raja bangga. Kabar kerajaan adalah kabar  panggung kekuasaan yang elitis, militeris dan hedonis tanpa pernah menghidupkan dan menggali fakta masyarakat bawah. Keagungan raja-raja. Selalu saja seperti itu.

Negarakertagama, yang ditulis prapanca tidak dikenal pada zamannya. Gaya reportase yang tidak disukai penguasa. Bicara lembu yang sebesar kambing. Mengkritik penguasa, bahwa di luar tembok istana, semuanya pucat dan kurus kering. Prapanca pun diduga bukan nama sebenarnya. Maka kita sepakat sebut saja Prapanca.

Jika lewat berita dan kerja jurnalisme sekiranya akan dibungkan dan dibredel, maka kemaslah menjadi karya sastra. Itu kira-kira pesan yang ingin disampaikan SGA.

Sutra ini juga dilakukan oleh Emha Ainun Najib ketika masih sering diminta menjadi pembicara dalam acara-acara di zaman Soeharto berkuasa. Ada Ainun mesti harus ada intel polisi dan babinsa. Suara Ainun selalu bikin merah telinga penguasa. Suatu saat, ketika sedang asyik  memberikan buah pikir ke khalayak, polisi melarang Ainun melanjutkan. Isi pidatonya tidak mencerminkan nilai-nilai pancasila dan UUD 45 yang murni dan konsekwen. Acara harus segera bubar. Ainun tidak hilang akal. Dia meminta polisi untuk memberikan izin padanya memimpin doa sebelum acara dibubarkan. Polisi menganggukkan kepala.

Maka, dengan gayanya, mulailah ia memimpin doa. Pada akhirnya menjadi salah satu doa terpanjang sepanjang masa, karena sebetulnya dia hanya memindahkan isi pidato dengan dikemas sebagi doa. Semua kalimat tinggal ditambahkan “Ya Tuhan”, “Ya Rabb”, “Oh Aduhai Baginda”, dan banyak kata lainnya yang erat disebut sapaan doa.  Kepala menunduk, tangan ditengadahkan. namun kontennya adalah konten pidato.

————

Sastra itu sederhana.

Konstruksi sastra kita sejatinya tidak berwujud sepeti pondasi batu kali dan adonan semen. Sastra ada dalam pikiran kita. Ketika UGM mengubah Fakultas Sastra menjadi Fakultas Ilmu Budaya di awal tahun 2000, sejatinya menurut hemat saya, dalam jalan pikiran akademisi-pun sastra tidak lagi terlalu penting. Umum mengalahkan khusus. Sastra menjadi budaya adalah semacam mengubah zaman perundagian kembali menjadi masa perburuan zaman batu. Sastra adalah budaya yang telah dimuliakan. Sofistikasi budaya. Kecanggihan buah karya manusia.

Namun apa boleh bikin. Budaya itu lebih luas sekaligus ringan. Mudah diterima masyarakat. Budayawan lebih enak dan ramah diterima pikiran daripada kesan yang diperoleh saat mendengar kata sastrawan.

Coba bayangkan pada zaman itu ketika kalimat ini meluncur “Anak sastra mau kerja apa?” atau  “Anak Jeng itu anak sastra kan? Kalau lulus nantinya kerja dimana sih Jeng”.

Sastra yang dikalahkan budaya.

Sastra harusnya memang banyak mengalah. Sastra juga perlu popularitas agar karyanya menyebar dan dinikmati banyak orang. Toh sastra adalah semacam buah karya yang menghormati soal “kebenaran”, tanpa perlu menggurui secara kasat mata. Nilainya muncul karena tak menggurui. Moral yang dikemas plastik kapsul agar mudah ditelan dan efeknya diam-diam bekerja tanpa peru merasa pahit seperti puyer.

Maka sebisa mungkin kata sastra dikemas dengan menjadi cukup: tulisan. Terlalu berat beban yang dipikul sastrawan dibanding penulis.

Atau jangan-jangan kata penulis adalah semacam istilah fakultas budaya UGM tadi untuk mengganti kata Fakultas Sastra. Bukti menyerah kepada pasar dengan alasan lebih mudah diterima. Bukankah seharusnya sastra pun agak jual mahal. Ada syarat kondisi tertentu untuk menjadikan karya disebut sastra. Lebih suka disebut Sastrawan atau penulis? Orang kita adalah orang yang membumi. “Penulis aja deh”. Agar hidupnya lebih tenang. Tidak banyak dituntut mempertahankan kualitas karya. Pilihan yang mudah. Namun bukan pilihan yang indah.

Sastra bernaung di pikiran, bukan di bangunan bernama fakultas atau kerja budaya bernama idwriters.com

Ketika sosok Pram dan GM mulai ditinggalkan generasi kini, maka muncul wajah baru, Penyuka jazz parfum dan insiden. Namanya SGA. Sebelah Gunung Agung.
Dalam pembukaan situs idwriters.com pun SGA sebagai sosok baru yang digadang-gadang menjadi sorotan. Mantan Pemred Jakarta-jakarta  ini dielu-elukan oleh para penulis muda. Generasi Muda yang mencintai negeri senja. Para penulis muda yang elukan kehadiran sosok Alina, dengan larik cahaya keemasan di jendela.

Di satu sisi, apakah bermunculan banyak penulis muda? Yang saya ketahui anak ideologis Mansour Fakih dan segala turunannya yang dulu aktif dalam LKiS  insist Jogja terus membangun karya. Terbitlah Ratih Kumala, Puthut EA, Eka Kurniawan, Astrid Reza, dan kawan-kawan dengan Komunitas Sumbu-nya. Juga teman di Makassar seperti Aan Mansyur dan teman-teman Kata Kerja. Saya yakin di daerah lain pun bermunculan para sastrawan muda. Iya sastrawan, bukan penulis. Alasan saya satu: menaruh hormat bagi para penulis yang takzim mengolah pikiran dengan hati, menjadi karya yang enak dibaca.

Kiri Kanan Kulihat Saja Banyak pohon Cemara..aa.aa. Ya, dan cemara itu bernama sastra.

Selamat menikmati Sabtu pagi,

Roy (yang sedang ngidam punya sepeda lipat)

 

 

 

*) Seperti biasa, saya  dituduh semena-mena membuat judul yang sama sekali ndak nyambung dengan isi tulisan. Saya ndak perlu minta maaf, karena itu bukan kesalahan. Termasuk kenapa foto orang ini ada di paling bawah tulisan. Ini soal iseng saja.

 

raditya_dika

 

 

 

 

Iklan

5 thoughts on “Kenapa Profil @RadityaDika Tidak Ada di IDWriters.com ?

  1. Di tulisan-tulisan beginian ini sebenarnya saya ngarep ada yang membahas – atau paling tidak memasukkan, nama generasi baru penulis versi (banyak toko buku) Gramedia. Tempo hari saya mampir-mampir, langsung disambut oleh buku-bukunya Felix Syaw – sepertinya saya salah tulis namanya, mulai dari yang dilabeli sebagai buku agama, motivasi, hingga novel sejarah.

    Nama-nama yang njenengan sebut itu sebenarnya juga ada beberapanya. Tetapi buku-buku mereka ditaruh di rak yang “senylempit” mungkin, di antara buku-buku resep masak dan latihan UN.

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s