SELAMAT HARBOLNAS 2014

Tahun 2014 akan dicatat dalam sejarah sebagai tahun pertama diluncurkannya HARBOLNAS, Hari Belanja Online Nasional. Hari di mana toko-toko online memberikan diskon kepada pembelinya. Media sosial pun ramai dibuatnya. Beragam reaksi seperti biasa. Mulai dari yang mendukung dengan mengumumkan total nominal belanjanya, keriuhan para buzzer sampai yang menentangnya. Kok ditentang? Ya karena menurut sebagian orang, diskon yang diberikan tidak terlalu menguntungkan. Bahkan bisa jadi merugikan. Biasa lah… Setiap ada aksi  pasti ada reaksi.

Menjelang malam, seorang perencana keuangan terkenal memperingatkan agar membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan melalui tweetnya. Sebelumnya tentu dia sudah mengakui dirinya sebagai party pooper. Orang lagi seru-seru belanja, ganggu aja deh! Kan keyakinan membeli jadi goyah… Tapi kenapa bisa goyah?

Membedakan mana kebutuhan dan keinginan, memang tidak mudah. Apalagi keduanya bisa jadi adalah satu.

Baju. Ada seberapa banyak dari para netizen (target utama HARBOLNAS) yang memandangnya sebagai kebutuhan? Yang kalau tidak membeli baju, maka dia akan menggunakan daun untuk menutupi auratnya? Tentunya ada pengecualian pembelian baju untuk kebutuhan khusus, seperti baju untuk menyelam, jas sunatan dan gaun pengantin. Tanpa perlu menggunakan data dari mana pun, bisa kita pastikan semua pembelian baju di HARBOLNAS adalah keinginan. Salahkah?

Dengan membeli sehelai baju baru, membuat pemakainya merasa bagian dari zaman. Sehingga dia merasa lebih percaya diri saat bekerja di kantor. Dan karena percaya dirinya pula, presentasinya di depan boss jadi lebih memukau. Sehingga pemakainya bisa mendapatkan promosi lebih cepat. Penghasilannya pun bertambah sehingga bisa membahagiakan orang tuanya. Bisa memulai cicilan apartemen segera. Dan mampu untuk menolong orang-orang yang membutuhkan di sekitarnya.

Dengan membeli smart phone baru, seorang eksmud juga membeli eksistensi. Menjadi bagian dari pergaulan ibukota yang aktif dan dinamis. Luasnya pergaulan rupanya juga membuka pintu jodoh lebih lebar. Kemudian bertemu dengan belahan jiwanya sehingga akhirnya menikah. Membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah menjadi panutan bagi keluarga-keluarga lain di sekitarnya. Dan kemudian memiliki anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Dengan membeli sebentuk tas baru, memberikan perasaan nyaman bagi seorang ibu karena sudah mengikuti trend seperti yang dilihatnya di vogue.com. Dengan penampilan yang trendi, ibu tersebut jadi merasa lebih cantik sehingga suaminya selalu terpesona. Ancaman suami selingkuh pun semakin menjauh. Keutuhan rumah tangga bukan hanya bisa dipertahankan sampai akhir hayat. Janji di depan penghulu, lunas.

Dengan membeli sehelai celana baru, seorang hipster bisa memperkokoh statusnya. Selalu menjadi yang terdepan dalam berbusana. Beda dari yang lain. Bisa menjadi inspirasi bagi sekitarnya bukan hanya mengikuti tapi juga menciptakan kreasi baru yang mendahului masanya. Menjadi panutan bukan hanya dalam negeri tapi juga dunia. Harapan Indonesia sebagai negara inovatif pun bisa dengan segera terwujud.

Dengan empat contoh di atas, rasanya tidak ada yang salah dengan berbelanja berdasarkan keinginan. Karena keinginan bisa dibikin jadi kebutuhan. Alasan membeli barang, tidak selalu mudah dipertanyakan. Usia, pendidikan, kematangan berpikir, kondisi keuangan (ada kartu kredit sih…), persepsi diri, selera dan sebagainya menjadi faktor penentu.

Seorang teman yang hobi berbelanja tas, memasuki usian kepala 4, berkata di Pathnya “ternyata benar, berinvestasi di property lebih menguntungkan daripada di tas.” Mungkin dia lupa, bahwa tas-tas koleksinya telah memberikan semangat sehari-hari saat bekerja sehingga memungkinkan dia mengumpulkan uang untuk membeli property saat ini. Jasa tas kemudian dilupakan saat prioritas dalam hidupnya berganti.

Saat berbelanja, gunakan moto “hidup hanya sekali”. Kapan lagi bisa mengenakan baju trendi sesuai zaman? Sebentar lagi usia akan memakan kita dengan bentuk badan tak beraturan sebagai gantinya.

Saat berbelanja, ingatlah pesan “uang tidak dibawa mati”. Selagi uang ada, belilah. Nikmati hasil kerja keras dan hiduplah selama hidup. Karena umur adalah rahasia Ilahi.

Dan kalau saat berbelanja tidak menemukan alasan untuk membelinya, carilah lebih dalam. Cari sampai dapat sehingga tidak merasa bersalah saat membelinya.

Hanya ada dua alasan yang bisa menghentikan kita berbelanja: HUTANG dan PRIORITAS.

Hutang, jelas. Apa nikmatnya pake baju baru tapi cicilan mendera? Bahkan saat baju itu tak lagi trendi, hutang bisa jadi belum lunas.

Prioritas? Ingatkah cerita seseorang membeli dompet baru, tapi kemudian isinya kosong? Atau samrtphone baru tapi tidak bisa aktif karena menunggak menunggak tagihan provider? Atau setelah beli tiket untuk berlibur pulang harus menumpang di kos-kosan teman?

those-who-hate-shopping-dont-know-how-to-shop

… and don’t hate those who know how.

Selamat Hari Belanja Online Nasional 2014!

 

Iklan

8 thoughts on “SELAMAT HARBOLNAS 2014

  1. Setuju. Keinginan atau kebutuhan, apapun sebutan untuk barang yang dibeli, saya pikir sebaiknya dan seharusnya mereka dapat mendatangkan value kepada buyer, bukannya remorse. Jika boleh menambahkan, saat belanja tanyakan kepada diri sendiri: “akankah ini mendatangkan dan menambah nilai?”

    Disukai oleh 1 orang

  2. Dengan menjunjung tinggi semangat “lebih baik nyesel beli daripada nyesel nggak beli”.demikianlah Hari Belanja Online Nasional ini diresmikan. Dan jangan lupa, when in doubt, buy all

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s