Fantasiku, Tuhanku

Dunia berputar mengikuti aku dan bukan sebaliknya. Semua ku atur semauku. Bahkan dalam urusan rasa. Cinta.

Selalu ada seseorang dalam hatiku, dan aku tidak pernah tahu apakah aku ada dalam hatinya. Dan aku tidak peduli. Ini hak aku untuk mencintainya. Bahkan menginginkannya. Hak aku pula untuk membawanya ke dalam hidupku. Dan dia tak bisa protes. Aku bahkan bisa membawanya ke dalam mimpi semauku. Aku tak peduli apakah dia suka atau tidak. Ini adalah mimpiku sendiri. Ini adalah fantasiku.

Fantasiku yang telah menafkahi hidupku selama belasan tahun. Imajinasiku yang telah menjadikan masa kecil di kamar tidur lembab dan sempit, menjadi lebih luas dari dunia. Melambung tinggi ke angkasa dan menari di Pluto atau terhempas ke dasar sumur terdalam di bumi, aku yang mengatur. Dalam duniaku ini, hanya ada satu Tuhan: Fantasiku.

Suara penyiar radio, misalnya. Pernah memenuhi hatiku yang masih perawan, sampai membuat aku kepayang. Suara serak-serak dan dalam seolah menghadirkan dirinya dan hidup bersamaku. Seperti pacar.

Rambutnya cepak? Ah sepertinya gondrong. Berkumis pasti. Badannya tidak berotot tapi cukup gempal. Pas untuk aku genggam saat tubuhnya ada di atas tubuhku. Suaranya yang dalam serak, pasti membangkitkan semua pori-pori dalam tubuhku ketika dia menghentakkan tubuhnya masuk ke dalam tubuhku.

Ah, hari ini dia absen siaran. Pastilah ada urusan yang lebih penting dari pekerjaannya. Mengurus ibunya bisa jadi alternatif yang seksi. Setiap malam ketika dia berpamitan dari ruang siaran, mengucapkan selamat malam dengan nada yang hangat, aku yakini hanya untuk aku seorang. Bukan untuk jutaan pendengarnya. Karena fantasiku tau, dia pun mencintai dan menginginkan aku.

Apakah suaranya membuatku ingin menemuinya? Mengkonfirmasi fantasiku? Untuk apa! Ini adalah urusanku. Dia tak perlu tau. Yang aku butuhkan darinya hanyalah suaranya. Suara yang memberikan nafas bagi tumbuh kembang fantasiku. Bukan kehadirannya. Karena kahadiran lebih sering merampas fantasiku. Kalaupun harus pergi, ijinkan aku lah yang mengusirnya.

Serunya lagi, ketika aku bosan padanya, ada tombol power off. Suaranya bisa kuhentikan kapan pun aku mau. Seandainya manusia bisa diperlakukan seperti ini, alangkah indahnya duniaku. Ada hanya saat aku butuhkan. Pergi saat aku tak inginkan. Cinta? Bagiku iya.

Bukankah cinta adalah soal rasa? Murni tanpa intervensi indera yang lain? Itu definisiku.

Fantasiku ini benar-benar maha daya. Melintasi ruang dan waktu. Melintasi zaman. Dari suara radio, tulisan sahabat pena, penyiar televisi, bahkan bintang film yang kuyakini sedang berlakon, tak aku pedulikan. Fantasiku mengenai dirinya adalah realitasku.

Saat orang lain baru termehek-mehek membaca tweet-tweet orang pujaannya, fantasiku sudah membawa orang itu hidup dalam hidupku. Dan tak jarang memasukkannya dalam hatiku. Membuka timelinenya setiap saat aku merindukannya. Untuk kemudian membayangkan seperti apa orangnya. Kepribadiannya, kebiasaannya, hobinya, rutinitasnya. Aku tak suka melihat foto wajahnya. Karena itu akan mengobrak abrik fantasiku tentang dirinya. Tapi sedikit tweetpic bagian tubuhnya, lebih membuka lebar imajinasiku. Makanya, aku tak begitu suka dengan acara kopi darat, atau dulu sering disebut Tweet Up. Karena lebih sering kecewanya. Yah gitu doang bo… Drop shaaay.

Sampai suatu waktu, ada sebuah akun twitter yang sepertinya bisa membaca kebiasaanku ini, aku mati kutu. Semua profil dirinya disembunyikan rapat-rapat. Hanya pernah tweetpic lengannya saat mendonasikan darahnya. Dia seperti hendak berkomunikasi denganku. Tweet kami bersahut-sahutan. Kadang biasa-biasa saja, tapi lebih sering mesranya.

Akun ini bangsat! Dia terlalu tahu bahwa aku sedang membangun fantasiku tentang dirinya. Satu tweet darinya adalah satu bata darinya untuk aku letakkan sehingga akhirnya tersusun. Dan satu tweet darinya pula, kadang menghancurkan batu bata yang telah aku susun rapih. Kecewakah aku? Sakit hatikah aku? Yang ada malah aku semakin bersemangat untuk membangunnya kembali. Aku dijadikannya budak oleh fantasiku tentang dirinya.

Posisi tidak berimbang. Karena dia dengan mudah menemukan seperti apa wujud rupaku, pekerjaanku, kebiasaanku bahkan jenis kelaminku. “Pengen fotoin kamu supaya punya foto lain untuk kamu pajang di internet” tweetnya suatu waktu. Saat itulah aku dipaksa menerima kekalahanku. Jujur, aku sempet berusaha untuk mengetahui siapa dirinya. Aku yakin dia juga tau itu. Tapi yang sangat mungkin dia tidak ketahui, bahwa usaha itu aku hentikan tak lama setelah dimulai. Untuk sebuah alasan sederhana, aku tak ingin tahu siapa dia sebenarnya. Aku mengambil keuntungan dari ketidak tahuanku tentang dirinya. Berupa kebebasan untuk membentuk angan.

Seperti tanah liat yang bisa kubentuk seenak hatiku. Dan sepertinya dia menikmati itu. Dia sering mentertawakan aku ketika kusodorkan hasil bentukan tanah liatku kepadanya. Tidak pernah dibenarkan. Tak jarang disalahkan.

Hubungan maya kami pun berkembang. Dia punya blog yang dia update secara berkala. Seolah hendak membuka dirinya perlahan-lahan. Aku sok cool. Kurang suka untuk bikin dia GR. Tapi toh apa yang ada di fantasiku adalah hak mutlak milikku.

Bahwa paragraf pertama tulisannya, bagaikan hembusan nafasnya di balik telingaku. Yang membangunkan setiap pori-pori tubuhku untuk bersiap dijelajahi. Satu kata yang ditulisnya, satu kancing bajuku lepas. Tanda seru pertama yang ditulisnya seperti melucuti kancing kait kutangku. Setiap titik pada tulisannya, seperti setitik peluh dari wajahnya yang jatuh tepat di putingku. Dingin dan lebih sensitif. Siap untuk dilahapnya. Kalimat demi kalimat adalah lumatan lidahnya di sekujur tubuhku. Penekanan kalimat kuhayati sebagai tekanan tangannya yang kekar agar tubuh kita semakin menyatu. Menulis baginya adalah orgasme intelektual dan kesenian. Bagiku adalah orgasme yang sesungguhnya.

Hanya di akhir tulisannya baru aku ijinkan diriku sendiri untuk sadar. Tuh kan, aku bukan perempuaaan…

0544563317cf231e84b97bb4548cc5dd

Unyu.

 

Iklan

8 thoughts on “Fantasiku, Tuhanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s