USTADZ WADUD Bagian-2

Menikah

Pernikahan sang Ustadz dan Warti berlangsung meriah. Jatinom berubah ingar-bingar. Woro-woro disebar. Berita pernikahan mereka ada di kolom kecil harian Suara Merdeka. Judul kolomnya: Pak Ustadz Jatinom akhirnya menikah. Di beberapa surat kabar daerah lain kisah ini justru dijadikan komoditi utama, dimulai dari sebuah perkelahian dua pendekar wanita asal Jatinom yang mencengangkan, kemudian diakhiri dengan keputusan menikahi Warti sebagai jawaban. Tetamu yang berdatangan membuat kecamatan Jatinom jauh lebih riuh dibandingkan kota Salatiga di akhir pekan. Berbondong-bondong warga dari puluhan kampung turun memadati pelataran Mesjid Agung Jatinom membawa berbagai hadiah sebagai ucapan turut berbahagia.

Diantara ribuan hadirin pernikahan, ada dua orang yang tidak tampak batang hidungnya. Pertama adalah Yu Darmi, satu lagi Danang. Yu Darmi pasti tidak sudi menghadiri pesta rivalnya itu, dan itu sangat beralasan, toh tidak ada undangan yang sampai di depan rumahnya. Sedang Danang, Pergi ke Semarang. Sebelumnya ia sibuk menghitungi receh dalam celengan Semar, kelak uang receh tersebut dibarter dengan sebuah cinderamata bagi sang Ustadz.

Tanpa dua orang diatas, Wadud mengucapkan ijab-qabul dengan fasih. Disampingnya terduduk Warti, matanya sembab akibat tangis tak kunjung henti. Kami mengerti apa yang Warti rasakan saat itu, tangisan gembira bercampur haru yang hanya dimiliki mempelai wanita berbahagia di dunia. Laras pelog, macapat, dan asamarandana bertalu-talu bergantian memeriahkan pesta resepsi di balai desa Jatinom. Penari-penari khusus didatangkan dari Boyolali, kabarnya para penari tersebut tidak meminta bayaran, tarian itu berupa persembahan untuk yang terhormat Ustadz Wadud. Di samping kiri-kanan balai desa berderet makanan enak-enak. Melimpah ruah berkah pernikahan wadud, sampai-sampai empal gentong Cirebon, sate Blotongan, dan tumpang koyor ikut hadir menyemarakkan perasmanan pernikahan sang Ustadz. Pesta ini diikuti dengan pagelaran wayang menak di malam hari, selama tiga malam penuh. Ceritanya juga berganti-ganti, malam pertama bercerita tentang Syaidinna Ali, malam kedua tentang Sunan Kalijaga, dan terkahir mengisahkan epos Rama-Shinta yang diibaratkan sebagai Wadud dan Warti.

Hari ketiga Danang datang tergopoh-gopoh ke depan balai desa. Ia beranggapan kalau pesta pasti sudah selesai, nyatanya pesta masih terus berlangsung hingga beduk subuh hari berikutnya berkumandang. Sesampainya Danang di depan pelaminan, kedua mempelai tidak berada di tempat. Bu Sinom yang sejak awal mengurusi protokol pesta menunjukkan kemana mereka berdua pergi. Rupanya ruangan di bagian belakang balai desa berubah fungsi sebagai kamar pengantin penuh bunga, disitulah Wadud dan Warti selonjoran melepas lelah. Danang dengan penuh senyum membuka pintu kamar tanpa mengetuk, ia memandangi Ustadznya tertidur di kursi, dan Warti sepupunya meringkuk diatas dipan lebar. Danang sadar betul kelelahan yang menyergah dua mempelai itu, tapi ia tidak ambil pusing, ia membangunkan Ustadz Wadud dengan hati-hati.

image
Batik Pekalongan motif Burung Hong. Sumber: Google

Sang Ustadz digiringnya ke ruang sebelah, ruangan yang cahayanya tergantung kerlap-kerlip lampu luar. Wadud menurut saja kemana Danang menarik lengannya sembari cengengesan. Setelah dirasa cukup aman, Danang mengeluarkan buah tangan dari saku celana dan memberikannya pada sang Ustadz. Disini wadud terkesima dengan apa yang ia terima, benda berbentuk kotak yang keluar dari tas plastik hitam itu temaram disirami lampu dari luar. Ringan, tapi berlabel Danar Hadi. Di dalamnya adalah sarung batik tulis bermotif pesisiran dengan aksen burung hong besar di tengah-tengah. Danang menjelaskan kalau sarung ini asalnya dari Pekalongan, dan burung Hong berarti kebahagian sepanjang masa. Mendengar keterangan Danang tadi sang Ustadz hanya tersenyum keheranan. Peristiwa ini menjadi nadir kisah Danang dan Wadud di kemudian hari.

(bersambung: Warti Astini, Darmi, dan Danang Lesmono)

Iklan

8 thoughts on “USTADZ WADUD Bagian-2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s