Maaf

Di suatu sore, ayah saya pernah mengirimkan pesan singkat. Kata beliau, “Sebisa mungkin, lupakan kebaikan yang pernah kamu buat ke orang lain. Tapi jangan pernah lupakan kesalahan yang pernah kamu buat ke orang lain. Bukan cuma meminta maaf. Tapi maafkan.”
Perlu waktu bertahun-tahun untuk memahami itu. Sampai sekarang.

Beberapa hari yang lalu, film dokumenter The Look of Silence (yang diberi judul bahasa Indonesia Senyap) diputar pertama kali untuk umum di Jakarta. Film karya Joshua Oppenheimer ini merupakan sambungan dari film dokumenter The Act of Killing (Jagal). Kedua film masih bercerita tentang tragedi pembunuhan massal tahun 1965. Bedanya, tuturan bercerita Jagal membuat kita terbelalak dalam kemarahan. Sedangkan Senyap membuat kita terkesiap dalam kesunyian.

Seperti Fa pernah tulis tentang Senyap, film ini membuat kita menunduk. Seakan kita tiada artinya dibanding Adi, tokoh utama di film. Ia berani menemui langsung orang-orang yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya berpuluh-puluh tahun yang lalu. Selama itu pula terpendam rasa amarah, benci, yang semuanya terpampang nyata di layar. Dan semua perasaan itu tersirat dari setiap perubahan mimik muka, yang semakin membuat kita heran, bagaimana Adi bisa hidup selama ini? Bagaimana Adi bisa memaafkan?

Lalu ingatan saya kembali melayang ke beberapa film di masa lampau yang bercerita tentang kata “maaf”. Sebuah gambaran emosi yang sungguh susah digambarkan dalam bahasa visual. Tidak seperti jatuh cinta, kemarahan, kesedihan, rasa legowo untuk memaafkan kadang tak lebih dari sekedar kata-kata yang kita tonton.

Namun karya seni yang tak terlupakan adalah karya yang melampaui kesukaran. Tak banyak kata terucap dalam The Hours, namun kita tahu bahwa Ed Harris, Nicole Kidman, dan Julianne Moore akhirnya memaafkan orang lain dan diri mereka sendiri dengan cara yang tak lazim. Atas nama kebahagiaan, mereka melawan.
Demikian pula dengan seluruh film tentang almarhum Nelson Mandela, mulai Goodbye Bafana sampai Invictus sampai Mandela: Long Walk to Freedom.

The Hours. (Courtesy of: movpins.com)
The Hours. (Courtesy of: movpins.com)

Kita bisa berandai-andai bahwa ekspresi datar Anne Hathaway di telepon saat menceritakan kematian suaminya di Brokeback Mountain pada Heath Ledger adalah caranya memaafkan almarhum.
Senyum terkembang di bibir Rachel Maryam dan pandangan menerawang Jajang C. Noer di Eliana, Eliana adalah pertanda bahwa mereka telah berdamai dengan diri sendiri. Mereka sudah memaafkan satu sama lain dalam anggukan dan senyuman.
Kekerasan raut muka Tom Cruise melihat ayahnya yang terbaring tak berdaya di Magnolia membuat kita berpikir lagi tentang makna memaafkan.

Bukan perkara gampang untuk meminta maaf. Apalagi memaafkan. We’d rather swallow our pride than to be sorry and to forgive. Harga diri yang kadang-kadang suka berubah jadi ilusi, atau imajinasi. Seperti yang diuraikan dengan gemilang oleh Ian McEwan di novel “Atonement”, sebelum akhirnya dimainkan dengan sempurna di versi filmnya. Karakter Briony hidup dengan rasa salah tanpa bisa memaafkan seiring dengan berjalannya waktu. Masing-masing dari Saoirse Ronan, Romola Garai sampai Vanessa Redgrave membawa karakter Briony hidup dalam nelangsa tanpa bisa mengucap kata “maaf” atas khayalan mereka.

Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)
Atonement. (Courtesy of philzine.wordpress.com)

Kalau ada ungkapan bilang “time will heal”, mungkin tak akan ada lagi dokter dan psikolog di dunia ini. Time only makes us used to living with scars, but they will always remain. Waktu hanya akan membuat kita terbiasa, tanpa bisa menyembuhkan.

Sebelum kebablasan, akhirnya kita hanya bisa meresapi kembali apa yang almarhumah Yasmin Ahmad sampaikan di film terbaiknya, Muallaf.

Di salah satu adegan, saat sang adik hendak beranjak tidur, sang kakak bertanya, “Have you forgiven the people who have hurt you today?”

Iklan

2 thoughts on “Maaf

  1. Karena tulisan ini, aku jadi keinget waktu SMA. Ada seorang guru “unik” yang memunculkan pertanyaan filosofis ” Orang Batak memang yang paling sulit minta maaf. Ayo siapa yang tahu apa bahasa Batak untuk Maaf?”. Dan memang tidak ada yang bisa menajawab.
    Sebenarnya kami sedang dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s