Kata-Kata Kota Kita

Orhan Parmuk, peraih nobel sastra tahun 2006, pernah menulis kenangannya tentang sebuah kota: Istanbul.  Dalam “Istanbul: Memories and the city”, Parmuk mengenang masa kecilnya yang liar dan penuh fantasi. Kota dengan dua jantung kenangan: Asia dan Eropa yang terpisah selat Bosphorus. Kenangan yang melankolik dengan gaya eropa. “I belong this city“, katanya.

dari nytimes
dari nytimes

Begitupun dengan penulis lainnya. Charles Dicken jatuh cinta pada kota tempatnya lahir, London. James Joyce dengan kota Dublin. Jorge Louis Borges mengenang Buenos Aires, dan penulis Mesir, Naguib Mahfouz dengan kota Kairo.

Walaupun sebagian dari kita lahir di desa, tapi istilah “kota kelahiran” pasti dimiliki masing-masing dari kita.

Saya senang sekali mengganti kata “georgia” dalam lagu “Georgia On My Mind” menjadi “jogja”, dan menyanyikannya.

Jogja, Jogja
The whole day through
Just an old sweet song
Keeps Jogja on my mind

I said a Jogja, Jogja
A song of you
Comes as sweet and clear
As moonlight through the pines

Lagu ini, siapapun yang menyanyikannya, baik Ray Charles, Willie Nelson atau Annie Lennox, membuktikan betapa  getas perasaan kita pada sebuah kota. Apa sih arti kota bagi seorang anak manusia?

Saat menulis tulisan kali ini, saya sedang berada di Kota Jogja. Bagi saya, Jogja tidak membuat jatuh hati sedemikian rupa. Biasa saja. Suka sih suka. Tapi biasa. Ndak nemen. Walau begitu, kota Jogja adalah kota dimana pertama kalinya saya jauh dari orang tua. Kuliah dan belajar hidup mandiri.

Kota apa yang paling saya sukai?

Cirebon.

Kota Cirebon adalah kota kelahiran saya.

pelabuhan cirebon
pelabuhan cirebon

Jaman masih sekolah dasar, saya baru tahu kalau kota yang saya tinggali ini disebut juga Kota Udang. Sebagian yang lain menyebutnya sebagai Kota Wali. Mengapa demikian? Karena kota ini didirikan, dan dikembangkan, salah satunya oleh Sunan Gunung Jati.

Kota Cirebon adalah kota yang membuat akrab gunung Ciremai dan Laut Jawa. Mereka disatukan oleh kota ini. Sejak lahir hingga selepas SMA saya menghabiskan waktu di kota ini. Kota yang tidak besar namun juga tidak kecil. Sedang-sedang saja.

Beruntunglah bagi kita yang lahir di kota pesisir. Kota yang menjadikan warganya relatif lebih ekspresif, berani berargumen, dan terpenting: apa adanya. Kota pesisir dengan para nelayan dan memiliki pelabuhan yang cukup layak untuk disinggahi kapal besar. Kota ini merupakan pusat perniagaan bagi daerah sekitarnya: Indramayu, Kuningan, Majalengka dan Brebes.

Warga pesisir itu punya ciri khas tersendiri. Jika berselisih paham dengan tetangga, berselisih sajalah. Ndak papa. Toh setelahnya kita melaut. Seminggu kemudian kita lupa. Pulang ke darat dengan hasil tangkapan. Lain halnya dengan kaum agraris di tengah pulau. Masyarakat yang bercocok tanam. Jika berselisih paham, ladang mereka bersebelahan. Pagi bertemu tetangga, siang bertemu di ladang, sore bertemu lagi di beranda rumah. Berselisih paham akan panjang urusannya. Lebih baik dipendam dan saling menjaga perasaan.

Mungkin karena sebab ini juga, ikatan antara warga pesisir dan tanah kelahiran tidak begitu lekat. Mudah saja untuk bertahun-tahun tak pulang. Memang sudah suratan takdir, sejak lahir, kami memiliki kesamaan dengan Bang Toyib.

Sebetulnya tidak banyak hal istimewa dari Cirebon. Suhu udaranya panas, lebih lembab, dan secara sosio-kultural tutur bahasa warganya dengan gaya orang pasar. Blak-blakan, bahkan terkesan kasar.

Tapi cobalah sesekali mampir untuk wisata kuliner. Empal gentong di daerah krucuk, nasi jamblang di sekitar pelabuhan, mie koclok di Panjunan, nasi lengko di Pagongan, tahu gejrot dimana-mana, sate kalong, dengan pilihan sate kerbau rasa manis dan gurih atau bubur docang yang begitu otentik,  sulit untuk dihindari untuk menyantapnya dua kali. Makanan khas kota ini lumayan unik. Fusion. Sebagian dari hasil laut, sebagian lainnya berasal dari gunung. Ndak percaya, coba saja santap sajian nasi jamblang. Nasi dengan bungkus daun jati. Nasi, sambal, blekutak (cumi dengan kuah hitam yang berasal dari tintanya), perkedel, sate kentang, tahu kuah, jambal roti, semur daging, pusu (paru digoreng garing), dan tempe.

Cirebon_Skyline

Cirebon, adalah kota asal ayah saya.

Semenjak kecil Ayah tinggal di dekat pasar. Namanya Pasar Kramat. Letaknya tidak jauh dari Balaikota Cirebon. Saat saya kecil juga sering dititipkan ke rumah nenek. Karena rumah nenek tepat dibelakang pasar sehingga kamar mandinya seringkali menjadi tempat penjual pasar maupun pembeli singgah untuk menyelesaikan urusan. Judulnya: berbagi. Atas kemurahan hati nenek, setiap pagi di meja makan menjadi penuh dengan penganan kecil, hasil pemberian pedagang pasar. Sebut saja: kue serabi, kue cucur, dan kue jalabiya, selalu tersedia di atas meja. Tentu saja para cucu lain juga senang bertandang di rumah nenek. Banyak penganan yang siap disantap. Tidak lupa minuman orson, yang sebetulnya mudah membuat anak kecil batuk. Tapi apa boleh bikin. namanya juga anak-anak. Sikat!!

Masa kecil adalah masa dimana saya bisa dengan bebasnya mengambil isi toples diam-diam dan mencomot pemen cocorico, permen davos, permen cicak, permen karet yosan maupun pusan gum (yang kemasannya memuat satu huruf untuk dirangkai menjadi nama merek permen karet tersebut), juga rengginang. Untuk penganan terakhir saya ndak pernah menyentuhnya sama sekali. Seiseng dan selapar apapun.

Kakek adalah seorang penjaga sekolah merangkap penjaga kebun melati milik juragan warga keturunan arab. Setiap hari kakek dan nenek, dibantu adik-adik ayah memanen bunga melati. Konon katanya, sehari dapat menghasilkan hingga dua kuintal kuntum bunga. Bayangkan saja berapa luas kebun melatinya. Kata nenek, belum pernah dalam sejarahnya kakek mengambil sebagian melati untuk diam-diam dijual dan masuk kantong sendiri. Padahal peluang itu terbuka lebar. Kakek saya orang bodoh. Kakek saya orang jujur. Klop. Mungkin itu yang membuat dirinya hidup sederhana namun penuh dengan rasa syukur.

Kakek, cerita ayah, adalah orang yang loyal pada majikannya. Namun dasar  namanya arab, tak ada bonus yang didapat kakek. kesepakatannya sangat jelas: Kakek akan mendapat bagian sepuluh kilo bunga melati untuk setiap kali panen dan tambahan insentif berupa  beras, dan ini yang terpenting: gratis  menggunakan rumah milik si Arab, yang letaknya dekat pasar itu. Iya, rumah yang ditinggali ayah saya bersama adik-adiknya bukan milik kakek-nenek. Mereka hanya menggunakan. Sekadar menumpang.

Untuk menambah penghasilan dari penjualan bunga, kakek juga membantu orang-orang dengan menyembelih hewan ternak. Spesialisasinya kambing. Kemampuan ini menurun pada Kakak saya. Hingga saat ini, saat hari raya kurban, kakak selalu diminta bantuan untuk menyembelih hewan kurban di masjid dekat rumah. Saya? Pingsan.

Kelebihan lain tinggal di pesisir pantai adalah begitu mudahnya menyalurkan hobi para pemancing. Hampir setiap hari, saat masih sekolah dasar, saya hampir setiap hari diajak ayah untuk memancing di laut. Bukan, bukan karena semata-mata tinggal di pesisir pantai, melainkan pada dasarnya ayah adalah seorang pemancing dengan kadar akut. Saking tergila-gilanya pada dunia kail-mengail, pernah suatu ketika saya begitu kesal pada ayah karena lebih banyak habiskan waktu dengan perlengkapan lengkap alat mancingnya. Karena kesal, saat menuliskan data diri pada kolom isian buku kenang-kenangan SMA,  pekerjaan orang tua, saya tulis: “pemancing”.

Ini adalah bentuk protes saya, karena setiap hari jika di rumah, ayah hanya mengurus umpan, membereskan kail dan tali, serta menjadwalkan memancing untuk waktu berikutnya. Cukup memancing di tepi pelabuhan atau menyewa kapal kecil. Belum lagi jika kegiatan memancingnya ingin sukses. Ayah punya ritual tersendiri. Ayah, dengan perintah, yang mau-ndak mau, meminta saya mencari udang hidup di tepi pantai sebagai umpan. Tentu saja sepulangnya ayah dari bekerja dan sepulangnya saya dari sekolah.

Ayah adalah orang lapangan. Belajar itu ya di luar ruangan. Tak pernah sekalipun membelikan saya buku. Seingat saya Ayah hanya sekali membelikan buku. Judulnya Kisah 25 Nabi dan Rasul. Hingga saat ini saya belum pernah tuntas membacanya. Berbeda dengan ibu. Seringkali Ibu membawa pulang majalah Intisari. Setiap bulan. Tentu saja  saya lahap intisari hingga tuntas. Dari sampul depan, daftar anggota redaksi hingga iklan halaman belakang. Lewat intisari minat baca semakin tumbuh.

Walau minat baca tinggi, akan tetapi daya beli keluarga saya rendah. Ada prioritas lain yang harus dipenuhi. Jika ingin terus membaca, seringkali saya meminjam  buku dari perpustakaan umum. “Perpustaaan 400” namanya. Kebetulan jaraknya tidak jauh dari rumah. Biasanya saya naik sepeda berboncengan dengan kakak, untuk menuju kesana. Perpustakaan milik pemerintah daerah yang ndak memungut bayaran. Pinjam maupun baca ditempat selalu menjadi pilihan di kala senggang.

Apakah Anda pernah dengar lagu khas Cirebon?

Akeh wong padha kedanan masakan,
akeh wong padha kelingan pelayan
Ora klalen kesopanan ning sekabeh lelangganan

Yen balik tas jalan-jalan mingguan
mumpung bae tas gajian kaulan
Warung Pojok go ampiran etung-etung ke kenalan
Tobat dhendhenge emi rebuse,
Sega gorenge dhaginge gedhe gedhe

Adhuh kopie, tobat bukete
Adhuh manise persis kaya pelayane
Pura-pura mata mlirik meng dhuwur
padhahal ati ketarik lan ngawur
Nginum kopi mencok nyembur kesebab
nyasar meng cungur
Tobat dhendhenge emi rebuse
Sega gorenge dhaginge gedhe gedhe
Adhuh kopie tobat bukete
Adhuh manise persis kaya pelayane

Jika sulit menyanyikan lagu ini, tonton saja klip berikut ini.

Selamat berakhir pekan. 🙂

Minggu depan, saya akan teruskan cerita tentang kota kelahiran saya. Jika tuhan mengizinkan dan jika saya masih minat meneruskan. Ohiya, bagaimana dengan kota kelahiran kamu? Apa makanan khas dan lagu daerahnya?

 

 

*

 

 

 

nb: soal kuliner kota Cirebon, boleh juga baca ulasan apik teman saya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s