USTADZ WADUD Bagian-4

Prasangka

Kematian Darmi membawa jutaan praduga. Seperti biasa, warga Jatinom menghubung-hubungkannya dengan klenik dan takhayul yang dipercaya sejak dahulu. Bu Sinom bahkan mengatakan kalau orang semacam Darmi ini membawa malapetaka. Buktinya, Darmi mati dalam keadaan hangus terbakar. Bu Sinom yang berbadan gemuk itu dengan berapi-api mengajak warga Jatinom untuk melaksanakan upacara ruwatan agar terhindar dari bala yang akan datang menimpa mereka.

Sama sekali bukan perasaan menang yang dirasakan Warti. Ia diam tak mampu berucap. Mungkin sesal mungkin juga lega. Kematian Yu Darmi adalah kesalahan sekaligus harapan bagi Warti yang menantikan kehangatan suaminya. Warti Astini adalah pemenang bungkam dalam pertarungan dua pendekar perempuan asal Jatinom. Dalam hal ini, piala yang diperebutkan adalah cinta Ustadz Wadud. Nyatanya, Darmi belum betul-betul menjadi pecundang dalam kematiannya kemarin, ia justru terlepas dari derita cinta yang tidak akan Wadud serahkan padanya maupun Warti. Dan Warti menangis, baik untuk kekhilafannya atas apa yang dialami Yu Darmi pun untuk kenyataan lain yang akan segera ia hadapi.

Adalah Ustadz Wadud, Sukini, dan Niniek yang merasakan adanya hawa kejanggalan pada kematian Yu Darmi yang sekaligus menghanguskan rumah beserta isinya. Ustadz Wadud sadar kalau Yu Darmi adalah musuh bebuyutan istrinya; sedang Sukini dan Niniek juga tahu kalau Wartilah yang paling membenci Yu Darmi selama ini. Ada angin busuk di Jatinom selama pencarian sisa-sisa Yu Darmi di rumahnya oleh pihak kepolisian.

Malam harinya, ditengah evakuasi jenazah Yu Darmi, Niniek meyakinkan Sukini untuk segera menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Warti. Perasaannya mengatakan kalau Warti turut andil dalam peristiwa ini. Sepakat mereka menemui Warti yang terduduk diam di ruang tengah rumahnya. Adzan Isya baru berkumandang saat Niniek masuk menemui Warti, Sukini membuntutinya di belakang. Warti mengakui semuanya, dengan mudah. Ia tidak mencoba untuk mempertahankan posisinya. Ia tidak berusaha berada di pihak yang benar. Ia telah membunuh Yu Darmi. Dengan mudah Warti membeberkan rinci demi rinci kejadian malam itu. Warti menangis sejadi-jadinya bersama kedua mantan teliksandinya, Sukini dan Niniek. Sekarang bingung dan gamang berlipat tiga. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan. Untuk Warti, pilihannya sangat sedikit. Penjara atau pergi menghilang entah kemana. Merekapun tidak sadar kalau telinga di depan pintu mendengarkan semua percakapan dan tangisan sesal di ruang tengah.

image
Sumber: Google

Ustadz Wadud yang sedari awal menyimpan syak wasangka atas istrinya mendapatkan kepastian secara tidak langsung. Baginya, inilah kali pertama nguping pembicaraan orang lain. Tapi semua itu ia lakukan demi kebaikan, demi jawaban kematian Yu Darmi. Wadud melangkah pelan membuka pintu dan melihat keadaan di dalam. Terkejutlah tiga perempuan yang belum siap atas kehadiran sang ustadz di hadapan mereka. Tangisan Sukini semakin keras, sedangkan Niniek buru-buru pergi kebelakang. Warti, perempuan gagah ini berdiri berjingkat dan menyeka air matanya. Ia memandangi Wadud yang tak berkata apa-apa. Sinar mata sang Ustadz menggambarkan kekecewaan mendalam. Rasa sesal yang sulit terbayar. Warti paham keadaan ini. Ia harus melakukan sesuatu.

Tidak menunggu ular keluar dari sarangnya, Warti segera melompati meja di depannya, kemudian ambruk membujur di kaki Ustadz Wadud. Ia sujud pada suami tercintanya. Bersama air mata yang tak kunjung reda, Warti meraung-raung, mencengkeram erat kaki suaminya yang mematung di depan pintu. Sejenak ia mengumpulkan sisa-sisa kesadaran yang ia miliki, kemudian digabungkan menjadi permohonan ampun. Warti mengiba pengampunan dari Ustadz Wadud.

Ustadz Wadud menitikkan air mata. Ia tak bisa menerima apa yang didengarnya. Istri yang ia percaya melakukan pembunuhan. Apa lagi yang lebih buruk dari kejadian ini, pikirnya. Walau berilmu agama tinggi, meski berhati bijak, namun Wadud tetaplah seorang anak manusia yang punya rasa. Bagi Ustadz Wadud, inilah saatnya untuk pergi. Kemudian sang ustadz menunduk, memungut badan Warti dari lantai dan menegakkanya di kursi. Wadud memandangi Warti cukup lama. Komunikasi mata jauh lebih bermakna dibanding lisan. Mereka mungkin saja saling bertukar kecewa atau bisa jadi, saling kecam. Yang jelas, pintu depan terbuka lebar untuk Wadud. Ia berdiri dan pergi.

Seperti biasa, Danang melarikan Ustadz Wadud dengan motor ke Mesjid Agung Jatinom. Entah apa yang dipikirkan Danang saat itu, saat sang Ustadz keluar dari rumah dengan mata berair. Yang jelas ia tahu barusan ada peristiwa buruk di dalam rumah, karena Warti mengejar laju motornya dengan telanjang kaki. Ia tidak menekan gas kencang-kencang karena bimbang, sang ustadz meminta agar diungsikan ke mesjid sedangkan Warti, sepupunya, terseok-seok mencoba menyusul lari motor bebek Danang di belakang. Yang lebih mengherankan untuk Danang bukan kegilaan Warti mengejar motor, tapi sarung yang ada dalam genggaman Warti sepanjang larinya itu.

Wadud tahu ia dikejar Warti di belakang. Ia juga tahu kalau istrinya itu sangat pantang menyerah. Teriakkan Warti bisa membangunkan warga sekampung. Atau lebih buruk, mereka berdua bisa dianggap maling. Ustadz Wadud menepuk pundak Danang yang berarti tanda untuk berhenti. Ia memutuskan untuk berbicara dengan Warti. Wadud siap atas apa yang akan terjadi. Wadud juga siap apa yang akan ia lakukan. Ia tidak ingin kegelapan ini terus mengendap. Ia turun dari motor dan mencegat Warti yang masih berlari.

Terlambat bagi mereka bertiga, warga sudah keluar dari rumahnya masing-masing. Mereka berkumpul di lokasi dimana Danang menghentikkan motornya dan Wadud berdiri tegak di jalan aspal sempit yang diapit rumah-rumah berteraskan parit. Kira-kira tiga ratus meter dari rumah sang ustadz…

(bersambung: Cinta–TAMAT)

Posted in: ringan

Leave a Reply