Mari Kita Membuka Mata Dan Dendangkan Satu Gita Kepada Tuhan Jang Amat Dahsjat

IMG_5827

Hari jumat kemarin dilewati dengan kegiatan yang agak padat. Tidak hanya waktunya yang mepet, tapi juga isinya yang lumayan berkesan.

Pukul setengah tujuh pagi dampingi salah satu senior saya untuk pertama kalinya lari pagi keliling Monas. Juga sekaligus dampingi salah satu junior saya di kantor yang belum genap dua bulan bergabung.

Bagi mereka, dan juga bagi siapa saja, termasuk saya, “pertama kali” adalah sesuatu yang pasti meninggalkan kesan. Ketika kesempatan itu datang, kesempatan untuk menjadi orang yang beruntung menghantarkan pengalaman pertama kali bagi orang lain, tentu saja tidak saya sia-siakan.

Sebagai awalan, kami keliling monas cukup dengan tiga putaran saja. Hasilnya, mereka menyanggupi untuk lain kesempatan, setiap jumat pagi kami mengorbit pada Monas. Saya telah “membuka mata mereka masing-masing”, kata senior saya. “Sebelum sibuk ada baiknya kita menikmati pagi Jakarta”.  Saya senang mendengarnya.

Pukul sembilan, seharusnya saya rapat. Namun batal. Ada hal lain sehingga pihak pengundang membatalkan acara. Kesempatan itu dipergunakan oleh salah satu junior saya yang lain untuk meminta bantuan membuatkan akun apple ID untuk disematkan pada MacBook barunya. Lagi-lagi saya “membuka mata” dengan membantunya  membuat akun apple, dan menerangkan cara kerja piranti tersebut. Saya berhasil membuatnya mualaf. Dari cengkraman windows menuju keselamatan ajaran iOS dan OSX Yosemite.

Pukul dua siang saya jadi rapat. Mendampingi salah satu petinggi ikut dalam “rapat para petinggi”. Saya sanggup mendampingi karena semata-mata awalan “Pe”. Jika ini adalah pertemuan tinggi, maka artinya ini adalah rapat para tumbila. Hewan kecil penyedot darah. Kepinding kata sebagian orang. Tapi kata “Petinggi” membuat saya agak-agak gimana, walaupun hanya bertugas mendampingi. Bawa buku catatan. Dengarkan dan catat yang perlu. Jika perlu berkomentar, saya harus pelan-pelan berbisik agar yang saya dampingi mendengar suara saya, dan terserah beliau apakah suara saya dikencangkan volumenya olehnya. Namanya juga pendamping. Saya tidak punya hak suara. Hanya boleh bersuara. Lewat bisikan.

Pertemuan itu adalah pertemuan dua lembaga. Raksasa dan sama-sama kaya. Dalam artian sesungguhnya. Terlebih lagi: berkuasa. Satu lembaga berkuasa di ladangnya. Satu lembaga lain berkuasa di sawahnya. Sawah ladang yang sedang diperebutkan. Beberapa orang yang hadir adalah orang-orang yang sempat namanya masuk bursa Jokowi. Tapi tidak jadi.

Dalam pertemuan tersebut, masing-masing Ketua delegasi membawa kitab sucinya. Saya diamanatkan tuhan untuk ini. Pihak lawan pun berkata kami diamanatkan tuhan untuk ini. Terus dan terus. Dari 14 perselisihan, akhirnya menyisakan dua hal yang masing-masing menganggap adalah jantung dan darah. Ini soal nyawa. Soal wibawa. Soal harga diri. Soal pribadi. Soal kami.

Sebagai pendamping, seharusnya saya ikut mencatat baik-baik. Tapi tidak saya lakukan. Pikiran saya waktu itu menerawang dan berhenti sebentar pada Ajisaka.

Aji Saka memerintah di Medang Kamulan. Suatu ketika Aji Saka mengirim utusan pulang ke rumahnya di Bumi Majeti untuk mengabarkan kepada abdinya yang setia Dora dan Sembodo, untuk mengantarkan pusakanya ke Jawa. Utusan itu bertemu Dora dan mengabarkan pesan Aji Saka. Maka Dora pun mendatangi Sembodo untuk memberitahukan perintah Aji Saka. Sembodo menolak memberikan pusaka itu karena ia ingat pesan Aji Saka: tidak ada seorangpun kecuali Aji Saka sendiri yang boleh mengambil pusaka itu. Dora dan Sembodo saling mencurigai bahwa masing-masing pihak ingin mencuri pusaka tersebut. Akhirnya mereka bertarung, dan karena kedigjayaan keduanya sama maka mereka sama-sama mati. Aji Saka heran mengapa pusaka itu setelah sekian lama belum datang juga, maka ia pun pulang ke Bumi Majeti. Aji saka terkejut menemukan mayat kedua abdi setianya dan akhirnya menyadari kesalahpahaman antara keduanya berujung kepada tragedi ini. Untuk mengenang kesetiaan kedua abdinya maka Aji Saka menciptakan sebuah puisi yang jika dibaca menjadi Aksara Jawa Hanacaraka.

Saya tidak akan bicara aksara hanacaraka yang menjadi asal mula aksara jawa. Saya anggap hanacaraka tidak lebih seperti pangram, frasa yang berisi seluruh alfabet dalam  bahasa inggris: ” The quick brown fox jumps over the lazy dog”.

Saya lebih tertarik dengan dua kekuatan dan kesetiaan yang akhirnya menewaskan kedua belah pihak. Tepat di hadapan saya sedang duduk bersama. Berhadap-hadapan, Dora dan Sembodo. Jika tak ada jalan tengah, maka bisa jadi keduanya akan lemah dan mati saling hujam. Ini tidak bisa didiamkan. Secara historis dan sesuai fakta, saya hidup dari kedua lembaga tersebut. Sungguh! Untungnya, ada salah satu dari pihak “sana”, Petinggi yang menyampaikan jalan alternatif. Membuka mata kedua pihak. Dirinya menjadi jembatan. Kalimat awal yang saya ingat dari Bapak bijak itu sederhana.

Saya memiliki cukup kompetensi dalam hal ini, tapi saya yakin saya tidak memiliki kecukupan wisdom seperti bapak-bapak sekalian. Untuk menyelamatkan marwah pertemuan ini, ada baiknya kita masing-masing lepaskan sepatu, dan coba menggunakan sepatu masing-masing di hadapan kita. Saya mohon pendapat dari Bapak-bapak sekalian.”  Lalu Bapak itu meminta pendampingnya menayangkan bahan presentasi yang ternyata berisi “jalan alternatif” sesuai apa yang Bapak itu sampaikan.

Kalimat awal yang membuka mata kedua pihak. Bapak tua yang bijak. Tanpa sadar saya tersenyum dan mata saya berbinar-binar. Bangga saya mendengar kalimat semacam ini. Suasana pertemuan menjadi berbeda. Sangat berbeda. Bukan lagi perang tanding, melainkan sinergi. Walaupun hingga akhir pertemuan dua hal “tersebut” belum disepakati, setidaknya, ketika saya kembali dan tanpa catatan tertuang dalam buku, saya yakin, sekian puluh orang yang hadir membaca catatan masing-masing di hati dan pikiran. Ada sesuatu yang lebih luhur yang dikedepankan.

Lain halnya dengan Abbot. Karena berminggu-minggu disekap dalam gelap yang begitu pekat, Jack Abbot menuturkan dalam buku harian yang ditulisnya selama hidup dalam penjara, “In The Belly of The Beast” , yang diterbitkan Random House, “Saya melihat sinar justru tatkala mata kupejamkan.” 

Dalam perjalanan menuju rapat lainnya di lain tempat, saat adzan maghrib berkumandang, saya membuka gawai dan membaca kembali Soekarno dalam teks Pidato Kebudayaan Hilmar Farid minggu lalu.

“Dentamnya Revolusi, jang kadang-kadang berkumandang pekik-sorak, kadang-kadang bersuara djerit-pahit, sebagai satu keseluruhan kita dengarkan sebagai satu njanjian, satu simfoni, satu gita, laksana dentumnja gelombang samudera jang bergelora pukul-memukul membanting di pantai, kita dengarkan sebagai satu gita kepada Tuhan jang amat dahsjat.”

Hitam putih tidak selamanya hitam putih. Hitam dan putih sedang tidak memperebutkan siapa juaranya. Dalam hitam putih ada yang hidup diantaranya. Dalam hitam dan putih, akan selaras jika saling mengisi.

Selamat pagi. Selamat membuka mata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bonus untuk kamu, bingkai hitam putih anak manusia.

 

 

 

Posted in: Hidup

Tagged as: , ,

Leave a Reply