Selamat Pagi, Selamat Bermimpi

Sudah saatnya kata-kata yang mandul kita hamili; yang pesolek ngapain dicolek, toh lama-lama kehabisan molek. Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi birahi. Supaya sepi bertunas kembali, supaya tumbuh dan berbuah lagi.  [Sajak ‘Sudah Saatnya’ – Joko Pinurbo]”

Ketika blog rame-rame ini hadir, para penulisnya tidak memiliki dugaaan apa-apa soal mau kemana blog ini mampir dan berakhir. Awalnya sederhana: Saya ingin onani, bukan hanya di sudut kamar mandi, namun juga di hadapan publik. Menulis sesuai selera saya sendiri. Suka tidak suka, pembaca silakan nilai sendiri. Toh saya sudah puas dengan ritual saya menyetubuhi hasrat, pikiran, gairah dan menuangkannya dalam tiap baris postingan. Celakanya saya tidak mau melakukannya sendirian. Saya mengajak banyak kawan.  Maka sejak 24 Agustus tahun ini, saya dan kami, dengan caranya masing-masing, tidak memilih berorasi. Kami pilih jalan lain. Onani dengan hati.

“Aku menyadari sepenuhnya bahwa aku tidak lebih dari sebuah mesin pembuat buku.” — Chateaubriand.

Waktu bergulir. Hampir genap empat bulan kami, setiap pagi, dengan menggunakan medium yang lain,  seperti mesin pembuat tulisan. Tanpa jeda. Apakah kami terjebak dari kegiatan memuaskan diri sendiri menjadi mesin pembuat cerita? Seharusnya tidak. Rutinitas yang kami pilih sendiri seharusnya menyenangkan dan tidak memberatkan. Bosan tentu saja, tapi bosan yang ngangenin. Bosan yang bikin kami kecanduan. Kami malah begitu gelisah, para rekan pembaca setia linimasa mulai jengah dan mual dengan riak, ombak, dan guyuran hujan kata-kata kami. Oleh karena itu mari dimulai dengan kata “kita”. Kami dan Anda, yang melebur dalam satu nasib sepenanggungan.

Kita.

Anggap saja kita adalah saudara. Satu ayah satu ibu. Hanya beda kelamin saja.

On n’peut pas et’ plus proch’ parents / que frere et soeur assurement

“Ndak ada rasa kekeluargaan yang lebih erat daripada antara saudara laki dan perempuan.” [les mots-1964]

lirik ini adalah lagu yang sering disenandungkan Charles Schweitzer, kakek Jean-Paul Sartre ketika Jean masih imut.

Tapi rasa-rasanya ini tepat kita usung, biar ndak cepat bosan. Jika Anda lelaki, anggap saja penulis linimasa ini adik perempuan yang sedang belajar menulis diari. Jika Anda perempuan, anggap saja kami ini adik lelaki yang sedang belajar menulis surat cinta.

Bahkan kami sendiri pun, penulis linimasa, terbagi dalam beberapa kategori. Glenn Marsalim dan Gandrasta Bangko itu agar lebih mudah dimengerti,  dibayangkan saja bagai dua emak-emak yang sedang berdiri menawar sayur-mayur depan komplek rumah, sembari menggosip kesana-kemari sembari membunuh waktu menunggu para suami pulang. Obrolannya tidak jauh dari soal ancaman harga cabe yang meroket, ancaman keberadaan tetangga baru yang ternyata janda, juga soal keluhan  bengalnya anak-anak zaman sekarang, yang jika dimintakan tolong susahnya setengah mati, tapi ketika ada maunya, anak-anak itu siap dijadikan hamba sahaya.

Bagaimana dengan Dragono Halim. Dia anak sulung. Anak mahasiswa yang lebih suka tidur di kampus daripada pulang ke kos-kosan. Hidupnya penuh energi. Tapi anak sulung yang baik. Tenang, pembawaannya menentramkan. Mengasuh adik-adiknya yang hilang arah. Sekalinya pulang ke rumah, dia tidak lupa membawa oleh-oleh buat orang tua dan adik-adiknya. Sayangnya oleh-olehnya selalu saja tak kasat mata. Cerita tentang dunia kampus, hiruk pikuk pergerakan, dengan buih putih di sudut bibirnya.

Lalu apa kabar dengan Agun Wiriadisasra. Ini anak kedua. Ndak mau sekolah. Maunya main gadget muluk. Bangga dengan gelang DWP dan ndak mau dilepasnya hingga Lenny Kravitz manggung tahun depan. Bicara hal baru. bahkan sebelum hal itu ada. Dia bicara, lantas para penemu dan insan kreatif sibuk mewujudkan hal-hal yang baru saja dibicarakannya.

Nauval Yazid adalah adik bungsu. Dia memiliki sedikit masalah. Namun masalahnya agak-agak gawat. Hal yang paling dirisaukan adalah  soal orientasi seksualnya. Dia bingung antara memilih menjadi pacar aktor ternama atau petinju amatir. Dia pusing ingin ikut terkenal atau ingin didekap dengan otot-otot dan ornamen urat menjalar disekelilingnya. Ibunya, Glenn Marsalim sering memarahinya. Ibunya selalu pusing tujuh keliling. Tapi apa daya, akal anak jauh lebih banyak daripada Ibunya. Wajar tanpa pengecualian.

Sedangkan Roy Sayur ini figur bapak yang sering salah masuk kamar antara kamar istrinya, Nyonya Glenn Marsalim atau ke bilik pembantu rumahnya, Zus Farah Dompas. Kesalahan terbesar dari Nyonya Glenn adalah merekrut mantan pekerja NGO yang memperjuangkan nasib TKW untuk menjadi pembantu rumah tangganya. Lebih sering membaca buku daripada menyapu. Lebih sering menonton berita daripada menyetrika.

Roy Sayur ternyata lebih sering salah mampir, tanpa sengaja. Mengendap masuk ke halaman belakang. Menggoda penghuni kos-kosan mahasiswi milik Ibu Gandrasta.

Tapi ya sudahlah. Bukankah setiap keluarga punya problematikanya masing-masing. Jangan pikirkan apa yang menjadi masalah kami. Kita memikirkan tentang kita saja.

Banyak yang bertanya mengapa tagline linimasa adalah “karena internet butuh lebih banyak hati”.  Ini sebetulnya gaya-gayaan saja. Tanpa makna tersembunyi dan mengusung nilai-nilai luhur. Toh kami ini apa? Hanya kaum borjuis ibukota, baik ibukota negara, provinsi maupun penghuni sementara pelosok Kanada.

Kami ingin simpel seperti pengakuan pariyem. Kami ingin sederhana seperti sepetak meja dengan berbagai pilihan kolesterol di atasnya. Gerak langkah akal itu membosankan. Menulis dengan tumpuan hati seperti menarik bagi kesehatan kami. Tidak lagi jemari, tapi qalbu hati yang menekan tuts hape atau kibor komputer kami.

Bukankah persepsi hati akan jauh lebih kaya jika sekadar akal dan intelektual? Persepsi akal akan butuh banyak bantuan perantara dalam mengenal objeknya, seperti huruf, konsep, atau representasi. Sedangkan kami tidak mau repot dengan soal itu. Hati adalah soal intuisi, yang langsung menembus objeknya. Ketergantungan pada “perantara”, yang disebut Bergson sebagai “simbolisme’ akan berputar-putar sibuk bicara media. Bicara mak comblangnya. kami ndak mau ba-bi-bu. kami ingin langsung menusuk, eh ralat: Kita. Kita ingin membicarakan langsung soal “jantungnya”.  Akal akan sulit bicara realitas yang sejati.

Bagi seorang Rumi, akal, dengan logika sebagai andalannya ibarat kaki palsu yang terbuat dari kayu. Dan kita tahu, selemah-lemahnya kaki adalah kaki palsu, apalagi terbuat dari kayu.

Cinta, misalnya, sulit dipahami oleh akal diskursif, berapapun buku teori cinta kita baca, kita ulangi dan coba kita pelajari. Cinta hanya dapat dipahami dengan “mengalami”. Inilah yang disebut pengenalan langsung secara intuitif. Dengan hati. Mengenali sesuatu tanpa berjarak, tapi mendekap erat. Objek yang hadir dalam subyek.

Kita tak hanya ingin berkenalan dengan wajah. Kami juga ingin berkenalan dengan hati.

Boleh?

Bagaimana dengan kritik Moralizing Wasaising. Blog ini terlalu chicken soup. Muatan moralnya seperti kepala sekolah yang menasihati siswi kesusteran.

Kami tak membantahnya. Kita bicara apa adanya.

Seorang sahabat Kanjeng Nabi memuji seorang saleh.

“Mengapa ia kau sebut sangat saleh?”– Gusti Kanjeng Nabi bertanya.

“Soalnya tiap saya masuk masjid ini dia sudah salat dengan khusyuk dan tiap saya sudah pulang, dia masih saja khusyuk berdoa.”

“Lalu siapa yang memberinya makan minum?” Kanjeng Nabi bertanya lagi.

“Kakaknya”, jawab sahabat.

“Kakaknya itulah yang layak disebut saleh”.- ujar Kanjeng Nabi.

Sahabat itu diam.

Apakah kisah diatas adalah soal moralizing wasaising? entahlah.

Sekarang sabtu pagi jelang natal, waktunya kita menarik selimut dan tidur lagi. Sebelum tidur, seperti biasa izinkan  saya bacakan sepenggal Abdul Hadi W.M.

Bawakan aku sebutir embun semalam 

membuat bunga itu bermimpi.

Selamat pagi, selamat bermimpi.

Iklan

18 thoughts on “Selamat Pagi, Selamat Bermimpi

  1. jangan bicarakan tentang cinta….
    ….yang absurd

    kita bicara tentang hati,
    hati dalam hati – hati, yang selalu dikatakan oleh ibu
    hati dalam jantung hati, yang disebut oleh orang tua
    mungkin hati dalam jatuh hati, digunakan para perayu


    DJ’s ….atau bahasa resminya komposer
    memadu musik dan lagu,
    ada atau tidak ada sebelumnya

    penulis
    menceritakan pengalaman dan pengamatannya,
    baru atau improvisasi dari pendahulunya

    ilmuwan,
    mendongengkan mimpinya
    lewat analisa dan angka yang bercampur baur dengan alphabet
    bercanda dengan teka-teki

    kemudian,

    orangtua,
    membentuk karakter manusia,
    dengan darah, airmata, harta, dan segala yang mereka punya


    orang bilang semua tentang teknik,

    apajadinya tanpa hati

    selamat berbagi hati

    kalian

    perayu


    aku kerja dulu …… dengan hati

    blaahhhh

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s