Film dan Aku

Aku termasuk orang yang jarang ke bioskop. Tapi sekalinya ke bioskop, 3-5 film bisa aku tonton sekaligus. Bukan karena hobi atau kebiasaan, tapi lebih ke urusan waktu. Jangan pula mencari aku di festival film. Jarang datang. Aku lebih suka menonton film, di waktu dan tempat yang aku tentukan sendiri. Di saat perhatian dan batin aku sepenuhnya siap.

Karenanya aku pun jarang mengajak teman untuk nonton. Aku tak mau konsentrasiku diganggu dengan obrolan kecil saat film, atau mendengarkan suara mulutnya saat makan brondong jagung. Ganggu!

Aku tak bawel urusan nonton di mananya. Suara bocor, kursi tak empuk, atau popcorn kurang garing bukan faktor penentu. Kemacetan Jakarta, menjadi alasan utama. Praktis sajalah. Bagiku, yang penting aku paham ceritanya. Aku bisa mendengarkan dialognya. Dan aku ekspresi aktor aktrisnya terlihat jelas.

Saat menonton, kadang aku mencoba membaca pikiran sutradara. Apa yang hendak disampaikannya dari adegan tadi. Dan tak jarang pikiranku melantur ke ingatanku soal sutradara. Film apa yang pernah dibuatnya sebelum ini? Apa latar belakangnya? Perjuangannya? Pandangan hidupnya? Kesehariannya? Orientasi seksualnya? Hari gini, hampir semua sutradara bawel di media sosial.

Bagiku, film adalah ungkapan pribadi sang sutradara. Sutradara sedang bercerita. Memaparkan pikirannya. Menyampaikan pendapatnya lewat gambar. Penilaiannya terhadap kehidupan di sekitarnya. Semakin banyak observasi yang diserapnya, bisa dipastikan filmnya akan lebih menarik hatiku.

Bukan tak suka, tapi visual cantik bukan yang aku cari. Malah kadang aku rasa mengganggu. Semacam interupsi saat pembaca dongeng sedang bercerita. Pemandangan alam, contoh yang sering aku tonton.
Lebih sering aku maknai sebagai usaha sutradara untuk menutupi kelemahan filmnya. Dan memang sebagian besar film yang menonjolkan pemandangan indah secara berlebihan yang aku tonton, jarang memiliki cerita yang berkesan. Sesudah menonton pun tak ada bekas sedikit pun untuk dibawa pulang. Apalagi untuk dibahas saat ngopi bersama teman-teman.

Aku suka cerita film yang bisa menjadi bahan diskusi. Sendiri atau bersama teman. Aku suka cerita film yang bisa membuat aku merenung. Mempertanyakan pikiran dan pandanganku selama ini. Menggoyang keyakinan sekaligus mengobrak abriknya. Silakan. Dengan senang hati. Di kursi penonton, aku pasrah. Toh bukan film interactive macam Vivid yang aku tonton di bioskop.

Kemarin, aku menonton sebuah film laga buatan dalam negeri. Dipenuhi oleh aktor dan aktris cakep. Dan pemandangan yang maha indah. Tak dijelaskan dengan pasti, kapan dan di mana cerita ini terjadi. Sepanjang film, aku berusaha untuk menghargai usaha yang dikerahkan untuk pembuatan film ini. Mulai dari usaha mengshoot pemandangan alam, usaha aktor dan aktris belajar silat, usaha untuk menyodorkan genre baru dalam perfileman Indonesia. Belum sempat aku menyelami cerita filmnya, film keburu selesai.

Tontonlah Pendekar Tongkat Emas, karena ini film buatan Indonesia.

Kemarin, aku menonton sebuah film drama asal India. Di awal film tampak pembuatan yang sekenanya. Aku yakin bahkan mahasiswa di Indonesia bisa bikin adegan pesawat ruang angkasa mendarat di bumi lebih baik dari film ini. Cerita bergulir dengan gamblang dan sederhana. Mempertanyakan dan mentertawakan kehidupanku sehari-hari. Merefleksikan pandanganku tentang agama dan Tuhanku. Mengajak aku berpikir ulang tentang keyakinanku. Aktor utamanya di film itu tak tampan. Aktris utamanya tak cantik berlebih. Mereka berdua sepanjang film, seperti sedang duduk di meja ngopi bersamaku. Dan aku terlibat dalam perbincangan seru. Seolah aku ikut berinteraksi. Dan aku pulang menonton dengan oleh-oleh.

Tontonlah PK, karena ini film tentang manusia.

Kemarin, aku menonton sebuah film drama kecil buatan dalam negeri. Dari filmnya, aku bisa merasakan usaha pembuat film untuk menampilkan yang terbaik dengan dana terbatas. Beberapa editing yang tiba-tiba sedikit mengganggu. Cerita tentang tiga perempuan di kota Jakarta bergulir sangat sederhana. Masing-masing dengan masalahnya sendiri-sendiri. Hubungan mereka dengan pria dan wanita. Ketiganya mempertanyakan soal eksistensi kehidupannya. Bagian yang jarang dibahas secara terang-terangan. Perbincangan rahasia di malam hari. Saat kesunyian tiba. Tapi di film ini, kesunyian kota Jakarta itu ditampilkan keriuhan luar biasa. Sindiran, guyonan, terasa ingin dikedepankan oleh sutradara. Dan aku pun dibuat tersenyum olehnya sampai akhir film.

Tontonlah Selamat Pagi, Malam, karena ini film tentang rahasia.

Satu pendapatku yang tidak bisa diganggu gugat: film adalah tentang kehidupan. Tak peduli apa pun genre filmnya. Kehidupan yang maha besar ini adalah ciptaan Tuhan. Aku hanyalah satu titik tak telihat dari kehidupan itu. Maka, menonton film apa pun, selama menampilkan cerita tentang kehidupan dan manusianya, aku yakini sebagai usahaku untuk memahami aku dengan Tuhan. Tuhanku.

Tanpa ini semua, film bagiku hanyalah deretan gambar tanpa makna. Lebih baik aku tidur. Karena mimpiku sering lebih seru.

Satu lagi pendapatku yang tidak bisa diganggu gugat: Nicholas Saputra belum jadi aktor. Nico adalah Nico, apa pun ceritanya, apa pun lakonnya. Nico adalah Rangga dan Joni selamanya. Kita tunggu saja, kapan Nico bisa pasrah dan bisa meniadakan dirinya sendiri saat sedang beracting.

Iklan

2 thoughts on “Film dan Aku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s