Santai Saja

Pertamax, Gan!

Bukan untuk membantu pemerintah mempromosikan bahan bakar nonsubsidi, ungkapan itu populer di semesta maya Nusantara sejak beberapa tahun terakhir sebagai ekspresi kebanggaan. Bangga, lantaran “berhasil” menjadi pemberi komentar pertama pada sebuah topik, mendahului ratusan atau ribuan respons lain. Walaupun sejatinya, “komentar” yang ditulis itu tidak menyampaikan apa-apa.

Memang, manusia adalah makhluk yang kompetitif. Punya kecenderungan untuk ingin selalu menjadi yang pertama. Sifat tersebut bahkan ditunjukkan secara alamiah sebelum terjadinya pembuahan, saat jutaan sel sperma mesti bersaing dulu-duluan berkontak dengan satu sel ovum. Sampai akhirnya menjadi bakal si jabang bayi.

Masih tentang keterciptaan serta keberlangsungan spesies kita, dan objek di selangkangan. Ada dugaan ilmiah bahwa manusia memiliki pelir berbentuk unik juga gara-gara alasan serupa. Jangan dikira adanya celah sambungan antara kepala dan batang cuma untuk mempermudah genggaman. Terdapat fungsi kompetitif dan praktis di balik kehadirannya. Agar menjadi pejantan pertama, yang jutaan sel spermanya bisa benar-benar bergerak efektif menuju calon pasangan.

Ketiga contoh di atas menggambarkan betapa pentingnya pencapaian manusia sebagai “yang pertama” terhadap keberadaan fisik, dan keberadaan sosialnya.

Faktanya, banyak orang di sekitar kita, karena gengsi dan didorong oleh ilusi harga diri, berusaha setengah mati untuk jadi “yang pertama” demi eksistensi. Kelihatannya sih gembira, entah apa yang mereka rasakan sebenarnya.

Misalnya, ada yang mbelani terbang ke luar negeri, untuk beli dan jadi pemilik iPhone 6 pertama di kotanya. Barangkali dia memang fanboy sejati, sehingga sudah tak sabar ingin menikmati semua fitur terbaru dari telepon genggam superpintar seharga satu unit motor bebek itu. Lain ceritanya kalau dia hanya pengin pamer kemampuan membeli, tapi ndak paham cara pakainya. Kasihan.

Ada yang girang luar biasa, jadi orang pertama yang berhasil membeli koleksi terbaru kaftan mahalan (apalah namanya itu) setelah fotonya diunggah ke Instagram. Barangkali dia memang perempuan dengan selera berbusana yang mumpuni, sehingga giat berburu kaftan berkualitas tinggi. Lain ceritanya kalau dia hanya ingin ikut-ikutan tren, supaya ikut terlihat happening saat sedang arisan bersama teman-teman. Norak.

Ada yang berusaha tetap bersikap rendah hati, setelah namanya dicatat besar-besar sebagai donatur pertama dalam acara malam amal prestisius di grand ballroom hotel berbintang. Sebuah acara mewah berkelas yang dihadiri para konglomerat, selebritis, dan pejabat tinggi. Barangkali dia memang orang kaya yang punya jiwa sosial tinggi, ingin membagi sedikit hartanya untuk membantu panti asuhan, dan sebagainya. Lain ceritanya kalau ternyata dia hanya berharap mendulang reputasi, pengakuan, dan predikat terpuji di mata orang lain. Pencitraan.

Pernah berhubungan dengan orang-orang seperti itu? Apakah Anda terusik? Apabila iya, mungkin Anda iri. Kalau tidak iri, barangkali Anda cuma kurang kerjaan, sampai bisa memerhatikan orang lain dengan porsi yang agak berlebihan. Soalnya, bagaimanapun juga, semua tindakan mereka itu tidak ada sangkut pautnya dengan Anda. Mereka berangkat ke luar negeri, membeli barang-barang supermahal, dan berdonasi dengan uang, tenaga, dan waktu mereka sendiri. Dan Anda bisa dengan mudahnya mlengos begitu saja sambil berseru “bodo amat, bukan urusan gue inih!

Toh kalaupun mereka melakukan semua itu untuk tujuan yang kurang tepat, ada risiko dan konsekuensi yang bakal mereka hadapi sendiri. Jangan lupa, semua orang dibekali kemampuan untuk belajar dari pengalaman.

Kucingnya orang.
Kucingnya orang.

Jika mereka terkesan berupaya setengah mati untuk menjadi “yang pertama”, biarlah itu menjadi urusan mereka saja. Kita tidak perlu ikut-ikutan ribet sok menasihati, sok cemburu, atau sok benar menyikapi tindakan mereka. Cukuplah bersikap cuek, dan kembali fokus pada apa yang sedang/harus kita lakukan. Masih banyak yang lebih penting untuk diselesaikan, ketimbang mengurusi orang lain.

Hal yang lebih penting tadi, termasuk menjaga diri kita agar jangan sampai–secara sadar atau tidak–ikut setengah mati ingin jadi “yang pertama” hanya gara-gara gengsi dan latah budaya.

Memutuskan nonton film tertentu biar terkesan update, padahal waktu nonton bosannya ndak karu-karuan. Tapi kemudian sok yakin menjelaskan nilai moral, sinematografi, serta interpretasi pribadi. Nekat pesan espresso saat mengunjungi kafe baru, lalu menyumpah dalam hati “sudah isinya sedikit, mahal, pahit lagi!” Tapi kemudian memproklamasikan diri sebagai pecinta kopi asli, bukan produk pasaran. Minta diundang ke pagelaran busana haute couture. Padahal boro-boro jadi buyer, isi kepala saja blank sepanjang acara. Datang ke pameran seni, hanya untuk foto selfie di depan karya-karya yang ada, meski ndak paham dengan apa yang dipamerkan. Tapi kemudian mengaku hipster, sebagai generasi dengan hobi baru yang belum lazim selama ini. Serta masih banyak bentuk-bentuk kelatahan yang melelahkan lainnya.

Lagipula, nyari apa sih dengan menjadi “yang pertama”? Kenapa ndak sekalian aja ngejar jadi “yang pertama” menghadap ke yang mahakuasa? Biar snobbish-nya lebih istimewa.

[]

Iklan

3 thoughts on “Santai Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s