PASRAH: DARI CINTA SEKALI DAN MENCINTAINYA BERKALI-KALI

2015/01/img_7557.jpg

Selamat pagi berbagai pertanyaan, sudahkah kamu mendapatkan jawaban?

Jalan terbaik adalah jalani hidup dengan langkah tegap? Senang atau sedih itu soal biasa karena yang luar biasa adalah hidup kita. Konon katanya, orang paling bahagia sejatinya adalah orang yang paling sedih dan orang yang paling sedih adalah orang yang paling bahagia.

Hal paling sedih saat sedang berbahagia akan tetapi tanpa tahu dengan siapa kebahagiaan itu harus dibagi. Sedangkan hal paling bahagia adalah saat engkau bersedih tapi tahu pasti semua orang peduli dan berusaha menghibur.

Perasaan itu fana, termasuk perasaan sayang, cinta, benci dan duka. Agar agak sedikit abadi, maka, misalnya cinta, perlu terus dijalani. Karena yang abadi itu bukan keabadian. Toh jika abadi, maka ia tak perlu diabadikan. Hanya kita yang sadar akan kefanaan, akan mendambakan keabadian dan begitu menjunjung tinggi keabadian. Bagi yang abadi akankah berharap menjadi bagian dari kefanaan?

Sepertinya kita menyukai apa yang tak ada dalam diri dan ingin merasakan apa yang belum pernah dirasakan.

Saat kita bercumbu dengan diri sendiri, menatap masa lalu, dengan kekurangan, atau kelebihan dan seluruh perjalanan hidup kita, pernahkah kita melihat kelebihan diri kita sendiri? Jika ada, maka lebihnya kita adalah dari maha agungnya pencipta. Kita melihat keagungan tuhan dari keagungan yang disemai dalam diri ciptaan.

Apa sih yang lebih indah dari kesementaraan? Karena yang tak kekal sebetulnya adalah anugerah. Sesuatu yang dinikmati dan diketahui pasti akan sirna dan merasa kehilangan.

Apa yang lebih indah dari arti kehilangan? Karena kita mengerti saat kehilangan adalah terhadap yang kita sayangi.

Lalu, apa yang lebih indah dari apa yang kita sayangi?  Rasa sayang yang muncul entah darimana, datang tiba-tiba, menghujam dan meluluhlantakan akal sehat kita. Apakah perasaan ini muncul dari ingatan purba kita, dari sesuatu yang pernah ditanamkan dalam otak kita.  Atau dibisikkan entah oleh siapa. Jangan-jangan ini adalah suara takdir? Bukankah kita menyadari rasa yang terkadang begitu “amat sangat” ternyata adalah fana belaka. Mudah hilang, mudah timbul. Mudah tenggelam, mudal muncul. Terbit dan terbenam.

Maka yang paling indah dari apa yang kita sayangi adalah rasa bahagia yang sejatinya begitu getas, rapuh, sementara, dan tak tahu akan seberapa lama perasaan itu ada. Atas nama waktu yang terbatas, kita tak akan menyia-nyiakan rasa bahagia dan menghabiskan waktu bersama siapapun yang kita sayangi.

Bahkan pada tahapan lanjutan, untuk dan atas nama cinta, kita bersedia merelakan kebahagiaan diri sendiri demi sesuatu yang kita cintai?

Pasrah. Berserah diri.

Bahwa tanpa berharap apa-apa. Tanpa hasrat memiliki apa-apa justru kita mendapatkan semuanya. Memiliki rasa bahagia yang dialami orang lain. Juga memiliki rasa sedih dari orang lain. Memiliki apapun yang tidak kita miliki. Memiliki apa yang tidak kita alami sendiri.

Pengalaman dibentuk oleh waktu dan sejatinya kita meminjam waktu . Sesuatu yang telah diberikan dan sudah seharusnya kita kembalikan. Maka kita tak akan pernah benar-beenar memiliki pengalaman, karena kita tak pernah memiliki cukup waktu.  Karena masa bergulir tiada henti. Tanpa jeda, apapun keadaan kita.

Jika kita ternyata tak memiliki perasaan yang abadi dan waktu yang terus bergulir. Lantas apa yang kita miliki?

Kita semua sejatinya bukan si pemilik, karena kita adalah sama-sama yang diciptakan. Rombongan beraneka jenis makhluk. Semesta ciptaan tuhan. Kita adalah hamba? Jangan-jangan kita memang tidak pernah benar-benar perlu memiliki. Kita cukup jalani, alami, nikmati. Memaknai apapun yang terjadi.

Adakah kesadaran bahwa kita sejatinya adalah yang dimiliki? Jika iya, maka waktunya kita untuk berserah. Berbaring sempurna di hadapan segala. Pasrah pada semesta karena tak pernah kita ketahui apa yang akan terjadi waktu berikutnya. Dalam berbaring pasrah, kita melayang-layang dalam lautan keikhlasan. Tanpa beban. Menuju yang lebih tinggi dan hakiki.

Karena yang pasrah, tak akan pernah merasa susah. Karena yang pasrah tak pernah merasa gelisah. Karena pasrah, tidak bicara lagi soal menang kalah. Pasrah bukan karena lelah, namun pasrah karena kita pasrah, segala hal di luar kendali kita, akan jauh lebih banyak menentukan nanti. Kita hanya sebagian kecil dari penyumbang garis tangan. Berupaya sekuat tenaga, lalu berserah diri.

Karena hidup, adalah  menjalankan misi suci.  Kemuliaan yang muncul dan terus  diperjuangkan, namun bukan hanya sekadar soal nurani, soal hati, tapi juga sifat-sifat tanpa cela yang berasal dari sang ilahi. Tapi yang suci, selalu dihadapkan pada yang tak lagi suci. Sesuatu yang kotor, merusak, dan harus dihindari. Sesuatu yang dianggap najis. Sesuatu yang tak kudus. Profan.

Padahal kita tak pernah tahu pasti, sesuatu yang tak kudus itu seperti apa? Bukankah terkadang yang profan malah mensucikan, Karena segala, baik yang suci, maupun yang profan, hadir dari satu kesucian: yang maha suci. Jangan-jangan, kesadaran akan sesuatu yang dianggap kotor,  najis dan yang tak kudus itu ada untuk memastikan kita terus-menerus  berupaya mensucikan diri.

Yang suci, yang kudus tak akan mudah merasa suci. Karena kesucian bukan ada pada kenihilan kesalahan, alpanya kotoran, noda. Kesucian adalah soal keikhlasan. Tanpa ada tujuan lain selain pengabdian demi keluhuran niat, pikiran, dan tindakan. Kesucian bukanlah keadaan, namun upaya untuk terus menerus mensucikan diri.

Lantas jika niat suci telah lahir, lalu kita berupaya menyayangi, namun tak pernah terjadi atas apa yang kita inginkan, masih perlukah kita sakit hati?

Seringkali sakit hati muncul justru karena  begitu mencintai tanpa disertai niat suci dan keikhlasan. Maka penuhi hati dengan kesucian niat, dan berserah diri, bisa jadi ini jalan terbaik yang dapat kita lakukan.

Apa sih yang bisa dilakukan anak manusia? “Bisikkan rencana dan impian kita, maka tuhan akan tertawa“,  Woody Allen berkata demikian.

Maka jalani hidup apa adanya. Menjadi bagian dari sebuah perjalanan. Jatuh bangun, salah arah, salah belok dan memaklumi lebih sering belok kiri, karena bekibolang. Belok kiri boleh bekibolang. Toh belok kiri yang keterusan pada akhirnya sampai pada titik yang sama pada titik semula. Kanan yang keterusan juga akan memutar ke titik semula. Jalan yang lurus pun pada akhirnya jika mendatar, akan kembali ke titik semula. Kita tak berjalan. Kiha hanya perlu memanjat, kepada yang lebih luhur. Menjadi kesucian itu sendiri. Sanggupkah kita merelakan segala? Ikhlas pada garis hidup kita?

Jika tidak, tak apa. Bisa jadi, garis hidup anda memang harus demikian adanya.

Kita hanya sanggup untuk berupaya pasrah dalam mencintai. Karena yang kita benci, dialah yang bisa jadi diam-diam paling mencintai. Siapapun yang kita cintai, boleh jadi justru sosok yang sebetulnya paling membenci.

Dalam ruap hidup, dengan segala kekudusan dan yang profan, dengan segala cinta dan bencinya. dengan segala pasrah dan upayanya, dalam  hidup yang hanya sekali, Sanggupkah kita saling menyakiti? Kita telah begitu banyak disibukkan dengan urusan, untuk apa terus saling menyakiti.

Jika sanggup, maka sakitilah semuanya berkali-kali. Jika dengan menyakiti adalah satu-satunya jalan untuk merasa bahagia. Demi hidup yang sekali. Lalu mati.

Tapi ya sudahlah, jangan terlalu percaya dan terjebak soal pasrah dengan permainan “dikotomi”.  Karena hidup sejatinya gradasi. Dari putih sekali, hingga putih berkali-kali. Dari cinta sekali, dan mencintainya berkali-kali.

Selamat pagi kelembutan hati. Sudahkah kamu sarapan pagi ini?

 

Iklan

12 thoughts on “PASRAH: DARI CINTA SEKALI DAN MENCINTAINYA BERKALI-KALI

  1. Reblogged this on Serendipity and commented:

    “Pasrah bukan karena lelah, namun pasrah karena kita pasrah, segala hal di luar kendali kita, akan jauh lebih banyak menentukan nanti. Kita hanya sebagian kecil dari penyumbang garis tangan. Berupaya sekuat tenaga, lalu berserah diri”

    Suka

  2. Reblogged this on Sebuah Kisah and commented:
    Karena yang kita benci, dialah yang bisa jadi diam-diam paling mencintai. Siapapun yang kita cintai, boleh jadi justru sosok yang sebetulnya paling membenci.
    ….
    Karena hidup sejatinya gradasi. Dari putih sekali, hingga putih berkali-kali. Dari cinta sekali, dan mencintainya berkali-kali.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s