Menunggu Pocong

Di alur cerita horror biasanya ada adegan satu orang yang cukup brilian keluar dari kumpulannya, berjalan sendirian dan menunggu—siapa tahu ada Michael Jackson lewat. Tapi, kita tahu sebagai penonton, di sini serunya. Dengan menunggu seperti itu, kita akan dibuat kaget dengan pocong atau kuntilanak yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Ya, kita semua tahu, tokoh itu sengaja dibuat menunggu untuk dihampiri si pocong. Anehnya, kita tetep kaget!

image
Jreeeng! (dari Google lah, mau dari mana lagi)

Apa yang terjadi lebih ironis lagi. Kita, sebagai penonton, menunggu dengan penuh antusias dan sudi membayar beberapa persen dari gaji bulanan untuk melihat sesuatu keluar dari balik pohon, melompat, dan bikin pingsan seseorang yang sama-sama menunggunya dengan kita. Kebodohan saling tunggu ini jadi lingkaran setan. Rupanya menunggu bisa jadi bisnis. Produser film tahu betul apa yang kita tunggu. 

Ini namanya kecolongan. Kita mudah dijadikan bulan-bulanan karena menunggu. Lebih lagi, menunggu bisa jadi sangat merugikan. Bayangkan kerugian yang dialami si penunggu diatas tadi. Pertama, disamperin Pocong. Kedua, kaget. Ketiga, ndak dapat apa-apa, kecuali emang dia mau liat pocong.

Seorang dokter gizi pernah mengingatkan sesuatu 15 tahun lalu. Ia bilang: “Kalau kamu mau melakukannya, lakukanlah sekarang!” Ini berlaku umum. Bukan hanya untuk diet, tapi juga pekerjaan, bisnis, dan Pocong. Pemasaran yang baru membutuhkan lebih sedikit perencanaan dan lebih banyak interaksi. Lebih banyak sekarang dan lebih sedikit nanti. Ini soal kesempatan—yang kebanyakan ndak datang dua kali. 

Menunggu lalu Menunda
Apa yang bisa dibanggakan dari menunggu? Kesabaran. Lihatlah para pemancing ikan mujaer professional di Taman Mini. Mereka adalah para pemenang lomba menunggu yang paling dramatis. Hadiahnya, tingkat kesabaran yang tinggi plus sepiring makan malam mujaer balado. 

Terlalu kecil hasil yang didapatkan dari memperpanjang waktu tindakan. Kita seringnya menunggu lalu diikuti dengan menunda. Ini jadi kebiasaan. Dalam pekerjaan, ia mengecilkan nilai efisiensi. Dalam bisnis, ia menghapus peluang jadi besar. Di alam gaib, ia mendatangkan Pocong!

Kesempatan adalah Mukjizat
Keajaiban paling massif yang dimiliki manusia beruntung abad ini adalah kesempatan (untuk ndak menyebutkan anak Aburizal Bakrie). Alam menurunkan aneka peluang dalam kapasitas yang kecil. Saat kita kejatuhan satu diantara yang sedikit itu, hukumnya dosa kalau ndak segera bertindak. Jangan menunda. 

Tengok desktop anda sekarang. Ya, sebelah situ. Itu kertas apa? Anda sudah menundanya selama seminggu. Di layar ada satu tulisan yang sengaja dibiarkan atas nama ‘bukan saat yang tepat.’ Pilihannya cuma dua: sekarang atau lupakan! 

Boleh Menunggu, asal…
Anda tahu hasil akhirnya. Artinya, tahu pasti apa yang kita kerjakan. Kita paham betul visi dan pencapaian. Jangan jadikan menunda itu kegiatan yang sia-sia. Samsung tahu betul kenapa ia menunda mengeluarkan Galaxy S17 lima tahun dari sekarang. Ia memilih untuk mengeluarkan banyak turunan-turunan smart phone itu dalam rangkaian ponsel goblok, kurang pintar, agak pintar, dan-nantinya-jenius. Ia meraup lima kali lipat keuntungan daripada cuma mengeluarkan si jenius dalam sekali terjang. Menunggulah dengan cerdas.

Akhir Penundaan
Ini hampir bisa dipastikan dialami semua penunda. Akhir dari penundaan adalah penyesalan. Apapun bentuknya. Berapapun biayanya, penyesalan adalah bentuk lain dari kerugian. Tingkatnya kadang ndak terukur. Kerugian yang tak terukur hampir sama dengan bencana alam, tanyakan saja pada ahli keuangan. 

Baiklah, anda tidak merasa rugi bertemu dengan pocong. Anda juga rela membayar pertemuan itu–belum termasuk biaya popcorn dan soda. Padahal anda sudah melepaskan satu kesempatan besar dengan biaya rendah: berinteraksi dengan pocong. Menunggulah dengan cerdas—di kuburan. Peluang untuk jadi besar adalah ketika anda memenangkan interaksi dan menarik tali pocong diatasnya. Lalu menggunakannya untuk jaminan kekayaan. Sayangnya, peluang untuk penyesalan masih terbuka lebar di sini: Pocong menagih imbalannya—who doesn’t? 

Maka, angkat telepon atau tulislah sebuah kalimat atau desainlah halaman itu segera. Menunda sampai nanti percuma saja!

Tunggu dulu!…

Betul kan. Anda tidak mematuhi perintah untuk menunggu. Anda tetap meneruskan bacaan ini. Satu lagi keanehan dari menunggu. Ia akan hilang kalau dalam kalimat perintah.

Iklan

5 thoughts on “Menunggu Pocong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s