Karena Tawamu Adalah Puisi Bagiku

Tidurlah kursi, tidurlah di atas ombak 

di samping nyenyak dan gelisah yang tak tampak

(Abdul Hadi. W. M)

 

Tak ada sesuatu kecuali puisi. Ini kata Heidegger. Lanjutnya, puisi adalah mata air dari landasan bahasa, seni, sejarah, Ada, dan kebenaran. Ia meletakkan dasar, membangun, menempatkan, dan memberi nama. Ia dirikan eksistensi. Puisi mencipta renungan.

Kapan kita berpuisi? Saat jiwa kita tersentuh. Saat sedih, jatuh cinta, senang, gelisah, gembira, bahagia, dan duka. Sulit sekali rasanya ketika sibuk di ruang kuliah, konsentrasi pada satu mata pelajaran dan mendengarkan dosen ngecuprus lalu kita berpuisi. Atau saat kita naik ojek di antara dua kaca spion mobil, dengan hati was-was. Sulit.

Pokoknya sulit.

Berpuisi di jaman pragmatis juga dilakukan saat kita tak banyak memiliki ajimat universal: uang. Ingat betul, saat saya, zaman dulu, mendekati seorang puan jelita dengan tanpa modal ajimat universal, rambut gondrong ndak jelas, dan roda dua. Hadapi saingan penuh glamor dimana-mana: empat roda, wangi, siap traktir kemana-mana. Maka senjata kaum “tak bermodal” hanya satu: puisi. Senjata pamungkas yang digelontorkan dengan tema utama: “hidup dengannya mungkin lebih mudah tapi percayalah hidup denganku semuanya pasti indah.”

Apakah sukses? tidak selalu. Nyepik adalah mata uang yang dulu jaya namun semakin pudar khasiatnya akhir-akhir ini. Kalah oleh kalimat: “Saya ndak bisa nyepik, mbak. Beneran! Saya cuma punya banyak uang.” Ini nyepik dalam lintasan perlombaan lain. Beda galaksi. Mau tidak mau, saya mengaku kalah. Realita yang tak bisa dikalahkan oleh sekadar mimpi.

Puisi bicara rasa. Kita yang sedang bercakap-cakap dengan diri sendiri. Untuk bahagia. Sedih untuk bahagia. Saat bahagia yang dilipatgandakan untuk makin bahagia. Bertrand Russell, dalam The Conquest of Happiness bertanya apa sih orang yang bahagia itu? Dia menjawab sendiri atas pertanyaannya.

Orang yang merasakan dirinya sendiri sebagai warga alam semesta, menikmati pertunjukkan besar yang diberikan alam semesta dan kesenangan yang disediakannya. Tidak gelisah dengan berbagai pemikiran tentang kematian karena dia merasa bahwa dirinya tidak benar-benar terpisah dengan orang-orang yang akan hidup setelah dirinya. Dalam persatuan naluriah mendalam dengan aliran kehidupan seperti itulah kesenangan terbesar harus ditemukan.”

Bagi saya, berbahagialah orang yang menye-menye. Jenis manusia yang begitu mudah larut dalam suasana. Mudah takjub, juga mudah gelisah. Karena itulah hidup. Bersandar dari titik perasaan. Kepala dan hati yang menyatu. Segala tubuhnya menjadi indera perasa. Kulit yang merasakan udara, suasana, hal, suhu, lembab udara dan aroma. Mata yang memahami mimik muka sedih, gembira, dan malu-malu tak tahu harus berbuat apa. Telinga yang mendengar kesepian. Hidung yang dapat mencium kapan hari akan hujan. Tangan dan kaki yang dapat membawa mimpi untuk berlari menuju masa depan dan menjadi kenyataan. Karena hal fisik kita sebetulnya lebih bebas dari lidah yang menggumamkan penyataan.

Puisi adalah kata-kata. Tapi ada yang bilang begini. “.. kata-kata sebetulnya tak pernah sebebas tubuh“. Tubuh kita pun dapat berpuisi. Bahkan tubuh kita jauh lebih bebas untuk berpuisi. Saat menari tubuh kita sedang berpuisi. Saat berlari, nafas dan kaki kita sedang asyik berpuisi. Deru nafas mimpi. Saat memandang seseorang yang kita inginkan, tubuh kita berpuisi: hati tiba-tiba anget, darah berlari kencang, mata berbinar-binar dan senyum yang merekah. Fisik kita sedang merespon keindahan yang dipindai olehnya. Puisi yang begitu alamiah.

Rumahku adalah esok hari. Setiap hari aku menuju pulang. 

Bagi yang menyukai kreativitas, puisi adalah seni. Bukan sekadar kata mendayu-ndayu khas orang melayu.  Puisi adalah seni. Jika terhenti, maka kehidupan akan dirasa penuh tragedi. Kesejatian hidup terhempas. Semua menjadi gelap-gulita, dan hanya tertinggal keputusasaan menunggu kematian.

Bagi sebagian lainnya berpuisi adalah sia-sia. Ndak papa. Puisi itu aneh. Ndak papa. Puisi itu jadoel. Ndak papa. “Berpuisi itu perjalanan yang bersifat pribadi”. Kata Paul Theroux: “Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalanmu bukanlah perjalananku.”

Puisi itu harus bersumber pada firman Tuhan, kata yang lain.

“Puisi pada zamannya merupakan ilmu yang paling otoritatif, namun pada masa dan pasca alkitab maupun alquran, kitab itulah yang menjadi ilmu paling otoritatif. Maka sebaiknya puisi mengambil inspirasi dari ilmu yang paling otoritatif, sehingga puisi itu menjadi puisi yang paling otoritatif. Dari sini, ilmu estetika menyatu dengan etika”, kata penyair Arab konservatif. Puisi harus menghembuskan moralitas dalam nalar puitis. Penyair sejatinya tidak mencipta namun memaknai dan memformulasikannya dari makna lama dengan cara tertentu.

Apapun penafsiran dan pandangan orang pada puisi, toh mereka sepakat bahwa puisi itu memanusiakan. Cara mudah untuk menyadari diri bahwa dirinya hamba, dirinya tak berkuasa, dirinya pasrah, dirinya salah satu dan bukan satu-satunya.

Puisi itu energi. Puisi adalah bensin bersubsidi bagi yang perlu optimisme dalam mengarungi hidup. Toh, kita sudah begitu menderita dengan situasi yang seringnya di luar kendali. Macet, emosi, patah hati, banjir, revisi. Sengsara yang mudah diterima. Tapi dengan diam sejenak memaknai situasi, kita tidak kabur dari segala sengsara, namun menghadapinya dengan cara yang berbeda. Mensyukuri segala kesukaran dan sim salabim, kita bahagia saat menderita. Bisa? Banget. Pernah? Banget. Betah? Banget. Masih? Banget.

Hidup bagi kita semacam zebra cross. Senang, sedih, senang, sedih, terus begitu bergantian. Tapi bukankah itulah memang lintasan kehidupan yang telah digariskan. Berharap kita sukses menyeberangi jalanan dan sampai pada tujuan.

Satu lagi dari Abdul Hadi: 

“Kau harus ketawa, sedih tak sampai. dan yang kutulis ini bukan puisi.”

Ya, saya anggukkan kepala. Karena tawamu adalah puisi bagiku.

🙂

Iklan

7 thoughts on “Karena Tawamu Adalah Puisi Bagiku

  1. Ping-balik: Olahrasa – LINIMASA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s