Buku

Sekitar empat sampai lima tahun terakhir, saya hanya bisa membaca buku pada saat bepergian, atau traveling. Anda juga?

Rasanya hanya pada saat bepergian, apalagi dengan jarak tempuh yang jauh ke luar kota atau ke luar negeri, kita bisa menghabiskan waktu dan berkonsentrasi penuh dengan apa yang kita baca. Terlebih saat akses terhadap perangkat komunikasi yang kita miliki saat proses bepergian, bukan saat sudah sampai di tempat tujuan, sangat terbatas.

Kalau terbang dengan pesawat, sudah jadi kewajiban kita untuk tidak mengaktifkan telepon genggam saat pesawat take off dan landing. Sepanjang perjalanan pun, susah konsentrasi terhadap film yang tersedia di layanan in-flight entertainment dengan layar yang kecil dan sound system a la kadarnya. Mengeluarkan laptop atau tablet, sayang batere, walaupun ada port untuk bisa terus menerus mengisi daya batere perangkat-perangkat tersebut.

Pernah saya menghabiskan novel “The Road” karya Cormac McCarthy sekali jalan di pesawat dengan jarak tempuh empat belas jam. Sepanjang malam saya susah tidur, karena takut kalau-kalau di luar jendela pesawat tiba-tiba muncul si bapak dan si anak dari novel itu!

The Road by Cormac McCarthy
The Road by Cormac McCarthy

Lalu saking tegangnya baca novel “Gone Girl” karya Gillian Flynn dua tahun lalu, perjalanan Jakarta-Medan-Jakarta dalam sehari pun tidak terasa sama sekali.

Naik kereta berbelas-belas jam pun lebih nikmat sambil melihat pemandangan. Memang sebagian besar akan diisi hamparan hijau sawah sampai eneg. Dan kalau sudah bosan, lebih enak menghabiskan sisa waktu sambil membaca.

Berhubung tempat saya tinggal dan tempat keluarga berada terpisahkan jarak sekitar 10 jam dengan kereta, kadang saya membuat alasan untuk pulang, atau ke kota-kota lain di dekatnya, hanya untuk bisa rehat dari kerjaan dan sekedar membaca. Novel “Twivortiare”-nya Ika Natassa pun saya habiskan kurang dari sepertiga perjalanan Jakarta-Blitar dengan kereta.

Demikian pula dengan bis, yang biasanya memakan jarak waktu tempuh lebih lama dari kereta. Lelah melihat tulisan di buku, tinggal tidur saja, sampai tiba di tempat peristirahatan berikutnya untuk makan, buang air dan meregangkan otot sejenak.

Di tengah-tengah perjalanan bis dari Oslo ke Haugesund, novel “Revolutionary Road” karya Richard Yates terasa lebih mencekam, meskipun bukan cerita horror.

Tentu saja buku yang dimaksud di sini adalah printed book, atau buku dengan tulisan yang tercetak di atas kertas dan terjilid dengan baik. Atau kalau kata IKEA, perangkat ini disebut sebagai “Bookbook” sekarang.

Membawa buku saat traveling merupakan kenikmatan tersendiri yang buat saya pribadi susah digantikan dengan yang lain. Saat kegiatan bepergian di masa sekarang berarti harus kompromi membawa berbagai jenis gulungan kabel charger yang berbeda-beda untuk berbagai jenis alat elektronik, keberadaan buku membuat isi tas menjadi terasa lebih seimbang. Buku tidak ribet, tidak demanding, dan tidak memerlukan perlakuan khusus untuk menyimpannya.

Menambah beban berat bawaan? Tumpukan baju kita bisa jadi lebih berat. Apalagi buku dengan kertas tipis. Setebal 450 halaman pun masih lebih ringan dari gumpalan pakaian dalam kita.

Dan kalau sudah selesai dibaca, saya lebih senang untuk tidak membawa buku tersebut pulang lagi. Ditinggal saja di bangku pesawat, atau di tempat penginapan saat menghabiskan buku itu.
Terinspirasi cerita di film Serendipity, saya cukup membubuhkan tanda tangan di halaman akhir buku yang dibaca, sambil menuliskan bulan dan tahun saat selesai membaca. Tidak ada nama.

Memang sampai saat ini belum pernah ada kejadian seseorang hadir di depan saya membawa buku dengan catatan tanda tangan saya. Hampir 15 tahun saya melakukan hal ini, masih belum ada juga. Atau ada orang niat mencari-cari buku dengan penanda khusus seperti itu, selayaknya Ryan Reynolds yang melakukannya untuk Isla Fisher di film Definitely Maybe.

Paling tidak, belum ada yang niat mencari novel “Q&A” karya Vikas Swarup yang saya tinggal di suatu hostel di Berlin beberapa tahun lalu, atau kumpulan cerita pendek “Nocturnes” karya Kazuo Ishiguro yang terpaksa saya tinggal di pesawat yang pernah saya naiki dengan mantan kekasih, karena isi salah satu cerita terlalu persis dengan permasalahan yang kami hadapi saat itu.

Nocturnes by Kazuo Ishiguro.
Nocturnes by Kazuo Ishiguro.

But, that’s okay. Cukup mengetahui bahwa di belahan dunia manapun ada orang yang mungkin mengambil dan membaca buku yang pernah saya baca, pegang, dan miliki sesaat, that’s already comforting.

Somehow it feels good to know that you have left your trace in the world, albeit an invisible one.

Jadi, apa yang sedang Anda baca sekarang?

Iklan

26 thoughts on “Buku

  1. Kelar baca Shogun lanjut baca Tai-pan by James Clavel.
    Yak…saya selalu bawa printed book di tas. Sempet dulu kemana mana bawa kindle. Tapi jauh lebih nyaman printed book. Sensasi membalik kertas dan aromanya inevitable. Tapi untuk meninggalkannya di tempat random rasanya sayang. Hidup di kota kecil bisa dapet buku bagus kalo lagi ke kota besar atau pas di bandara saja. Perjuangan banget dapetnya.

    Suka

  2. ketika meninggalkan buku, apakah ada pesan buat penemunya?
    barangkali si penemu ternyata sungkan buat baca, cuma disimpen aja sambil berharap pemiliknya datang

    Suka

  3. Alur Laut Kepulauan Indonesia,
    dan Zoner zone orde (yagitulah judulnya)

    duwa bulan,
    kagak kelar-kelar,
    dibolakbalik sama footnote,
    kagak maju-maju

    yasalaaaaam

    Suka

  4. Bulan ini targetnya baca semua novelnya Ika Natassa. Minggu kemaren baru beresin “A Very Yuppy Wedding”, sekarang lagi namatin “Divortiare” dan minggu depan sampai akhir bulan ini bakal menyikat habis “Twivortiare” dan Twivortiare 2″ \^^/

    Suka

  5. Dan sekarang lg baca Tuesday with Morrie, dalam perjalanan mau tidur.
    Pertama kali baca dulu pinjeman dari Batu Api, tempat baca di deket kampus.
    Skrg dibaca lagi, dan masih sama rasanya.

    Setuju sekali, perjalanan jd lbh asik dgn printed book.
    Cm kl perjalanannya gluduk-gluduk, bacanya jadi siwer jg sih.
    Paling pas itu kl lagi nunggu yg delay-delay, apalagi kl delaynya agak kebangetan.hahaha

    Disukai oleh 1 orang

  6. Always loved Dee’s books. All of the series of Supernova. Memang bukunya agak berat, but it was great. Terutama the latest, Gelombang. Sekarang lg keranjingan baca Haruki Murakami, dan Tolkiens. 😂😂😂😂

    Disukai oleh 1 orang

  7. Adem banget bacanya, Mas. Makasih udah sharing. Pengen juga bisa ninggalin buku-buku yang udah dibaca di tempat random (kuburan?), tapi kayaknya gak sekarang-sekarang dah haha. Kalau saya pribadi biasa baca buku di sela-sela waktu makan siang, menjelang tidur atau pas lagi nunggu. I even cannot trust myself enough leaving home without at least a book in my bag.
    BTW, buku yang sedang saya baca sekarang Doomed-nya Chuck Palahniuk. Next in line: Wonder-nya Palacio 🙂

    Disukai oleh 1 orang

  8. Sedang baca A Tale For The Time Being by Ruth Ozeki. Kebetulan, novel itu tentang Ruth yang ‘menemukan’ diary Nao Yasutani (disengaja dibuang ke laut macam message in a bottle gitu). Menemukan sesuatu yang random semacam itu memberi impact personal ya? Seolah ada konspirasi semesta dibaliknya dan kita dibuat percaya (atau memang ada?)

    Buku memang teman perjalanan paling baik. Meski saya ngga bisa khusus gitu, membaca hanya saat bepergian. Karena saya termasuk bookish yang setiap hari mesti baca karena kalo engga baca, saya kesepian #halah.

    Disukai oleh 1 orang

  9. Lagi baca Titik Nol-nya Agustinus Wibowo, dan di meja sebelah sudah ngantri beberapa buku lagi untuk dibaca.
    Membaca buku selama perjalanan ternyata lebih bisa fokus ya, tau2 sudah hampir selesai dan kendaraan juga sampai ke tujuan 😀

    Disukai oleh 1 orang

    1. Oh, sempat baca juga Titik Nol, tapi tidak semua bab di buku itu. Kebetulan lagi mau pergi ke Nepal waktu baca Titik Nol, jadi cuma cari bagian tentang Nepal.
      Membaca buku selama perjalanan memang lebih bisa fokus, karena jarang ada gangguan dari lingkungan sekitar.

      Disukai oleh 1 orang

  10. saya sedang membaca 9 Dari Nadira untuk entah yang ke berapa kalinya. Suka sama tulisannya mas, kadang selama perjalanan kita justru kepingin menjauh dari dunia, bahkan saya jarang angkat telepon dari orang tua yang untuk sekadar tanya sudah sampai mana dan baru angkat kalau sudah disms dengan huruf kapital semua.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s