Jelang Akhir Pekan

Besok sudah akhir pekan. Saatnya kita (terutama Anda, Anda, dan Anda) memiliki waktu lebih luang untuk mengurusi diri sendiri; melakukan kegiatan yang diinginkan, atau lebih leluasa hanyut dalam pikiran. Entah, pikiran yang imajinatif atau sekadar lamunan sambil lalu alias daydreaming. Sah-sah saja, ndak ada yang berhak melarang. Sehat kok, asal jangan keterusan.

Bisa jadi, sudah ada segudang ide melayang-layang dalam kepala Anda sekarang, membayangkan besok bakal ngapain aja (kecuali untuk Farah, yang naga-naganya masih sibuk bergelut dengan dunia pertukangan sampai beberapa hari ke depan). Sepertinya bakal menyenangkan, apalagi kalau bersama dia yang tersayang (asal orangnya bukan terserahan dan enggak dramaan), atau setidaknya dengan teman-teman. Ya, sebagai makhluk sosial, manusia memang saling membutuhkan satu sama lain. Tak sekadar sebagai lawan berinteraksi lewat kontak dan komunikasi, melainkan juga sebagai kawan yang sama-sama merasa punya ikatan. Saking kuatnya, sampai bisa menciptakan geng. Ke mana-mana selalu bareng, ngapa-ngapain selalu bareng, curhat bareng-bareng, nge-date bareng, juga hamil dan melahirkan bareng biar nanti anak-anaknya bisa sebaya lalu kembali mengulang model pertemanan seperti mama-mamanya.

Dalam pergaulan geng tersebut, ikatan yang kuat meruntuhkan sejumlah batasan. Sesama anggota geng selalu terbuka, tentu dengan asumsi saling percaya dan rasa nyaman untuk berbicara apa adanya. Sayangnya, kenyamanan ini seringkali ikut berubah seiring berjalannya waktu, memungkiri janji yang pernah diucapkan sebelumnya, semisal: “BFF!” Ketika sesama anggota geng saling berseteru, memisahkan diri, atau hanya gara-gara beda lingkungan. Silakan dihitung, ada berapa geng yang pernah Anda alami sejak masa SD, SMP, SMA, kuliah, di kantor, atau bahkan geng ibu-ibu/ayah-ayah di sekolah, geng arisan, geng motor yang serius–bukan cabe-cabean, geng golfer sesama eksekutif muda, dan sejenisnya. Kemudian, dari timeline selama itu, ada berapa orang anggota geng yang masih berteman baik sampai sekarang? Bila merunut tulisan Mas Nauval kemarin, beliau termasuk beruntung lantaran teman-teman gengnya meninggalkan banyak hal positif yang terus dikenang.

Di sisi lain, saat mencoba mengingat masa lalu itu, barangkali Anda teringat kenangan buruk, pengkhianatan, penelikungan, ejekan berlebihan, kebohongan dan sebagainya yang bikin sakit hati. Lebih sakit dari biasanya, karena hal-hal tidak menyenangkan itu dilakukan oleh teman sendiri. Sakitnya ganda. Namun bagaimanapun juga, semua itu sudah berlalu. Dengan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami selama ini, telah mengantarkan Anda menjadi seperti saat ini. Baik atau buruknya kekinian Anda, dibentuk banyak hal. Termasuk sakit hati tadi. Misalkan saja, saat ini Anda merupakan orang yang cenderung pendiam, sukar untuk didekati, minim bicara, atau introvert, bisa saja dulunya adalah orang ceriwis, supel, aktif, dan sejenisnya. Hanya saja bedanya adalah, Anda yang saat ini lebih berhati-hati, memiliki wibawa dan karisma, serta disegani. Meskipun efek sampingnya adalah terkesan dingin dan menakutkan. Berbeda dengan sebelumnya, Anda memang merupakan sosok yang menyenangkan, bisa berbaur di mana saja, meramaikan suasana, tapi sering disepelekan dan tak cocok untuk memimpin sesuatu karena enggak digubris. Biarkan waktu yang menjawab, mana yang terbaik menurut Anda. Kendati tak mustahil ada orang yang mampu menjalankan kedua peran tersebut secara terpisah, di kantor atau di rumah, bersama kolega atau bersama pacar. Dan seterusnya.

Terlepas dari itu, gara-gara sikap peduli dan kepo beda tipis dalam kehidupan sosial kita saat ini, tak sedikit juga yang memilih untuk menghabiskan me time-nya sendiri. Menyepi di pojokan, seolah menciptakan tameng bertuliskan “jangan diganggu!” Kecenderungannya makin marak dalam beberapa waktu terakhir. Apakah tindakan itu salah? Oh, tentu tidak. Justru menjadi pengalaman baru yang meluaskan pandangan, bila kita yang biasanya selalu rame-rame, sesekali menghabiskan waktu sendiri. Silakan coba berkeliaran di mal seorang diri, sebagai permulaan. Tapi jangan luntang-lantung tak jelas tujuan, bisa berasa bego. Itu sebabnya bila jalan bareng teman lebih gampang keleleran, saking terlalu banyaknya pembicaraan.

Green Tea Latte

Tentukan mau lakukan apa; nonton, cari Wi-Fi atau baca di kafe (sambil pesan menu tentunya), ke toko buku, atau sekalian belanja bulanan. Pasti akan asing pada awalnya, namun lama-lama bisa terasa berbeda. Seolah benar-benar punya kendali atas diri sendiri, di saat ini. Terutama bagi Anda di kota-kota besar Indonesia, tongkrongannya banyak dan beraneka. Bisa-bisa di akhir pekan berikutnya, Anda malah ketagihan dan solo-visiting ke museum, art house. Atau malah bisa memunculkan semangat untuk solo-traveling.

Toh tidak ada salahnya memanfaatkan akhir pekan untuk hal-hal baru.

Selamat (menjelang) akhir pekan.

[]

Posted in: ringan

Tagged as: , , , , , ,

Leave a Reply