Kembang-kembang Seblak

“Jadi kamu ngumpet waktu gerhana Matahari Jum?”
“Nggih Bu. Daripada kesamber Bu.”

Jumirah ingat saat ia dan keluarganya mengendap di bawah dipan menghindari gerhana matahari. Di kampung Seblak, 20 Km dari Purwokerto, gerhana matahari seperti itu disambut dengan ngumpet di dalam rumah. Karena begitu dekatnya Seblak dengan pusat tata surya, dipercaya gerhana bisa nyamber salah satu penduduk yang nekat keluar rumah. Sampai sekarang, Jumirah dan Sakem tidak pernah tahu apa itu gerhana. 

Lumrah, karena mereka juga tak pernah mengenal gerhana tersusun dari g-e-r-h-a-n-a. Dulu, mereka pernah sekolah sampai kelas 2 SD. Tidak dilanjutkan. Kesibukan di bawangan (ladang bawang) sagat menyita waktu. Membaca hanya untuk orang kota. Percuma bisa baca kalau tidak ada yang bisa dibaca. Ayah-Ibu mereka juga tidak bisa baca tulis. Pak lurah Seblak saja yang bisa membaca. Tapi tidak bisa menulis, karena Carik Yanto, Kakak ipar Jumirah yang mengerjakannya di kelurahan. 

Untunglah buta huruf bukan penyakit menular, pikir Koesbiyanthi (Koes). Ada dua yang lain yang Koes syukuri tidak menular: hamil dan demam disko. Untungnya, Jumirah dan Sakem tidak membawa yang dua belakangan. Sebagai majikan, Koes harus melatih mereka mengerjakan pekerjaan di rumahnya dari menyalakan kompor sampai menyikat kamar mandi. Koes tidak mau dua pembantu itu merawat rumahnya sama dengan mereka merawat bawangan. Lagipula, mereka baru saja berumur 16 dan 15 tahun—umur yang belum layak untuk menjadi pekerja plus minim pengalaman. Tapi apa boleh buat, hanya mereka berdua yang sesuai dengan kriteria yang ia buat sendiri. Setidaknya Sersan Juheri menerjemahkannya demikian.

Pak Juheri, ojo lali bawain aku dua ya. Jangan yang cantik-cantik, nanti Bapak gatel”, Pesan Koes pada anak buah suaminya, saat ia pamit mudik Lebaran tiga tahun lalu. 

Seminggu kemudian, dengan gemilang, Sersan Juheri membawa dua orang ke rumah Koes. Ia segera menyerahkan titipan istri boss-nya tadi. 

Sesuai pesanan Bu, Iki tak jukutna beruk-beruk loro!”. Sementara kedua ‘kera’ gunung itu diam bergeming. 

Koes puas dengan kecekatan Sersan Juheri memenuhi permintaannya. Kemudian ia tahu kedua ‘kera’ gunung itu bernama Jumirah dan Sakem. Tentu bukan perkara gampang menerima anggota keluarga baru di rumah Koes. Ia harus melakukan sesi wawancara yang lumayan panjang untuk membiarkan mereka tidur di kamar belakang. Dan wawancara itu sifatnya tertutup, bahkan untuk penyalur mereka, Sersan Juheri. Supaya tidak ada drama, kata Koes.  

KEMBANG DESA 

image

Koes mendapati betapa Jumirah dan Sakem adalah manusia ketimbang ‘beruk’ seperti yang dituduhkan Sersan Juheri. Meski, harus diakui, ada beberapa hal secara fisik yang membuat mereka-masih-mirip ‘leluhurnya’. Kehidupan keduanya tidak terlalu tragis, tapi bukan juga bahagia. Mengukur kualitas hidup mereka secara Jakarta tentu tidak adil, pikir Koes. Kakak-beradik ini harus ditilik lewat kaidah-kaidah ala Seblak. Sebisa mungkin Koes memahami lewat tutur Jumirah dan Sakem yang ‘ngapak-ngapak’ khas Purwokertan.  

Setelah Jumirah dan Sakem meninggalkan sekolahnya, hanya bawangan dan kandang ayam yang mendidik mereka. Ayah mereka narik becak di Purwokerto. Pulangnya seminggu sekali. Si Ibu yang nantinya membawa hasil panen ke pasar atau pajek kampung di balai desa, tinggal bersama mereka di rumah sederhana berlantaikan gamping. Tiga kakak mereka pergi merantau ke Jakarta. Si sulung meninggal tersambar petir di bawangan sebelum sempat merantau. 

Di Seblak, adalah biasa memberangkatkan anak perempuan yang sudah menginjak aqil baligh untuk bekerja di Jakarta. Dan untuk penduduk Seblak, aqil baligh itu dimulai sejak umur 12 atau 13 tahun. Anak laki-laki lebih beruntung dari perempuan. Meski mereka mulai bekerja di usia belia, mereka masih boleh tidur di rumah orang tua sampai memutuskan sendiri untuk bekerja keluar kampung. Pilihan adalah barang langka bagi Jumirah dan Sakem. Tapi mereka gadis-gadis yang beruntung di sana. Mungkin karena rasa sayang, orang tua Jumirah dan Sakem menahan mereka untuk tidak berangkat ke Jakarta mengikuti gelombang urbanisasi tiap usai lebaran. Ada juga beberapa gadis seumuran mereka yang masih berada di kampung. Bedanya, kulit mereka lebih putih dan bersih karena tidak turun ke bawangan. Biasanya orang tua mereka tak lagi punya lahan untuk digarap. Harapan terakhir adalah memberangkatkan anaknya jadi telembok (pelacur) di Cirebon. 

Keputusan menjadikan Jumirah dan Sakem sebagai pelacur tidak pernah terlintas dalam benak orang tuanya. Mereka punya alasan kuat untuk bertahan di desa. Bawangan milik ayah mereka adalah salah satu yang terluas di Seblak. Terakhir, ladang bawang yang mereka miliki berkurang lagi. Sebagian dijual untuk biaya berobat si Ayah. Ladang sesempit itu tentunya bisa dikerjakan oleh Ibu mereka sendirian. Jumirah dan Sakem terancam dipecat dari bawangan. Tidak ada yang bisa dikerjakan di kampung kalau mereka sampai dipecat dari bawangan. Kampung mereka hanya ramai jika lebaran tiba. Kalau hari biasa isinya cuma orang-orang tua dan pemuda cacat yang tak sanggup bekerja. Di kampung yang sepi itulah Jumirah dan Sakem menjadi kembang desa—kecuali satu minggu sebelum dan sesudah lebaran.
 
Lebaran tahun 2004 tiba. Orang tua mereka memutuskan untuk merelakan anaknya merantau. Pak Juheri, yang kebetulan bertetangga menawarkan satu peluang di rumah kepala kantornya. Dengan gaji tiga kali pendapatan keluarga di bawangan, Jumirah dan Sakem meninggalkan Seblak tanpa pelatihan. Perjalanan dua hari dua malam mereka tempuh hingga sampai di Jakarta.   

TUGAS PERTAMA

Setelah beristirahat dari lelah perjalanan, Jam 5 pagi Jumirah dan Sakem bangun dan siap mengerjakan tugas pertama mereka. Hari sebelumnya, mereka telah diberi pengarahan lengkap oleh Koes: apa-apa saja yang harus dikerjakan sejak pagi hingga malam, kecuali memasak dan mencuci pakaian. 

Menyapu adalah pondasi kebersihan di pagi hari. Berikutnya mengepel semua permukaan yang sudah disapu. Koes terkejut bukan kepalang ketika perintahnya diterjemahkan dengan ‘baik’. Mengepel semua permukaan bagi Jumirah dan Sakem termasuk permukaan pintu, jendela, meja, TV, dan kulkas. Agak ganjil ketika TV dan kulkas Koes punya wangi yang sama dengan lantai—lysosome solvent (Lysol). 

Perintah Koes: “Kalo ada tamu, kalian ndak kenal, jangan dikasih masuk ya. Ati-ati lho, Jakarta ini banyak orang nggak bener. Kalo ada yang aneh-aneh usir aja, terus telepon ke nomor Ibu atau Polisi”. Koes menyerahkan catatan nomor telepon penting sebelum pergi—dengan asumsi; tidak mengenal huruf bukan berarti tidak mengenal angka.

Perintah tersebut diterjemahkan lagi dengan ‘baik’. Tidak kurang dari anak kandung Koes diburu habis-habisan keliling komplek oleh Jumirah sambil memegang pisau daging berukuran betis. Kalau saja tidak dipergoki satpam komplek, bisa jadi nyawa anak Koes sudah melayang. Alasannya sederhana: seorang tamu tak dikenal berani buka gerbang sembarangan tanpa permisi. 

KELEMAHAN LITERAL 

Koes menyadari, ada salah komunikasi yang fatal antara dia dan dua pembantunya itu. Sedikitnya, sebuah penyimpangan transkripsi terjadi saat kode perintah dilontarkan.

Jum coba pegang dulu tehnya, Ibu mau ambil nampan”. Transkripsi: mencelupkan tangan ke dalam poci yang berisi teh hangat. 

Kalau habis makan, semua dicuci ya”. Transkripsi: termasuk mencuci rice-cooker di bawah keran air. 

Kalau malam, lampu-lampu dinyalain ya”. Akibat perintah ini Koes harus mengeluarkan 4 juta rupiah untuk bayar listrik, karena lampu garasi, gudang, kolam, dan semua sumber cahaya di rumah Koes hingar-bingar di malam hari. 

Juga tragedi ‘mengepel’ dan ‘upaya pembunuhan’ tadi, menjadi bukti kelemahan literal Jumirah dan Sakem. Koes harus memperbaiki kodifikasi perintah-perintahnya. Koes membatasi perintahnya hanya berisi maksimal 6 kata!

“Yang ini jangan dicuci”. Empat kata dibarengi menunjukkan benda yang dimaksud. 

 “Minum di gelas bawa kesini!”. Lima kata diterjemahkan dengan sempurna.

“Sepatunya taro’ di rak sepatu belakang”. Enam kata dan masih aman. 

“Ih! Yang itu jangan diangkat nanti pecah!”. ‘Ih!’ tidak dihitung kata.  

KELEMAHAN FISIK 

Kepekaan Koes mengatakan ia harus menangani kembang-kembang Seblak ini lebih teliti. Keremajaan mereka membuat selera makan siapa saja hilang seketika. Pubertas memacu hormon seksual dan sel lokus pertumbuhan bekerja lebih cepat ketimbang biasanya. Hasil metabolismenya dimanfaatkan oleh koloni eukariota hingga menghasilkan semerbak uap asam-asam organik yang mematikan indra penciuman. Koes menanganinya dengan memberikan semacam ligat berbahan tawas. Untuk 12 jam, tawas mengikat komponen metal dan menakut-nakuti eukariota dari ketiak Jumirah dan Sakem. Lewat masa kerjanya, tawas sudah menguap sebagai garam, menempel di lengan baju, dan menimbulkan bau ‘asin’ yang aneh. Tentu Koes tinggal memberi perintah touch-up tiap-tiap usai mandi. 

Granula lemak dan kelenjar susu susul-menyusul memenuhi pakaian kembang-kembang Seblak. Ukuran organ kembar itu membesar dan menjadi sangat menantang karena Jumirah dan Sakem tidak pernah membungkusnya dengan kutang. Koes membelikan beberapa pasang pakaian dalam, mengajari mereka memakainya, dan bagaimana memeliharanya. Sekarang, penampilan mereka bisa lebih masuk akal di abad-21 ini. 

Tanpa pikir panjang, Koes menanyai mereka tentang bagaimana menangani siklus bulanan? Dengan malu-malu, keduanya menjawab: “Biasanya di sumpel kok Bu”. Meski Koes lebih memilih kata ‘pembalut’ ketimbang ‘penyumpal’, ia paham apa yang dimaksud Jumriah dan Sakem. Mereka sudah bisa menangani urusan yang satu ini. 

Seperti Naga, Dinosaurus, dan ‘orang baik’, Koes menyangka kutu rambut di abad ini sudah punah. Praduga ‘ilmiah’ Koes tadi gugur ketika Jumirah dan Sakem memboyong sekelompok hewan langka ini di kepalanya. Beberapa bahkan sudah merayapi sofa dan meja makan. Sebelum dinyatakan dilindungi, dua botol larutan sulfonik dan surfaktan seng-klorida diberikan dengan tujuan membunuh. Dalam waktu satu minggu saja, kutu rambut kembali berada dalam daftar kepunahan.

PERILAKU-PERILAKU

Tiga perilaku kembang-kembang Seblak yang mengejutkan Koes dan keluarganya. Tapi Koes tidak berminat untuk memperbaikinya. Toh ia berfikir tidak ada yang salah yang harus segera diperbaiki. Dengan sedikit trik dan peringatan, Koes berharap Jumirah dan Sakem betul-betul melompat dari abad ke-19. 

Pertama: makanan favorit. Tiga bulan setelah mereka bekerja. Koes baru menyadari kalau makanan kesukaan Jumirah dan Sakem adalah: Whiskas Turkey and Chicken snack for kitten. Mereka merebutnya dari kandang Yolanda si kucing Himalaya. Koes menggantinya dengan Whiskas basah kalengan yang membuat perang dingin antara Yolanda dan kembang-kembang Seblak berakhir dengan skor 1-0 untuk Yolanda.

Kedua: mencuci mulut. Sehabis makan, Jumirah dan Sakem diam-diam (atau memang mereka tidak bermaksud diam-diam) mencuci mulut di kolam ikan koi suami Koes. Tiga koi tewas dalam perang melawan kembang-kembang Seblak. Permukaan kolam dipenuhi minyak. Baunya mirip  makan malam. Koes terpaksa memberi peringatan tegas: kolam ikan hanya untuk ikan, katak saja tidak boleh ikut campur apalagi manusia. 

Ketiga: bulan Suro. Warisan tirakat Jawa masih mereka turuti. Tiap malam pertama di bulan Suro, Jumirah dan Sakem akan puasa mutih (tidak makan nasi). Juga tidak mengerjakan sesuatu di luar rumah—nasib buruk untuk seorang gadis-katanya. Sebelum masa midodareni lewat, gadis Seblak dilarang keluar rumah di malam satu Suro. Mambang (peri) dan Banaspati (makhluk halus bertubuh cebol, berlidah panjang, dan cabul) bisa merenggut kesucian mereka. Koes hampir saja ikut dalam ritual mereka berdua ketika ia sadar kesucian bukan lagi masalah untuk dirinya.

SATU TAHUN

Sudah satu tahun sejak mereka bekerja di rumah Koes. Tidak ada keluhan berarti yang datang dari Koes maupun sebaliknya. Meski masih belum bisa memasak dan mencuci pakaian, Jumirah dan Sakem sudah bisa membaca—raba-raba. Koes mengajari mereka beberapa ejaan kosakata utama. Sebuah pengajian di masjid dekat rumah Koes juga bersedia mengajari mereka membaca dan menulis huruf-huruf latin. 

Satu tahun banyak mengubah kehidupan kembang-kembang Seblak. Mereka lebih cekatan, bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, membaca, sampai memiliki kulit yang lebih putih dari sebelumnya. 

Lebaran tahun 2005 hampir tiba. Seperti yang lainnya, Jumirah dan Sakem terdaftar sebagai pemudik. Tidak ditemani Sersan Juheri yang pindah ke Padang, Jumirah dan Sakem memilih naik bus jurusan Purwokerto dan melanjutkannya dengan bus kecil menuju Seblak. Perjalanan dari Purwokerto ke Seblak sering mereka lalui, tapi Jakarta-Purwokerto harus mereka taklukkan lebih dulu. 

KEMBANG-KEMBANG SEBLAK PERGI

Tidak ada pesan khusus dari Koes saat melepas kedua pembantunya, kecuali harapan agar mereka cepat kembali. Yolanda dan koi sudah terlanjur akrab dengan mereka. Koes sendiri merasa kehadiran Jumirah dan Sakem di rumahnya cukup memberi warna. Ia belum pernah berlaku sebagai pengajar seperti itu. Takut kalau mereka tidak kembali, sebagai guru, Koes khawatir akan kelangsungan pendidikan dasar Jumirah dan Sakem. Ia menitipkan masing-masing tiga juta rupiah sebagai beasiswa di kampung. Syukur jika digunakan untuk sekolah, Koes juga pasrah jika uang itu dibelikan kerbau atau sapi. Kenyataannya Koes menggantungkan sedikit harapan pada Jumirah dan Sakem. 

Namun Koes tidak perlu menunggu lama. Kabar dari keduanya segera tiba sembilan jam setelah Jumirah dan Sakem berangkat dari rumah. Telepon berdering:

“Ibu Koes?”
“Betul saya sendiri”
“Ini dari kepolisian Jatibarang. Kami dapat nomor telepon Ibu dari dua anak yang naik bis jurusan Purwokerto, apa Ibu kenal?”
“Kayaknya itu pembantuku lho Pak…”
“Siapa namanya Bu?”
“Jumirah dan Sakem, kenapa Pak?”
“Pembantu Ibu meninggal dirampok. Barangnya hilang semua…” 

Harapan itu hilang bersama kepergian kembang-kembang Seblak untuk selamanya. 

Iklan

6 thoughts on “Kembang-kembang Seblak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s