Mimpi Adalah Soal Waktu

Aku pernah menyarankan satu hal pada sekumpulan anak SMU di kelas menulis. Bunyinya begini: “Seringnya butuh waktu lumayan lama dan kerja keras untuk jadi seorang penulis yang baik. Kalian bisa saja baru mencapai tujuan di umur 40 nanti, tapi prosesnya akan sangat berharga.

Langsung tampak kekecewaan di wajah mereka. “Forty? Oh my goodness. I could be dead by then. And if I’m still alive, I’ll be too old enjoy anything.” Intinya, yang muda-muda ini ndak mau menghabiskan waktu sekian lama untuk hal yang belum mereka tahu betul. Rupanya, generasi muda sekarang kompetitif sekali.

Mereka ingin mencapai impiannya dalam waktu singkat. Mereka ingin aku mengatakan sesuatu seperti ini: “Pelajari kamus itu setengah jam, lalu tulislah karya hebat sebanyak 500 halaman. Tulis tentang apapun di dalam pikiranmu kecuali Sophia Latjuba. Tuntaskan dalam waktu sebulan dan jualah pada penerbit pertama yang menawarkan Rp. 2M. Jadilah cover majalah Times. Habiskan sisa umur kamu dengan membagi-bagikan tandatangan dan makan malam bersama Salman Rushdie.

Kalau saja hidup ini semudah itu. Kita semua sudah mencapai impian. Baik itu sekecil punya mobil, moderat seperti punya rumah, atau impian besar seperti jadi Miss Universe. Manusia bermimpi tentang banyak hal: uang, ketenaran, kemewahan, kekuasan, kesehatan, cinta, Miss Universe.

Beberapa diantaranya, tentu saja, ndak bisa terwujud. Ndak masalah berapa sering aku belajar pose dan jalan diatas catwalk, aku ndak akan pernah jadi Miss Universe. Kecuali dengan berusaha sangat–SANGAT–keras, sekeras Titiek Puspa menghentikan proses penuaan.

Impian yang lain bisa jadi tampak ndak mungkin. Tapi bisa dicapai melalui usaha jangka panjang. Victoria Becham, misalnya. Ia harus bernyanyi dulu dengan grupnya Spice Girls selama beberapa tahun sebelum mencapai impian terbesarnya—menikahi seorang bintang sepak bola.

Apapun bentuk impian itu. Kita mesti kerja keras dalam waktu yang panjang sampai ia tercapai. Kecuali kita sangat beruntung, sangat berbakat atau punya hubungan dengan Aburizal Bakrie.

Kalau impian itu segera terwujud, namanya mimpi buruk. Kita ndak tahu apa yang mengikuti impian itu selanjutnya.

Dunia butuh waktu untuk menentukan apa yang terbaik untuk kita. Kalau aku mengimpikan berada di puncak Himalaya, dan waktu terbangun tiba-tiba ada di sana. Aku pasti mati! Aku tidur cuma pakai celana dalam. Aku belum mempersiapkan mantel tebal, brkal makan yang cukup di udara dingin, dan kalimat sambutan kalau bertemu Yetti.

Ah, mungkin saja anda beruntung kalau satu diantara hal ini terjadi:
— Anda tahu rahasia spiritual Suzana.
— Anda memenangkan hadiah Rp. 123 juta dan ndak punya 123 orang saudara.
— Anda adalah pewaris tahta Majapahit dan berhak mengklaim wilayah kerajaan anda di masa lalu.
— Nama anda muncul dalam surat wasiat Aburizal Bakrie.

Anda adalah orang yang sangat berbakat kalau:
— Waktu masih bayi, kalimat pertama anda adalah “Ibu, aku mau kawin!
— Anda bisa menyebutkan nama semua laki-laki yang sudah tidur dengan Sarah Azhari.
— Waktu bersantai anda diisi dengan membuat game online.
— Anda bisa bikin musik dengan tiga organ tubuh yang berbeda.

Bahkan dengan semua bakat dan keberuntungan itu, tanpa kerja keras, kecil kemungkinan untuk berhasil. Kerja keras secara bertahap untuk mencapai tujuan seperti menabung di bank. Seiring dengan waktu, bunganya bertambah, dan sebelum kita menyadarinya, kita sudah punya uang untuk suntik Botox—atau operasi plastik.

Ndak memandang apa pekerjaan kita. Kalau kita mengusahakannya dengan sungguh-sungguh dan dalam waktu panjang, hasilnya semakin baik. Tanya saja Mike Tyson. Karirnya dimulai dengan kemampuan memukul telak yang bikin KO. Tapi, seperti semua orang berpengalaman, ia belajar teknik-teknik baru. Belakangan ia juga menggigit! Kedepannya jangan heran kalau ia menendang dan menembak.

Rumus yang sama juga bisa bermanfaat bagi kita. Cuma harus sabar dan terus berusaha. Ini mungkin makan waktu tahunan, tapi bukan sia-sia. Tergantung apa imipiannya lho ya…

Iklan

4 thoughts on “Mimpi Adalah Soal Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s