SURI PEREMPUAN PERACUN

Nenek Suri tergeletak di ranjang kayu tua. Sendirian. Anak satu-satunya sudah pergi lebih dulu. Umurnya 112 tahun. Tubuhnya ndak lagi mampu menampung nyawa yang enggan pergi. Sakit yang diderita berlapis. Sekarang ia dikelilingi banyak orang. Pak Lurah sebelah kanan. Juga Pak RW dan Mantri Masjid. Di kirinya ada Ibu dokter kepala Puskesmas. Berjarak hanya tiga meter dari kaki ranjang, berkumpul sekitar delapan orang yang berdzikir syahdu sejak semalam. Tetangganya hanya berani melongok di pintu kamar. Mendoakan agar ia segera menyerah.

Suri mengayunkan telapak tangannya. Meminta Pak Lurah sedikit menunduk dekat mulutnya. Ragu-ragu. Pak Lurah mengikuti kemauan tangan si Nenek. Ia kemudian mencium bau bangkai kucing yang menguap dari sela-sela keriput dan rambut abu-abu tipisnya. Malam ini akan jadi sangat istimewa untuk semua yang berkumpul di ruangan itu. Suri berbisik pelan. Saking pelannya, Pak Lurah minta dzikir berhenti sejenak. Ia dekatkan lagi telinganya. Mendengar bisikan lebih jelas… Pak lurah bangun. Kebingungan. Semua penasaran. Pak Lurah bilang, Nenek Suri minta kain tenun di pohon asam gelugur di belakang rumahnya dikubur. Suri perempuan Peracun.

Mari aku ceritakan siapa Suri. Ini nama sebenarnya. Nama lain dan lokasi cerita ini aku ganti karena beberapa saksi hidup masih ada dan nama-nama daerah yang kurang dikenal. Rapal mantra juga ndak aku tulis di sini, karena sebaiknya ilmu hitam ini terkubur bersama Suri. Semoga.

Tepatnya Selasa malam, 75 tahun lalu. Suri mengendap-endap ke kompleks pekuburan kampung Kemiri di Kabanjahe. Ini malam yang tepat. Bulan terang sempurna. Angin bertiup ke arah tenggara. Menyibak kabut yang berhembus dari Sinabung meninggalkan embun wangi alang-alang yang terpanggang purnama. Anak Wati mati seminggu setelah dilahirkan. Ia gali jasad bayi malang itu. Suri berlari kencang kembali ke rumah. Ia sudah menyiapkan semuanya. Cawan kaca, kain tenun, tanah, minyak nilam, pucuk kelapa, air panas.

Pohon Asam Gelugur
Pohon Asam Gelugur

Sambil menghadap pohon asam gelugur. Ia melantunkan mantra bajang. Berulang kali sampai mayat bayi itu menjerit lagi. Tidak ada angin berani bertiup menggerakan pohon asam. Jangkrik sudah pergi sejak Suri berniat melakukan ritual tua ini. Malam tidak mau jadi saksi. Cuma purnama yang berani menghadapi Suri dan jeritan bayi yang sudah mati.

Keberanian Suri harus diuji lagi. Sebelum apapun yang bikin bayi ini menangis kencang pergi, ia gigit lidah si bayi dan menariknya keluar. Mulut bayi yang membusuk itu terbuka lebar. Lidahnya hilang. Cuma bisa terisak. Suri buru-buru menjejalkan nilam dan tanah dalam mulutnya. Bayi itu sontak terdiam. Matanya membelalak putih. Suri membungkusnya dengan kain tenun. Mengikat kedua ujungnya dengan pucuk kelapa. Dan menyiramkan air panas. Mayat bayi berhenti bergerak. Kembali mati. Suri sangkutkan kain itu dengan galah pada cabang ke tiga dari atas pohon asam gelugur. Dan diamlah ia di sana hingga 75 tahun kedepan.

Suri masuk ke dapur. Menghaluskan lidah bayi yang sudah menghitam dengan penggiling bumbu. Meletakannya dalam cawan kaca. Dan ia siap menggunakannya. Tidak kurang dari sawah, tanah dan tiga suami yang bisa ia hasilkan dari ilmu Peracun. Wati juga harus bercerai karena suaminya sering berkunjung ke rumah Suri. Tujuh orang mati di tangan Suri. Ia cukup menyelipkan tumbukan lidah bayi di sela-sela kuku dan menjentikkannya untuk membuat mereka muntah darah dan mati dalam hitungan jam. Meski tidak bekerja, Suri hidup mewah. Mungkin hanya Suri yang pernah ke Singapura bersama anak suaminya selama seminggu. Penduduk kampung sempat iri dengan hidup berlimpah Suri. Tapi semua tahu siapa Suri. Ia bisa memindahkan panen sesukanya. Mencabut nyawa orang yang ndak dia suka. Mendatangkan bencana kalau ia murka. Suri perempuan Peracun.

Seperti halnya semua kemudahan di bumi ini. Haruslah dibayar dengan kerja keras. Baik itu sebelum atau sesudahnya. Menginjak umur 50. Suri kehilangan anak satu-satunya. Tiga suaminya meninggal bergantian. Penyakit datang-pergi. Kelumpuhan sudah ia alami selama 40 tahun belakangan. Harta yang ia kumpulkan habis untuk mencari dokter dan tabib yang mampu meringankan penderitaannya. Tapi yang terberat adalah mimpi-mimpi tengah malam soal bayi yang merengek-rengek minta dikembalikan ke tanah. Kadang ia melihat janin meringkuk dalam kuali. Kadang janin itu melayang di sudut mata atau hanya mengintip lewat celah-celah jendela. Di malam lain. Ia mencium wangi nilam menyengat dan hilang begitu saja. Jeritan yang membangunkan. Atau tangis bayi dari pohon asam.

Pak Lurah dibantu tamu dzikir menurunkan bungkusan tenun dari cabang ke tiga pohon asam gelugur. Kainnya lapuk berwarna kelam karena panas dan hujan. Tanpa mau tau apa isinya, mereka segera menguburkan kain tenun itu di bawah pohon. Belum selesai Pak Lurah menguburkan tulang-belulang bayi Wati, Ibu kepala Puskesmas bergegas keluar dan berteriak: Nenek Suri sudah mati!

Iklan

6 thoughts on “SURI PEREMPUAN PERACUN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s