CARA CEPAT MATI BAHAGIA

Hukum dasar ekonomi , meraih hasil sebesar-besarnya dengan resiko sesedikit-dikitnya, bisa multitafsir. Menjadi cara cepat meraih kebahagiaan dengan kesedihan sesedikit mungkin. Atau, cara cepat meraih kesukesan dengan kegagalan sesedikit mungkin.

Coba saja ke toko buku, dengan mudah kita temukan judul buku dengan awalan “CARA CEPAT…”, “CARA PRAKTIS…”, “CARA MUDAH…” dan sejenisnya. Jenis buku seperti ini, laris manis. Seringkali menjadi top seller. Penulisnya pun beragam. Dari penulis berpengalaman sampai yang masih di usia sekolah. Penerbit bahkan berebut mencari penulis buku-buku ini. Bahkan tanpa riwayat menulis sekali pun. Kadang cukup bermodalkan followers di dunia maya.

Tanpa perlu mendatangi biro riset, kita bisa menyimpulkan fenomena ini adalah cerminan masyarakat yang tidak sabar untuk cepat berhasil. Proses menggapai keberhasilan, dinilai menyusahkan. Kerja keras dan kegigihan, kini seringkali dianggap sebagai tindak kebodohan. Buat apa susah-susah kalau bisa yang gampang-gampang saja. Ekonomis dan praktis.

Seorang teman dekat kemarin protes, kenapa kalau makan ramen sekarang banyak yang menggunakan kaldu instan. Bukan lagi kaldu yang terbuat dari tulang dan rempah yang direbus berjam-jam lamanya. Jawabannya bisa jadi juga sangat ekonomis dan praktis. Untuk apa menyajikan kaldu proses kalau bisa kaldu instan? Toh pembeli kita lebih banyak yang suka menuangkan cabai sebanyak-banyaknya. Bahkan menjadi pertandingan, semakin pedas semakin juara. Padahal semakin pedas maka rasa kaldu akan tertutup. Menjadi kuah rasa cabai. Buat apa bersusah susah dan berlama lama merebus kaldu?

Sudah menjadi jamak sebutan karyawan “kutu loncat”. Berpindah dari kantor yang satu ke kantor yang lain, dengan gaji dan jabatan yang ikut bertambah seiring kepindahan. Ini dianggap sebagai cara instan meraih kesuksesan di korporasi. Sebuah kemahiran. Membuat karyawan tipe setia selama puluhan tahun di sebuah perusahaan, merasa bodoh pada dirinya sendiri. Apalagi, saat menyaksikan pameran keberhasilan di media sosial oleh para kutu loncat. Sakitnya tuh di sini…

Batik yang memiliki nilai tinggi, juga memiliki proses yang panjang. Semakin panjang semakin mahal harganya. Rupanya hal ini tidak lagi penting. Walaupun organisasi dunia telah memberikan gelar World Heritage. Yang penting batik. Tidak penting apakah itu batik cetak mesin dari China yang bisa menghasilkan ratusan meter dalam hitungan menit. Pokoknya kewajiban memakai batik setiap Jumat terpenuhi.

Perjalanan yang panjang dan berkelok tak lagi menarik. Apalagi kalau terjal. Kalau bisa dihindari. Yang penting cepat sampai. Waktu semakin lama semakin tinggi nilainya. Waktu seolah bergerak lebih cepat dari sebelumnya. Tak bisa dibuang-buang. Padahal, satu detik dari dahulu tak pernah menjadi lebih lama atau pun lebih cepat. Sebaliknya proses pun semakin rendah nilainya.

Rupanya keinginan serba cepat ini pun merembet ke harapan ingin cepat pensiun. Lebih baik dibaca ingin cepat berhenti bekerja. Untuk kemudian menikmati hari-hari dan hidup tanpa perlu usaha. Makanya, semua dagangan masa depan mudah, indah, kaya, laris manis. Meraih mimpi ini bukan gratis. Berjibakulah para eksmud dan hipster mencari cara cepat meraih uang demi besok bisa santai-santai. Tak ada yang salah tentu. Namanya juga cita-cita. Tapi ini adalah cita-cita yang menihilkan proses.

Uang di hari tua itu penting. Kegiatan di hari tua itu lebih penting. Kegiatan di hari tua adalah proses menuju hari akhir. Uang tidak bisa membeli waktu. Demikian pula kegiatan. Bedanya, kegiatan bisa membuat hari tua terasa lebih berarti. Apalagi kalau kegiatannya berguna untuk banyak orang. Bermanfaat untuk lingkungan dan sekitar. Berarti untuk keluarga dan orang-orang tersayang. Saat kita pergi untuk selamanya, kita tak membawa uang. Tapi mungkin (karena penulisnya belum pernah meninggal), kita akan membawa ingatan manis yang memberikan senyum selamanya.

Seorang sepuh yang bisa dikategorikan berhasil di hari tuanya pernah berujar “anak-anak sekarang ini pengen cepet-cepet pensiun, terus gak mau kerja lagi. Pengen seneng-seneng, jalan-jalan, belanja-belanja. Gak kerja itu bikin cepet pikun tauk!”

path-shortcut

Iklan

3 thoughts on “CARA CEPAT MATI BAHAGIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s