Kokom Komariah

Matahari masih malas bersinar. Adzan subuh berkumandang mengisi seluruh desa Ngajeng. Hampir seluruh penduduk desa mulai bersiap rutinitas pagi. Sesuai agama dan keyakinan sendiri-sendiri. Suara jeritan Kokom membahana ke seluruh gubuk tempat tinggalnya. “Ibuuu” teriak Kokom dari dalam kamar mandi di samping gubuk. Ibu Kleting pun berlari menghampiri ikut masuk ke dalam kamar mandi. Pintu kamar mandi ditutup. Jeritan hati kebahagiaan Kokom menyambut mensturasi pertamanya menembus segala tembok dan gunung.

Tak seperti gadis seusianya yang biasanya panik menyambut mensturasi pertama, Kokom bahagia lahir batin. Sesuai janji ibu tunggalnya, permintaan Kokom untuk mengganti nama akan dikabulkan. Kokom tak sabar menunggu hari itu tiba. Teman-teman sedesa bahkan di desa seberang pun sudah tahu. Kokom memang gadis supel yang mudah bergaul dengan siapa saja. Anugerah paras ayu, rupanya tak cukup baginya. Padahal, nama Kokom adalah pemberian almarhum ayahnya yang meninggal tepat sehari sesudah Kokom dilahirkan. Sambil menatap bulan purnama, Pak Kleting yang sedang sakit parah berkata “namakan dia Kokom”.

Sesuai adat dan tradisi Ngajeng, mengganti nama bukan soal kelurahan saja. Ada upacara Nyawer yang mutlak diselenggarakan. Rujak tujuh macam, air kendi dari tujuh mata air, rumput palias, tumpeng, dan kue-kue pasar untuk seluruh penduduk. Bukan mudah bagi Ibu Kleting yang menyiapkan makan siang saja harus bekerja keras mengumpulkan beras tumpah di lumbung saudagar beras. Meminjam uang dari Pak Loba tengkulak, bukan jalan keluar. Bukan hanya bunga 200% yang dikenakan, tapi pinjaman terakhir belum lunas. Masih 17 bulan lagi. Peninggalan sebentuk cincin dari almarhum suaminya, sudah digadai untuk biaya masuk sekolah Kokom.

Ibu Kleting memang tak pernah lulus SD. Tapi pantang ingkar janji. Bukan dari sekolah didapatnya prinsip hidup itu. Tapi dari sakit hati saat orang tuanya ingkar janji untuk menyekolahkannya sampai tuntas. Alih-alih menyekolahkan, orang tua Kleting memilih untuk pergi ke negeri seberang dan menitipkan Kelting pada neneknya. Hilang tak berkabar sampai nenek menghebuskan nafas terakhir. Makanya saat Kokom dilahirkan, Ibu Kleting bersumpah di hadapan Tuhannya: kebahagiaan titipanMu kini adalah tanggung jawabku.

Dua hari sesudahnya, Ibu Kleting baru habis mandi. Sambil menatap dirinya di cermin, tampak Kokom yang sedang duduk di meja makan mengerjakan tugas sekolahnya. Perlahan rambutnya dilumuri minyak kelapa. Kemudian dikeluarkannya gincu yang mulai mengering karena lama tak dipakai. Matanya menatap tajam penuh keyakinan. Pakaian kembang-kembang yang baru kering, dikenakannya. “Kokom kerjakan tugas sekolahmu. Kalau sudah malam, tutup pintu dan jendela” kata Ibu Kleting sambil melenggang cantik meninggalkan. Belum lagi Kokom sempat menginterogasi, Ibu Kleting sudah hilang dari pandangannya.

Gubuk Kokom hari itu beda dari biasanya. Seluruh penduduk kampung berdatangan mengenakan pakaian terbaik mereka. Pucuk Tumpeng dibelah oleh Ibu Kleting disambut tepuk tangan. Dengan luwes, Ibu Kleting menyuapkan sesendok nasi dari pucuk tumpeng ke mulut Kokom yang tersenyum merekah. Di atas meja diletakkan surat ganti nama yang sudah ditanda tangani oleh Pak Lurah. Berdekatan dengan kue-kue jajanan pasar tertata rapi hampir di seluruh sudut rumah. Tetamu boleh makan sepuas hati. Menjelang malam, pesta ganti nama belum usai. Semua bergoyang diiringi musik yang menggema dari dua speaker besar. Kokom Komariah kini punya nama baru. Nama yang sudah diidam-idamkan sejak setahun lalu. Nama baru yang dalam pikiran Kokom akan menegaskan dirinya sebagai kembang desanya dan desa tetangga. Nama yang diinspirasikan bintang idolanya: Chelsea Islan. Mulai hari itu, seluruh orang akan memanggilnya Chelsea. Chelsea Komariah lengkapnya.

Selagi Ibu Kleting sibuk melayani tamu yang bergoyang, sesekali dia mencuri lihat ke arah Chelsea yang sedang berkumpul bersama teman-temannya. Kebahagiaan yang memancar dari wajah Chelsea, adalah kepuasan hati Ibu Kleting. Kehadiran seorang pria tinggi dan gagah yang tiba-tiba menyelamati Ibu Kleting sedikit membuatnya terkejut. Belum lagi Ibu Kleting siap menyapanya, sambil menyalami, Pak Loba berbisik halus di telinga Ibu Kleting “semalam lagi, hutangmu kuanggap lunas.”

keep-calm-and-follow-the-trend-4

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s