Yang Pergi

Tahun 2014 sudah tinggal sebulan lagi. Sebulan lebih sedikit. Inilah saatnya para media massa sedang sibuk mengulik dua hal: kejadian-kejadian sepanjang tahun untuk dijadikan bahan tulisan kaleidoskop, dan ramalan-ramalan mulai dari ahli nujum sampai analis untuk materi prediksi tahun depan.

Tulisan hari ini bukan akan mengulas dua hal tersebut, meskipun akarnya dari hal yang pertama. Ketika kami, yang masih muda, segar bugar dan sehat ceria ini sepakat akan menurunkan tulisan-tulisan seputar “2014 menurut saya” mulai bulan depan, mulailah kami berpikir dan mencari apa yang mengena di hati kami masing-masing. Dari pencarian itu, ada beberapa orang yang kepergiannya tahun ini terasa menusuk pikiran saya.

Orang-orang ini tidak saya kenal secara pribadi. Namun saya dan mungkin Anda tumbuh bersama mereka. Saya bisa makan di depan mereka tanpa mereka merasa terganggu. Kalau saya ketiduran di depan mereka pun, mereka tidak tahu. Ada layar lebar dan layar kaca yang memisahkan kami.

Meskipun terpisah, namun hubungan antara pengagum dan yang dikagumi itu terasa dekat. Terlebih yang dikagumi adalah orang yang memang mumpuni. Artis, seniman, thespian, jenius di bidangnya.

Makanya, kepergian komedian Jojon di bulan Maret lalu terasa menyedihkan. Masih ingat ayah dan ibu suka membangunkan saya malam-malam. “Tuh, ada Jayakarta Group di TV.” Itulah saat Jojon dengan kumis a la Chaplin atau Hitler dan celana bretel yang kedodoran dan ngatung, hadir bersama Uuk, Esther dan Cahyono. Berempat mereka menghibur kita semua dengan bercandaan yang, meski kadang slapstick, tapi tidak pernah sekalipun merendahkan penontonnya. Tentu saja, dengan tampilan khas kostum yang terlihat aneh, Jojon sering kali menjadi obyek bercandaan, selain Esther dengan dasternya juga. Lihatlah klip di bawah ini. Masih terasa fresh ditonton sekarang pun.

Saat usia beranjak dan lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-teman, pergi ke bioskop sering jadi pilihan utama. Kami terbahak-bahak bersama melihat Mrs. Doubtfire. Sebelum itu, saya tercengang saat nonton Aladdin. Yang mencuri perhatian tentu saja adalah karakter Genie. Pergantian suara, karakter, perubahan kostum, ekspresi, yang bisa belasan kali dalam waktu semenit, membuat saya heran. Siapa orang ini dengan energi yang berlebih? The man with the unstoppable energy.
Or so it seems.
Karena pada akhirnya energi itu berhenti, atau dihentikan sendiri oleh pemiliknya, Robin Williams, bulan Agustus lalu. Sampai saat ini, saya belum berani nonton film-filmnya lagi. Patch Adams, Flubber, Good Morning, Vietnam, dan tentu saja, Dead Poets Society serta Good Will Hunting.
Robin Williams, manusia penghibur, yang menjadi bagian dari kenangan kita.

Ada satu film Robin Williams yang terasa berbeda dari film lain. The Birdcage. Menjadi pasangan gay yang harus berpura-pura menjadi pasangan heterosexual demi pernikahan anaknya, tampilan Robin Williams terasa humanis, meskipun masih melucu.
Saat menonton film ini pertama kali adalah saat-saat saya mulai mempunyai ketertarikan lebih pada film. Barulah tahu bahwa film ini disutradarai oleh seseorang bernama Mike Nichols.

Lalu mulailah saya mencari film-film lama karya Mike Nichols. Tak ada satu pun yang tidak sukses membuat saya terhenyak. Who’s Afraid of Virginia Woolf? mencengangkan dengan dialog-dialog yang brutal. The Graduate adalah film wajib tonton buat pria-pria yang tidak tahu harus berbuat apa dalam hidup, sambil mendengarkan lagu “The Sound of Silence”-nya Simon & Garfunkel yang menjadi soundtrack film. Carnal Knowledge membuat saya harus jujur kepada pasangan dalam hal seks. Heartburn menyadarkan lagi bahwa hubungan dengan orang ber-ego tinggi itu tidak mudah. Dan tentu saja Working Girl membuat orang jadi feminis, siapapun itu. Tentu saja, nama Mike Nichols pun menjadi jaminan saya di kemudian hari bahwa semua film yang dia buat di kemudian hari menjadi jaminan tersendiri. Dan terbukti benar. Angels in America. Closer. Wit.

Dalam bahasa Jawa, ungkapan yang pas untuk karya-karya Mike Nichols adalah “nguwongke wong”. Memanusiakan manusia. Hampir semua karakter utama di film-film Mike Nichols terasa berjejak pada tanah dan kenyataan sehari-hari, sehingga mereka terasa humanis. The fictional characters feel human. Itulah mengapa menonton film-film Mike Nichols memberikan ingatan yang kuat di memori.

Dan itulah mengapa saya sempat tidak percaya bahwa Mike Nichols telah pergi pada pertengahan November lalu. Inilah pertama kali saya bisa menulis sedikit tentang kepergian beliau.

Beberapa tahun lalu, di segmen In Memoriam di perhelatan Academy Awards, Queen Latifah membuka segmen ini dengan berucap:

“… we spend a moment remembering people we have lost. To those of you watching around the world, they were images of inspiration … These artists give us afternoons, weekends, years, lifetimes of enjoyment. They’re not really gone. They’re all around us, everywhere we look.”

Selamat jalan.
Terima kasih.

Iklan

2 thoughts on “Yang Pergi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s