Untuk Anda, Pembaca Prioritas

Dari mulai bersekolah, kita diajarkan pada urutan angka dan abjad. Satu sampai tak terhingga, A sampai Z. Kalau ikut ekskul musik, maka akan diajarkan nada Do sampai Si sebelum sampai pada Do tinggi. Memulai dari yang pertama, terendah, untuk kemudian sampai pada yang lebih tinggi dan akhirnya tertinggi. Tapi kita tidak diajarkan mengenai prioritas. Mungkin karena dianggap itu adalah hak pribadi masing-masing. Bukan sesuatu yang harus diajarkan. Sesuatu yang alami nan manusiawi. Benarkah?

Kenyataannya, prioritas diajarkan oleh Bank. “Nasabah Prioritas”. Segala kenyamanan dan kemudahan lebih akan didapatkan, di atas rata-rata. Tidak perlu mengantri, diskon khusus, undangan pembukaan club sampai kenyamanan didatangi oleh customer service Bank di mana pun berada. Dengan satu syarat, memiliki simpanan di Bank tersebut dalam jumlah yang juga di atas rata-rata.

Selain Bank, maskapai penerbangan pun menawarkan yang sama. “Penumpang Prioritas”. Dengan mengumpulkan jarak tempuh mengitari bumi, seseorang bisa mendapatkan tiket gratis bepergian. Atau setidaknya keistimewaan yang pathable, dinaikkan kelas kursinya dari economy ke business class. Untuk mendapatkannya tentu tidak gratis. Sering-seringlah bepergian. Semakin sering, semakin besar peluang untuk mendapatkan gelar Prioritas.

Mall, Hotel, Club, Butik, ah sebut saja sendiri. Bahkan saat memasuki usia clubbing, Prioritas sudah diajarkan. Melihat sekumpulan rekan seusia memasuki club tanpa perlu mengantri, bukan tidak mungkin adalah pelajaran pertama pentingnya menjadi Prioritas. Yakin, pasti banyak yang menjadikan cita-cita hidup yang tak pernah disebutkan. Pernah mendengar seseorang berkata punya cita-cita mau jadi Prioritas? Sepertinya belum.

Tak hanya urusan duniawi, dalam urusan percintaan pun Prioritas menjadi yang utama. Pacar itu maksudnya apa sih kalau bukan menjadi Prioritas pasangannya. Menjadi yang pertama tau setiap detak jantung dan kabar bahagia sampai titik air pertamanya. Kok gak bilang aku dulu? Kok teman-teman kamu sudah tau? Kok aku taunya belakangan? Aku pacar kamu atau bukan sih?!

Buta mengenai prioritas bisa menjadi masalah besar. Ketika seseorang memutuskan untuk memiliki kendaraan bermotor lebih dahulu ketimbang properti, Prioritas hidupnya bisa dipertanyakan. Bagaimana mungkin mengutamakan memiliki yang nilainya berkurang ketimbang yang terus bertambah. Ok, kita sedang berbicara makhluk kebanyakan. Bukan makhluk istimewa yang dari lahir sudah memiliki gelar Prioritas.

Menjelajahi dunia setiap liburan, namun saat pulang kesulitan membayar iuran kos-kosannya?Memiliki tas bermerk, namun di akhir bulan menderita malnutrisi? Membeli dompet seharga langit, namun kemudian isinya kosong? Atau memiliki gadget terakhir tapi minta pulsa seperti Mama? Ah carilah sendiri di media sosial. Dengan sedikit kejelian, kita bisa mempertanyakan Prioritas seseorang. Tak perlu kemudian dilontarkan ya, bisa-bisa kehilangan pengintil.

Seorang teman mendatangi dengan wajah yang lebih mirip zombi. Latar belakang keluarga dan akademisnya, fantastis. Sungguh jauh di atas rata-rata. Sehingga saat dia mengalami depresi, tentu membuat kebingungan teman dan keluarganya. Usut punya usut, obrol punya obrol, ternyata dia memiliki masalah besar: Prioritas.

Meeting klien di pagi hari, sama pentingnya dengan ngeblow rambut. Acara keluarga sama pentingnya dengan acara pacaran. Nonton film terkini di bioskop sama pentingnya dengan mengunjungi acara hipster yang berlangsung tiga hari saja. Memposting status di media sosial sama pentingnya dengan memposting to do list di agenda. Memiliki gadget terbaru sama pentingnya dengan memulai polis asuransi. Pergi ke gereja sama pentingnya dengan jogging di CFD.

Karena semua penting, bisa jadi genting. Dan saat Prioritas diajarkan oleh pihak yang senantiasa ingin mengambil keuntungan, maka selamanya kita akan menjadi murid yang kebingungan. Keputusan seperti apa yang keluar dari pikiran yang kebingungan?

523547_10151146657299306_1657984920_n

OOPS! Okelah tulisan ini diakhiri.

Selamat Tahun Baru 2015!

 

Iklan

5 thoughts on “Untuk Anda, Pembaca Prioritas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s