Prengki, Anak Masa Kini

IMG_3744

Saya sering bertanya-tanya beberapa hal tentang sosok komikus. Apa sih makanan para komikus? Apakah mereka selalu dijejali wortel sejak bayi agar penglihatan mereka setajam silet? Lantas, sejak kapan mereka mengenal alat tulis? Kenapa mereka lebih menyukai corat-coret daripada masak-masak, goreng-goreng, tumis-tumis?

Amati saja gambar di atas. Komikus atau kartunis, atau apapun sebutannya, tidak hanya pandai membentuk rupa dalam media dua dimensi, namun mereka diberi kelebihan kepekaan terhadap lingkungan. Mudah mengamati perilaku orang sekitar, kejadian sekilas, tren sesaat, dan (ini yang paling penting) menuangkannya secara ringan, ringkas dan lucu. Paling apes karyanya menjadi “agak garing”. #Kriuk.

Tersebutlah seorang pemuda tanggung bernama Prengki. Asal kata dari Friend > Pren > Preng > (supaya enak didengar maka diberi akhiran -ki) Prengki. Usianya tidak lebih dari 24 tahun. Gaul. Jomblo. Sangat sayang dan disayang teman-teman geng-nya. Garing. Potongan rambut kekinian. Beginilah kira-kira karakter Prengki.

IMG_3749

Karakter Prengki diciptakan seorang pemuda yang umurnya sepantar Prengki. Namanya Iwan Abdullah. Senasib dengan pemuda jaman sekarang lainnya, Iwan memiliki banyak nama panggilan: Nawi. Ncek. Abdul. “Terserah deh, Mas mau manggil yang mana”, katanya sesaat setelah kami berkenalan.  Saya putuskan untuk memanggilnya Iwan. Malam minggu. Dua Lelaki. Dalam satu meja. Suram. Untungnya kami bicara karya. Tentang komik dan hasrat dunia Iwan Abdullah.

Iwan sejak kecil suka corat-coret. Ayahnya sering membawakan kertas HVS sepulang ngantor. Corat-coret yang begitu menyenangkan, hingga menjadikannya hobi. Setiap ditanya orang apa hobinya, Iwan kecil akan menjawab mantap: “menggambar”. Usianya saat ini belum genap 25 tahun. “Udah tua gua, Mas..Hahaha”. Ya. Iwan mudah tertawa. Pembawaannya riang tapi tertawanya menohok. Agak kampret memang bila seorang pemuda kurus kering, rambut kriwil, menghakimi dirinya sendiri bahwa  usia 24 tahun disebut tua. Iwan tidak sadar berapa usia lelaki ganteng di hadapannya ini.

Saat kecil, Iwan tidak langsung memilih komik. Oleh karena itu dia mengaku pengetahuannya tentang komik tidak begitu mendalam. Membuat karya grafis dalam bentuk komik dimulai saat dirinya masuk SMK Grafika tahun 2005. Lewat sekolah Iwan sering menjumpai mesin-mesin percetakan yang sedang bekerja: Mencetak buku. Suatu ketika, sekolahnya mendapat proyek pencetakan Komik Benny & Mice. Melihat gambar lucu diperbanyak dan dijadikan buku.Obsesinya muncul: “Lulus dari sekolah, gua harus sudah bikin buku.”

IMG_3675

Pilihan Iwan untuk membuat komik yang ringkas hanya dengan satu, dua atau tiga kolom adalah pilihan yang tepat. Komik yang mudah disebarluaskan. Gambar lalu dibagikan lewat media sosial. Komik yang lucu mudah diterima. Komik yang garing, absurd dan awkward apalagi. Sukses! Dengan membuat komik hanya dua atau tiga kolom idenya mudah didapat. Ide cerita komik yang diperoleh Iwan dari kegiatan sehari-hari. Permainan kata-kata sesama teman sepermainan. Kegiatan rutin sehari-hari yang dibuat hiperbolik. Walau seringkali punya ide bikin komik berseri atau cerita yang lebih panjang. Seperti filem. Akan tetapi dirinya merasa belum memiliki ide cerita yang tepat. Beberapa komiknya memang dibuat lebih dari empat panel. “Karena jalan ceritanya menuntut demikian, Mas.”

Dari goresan tangan dan idenya, Iwan telah menyusun lima judul buku.  “Sisa cetak”, dua buku. “Jagoan Jahat”, satu buku. “Komikimpor”, dua buku. Semua komik Iwan tidak ada yang diterbitkan penerbit besar. Semua dia perbanyak lalu disusun menjadi buku dengan cara  fotokopi. Untuk apa? “Ya terus gua jual Mas,. ke orang-orang yang suka aja. Malah kadang gratis. Ya cuma hobi aja sih… Bisa dibilang komik gua yang gambar, gua yang nerbitin, gua yang baca, gua juga yang beli. Haha!”.

Ketika dirinya ditanya komik mana yang saat proses pembuatan dan hasilnya begitu memuaskan, dengan mantap dia menjawab komik dengan judul: “Ah, Kamu..”. Kenapa?“Soalnya itu gua bikin buat cewe gua dulu pas SMK. Kenapa puas, ya karena itu awal banget bikin komik dan itu juga dibikin pake pulpen langsung haha!” 

Kami berbincang-bincang di sebuah beranda. Memandang bintang-bintang. Sembari menonton orang lewat. pemuda-pemudi pacaran. mereka yang merayakan malam mingguan. Iwan menyebut sebuah nama: “Eko Nugroho”.  Menurut Iwan, Eko Nugroho dan “daging tumbuh” yang membuat dirinya terinspirasi untuk terbitkan komik secara fotokopi. “Keren dia, Mas. Tapi aneh. Beda selera hahaha!”

Saya iseng mengamati KTP-nya. Iwan lahir 5 Januari 1990 di Kota Bogor. Saat saya mengamati dengkul dan legam kulit mukanya saya yakin dirinya dibesarkan di daerah persawahan. “Sekolah dimana, Wan?”  Dengan menghembuskan asap rokok dan kenangan dia menjawab:  “SD di SDN 07 pagi, Srengseng, Mas. SMP di SLTPN 276 Srengseng Sawah juga. SMK di SMK Grafika Mardi Yuana, Bogor. Tapi sewaktu sekolah dulu masih tinggal di Srengseng. Sekarang masih kuliah di Unindra, Mas.” Apa itu Unindra? “Itu lho Mas. Universitas Indraprasta PGRI  Jakarta.”  Ooooh. Saya mengangguk tapi tetap tak tahu apa itu Unindra.

Hingga saat ini dirinya sudah hampir enam tahun kuliah. Walau dirinya mengambil jurusan yang begitu disukainya, DKV – Desain Komunikasi Visual, tapi dirinya berkilah soal begitu lamanya ia belum lulus juga. “Gua doyan gambar, doyan pelajaran kuliahnya. Tapi gua kagak doyan ngetik skripsi Massssss. Hahaha!!” Ketika saya tanyakan siapa tokoh inspirasi karakter Prengki. Dirinya lugas menjawab: “Tokoh inspirasi Prengki sebenernya itu temen, namanya Amir Hidayah. Ya kelakuanya aslinya begitu, kurang lebih sama kayak Prengki.” “Kalau karakter gambarnya sih, insipirasi sama temennya abang gua. Dia komikus juga, tapi dulu. Namanya Helmi Himawan.”

Iwan Abdullah mengakui, inspirasi dan ide sebetulnya paling banyak datang saat dirinya berdiam diri di kamar. Sambil merenung.


Malam terus larut. Kami masih saja seperti sepasang gay yang sedang berpacaran. Waktunya kami pulang. Tanpa perlu bergandengan.

Dirinya minta didoakan untuk segera menyelesaikan sekolahnya. Lulus kuliah. Lalu buka usaha dengan teman-temannya. Usaha Clothing dan studio desain. Modalnya dikumpulkan dulu selama lima tahun kerja di perusahaan orang.  Soal komik, Iwan Abdullah mencintainya. Jadi kapanpun, dimanapun dirinya bakalan “ngomik” terus.

“Mas, jangan sebut gua seniman atau komikus. Seniboy aja gimana? Hahaha!”. Obrolan kami akhirnya harus diakhiri. Sudah minggu pagi. Kami berjabat tangan tanpa sempat berpelukan. Malam minggu yang aneh.

Selamat pagi. Selamat menimati Sabtu pagi.

🙂


 

 

 

 

 

 

 

Bagi yang penasaran dengan karya Iwan Abdullah, boleh follow akun twitternya @komikimpor atau akun instagramnya.

sebagian dapat juga dilihat di bawah ini.

 

Posted in: Komik, ringan

Tagged as: , ,

3 thoughts on “Prengki, Anak Masa Kini Leave a comment

  1. Humor2nya sih gak baru..mas dimboy udah bikin kayak gini jauh2 hari yg lalu…bahkan beberapa tahun yg lalu..tapi gmbrnya bagus sih…:)

Leave a Reply