USTADZ WADUD Bagian-5

Cinta

Kami ingat betul peristiwa ini. Kami berada berkumpul membentuk lingkaran luas dengan pusat dua orang yang berdiri tegang. Wadud dan Warti. Kalau ada yang hendak diajak damai, itu adalah diri mereka masing-masing. Kami memaku pandangan tak lepas dari mereka berdua. Bukan bagaimana akhirnya, tapi seperti apa prosesnya. Jangankan suara, desah nafaspun kami pendam sedalam mungkin. Telinga adalah indra tertajam yang ada saat itu. 

Sekarang akal sudah surut, sepenuhnya dikuasai nurani. Air mata adalah untaian kata-kata tanpa susunan frasa yang jelas. Seperti air mata, kata itupun mengalir dari relung-relung kelenjar bernama jiwa. Hati menjelma jadi mulut yang bisa berbicara lantang. Baik Wadud atau Warti akan menjelaskan. Sebuah penjelasan monolog yang berbicara pada diri sendiri. Juga warga Jatinom.

Kang! Aku ngaku salah kang, aku pembunuh!! Aku ini lebih rendah dari binatang ampuuuuun
Jangan diam saja kang Wadud, ampuni Warti. Sumpah demi Allah Warti siap dipenjara. Matipun Warti sudi asal kang Wadud mau kasih ampun

Ustadz Wadud tidak menunjukkan gerakkan, baik badan maupun mulutnya terkunci rapat. Warti membujur lagi di depan sang ustadz. Kali ini dengan darah yang mengalir dari telapak kakinya. Warti lupa kalau ia adalah manusia, ia merasa dirinya sebagai binatang jalang yang siap dihukum karena menyakiti majikannya. Warti meraung mengampun-ampun. Kemudian warti melepaskan pandang ke sekelilingnya. Memandangi mata kami satu persatu, seakan meyakinkan kami untuk menjadi saksinya. Saksi sebuah tragedi.

Bapak-bapak Ibu-ibu warga Jatinom. Saya mohon untuk mengingat ini baik-baik. Saya Warti membunuh Yu Darmi. Membakarnya hidup-hidup sampai gosong. Saya Warti, anjing betina yang gila!
Ampuuun!
Maafkan saya…

Warti berdiri, melempar kain sarung burung Hong dan membuka bajunya. Kutang yang basah karena keringat lelah itu menyembul dari balik baju yang ia tanggalkan di lantai aspal. Ia menjadi betul-betul gila, atau kami yang gila, karena tidak bereaksi apa-apa.

Ini saya Warti bapak-bapak ibu-ibu. Bunuh saya! Saya salah, saya bersalah, Dosaaaa!

Sekarang giliran kami yang mengelurakan air mata. Kami menundukkan kepala pertanda maaf sudah berada di ujung lidah, hanya tak mampu mengucapkannya. Kami merasa, pastilah ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan oleh Warti sehingga Yu Darmi menemui ajalnya kemarin malam. Sekali lagi, diam adalah jawaban dari kami semua. Tapi bukan sang Ustadz. Setelah ia memungut kain sarung burung Hong di samping jalan yang dilemparkan Warti, ia menjerit:

Wartiii!! Bukan salahmu!

Kami terkejut dibuatnya. Teriakkan Ustadz Wadud seperti gemuruh halilintar di tengah senyapnya suasana malam itu. Tidak biasanya beliau menggunakan volume suara setinggi itu. Dibebani dengan kaget luar biasa, mulut kami bak batu yang tidak bisa dibelah oleh apapun. Warti menoleh ke arah suaminya berdiri. Ia beranggapan kalau masalah ini menemui ujungnya. Harapan yang jauh dari kenyataan.

Bukan salahmu Warti, dosa itu dosaku. Darmi, kamu, aku dan kerusakkan yang ada di sini semua salahku!…

Kang-kang, ngomong apa? Jangan kasihan sama aku kang Wadud. Aku hanya minta dimaafkan, itu saja. Bukan kakang yang salah, tapi aku kang, aku yang membakar Darmi kemarin

Sambil menunjuk ke arah Danang sang ustdaz berkata:

Warti istriku, kamu lihat sepupumu itu disana? Kamu lihat seorang pria muda yang duduk diatas sepeda motornya itu?

Ketahuilah, dia itu Jiwaku! Danang adalah kekasihku
Aku mencintainya

Ya Allah aku mencintainya

Baik kami, Warti, Danang, atau mungkin Wadud sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Antara Ustadz yang meracau atau jeritan hati yang tak lagi bisa dibisukan. Pembuluh darah siapa saja di tempat itu pasti dialiri darah dengan debit tinggi. Semua menegang mendirikan kuda-kuda waspada yang tidak begitu berguna. Terlalu jauh dari yang kami bayangkan.

Sekarang Warti mengerti posisinya. Ia adalah pecundang, sedari awal ia adalah pecundang. Semua keragu-raguannya mendadak dijawab oleh Ustadz Wadud. Warti sudah kehilangan semuanya. Kebebasannya, sinar wanita, dan yang terpenting cintanya. Berjuang untuk kehampaan. Apa yang ia pertahankan selama ini adalah sekumpulan kebodohan tanpa bayangan. Pria yang ia pikir mencintainya ternyata menjalin kasih dengan sepupunya sendiri, Danang. Warti bahkan lebih rela kalau Yu Darmi yang memenangakn hati sang Ustadz, ketimbang Danang.

Ya Allah aku mencintainya…

Warti Astini bisu. Teriakkan yang memilukan dari benak kalbu perempuan ini mati terduduk bersama hilangnya kepercayaan. Kepercayaan yang terlalu naif bernama cinta. Yang Warti mengerti sejak awal perjumpaan dirinya dengan Ustad Wadud adalah ketertarikan seorang perempuan terhadap laki-laki yang mengiming-imingi dirinya dengan pesona. Sedangkan cinta barulah Warti pahami detik ini.

Warti istriku, inilah suamimu, ustadz sok suci yang kau agung-agungkan selama ini ulama gadungan yang tak mampu menaklukkan dirinya sendiri

Tindakan hakim-menghakimi sekarang berubah arah. Wadud harus menjatuhkan putusan berat terhadap dirinya sendiri. Vonis kafir melekat pada diri sang Ustdaz. Dosa kafir tak termaafkan. Ia menjadi kafir karena jatuh cinta. Kemudian ia menjadi dosa karena tak mampu membunuh cintanya.

Suatu hari, istriku. Seorang laki-laki muda kau ajak ke Mesjid. Ia menjabat tanganku, ia berkata asalamualaikum dengan nada yang datar sederhana, seakan runtuh leluri Al-Quran yang berdengung sepanjang hayatku. Tiba-tiba saja aku sadar. Aku jatuh cinta…

Kau tahu, aku bersamanya hampir setiap detik, bahkan dalam Sholatku, dalam melagukan Al-Quran, atau memejam saat berwudlu. Warti Istriku, bahkan kau adalah wanita pilihan Danang untuk pendamping hidupku
Aku jatuh mencintai sepupumu itu sarung ini buktinya
Warti aku tidak bisa mengibaratkannya, maaf, cinta macam apa yang aku idap ini? Yang aku tahu, Danang mencintaiku bukan karena aku Ustadz Wadud, atau tampang bodoh ini begitu menggiurkan birahi, atau aku paham agama. Tapi karena ia adalah seorang Danang Lesmono… Dan aku mencintainya karena aku adalah seorang Gojali dari rantau

Cinta sendiri membenci manusia, mereka sepakat menghinggapi anak manusia, bercokol menyedot sari-patinya, dan meninggalkannya dalam luka kronis bernama patah hati. Apabila luka ini sembuh, bekasnya tak lekang, ia bersisa bak amputasi. Apabila luka tak kunjung pulih, tentulah mati akibatnya. Tugas Cinta atas Warti sudah selesai, saatnya untuk pindah ke lain korban. Warti ditinggalkan dalam luka besar menganga. Luka jiwa yang membanjirkan tangisan dan luka tubuh yang menghabiskan darah. Warti menusukkan tubuhnya pada pancang bambu di pinggir jalan. Ia terluka di dua tempat, pinggang dan hati sekaligus tanpa ampunan.

Kenapa kang Wadud lakukan ini?

Pertanyaan terakhir Warti sebelum penghujung nyawanya berhembus pelan. Wadud kali ini betul-betul membisu. Akibat yang ia bawa serta jauh melampaui nalar manusia. Korbannya mencakup nyawa, jiwa, dan cinta. Dalam pada itu, manusia juga bisa balik membunuh cinta. Yu Darmi contohnya, ia memasung cintanya terhadap sang Ustadz hingga kering tanpa sisa. Ia tak hendak mencuri atau bersikap ngawur ditengah-tengah dua cinta lain yang ada. Ya, Darmi adalah wanita penuh perhitungan, sehingga ia berlaku jitu, Warti bisa saja ditaklukkan dengan mudah, tapi Danang? Ustadz Wadud sudah bertukar nyawa dengan pemuda ini. Kematian Wadud adalah kehancuran Danang, dan begitu sebaliknya. Dan sekali lagi, bukan kehancuran yang Darmi inginkan.

Tiba-tiba. Sebongkah batu cukup besar mendarat di kepala Ustadz Wadud yang sedang khusyu memeluki Istrinya berusaha menyumbat luka tusukan dengan kain sarung burung Hong yang ia pegang. Ia tak segera bergerak. Batu kedua mendarat di pelipis kirinya, kali ini mengakibatkan robekan yang mengeluarkan darah. Ganti bu Sinom melempar sang Ustadz dengan batu sambil berteriak Kafir!!. Teriakkan itu seperti menyemangati kerumunan warga yang semakin banyak mengitari. Mereka yang terpaku, mendadak tercabut dan memunguti apa saja yang ada di sekitarnya untuk dilemparkan. Bertubi-tubi. Ustadz Wadud sudah berubah menjadi sasaran lempar seperti tiang pualam muzdalifah. Beliau bermandikan darahnya sendiri. Kanan-kiri, atas-bawah, darah sang Ustadz tak lagi bisa bibendung tangan. Kami merajamnya.

Kami tak mendengar teriakkan dari pihak yang menderita di bawah tangan-tangan kami yang semakin cepat melontarkan jahanam yang rajam. Sebaliknya, pekikan tinggi disertai auman suara mesin justru datang dari arah belakang kerumunan. Danang menerobos kerumunan dengan motor bebeknya, beberapa dari kami terpelanting jatuh ke parit, sebagian sempat sadar dan menghindar. Mungkin karena terkejut, kami memperlambat laju lemparan batu atas sang Ustadz.

Danang meninggalkan tunggangan motornya seperti gerakan membuang. Ia menyeruak ke tengah dan memeluk Ustadz Wadud. Lebih tepat disebut sebagai menamengi. Kini lelaki belia itu bak badan kedua bagi Ustadz Wadud. Batu-batu terpaksa mendarat di sekujur tubuh Danang, karena ia melindungi kekasihnya. Menurut Danang, tidak ada kata terlambat, ia tahu setiap desah nafas sang Ustadz, walaupun pada batas hembusan terakhir. Ia yakin Ustadz Wadud masih bernyawa.

Intuisi bercampur naluri, tak dinyana, juga muncul dari seseorang yang mengemban cinta. Sekotor apapun kondisi orang tersebut, sebuah indra tambahan berkecamuk diantara degup jantung dan aliran nadi-nadi pikirannya. Seperti Danang ini. Bagi sebagian orang, sang Ustadz telah gugur bersama istrinya, tapi untuk Danang, sang Ustadz berusaha menggapai dirinya bersama cikal nyawa yang hampir sampai pangkalnya. Yang mengatakan demikian tentu bukan kami, itu adalah bisikan nurani yang entah bagaimana bisa sampai pada nalar Danang. Sebuah kesadaran yang berada di bawah sadar yang lagi-lagi berkata benar.

Kamu jangan menyusulku

Dari balik cecair plasma kental berwarna merah, kalimat tersebut menelisip keluar. Ustadz Wadud masih bernafas. Baik Danang atau Ustadz Wadud sudah sama-sama mengeluarkan darah. Darah mereka bercampur dan saling tukar, susul-menyusul kemudian jatuh mewarnai tanah pijakkan mereka berdua. Kalau ada yang menyadarinya, mereka saling tatap, pandangan yang tak memerlukan lisan. Mereka betul-betul berbicara.

Setidaknya sebuah kehormatan untukku, mati demi Ustadz yang aku cintai, ujar Danang terburu-buru.
Bodoh, kamu harus hidup!
Hidup untukku hanya jika ada seorang bernama Gojali yang goblok mau jatuh cinta sama anak SMA bernama Danang

Kami terhenyak-gemetar, ketika mendengar suara tawa dari sasaran lempar kami itu. Kami berhenti melontar batu.

Hahahaha, jadi sekarang aku goblok dan kamu bodoh?
Iya! Lebih gila lagi kita sekarang tertawa
Danang, si goblok ini masih hidup
Dan tidak akan pernah mati, sekali lagi sarung ini saksinya

Dengan susah payah Danang berdiri dan membopong Ustadznya. Seandainya batu-batu itu masih beterbangan, pasti tidak akan dia hiraukan. Dalam pikiran pemuda ini hanya ada satu perintah: selamatkan kekasihmu! Demikian sehingga sekarang mereka berdua, satu membopong dan lainnya dalam bopongan, berjalan menjauhi kerumunan.

Jangan tidur!
Tidak tidur
Jangan tidur
Tidak tidur
J a n g a n  t i d u r
Tidak… tidur
Jangan…..

Wadz dzaariyaati dzarwaa (Adz Dzaariyaat (51):1). Wan najmi idzaa hawaa (An Najm (53):1). Wal aadiyaati dhabhaa. Fal muuriyaati qad-haa. Fal mughiiraati shubhaa. Fa atsarna bihii naqa a (Al Aadiyaat (100):1, 2, 3, 4). Wal ashr (Al Ashr (103):1). Yaa ayaatuhan nafsul muthma-innah. Irjiii ilaa rabbiki raadhiyatam mardhiyyah (Al Fajr (89):27, 28).

Demi angin yang menerbangkan dengan sekencang-kencangnya. Demi bintang apabila terbenam. Demi yang berlari kencang terengah-engah, lalu memercikkan api, lalu menyerbu di waktu subuh, maka ia menerbangkan debu. Demi masa. Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.

Entah karena kehabisan tenaga atau dengan kesadaran penuh. Tepat di jembatan kecil yang melintang dari sisi satu ke sisi lain beralaskan kali juren, Danang jatuh ke kanan. Mereka bertiga, Danang, Ustadz Wadud, dan kain sarung burung Hong masuk ke dalam kali. Mengalir bersama derasnya kali Juren yang kecoklatan. Seperti batu yang tenggelam, kami tidak dapat melihat mereka lagi. Hanya kain sarung yang bisa kami selamatkan, ia tersangkut pada batang bambu yang menjorok ke tepian kali. Dan seterusnya, baik bersama nyawa maupun menjadi sepasang bangkai, mereka hilang dalam liuk aliran air sungai.  

image
Sumber: Google

Kali Juren

Kali Juren kecoklatan tetap seperti dulu, hanya saja langgar yang bersebelahan dengannya hampir rubuh dimakan cuaca. Langgar mungil yang tak lagi bisa hidup karena ditinggalkan umatnya. Di dalam langgar tak bisa ditemukan perlengkapan ibadah sebagaimana mestinya, semuanya hancur atau diselamatkan ke Mesjid Agung. Hanya ada mimbar lapuk dan seonggok kain sarung kusam bercorak burung Hong di bagian dalam ceruk setengah lingkaran tempat imam memimpin jemaatnya.

Di sisi kali ini juga tidak lagi ada bangku-bangku pancing, bahkan jembatan bambu yang dulu menghubungkan kedua sisinya hilang atas alasan yang beragam-ragam. Kami lebih memilih menyebrang di dekat perbatasan desa daripada mendirikan lagi jembatan bambu baru seperti dulu. Desas-desus mengatakan ada dua nafas gaib di kali Juren. Kadang nafasnya menenangkan kadang memilukan.

Sekarang genap dua tahun lewat beberapa jam dari kejadian itu. Masih banyak diantara kami yang menjadi saksi, menjadi pelaku, dan menjadi hakim dari peristiwa itu. Pengadilan tanpa jaksa dan pembela. Pastilah masih membekas sebegitu dalamnya dalam benak kami masing-masing. Seorang janda, seorang istri, seorang Ustadz, dan seorang pria muda meninggal dunia. Hanya ada dua keranda dan dua penguburan yang kami laksanakan bersamaan. Dua lainnya, kali Juren sudah mewakilinya untuk kami. Sejuknya air kali menjadi salam penghormatan kami sedalam-dalamnya kepada mereka yang saling mencinta. Ya, mereka sungguh berkorban demi cinta. Kalau ditanya mengenai sisa-sisa dan saksi yang lebih berbicara daripada kami, mungkin kami akan menunjuk ke arah langgar Juren. Kain sarung yang bersemayam di dalamnya adalah bukti pengorbanan cinta yang penuh luka, dua tahun lalu di Jatinom. Bukan benci alasan kami untuk enggan menuturkan kisah ini kembali. Kami merasa malu; kemudian menjadi tabu. 

Kami terpaksa, mungkin Tuhan kami yang memerintahkan demikian. Kamipun mendegar bisikan-bisikan. Bisikan yang kami dengar sejak kecil, sejak apa yang disebut siraman rohani menyuburkan hati kami. Sejak kalimat-kalimat itu menjadi kemutlakan sekaligus perintah yang turun langsung berdengung-dengung dari kisi-kisi bambu di bilik-bilik petani, di relung-relung mimbar langgar, di keheningan malam yang dua pertiga, di kejauhan lewat corong-corong jumat, dan di hadapan kami sendiri lewat lembaran-lembaran berabjad arab. Mungkin Ia mengharuskan. Mungkin. Atau mungkin

Wa la qad yassarnal qur-aana lidz dzikri fa hal mim muddakir (Al Qamar (54): 17-22-32-40). Dan sungguh telah kami mudahkan Al Quran ini untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

TAMAT

Iklan

9 thoughts on “USTADZ WADUD Bagian-5

  1. “Cinta sendiri membenci manusia, mereka sepakat menghinggapi anak manusia, bercokol menyedot sari-patinya, dan meninggalkannya dalam luka kronis bernama patah hati” kalimat ini terdengar sinis di satu sisi dan sebuah realitas yang menampar di sisi yang lainnya.

    Artikel bersambung ini (kalau memang ini adalah artikel) buat saya jadi pengejawantahan cinta yang baru, hanya perlu dirasakan, sama-sama tahu tapi ngga perlu diungkapkan dalam kata. Epik.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s