Pied Piper Complex

pied-piper1

“Adalah manusia yang selalu melihat segala hal yang sedang “in”, trendy, dilakukan oleh banyak orang di sekitarnya, sebagai kesempatan untuk menonjolkan dirinya dengan cara menyatakan penolakan, perlawanan, kritikan dan tak jarang hujatan.”

Trend adalah sementara. Walau beberapa trend berhasil berumur panjang dan kemudian menjadi klasik. Karena sifatnya yang sementara, kehadiran trend selalu menarik kehebohan. Karena sifatnya selalu baru, menawarkan alternatif pilihan baru, maka tidak ada trend yang bisa membahagiakan semua orang. Pasti akan ada orang-orang yang menentangnya. Alasannya penolakannya bisa beragam. Tidak sesuai dengan seleranya, bertentangan dengan kepercayaan hidupnya, adat istiadat keluarganya, mengancam kelangsungan hidupnya dan sebagainya. Tapi ada juga yang melihat ini sebagai kesempatan untuk menonjolkan dirinya.

Ketika sosial media diguncangkan dengan pembahasan soal calon Presiden. Akan ada yang menganggap ini berlebihan. Tidak relevan. Mengganggu ketenangan hidup media sosialnya. Atau ketika green smoothies sedang menghiasi timeline media sosialnya setiap pagi. Pasti ada yang menganggapnya sebagai kebodohan. Tak jarang mengejek. Saat IKEA buka gerai pertamanya di Jakarta dan ramai dibicarakan, tidak sedikit yang menganggapnya sebagai tak berguna. Sebutlah trend apalagi? Gerai burger, susu almond, berlari, freeletics dan lain-lain. Yang pasti semua akan memiliki fans dan hatersnya sendiri-sendiri.

Wajar dan manusiawi. Namanya juga manusia. Tidak bisa dipukul rata.

Tapi, kalau diperhatikan dengan seksama akan ada sederetan orang yang memiliki konsistensi melakukan penolakan. Dia lagi dia lagi. Disampaikan dengan lantang. Tak jarang seperti sedang mengajak berkelahi.

Kritis? Ah masa segitu kritisnya sehingga semua yang sedang trend harus dilawan? Gak ada kerjaan amat. Lebih pandai dan tahu lebih banyak? Bisa jadi.

Mencari perhatian? Nah inilah alasan mereka yang disebut Pied Piper Complex.

Pied Piper Complex sejarahnya dari dongeng asal Pied Piper of Hemelin di abad 16. Pied atau Peter adalah seorang peniup Suling. Alunan suara Suling dari tiupan Peter rupanya bisa menarik tikus dari penjuru kota untuk mengikutinya. Sehingga dengan mudah akhirnya dituntun dan kemudian dibinasakan. Jadilah Peter mendapat kerjaan dari Raja untuk menggiring tikus di sebuah kota. Ketika tugas selesai dikerjakan, Raja ingkar membayar. Dengan dendam, Peter meniup sulingnya sehingga menarik anak-anak kecil di kota tersebut untuk mengikutinya dengan riang gembira. Untuk kemudian dibinasakan.

Hasrat untuk menjadi idola dan “diikuti” oleh banyak penggemar seperti Peter adalah kebutuhan manusiawi. Maka Pied Piper Complex pun adalah hal yang manusiawi pula. Yang menjadikannya menarik adalah dampak yang kemudian terjadi.

Dampak positif, akan memberikan semangat bagi pengidapnya untuk menawarkan sesuatu yang baru sehingga bisa melampaui trend yang sedang terjadi. Bukan mudah karena membutuhkan kreativitas. Kemampuan untuk menciptakan, mempromosikan dan kemudian menjadikannya trend baru yang lebih besar. Karya inovatif besar yang bisa mengubah pikiran dan hidup manusia, bisa diharapkan.

Melakukan penolakan dan perlawanan terus menerus bukan mudah. Memerlukan energi yang luar biasa. Karenanya sesama Pied Piper Complex memiliki kencenderungan untuk bersekutu. Kalau perhatian dari orang-orang di sekitarnya didapatkan, maka mereka pun akan bahagia. Tapi kalau tidak, akan mengubah cara pandangnya terhadap dirinya dan dunia sekitarnya. “Tak ada yang memahami aku. Mereka semua tolol! Dunia bego!” Atau bisa juga mengecilkan dirinya sendiri sebagai pernyataan kegagalan. Inilah yang merupakan dampak negatif.

brain2

Penyebab Pied Piper Complex bisa beragam. Mulai dari kurang perhatian dari orang-orang yang diharapkan memberikan perhatian untuknya. Merasa memiliki kekurangan dari dirinya yang hendak ditutupi. Merasa tidak berdaya dan kehabisan akal untuk dalam meraih eksistensi. Dan dalam dunia media sosial, kecemburuan melampaui batas saat melihat keberhasilan orang-orang di timelinenya.

Tapi Pied Piper Complex juga bukan hal baru. Banyak inovator kelas dunia dicurigai sebagai “pengidapnya”. Kehadiran media sosial, selain memberikan corong untuk mereka melakukan perlawanan, juga mengumpulkan dan menyatukan mereka. Membuat mereka jadi atau lebih terlihat ketimbang sebelumnya.

Bagaimana menangani mereka? Cuma dua. Tanggapi, terutama kalau ada hasrat yang sama. Atau abaikan. Cuekin. Diamkan saja. Perlahan mereka akan menyadari bahwa perhatian yang mereka inginkan tidak akan didapatkan. Mudah-mudahan kemudian sembuh. Eh tapi tenang, ini bukan penyakit kejiwaan. Walau memiliki kekuatan untuk menularkan. Ini hanyalah sebuah kompleksitas.

Singkatnya Pied Piper Complex disebabkan oleh hasrat untuk menonjolkan diri dengan harapan menjadi lebih terlihat, yang dicapai dengan melawan dan merendahkan segala hal yang sedang trendy.

Dia memang berada di wilayah abu-abu dengan kritis dan ambisius. Ada dan tiada. Tipis. Namun merupakan tanda dan gejala yang jelas.

 

Iklan

10 thoughts on “Pied Piper Complex

        1. Atau mungkin penulisnya lagi di bawah pengaruh LSD ya hahaha.

          Jawaban penulisnya atas pertanyaan awal, tulisan ini tidak diarahkan dan diarahkan kepada siapa pun.
          Ketika penulis satu ini melakukan observasi, dia tidak menempatkan dirinya sebagai orang ketiga. Menempatkan orang lain seperti tikus percobaan.
          Tapi penulisnya tak luput dari observasinya sendiri.

          Jangan lupa, penulis tidak pernah sekolah atau memiliki latar belakang psikologi. Tulisan ini murni hasil pengamatan dan pemahamannya atas segala gejala dan tanda yang terjadi di sekitarnya.

          Valid? Mungkin. Tidak valid? Lebih mungkin.

          Disukai oleh 1 orang

          1. buat gue pribadi, valid atau tidak valid bukan soal utama. Ngebawa soal Pied Piper Complex ke permukaan aja udah lumayan bagus. Jadi orang kayak gue yg sering nemuin orang-orang sejenis itu bisa tahu, “Oh, namanya Pied Piper Complex”. Lagi pula, validitas yang dirumuskan secara objektif dan ketat seringkali ga mempan buat hal-hal yg dinamis semacam ini.

            Soal si penulis yg nggak menempatkan diri sebagai orang ketiga, menempatkan orang lain sbg tikus percobaan dan nggak lepas dari pengamatannya sendiri, meski itu bukan kondisi yg ideal, tapi bukankah semua orang juga sering lakukan hal serupa? imho. cmiw.

            Suka

            1. Menurut aku, we can see the same thing but yet we see it differently. Pengamatan itu individual banget. Dan output yang keluar pun akan berbeda.
              Seperti kamu bilang, Sindhunata tidak harus pandai main bola. Maka pengamat juga tidak harus bisa mengamati dirinya sendiri.
              Bahkan konon, pengamat (observer) yang baik menempatkan dirinya sebagai orang ketiga supaya hasil pengamatannya obyektif.

              Tapi kayaknya penulis yang ini terlalu subyektif dalam banyak hal dan cenderung menghakimi. Bukan penulis yang baik untuk kolom lifestyle dan trend sebenarnya.
              Untung ada linimasa.com yang masih mau menampung dia.

              Suka

              1. It’s ok, glennmars.

                Tulisan ini memang subjektif dan sedikit “menghakimi” (sengaja pakai tanda kutip), tapi gue pribadi nggak ngerasa masalah. Kalau menurut Glennmars tulisan ini nggak ditulis oleh penulis yg baik utk kolom lifestyle dan trend, well, tolong tunjukkan contoh yg lebih bagusnya seperti apa. Mungkin Glennmars sendiri pernah bikin? Gue bakal senang bacanya karena dpt banyak bahan bacaan 🙂

                Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s