USTADZ WADUD Bagian-3

Warti Astini

Perawakkan gadis ini cenderung mungil, sama sekali tidak imbang dengan tingkah polah dan keberaniannya yang tersohor itu. Warti, begitu orang memanggilnya sejak kecil, adalah anak kepala desa Sribit, Sukarti. Ibunda Wartilah yang menjabat sebagai kepala desa, sedangkan Ayahnya, Dr. Darmuji adalah kepala puskesmas di Jatinom.

Kepemimpinan sang ibu sepertinya menurun pada Warti. Ia tumbuh sebagai gadis lincah penuh ide cemerlang dan cenderung gegabah dalam bertindak. Perkumpulan pemuda di kawasan Sribit dan Jatinom ia pimpin dengan flamboyan. Beberapa acara penting di Kecamatan Jatinom, seperti layar tancep, dangdutan, dan muludan ia pula yang menggagas.

Tidak sedikit pemuda Sribit dan Jatinom yang mengincar Warti. Sayang mereka harus terduduk kaku, ketika mengetahui Wartilah yang memukul mundur Jono ‘Bacok’ si perampok hingga masuk bui di Boyolali. Pemuda-pemuda tadi beranggapan Warti terlalu perkasa untuk menjadi seorang Ibu. Siapa sangka diantara keperkasaan itu terselip satu kelemahannya, Cinta. 

Kini Warti mengurangi kegiatan kepemudaanya di kampung. Ia mengabdikan dirinya sebagai istri seorang Ustadz ternama, Ustadz Wadud. Awalnya Warti adalah gadis berumur dua puluh tahun yang tomboy, sekarang pagi-pagi betul ia biasa berbelanja ke pasar membeli keperluan rumah tangga lengkap dengan pernak-pernik kecantikan dan bahan brokat. Perubahan Warti bukan tak disadari teman-temannya, mereka melihat panutannya berubah drastis seperti itu justru gembira. Warti sekarang seorang istri.

Enam bulan sudah umur pernikahan Warti dan Ustadz Wadud. Sejak tiga bulan lalu, keluarga Warti kerap menanyakan apakah sudah ada tanda-tanda si jabang bayi di perutnya? Warti cuma tertunduk seraya menjawab seadanya dengan teramat diplomatis. Dalam batin Warti iapun bertanya-tanya apa gerangan yang terjadi, mengapa Tuhan tak juga memercayakan seorang anak pada mereka? Tidak hanya itu, ia juga menyayangkan ketaatan Wadud yang berlebihan, sehingga kehidupan seksual mereka tak selancar orang biasanya.

Banyak alasan sang ustadz jika bersangkutan dengan urusan yang satu itu. Tahajud, witir, mengaji dan lain-lain sehingga upacara menafkahi batin bagi Warti sering tak terpenuhi. Semakin hari semakin memburuk. Tak ada niatan Warti untuk berfikir bahwa cinta Wadud padanya sudah memudar, ia membuang jauh-jauh syak wasangka macam itu. Ustadz Wadud, seperti banyak orang kira, adalah laki-laki baik-baik yang setia.

Namanya perempuan apalagi seorang istri, biasanya dianugrahi dengan indra keenam, perasaan tajam. Begitupula Warti, sejak menginjak setahun umur pernikahan mereka, ia merasa ada yang salah di suatu sudut yang ia sendiri belum ketahui dalam bahana rumah tangganya. Tidak mungkin ia mencurigai perempuan-perempuan lain, mereka adalah kawan-kawan Warti sendiri sejak kecil, ia tahu betul siapa mereka, dan keberanian macam apa yang mampu menggerakkan mereka sedemikian rupa hingga sanggup merebut hati sang Ustadz dari Warti istrinya. Kecurigaan kemudian tertuju pada satu-satunya rival Warti di awal perkawinannya, Yu Darmi, si janda desa.

Sejak pikiran tentang Yu Darmi ini terlintas, Warti segera menyebar telik sandi di sempada Jatinom dan Sribit. Puluhan jumlahnya, dengan periodik melaporkan apa-apa yang mencurigakan ketika mereka menguntit sang Ustadz kemanapun ia pergi. Selama tiga bulan kegiatan memata-matai itu hasilnya nihil. Ustadz Wadud tidak jauh-jauh dari Mesjid, langgar, pak Rahmat, keluarga Yamin, dan Danang. Keseharian sang Ustdazpun dihapalnya luar kepala, tidak ada yang aneh. Hingga suatu saat, dikala Warti mau menghentikan grelia telik sandinya, ia mendapat berita dari Sukini bahwa Yu Darmi berkunjung ke Langgar kali Juren dan bertemu suaminya. Warti tidak lantas sembrono, ia sengaja mengulur waktu, baginya titik terang sudah mulai terlihat, ia harus hati-hati betul dalam bertindak. Dua minggu lamanya, setiap rabu petang sang Ustadz berkunjung ke rumah Yu Darmi, beberapa lama di dalam, dan keluar lagi menuju Mesjid Agung Jatinom sebelum ia pulang ke rumahnya sendiri.

Tidak seperti biasa, kali ini hari kamis Ustadz Wadud bertandang ke rumah Yu Darmi. Sukini dan Ninik seperti biasa berada tidak jauh dari sana. Tidak biasanya pula, sang ustadz lebih lama berada di dalam rumah Yu Darmi dan keluar membawa bungkusan plastik hitam. Dalam perjalanan menuju Mesjid agung Jatinom, Ustadz Wadud berjumpa Danang yang segera melarikannya dengan motor bebek ke Mesjid. Sial bagi Sukini dan Ninik, mereka tak bisa mengimbangi kecepatan motor Danang dan kehilangan kesempatan untuk melihat apa isi bungkusan dari Yu Darmi tadi. 

Mereka berdua melaporkan apa yang dilihatnya barusan pada Warti. Sekali lagi Warti menahan diri, ia harus bertindak cermat untuk urusan ini. Keesokan lusanya Warti menemukan bungkusan hitam dalam lemari, ia buka dengan tergesa-gesa. Di dalamnya terdapat kotak bertuliskan Danar Hadi yang di dalamnya lagi tersemat sarung cantik pesisiran bercorak burung Hong. Terbelalaklah mata Warti melihatnya, Yu Darmi harus diberi pelajaran pikirnya. Adalah nista memberi hadiah pada suami orang, apalagi secara diam-diam. Kesabaran Warti sudah mencapai puncaknya, ia tidak bisa diam terus. Ia harus bertindak.

Darahnya mendidih malam itu ketika Warti berlarian menghampiri rumah Yu Darmi. Ia tendang pintu rumah Yu Darmi kencang-kencang hingga terbuka dan merangsek masuk ke dalam. Pertempuran seperti tempo hari di pasar wetan tak terelakkan. Antara Warti dan Yu Darmi betul-betul pecah kesumat. Yu Darmi terpaksa menjamu tamu tak diundangnya dengan pertahanan penuh, sungguh ia tak sangka akan dilabrak seperti ini. Warti membabi-buta mengayunkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi; porak poranda perabotan Yu Darmi dibuatnya. Diantara mereka tidak diperlukan komunikasi untuk saling mengerti, mereka sama-sama tahu apa sebabnya perang ini terjadi. Kalau bukan malam ini, mungkin besok atau lusa, yang jelas suatu saat, hari ini pasti tiba.

Tidak ada saksi, tidak ada penonton, tersisa dua pilihan terakhir: membunuh atau dibunuh! Perkelahian di dalam rumah sempat berlangsung lama, dua jam sudah adu kelincahan berlangsung sengit. Silih berganti mereka melancarkan serangan memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar mereka, terkadang pindah ruangan, terkadang ada benda-benda terbang, terkadang ada meja-meja melayang. Begitu seterusnya.

Lama berselang Yu Darmi mulai terpojok. Warti, walau bagaimana lebih muda usianya, energi dan kekuatannya berada diatas Yu Darmi yang berumur empat puluhan. Pada sebuah serangan kilat, Warti memukul jatuh Yu Darmi ke arah ranjang, tanpa sengaja cempor diatas ranjang terjatuh dan menimpa kepala Yu Darmi. Janda paruh baya itu obong. Ia menggelepar-gelepar diatas ranjangnya sendiri bermandikan api. Tamat riwayat Yu Darmi bersamaan dengan langkah seribu Warti meninggalkan rumah yang perlahan dilahap api. Sumpah pastu Yu Darmi memakan dirinya sendiri. Ia mati ditangan Warti. 

Darmi

Belakangan Darmi sering mengajak lelaki masuk ke dalam rumahnya. Ia yang sejak delapan tahun lalu ditinggal mati suaminya tak ubahnya seorang perempuan haus darah lelaki. Tidak kenal asal-usul dan latar belakang, asal mereka lelaki dan punya urusan nafsu sama dengannya, pasti dipersilakan masuk ke dalam. Yu Darmi, begitu ia sering dipanggil, menjadi buah bibir suami-suami hidung belang di Jatinom.

Menurut Murtini, ibunda Darmi. Anaknya itu memang memiliki hati yang keras, tapi pada dasarnya ia lemah lembut. Sudah lama mereka berdua tidak saling tegur sapa. Darmi dan Murtini bukan ibu-beranak yang akur, dua-duanya pernah jadi kembang desa, dua-duanya juga pernah bersuamikan orang yang sama. Kehidupan mereka cukup pelik, terutama urusan laki-laki. Lain halnya dengan harta, baik Murtini dan Darmi bergelimangan harta sepanjang hidupnya. Tanah dan pesawahan yang mereka miliki tersebar hingga ke Klaten barat, keduanya saling bersusulan melakukan ekspansi kepemilikan tanah. Perang kekayaan yang berlangsung lama itu sepertinya dimenangkan oleh Darmi. Setelah ia menggeluti usaha jual-beli perhiasan, Darmi juga memegang tender proyek-proyek lokal yang diprakarsai pemerintah daerah. Dari situ, jalan mulus terbuka lebar bagi Yu Darmi untuk menguasai Jatinom.

Beberapa hari setelah ia mengadakan pembukaan lahan perkebunan jagung dan jati di Sribit, Darmi pergi menemui pak Gubernur di Semarang. Dari sana, satu lagi proyek besarnya terbuka. Bekerjasama dengan Fakultas pertanian Universitas Satyawacana Salatiga dan Bogasari, Darmi menyediakan lahan seluas 20 hektar untuk percobaan penanaman gandum. Hasilnya, luarbiasa, sekarang Darmi adalah janda sekaligus jutawan yang cukup disegani di Jawa Tengah. Desas-desus kelabu mengatakan kalau Darmi ada main dengan pak Gubernur, maka dari itu proyek gandum ada di tangan. Tapi anjing boleh menggonggong khafilah tetap berlalu.

image
Jatinom. Sumber: Google

Berbicara tentang musuh-musuh Darmi tidak akan ada habisnya. Mereka terdiri dari pejabat-pejabat daerah, para pengusaha, hingga yang terpenting; seluruh wanita yang menyandang gelar Ibu-ibu. Tak terkecuali ibu Gubernur. Kebencian wanita nomor satu di Jawa Tengah ini pernah betul-betul membludak tak terkendali. Ia bersama beberapa centeng dari kepolisian setempat melabrak istana Darmi di Jatinom. Sayang Darmi tidak ada di rumah, alhasil ia hanya bisa mengobrak-abrik rumah Darmi dan meninggalkannya tanpa tanggung jawab. Sekembalinya Darmi dari Surabaya surat tuntutan resmi masuk ke kantor kejaksaan tinggi Semarang. Singkat cerita, Ibu gubernur dijatuhi hukuman memberi ganti rugi miliaran rupiah atau masuk bui. Darmi menang lagi.

Ibu kandungnya atau istri gubernur sekalipun bertekuk lutut di depan janda ini. Kekuatan dan aura Yu Darmi yang mumpuni membuat siapa saja rela menggadaikan kebahagiaannya untuk bersanding dengannya. Kalau ada yang sempat mencatat, sekarang ini lebih dari dua puluh persen suami-suami di Sribit dan Jatinom menceraikan istrinya demi Darmi. Tapi apa mau dikata, bukan mereka yang Darmi butuhkan. Ia membutuhkan sesuatu yang pastinya tidak datang dari pria-pria hidung belang itu.

Pucuk dicinta ulam tiba. Yu Darmi melintasi mesjid Agung Jatinom sepulang ia dari Semarang. Suasana di sana ramai sekali, tidak seperti biasanya, tapi hari ini bukan sekatenan atau bulan syawal. Penasaran Yu Darmi terjawab saat pak Lurah memberitahukannya dua hari kemudian bahwa di Jatinom ada seorang Ustadz muda bernama Wadud yang ilmu agamanya pilih tanding. Awalnya Yu Darmi sama sekali tidak perduli atas keterangan pak Lurah tadi, hingga suatu hari Darmi mengunjungi tanahnya di seberang kali Juren. Kebetulan sang Ustadz sedang berdiri di depan langgar Juren yang berhampiran dengan kali. Disitulah Darmi sontak terserang cinta pandangan pertama. Tidak ada yang bisa menjabarkan apa yang Darmi rasakan saat itu, ia beranikan diri untuk mendekat melihat dengan lebih jelas keajaiban yang menyergah matanya barusan. Tidak salah lagi, mimpi darmi terjawab sore itu, Ustadz Wadudlah yang ia tunggu-tunggu selama ini. Darmi kasmaran.

Berhubung cintanya itu seorang Ustadz, adalah tidak mungkin kalau tidak berkunjung ke langgar atau Mesjid. Ustadz pastilah tidak berjarak jauh dari dua bangunan itu. Maka, Yu Darmi rajin ke Mesjid. Subuh hingga Isya, bahkan menjelang malam ia mulai mengikuti kegiatan pengajian ibu-ibu di Jatinom yang dipimpin oleh Ustadz Wadud, yang diprakarsai oleh Warti. Karena Warti adalah gadis yang cukup agresif dan menonjol diantara peserta pengajian lainnya, Yu Darmi sadar kalau Warti bakal jadi penghalang hubungannya dengan Wadud. Yu Darmi memang tidak pandai beribadah, tapi ia cukup bijak untuk menahan cintanya.

Warti berkali-kali menyinggung kejandaannya di mesjid, sebelum maupun sesudah kegiatan pengajian. Warti juga pernah menyatakan bahwa Juren Demiters haram untuk seorang Janda, klub itu hanya diperuntukkan bagi orang baik-baik. Begitu buruknya status janda dimata Warti saat itu. Tak ayal Yu Darmi kesal bukan kepayang melihat polah Warti yang menjadi-jadi, tragedi pasar wetanpun pecah. Hingga berkahir dengan pernikahan antara Warti dan sang Ustadz. Bagi Yu Darmi, pernikahan Warti cuma menurunkan status menjadi gencatan senjata dari siaga satu.

Darmi cukup arif untuk tidak merusak kerukunan rumah tangga Ustadz Wadud. Kebiasaannya mengendalikan nafsu itu membuat Yu Darmi semakin hari semakin bijaksana. Kegiatan bisnis sering ia serahkan pada Melanie, sekretarisnya. Sehari-hari Yu Darmi sibuk bercocok tanam dan pergi ke Mesjid. Suatu hari dokter melarangnya berjalan terlalu jauh karena artrithis yang diidapnya sering kambuh. Daripada menanggung akibat yang lebih buruk, Yu Darmi memilih untuk banyak dirumah ketimbang bepergian keluar. Ia juga memohon sang Ustadz di langgar Juren untuk mulang ngaji di rumah sampai khatam. Gayung bersambut, Ustadz Wadud berjanji memenuhinya setiap rabu malam di rumah Yu Darmi.

Dua minggu sudah Ustadz Wadud tidak datang ke rumah Yu Darmi, karena sang empunya pergi ke Jakarta dan Bandung, mengurusi proyek gandumnya. Melanie mengabarkan Ustadz Wadud bahwa Yu Darmi sudah pulang, dan siap meneruskan pengajian, sekalian ada oleh-oleh dari Bandung untuknya. Hari itu Rabu malam, jadi sang Ustadz memutuskan pergi keesokan harinya. Setelah Surat Al-baqarah selesai dibaca dan dipahami isinya, Yu Darmi memberikan oleh-oleh molen Kartika Sari yang didapatnya dari Bandung. Di tengah jalan Ustadz Wadud bertemu Danang dan mengantarkannya ke Mesjid Jatinom. Bapak-bapak pengajian sudah menunggu disana. Oleh-oleh tidak sampai ke rumah, plastik hitam berisi oleh-oleh itu malah habis disikat peserta pengajian. Danang yang makannya paling banyak bahkan membawa dua potong dalam sakunya.

Tidak ada angin tidak pula hujan. Warti ngamuk di hadapan Yu Darmi keesokan harinya. Darmi menunggu momen-momen ini dengan penuh kesadaran. Kayu sudah terlanjur hangus, badan terlanjur basah, yang akan terjadi, terjadilah pikirnya. Begitulah, hingga Yu Darmi mati terbakar diatas ranjangnya sendiri.

Danang Lesmono

Kalau Danang memang mau membeli sehelai kain batik ia bisa saja pergi ke Solo, Jogja, atau Pekalongan; tapi tidak ia lakukan. Danang tidak tahu kalau buah tangannya nanti adalah batik, maka ia pergi ke Semarang mencari sesuatu yang mungkin bisa berarti bagi Ustadz Wadud.

Puluhan gerai elektronik, pakaian, perhiasan, dan perkakas ibadah sudah ia masuki. Sayangnya, Danang selalu keluar dengan tangan kosong. Tidak satupun yang mewakili apa yang dia inginkan. Tidak sajadah, tidak kemeja, bukan lampu meja, bukan pula cincin emas. Danang pantang terlihat lelah, pertokoan di Pandanaran, Gajah Mada dan Simpanglima ia susuri dengan teliti. Survey kado ini akhirnya menemui titik cerah.

Tidak sengaja Danang terduduk di pelataran sebuah toko. Ia membeli teh botol unutuk menawarkan kehausan yang menggila di tengah hari. Ia menatap ke atas sejenak dan memutar badan dengan cepat, kemudian masuk ke dalam toko. Danar Hadi nama tokonya. Ada beratus-ratus kain bakal dan pakaian jadi di dalamnya. Tentu Danang yang anak SMA itu kebingungan luar biasa, meski naluri mendorongnya untuk membawa pulang sesuatu dari sini.

Dua orang ibu-ibu yang kebetulan berada di dalam dengan sedikit melengking salah satunya menunjuk-nunjuk sebuah kain di lemari kaca, mereka saling membicarakan buah karya yang satu ini. Danang mendengarkan apa yang sedang diperbincangkan. Sebuah kain sarung pekalongan berumur setengah abad dengan corak pesisir bergambar burung Hong. Dari sinilah ia mengetahui makna si sarung. Rupanya bukan kain biasa. Lima puluh tahun lalu Oey Kam Liem asal desa Karangturi, Pekalongan mencanting mori panjang untuk putrinya. Ditengah-tengah proses ngelorod, putri nyonya Oey meninggal dunia terserang malaria. Sang putri tercinta meninggalkan seorang anak dan suami. Nyonya Oey dengan perasaan putus asa menyambungkan kedua ujung kain tadi menjadi sarung tanpa tumpal. Kemudian beliau menyerahkan sarung itu pada menantu dan cucunya di Semarang. Ia memberikan sarung indah tadi sebagai ucapan terimakasih atas kesetiaan cinta menantunya, dengan harapan burung Hong kemerahan yang bertengger manis di sisi jahitan bisa membawa kebahagiaan abadi bagi menantu dan cucunya kelak.

Dengan jalan yang tidak banyak diketahui orang, berpuluh tahun kemudian kain sarung itu berada di gerai Danar Hadi berbandrol satu juta delapan ratus ribu rupiah. Uang Danang mencukupi untuk membeli sarung batik bermakna tadi. Hingga akhirnya kain sarung burung Hong berada di tangan Danang yang pada giliranya nanti ia berikan pada Ustadz Wadud.

Jalan pulang ke Jatinom ia lalui dengan gelisah dan tergesa-gesa. Seperti ada sesuatu yang memaksanya berlari terbirit-birit. Masih karena desakan sesuatu tadi, ia masuk ke kamar pengantin sang Ustadz dan menyeretnya keluar. Di keremangan lampu lakon menak, Danang menyerahkan sarung burung Hong. Danang berbinar-binar melihat reaksi ustadznya itu. Ustadz Wadud hampir tidak bisa mengatupkan rahang-rahangnya saat melihat apa yang ada di dalam bungkusan hitam. Sang ustadz mengeluhkan kenapa Danang berlaku bodoh membelikan benda mahal ini untuknya. Danang paham sekali kekecewaan, keluh kesah, dan kontra dari sang Ustadz yang tidak perlu dijawab dengan kalimat-kalimat. Ia kemudian memeluknya erat.

Danang Lesmono adalah nama yang Sukrismini berikan pada anaknya setelah tiga bulan berselang dari hari kelahiran. Prapto sang ayah buntu memikirkan siapa nama anak bungsunya itu. Kakak Danang semua laki-laki. Mas Bayu, Mas Yuwono semua bekerja di Jakarta. Danang memang anak emas bagi pasangan Sukrismini-Prapto. Mereka tidak membiarkan anak terakhirnya ini mengikuti jejak kakak-kakaknya ke Jakarta. Lagipula tidak terlintas sedikitpun di benak Danang untuk pergi merantau dari Sribit, desa kelahirannya. Baginya, Sribit adalah ibu kedua setelah kasih sayang Sukrismini.

Danang Lesmono sejak kecil sudah menunjukkan berbagai kecerdasan. Tidak jarang kami warga Jatinom merasa kalau Danang berkelakuan lebih dewasa dari umurnya. Diantara kawan-kawan sebayanya, Danang sering dijadikan andalan untuk segala keperluan. Dari PR sampai urusan perasaan. Ia cukup dikagumi guru maupun orang tua di Sribit dan Jatinom. Beberapa beranggapan kalau keturunan keluarga Truno Lesmono, kakek Danang dan Warti, memiliki marwah yang baik. Keluarganya juga cukup berada. Prapto memiliki peternakan ayam dan bebek yang lumayan menjanjikan. Prapto bisa memberangkatkan anak-anaknya ke Jakarta juga berkat hasil usahanya itu. Kecuali Danang, karena alasan yang ia sendiri belum paham sepenuhnya. Antara ego dan kasih sayang.

Mendengar perseteruan dua perempuan di pasar wetan yang secara tidak langsung disebabkan oleh Ustadz Wadud, Danang tandang dengan ide cemerlang. Mempersilakan sang Ustadz untuk hijrah sejenak ke Sribit, ke rumahnya. Tentu Sukrismini dan Prapto setuju-setuju saja. Diinapi seorang ustadz terhormat pastilah suatu kebanggaan tersendiri. Begitu juga dengan Danang. Tidur seatap dengan pria yang ia cintai tidak mungkin ia tepis percuma.

Kami sadari kalau cinta Danang sungguh bersambut. Ustadz Wadud juga mencintainya dengan sepenuh hati. Bentukan Cinta yang kami kenal sejak lama, namun tidak bisa kami jabarkan. Tidak pula untuk dibicarakan. Yang kami rasakan, Danang dan sang Ustadz memiliki kedekatan istimewa.

Pertemuan pertama mereka yang atas undangan Warti sepertinya berbekas dalam. Danang menyalami Ustadz Wadud dengan takzim. Saat itu takdir bertengger di bumbungan atap Mesjid agung Jatinom. Cinta jatuh ke bawah, menelisip masuk ke hati dua pria yang saling memberi salam. Hanya mata yang mampu berbicara. Tanpa kata mereka berbicara bahasa bunga. Sebuah bahasa yang hanya bisa diterjemahkan oleh kamus cinta. Cinta kemudian menajamkan intuisi Danang dan sang Ustadz untuk selalu merindu. Rindu membacakan ayat-ayat kasih yang ditutup tutur bait-bait kerinduan berikutnya. Juga dengan takzim kini mereka bukan lagi saling menyalami, tapi menyelami. Begitu dari hari ke hari. 

Kisah cinta mereka berlanjut. Sekarang Ustadz Wadud serumah dengan Danang. Terlalu banyak kesempatan yang memberikan peluang bagi cinta untuk bermekaran. Senyum diantara keduanya adalah cinta. Tiap gerak mereka adalah cinta. Nafas bagi mereka adalah juga cinta. Seperti ada kelambu yang menutupi mata. Baik Danang atau Ustadz Wadud belum menyadari apa yang akan mereka hadapi di depan. Ujian terberat untuk cinta mereka. Saat-saat dimana cinta harus berseteru dengan Tuhan. Atau sebaliknya.

(bersambung: Prasangka)

Posted in: ringan

4 thoughts on “USTADZ WADUD Bagian-3 Leave a comment

Leave a Reply