Ada Apa dengan Priyo Oktaviano?

“Lebih dari 70 show, lebih dari 200 disainer dan lebih dari 10 negara ikut berpartisipasi dalam Jakarta Fashion Week (JFW) tahun ini” kata Ketua Umum JFW 2015, Svida Alisjahbana. Acara yang diselenggarakan sejak 2008 dan menjadi salah satu penentu trend fashion Indonesia ini, bertujuan untuk membawa fashion Indonesia ke tingkat dunia. Tentu sudah banyak disainer yang telah merasakan manfaat dari acara ini. Sebutlah dibawa menjadi bagian dari Paris Fashion Week, Melbourne Fashion Festival, Korean IDEX dan sebagainya. Terutama, bagi para disainer yang dipilih untuk menampilkan kreasinya di acara penutup rangkaian JFW, Dewi Fashion Knights . Salah satu malam peragaan busana paling bergengsi di Tanah Air yang diharapkan menjadi penentu trend.

DFK diselenggarakan sejak tahun kedua penyelenggaraan JFW. Setiap tahunnya, dibentuk sebuah tim yang disebut Dewi Fashion Panel yang bertugas mengkurasi disainer Indonesia yang menurut penilaian mereka paling berkarakter, inovatif, memiliki craftmanship yang tak terbantahkan, konsisten dan tentunya potensi yang dahsyat. Tahun ini, Dewi Fashion Panel yang beranggotakan Jati Hidayat (Direktur Editorial Femina Group), Mia Egron (Board Director & CCO Plaza Indonesia), Andien (penyanyi dan pencinta Fashion) serta Ni Luh Sekar (CCO Majalah Dewi) sebagai ketua telah memilih 5 fashion designer: Priyo Oktaviano, Vinora, Nur Zahra, Sapto Djojokartiko dan Auguste Susastro yang semuanya dianggap memenuhi kriteria dan layak ditampilkan.

Tahun ke tujuh ini rupanya menyisakan cerita. Tersebut sebuah akun instagram yang dengan gamblang memaparkan karya Priyo Oktaviano yang ditampilkan di malam DFK 2014, sebagai menjiplak karya disainer Nepal kelahiran Singapura yang berdomisili di New York, Prabal Gurung. Akun itu menyandingkan 4 dari 13 karya Priyo dengan Prabal sehingga terlihat jelas kemiripan disainnya. Perbedaan hanya pada warna dan sedikit aplikasi. Dunia fashion Indonesia pun geger dibuatnya. Menjadi bahasan di berbagai social media dan social events. Sampai akhirnya, Priyo Oktaviano menyatakan mengundurkan diri dari Dewi Fashion Knights 2014. Pernyataan yang sebenarnya agak membingungkan karena koleksi bertajuk African Blu kreasinya sudah ditampilkan. Mungkin, ini merupakan bentuk pengakuan Priyo sebagai penjiplak dan menolak fasilitas yang akan didapatkan sebagai disainer terpilih DFK.

Priyo Oktaviano, desainer kelahiran Jawa Timur pernah menjadi juara favorit Lomba Perancang Mode Femina tahun 1996. Priyo juga pernah mengikuti berbagai kontes mode di skala internasional. Di antaranya juara ke-4 dalam Kompetisi Eropa untuk Tekstil dan Desain Fashion, Apolda 2002, Jerman, finalis dalam Concours CISEAUX WIZO au Bains Douches-Paris dan Concours Jeunes Createurs di Paris pada tahun 2001. Dan di tahun 2008, ia bergabung dengan Yayasan Cita Tenun Indonesia, sebuah organisasi yang berkomitmen untuk melestarikan serta mengembangkan warisan tekstil tenun Indonesia. Koleksi Priyo pun kerap mengangkat keindahan tekstil Indonesia sebagai material utama. Salah satunya adalah kain tapis Lampung yang ditampilkan di gelaran Dewi Fashion Knights di tahun 2013 lalu. Priyo membuktikan bahwa warisan budaya seperti kerajinan tenun bisa tampil berbeda dan mengikuti perkembangan zaman. (sumber: wollypop)

Dengan berderet prestasi dan sebutan “the rising star” yang diberikan kepadanya, tentu membuat kita bertanya “ada apa dengan Priyo?” Apakah gelar dan status telah membebaninya? Kehabisan inspirasi? Atau Priyo telah salah bergaul sehingga selalu dikelilingi oleh orang-orang yang hanya memuji dan tak pernah mengkritik karyanya? Apa mungkin Priyo tidak mengira dampak penjiplakan akan sebesar ini dan meremehkan media sosial? Atau mungkinkah ini kesalahan prosedural? Karena layaknya dalam setiap peragaan busana atau pameran karya, ada kurator yang bertugas untuk menyeleksi dan menilai apakah karya pantas untuk ditampilkan. Biarlah pertanyaan penting ini dijawab oleh Priyo dan Dewi Fashion Panel saja.

Kasus penjiplakan di bidang yang menuntut kreativitas sering dianggap sudah biasa terjadi. Sudah lazim. Film, musik, iklan, grafis, ilustrasi, tak pernah luput dari kasus penjiplakan. Ada yang memajukan kasus secara hukum, ada pula yang membiarkannya atau menyelesaikan secara mufakat, dan yang lebih banyak berakhir dengan kata “maaf”. Kalau setiap kasus penjiplakan di negara ini diajukan ke meja hijau, bisa dipastikan menjadi meja paling sibuk dan pengacara akan semakin kaya. Di bidang fashion, tak sulit untuk mencari karya contekan. Label lokal maupun internasional. Masuklah ke dalam toko multi label, dengan mudah kita akan menemukan karya yang sedikit banyak menjiplak disain karya disainer lain. Dan dengan sulit kita menemukan perbedaan satu label dengan label yang lain. Sesama disainer lokal pun tak jarang saling menjiplak.

Di seputaran Jakarta Fashion Week kemarin pun, selain Priyo ada lagi seorang disainer muda yang koleksinya dituduh menjiplak koleksi Givenchy 2013. Dan dalam sebuah show kolektif, terdapat dua disainer yang menampilkan disain serupa sehingga dalam presentasinya seperti diciptakan oleh satu disainer. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan besar: “kasus penjiplakan ini menjadi besar karena tindakannya (menjiplak) atau karena pelakunya (Priyo Oktaviano)?” Ini menjadi penting untuk dipisahkan terlebih dahulu, agar langkah yang diambil untuk menyikapinya menjadi tepat guna.

Kalau memang karena tindakannya, maka tidak boleh tebang pilih. Tidak hanya Priyo yang harus diungkap dan diberi sanksi. Semua kasus penjiplakan harus ditindak. Tindakan dan sanksi apa yang harus diberikan, ini menjadi persoalannya. Harapannya dari kejadian ini bisa mulai dibentuk semacam badan khusus yang setia mengawasi dan memberikan sanksi yang jelas di awal untuk setiap kasus penjiplakan. Bukan untuk semata menjatuhkan dan mematikan bisnis kreatornya, tapi untuk membela hak pembeli. Pembeli berhak untuk tahu nilai dari uang yang dikeluarkannya. Ini adalah bentuk edukasi yang baik agar semakin hari pembeli semakin cerdas. Lebih kritis saat membeli barang sehingga memberikan tekanan kepada para kreator untuk terus menerus memperbaiki kualitas dan value barang dagangannya. Bagi kreator yang benar kreatif dan tangguh, akan memiliki watchdog yang akan membawa perbaikan luar biasa di masa mendatang. Siap menyambut pasar terbuka.

Kalau memang karena Priyonya, penilaian obyektif tetap harus diterapkan. Dari sekian banyak busana yang ditampilkan di malam DFK, seberapa banyak yang memang menjiplak? Priyo memiliki karir dan prestasi yang gemilang. Apakah selama ini Priyo selalu menjiplak? Sanksi yang diberikan harus proporsional agar tidak mematahkan semangat berkarya. Kalau lebih banyak yang menjiplak, maka segala gelar yang melekat didirinya harus dicopot oleh Priyo dengan kesadarannya sendiri. Mungkin lebih terhormat menjadi dressmaker ketimbang fashion designer. Ini harus dihayati sebagai jalan menuju tujuan akhir berkreasi: mengenal diri sendiri. Bukan mempermalukan atau menurunkan harga diri. Sudah banyak label dressmaker sukses dan terkenal kelas dunia bahkan melebihi fashion designer. Namun jika lebih banyak karya Priyo yang orisinal, kejadian DFK tahun ini sebaiknya dianggap sebagai peringatan agar tak terulang kembali. Untuk Priyo, semua fashion disainer dan disainer semua bidang. Priyo juga berhak melakukan kesalahan dan introspeksi diri untuk perbaikan di kemudian hari.

Menanggapi kasus ini agar membuahkan hasil yang positif, membutuhkan kedewasaan melebihi hasrat untuk bergosip apalagi nyinyir. Mengutip sila ke 6 dari 8 Pokok Siasat Kebudayaan yang disampaikan Karlina Leksono Supelli dalam Pidato Kebudayaan 2013: “Membangun kebiasaan baru seluas bangsa untuk menilai bahwa korupsi, plagiarisme, dan menyontek bukan hal yang lazim, tetapi kriminalitas.” Ini adalah kasus serius yang harus disikapi dan dihayati sebagai pelajaran untuk menjadi titik awal setting fashion future yang menjadi tema JFW 2015.

13845378641594998703

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s