Keep Moving On

Anda tahu ban tubeless, ban tanpa ban dalam? Apabila ban jenis itu tertembus paku, tukang tambal akan mengeluarkan alat berbentuk huruf “T”. Cara memegangnya: bagian kepala “T” digenggam, sedangkan kaki tunggalnya terselip ke luar, di pangkal sela jari telunjuk dan jari tengah.

Besi yang terselip ke luar genggaman serupa batang obeng. Ujungnya lumayan tajam. Tapi bentuknya dibuat seperti jarum mesin jahit: ada lubang di dekat bagian lancipnya. Di lubang tersebut, tukang tambal menyelipkan sehelai karet khusus. Terlihat lunak seperti permen karet yang sudah dikunyah, warnanya oranye kemerahan seperti pinang sirih bekas. Baunya? Entahlah.

***

Semua orang ingin bahagia. Tidak ada seorang pun–termasuk orang dengan gangguan jiwa–yang ingin merasakan derita. Sekecil apapun dampaknya, seremeh apapun bentuknya.

Semua orang bahkan ingin terus-terusan bahagia. Hingga dipanjatkan doa; “jauhkanlah kami dari segala penderitaan, tuhan.

Doa seperti itu tidak terdengar janggal. Wajar dan alamiah. Didorong insting paling dasar, bahwa kebahagiaan itu menyenangkan, dan penderitaan itu menyakitkan. Otak reptil manusia pun lebih banyak bekerja, memberikan dorongan untuk selalu mencari kesenangan-kesenangan, dan berlari menjauh dari lawan-lawannya.

Ibarat seorang bocah penyuka gula-gula. Dinikmatinya manis jilatan demi jilatan. Kemudian, saat gula-gula itu sudah habis, ia akan kembali mencarinya, lagi dan lagi. Saat tak mendapatkannya, ia akan merengek, menangis, atau meraung-raung. Setelah memperolehnya lagi, ia pun kembali girang, tenggelam dalam kenikmatan. Tanpa paham apa yang sebenarnya sudah dan bakal ia rasakan. Begitu seterusnya. Tidak sadar, bahwa doa tadi terkesan menyepelekan tujuan semesta, tuhan, dalam keterciptaan manusia.

Manusia memohon agar selalu diberi kebahagiaan, dan dihindarkan dari penderitaan. Sang bocah menyukai gula-gula, dan mengamuk saat tidak mendapatkannya. Ketika mendapatkan gula-gula, sang bocah merasa bahagia. Ketika gula-gula itu habis dilumat, karena memang begitu semestinya, sang bocah merasa kehilangan. Kebahagiaan tadi hilang perlahan dan mulai berganti jadi penderitaan.

Saat sang bocah tidak mendapatkan gula-gula kegemarannya, ia pun menangis histeris, berteriak, berguling-guling di lantai, berontak hebat saat akan digendong. Penderitaan yang ia rasakan makin hebat, tambah kuat, berkali lipat lebih menyakitkan dibanding sebelumnya.

Pertanyaannya, siapa atau apa yang menyebabkan kebahagiaan itu hilang, dan berganti menjadi penderitaan hebat? Gula-gula? Orangtua? Keadaan? Bocah itu sendiri (dalam keadaannya yang memang belum dewasa)? Lainnya?

Demi menghindari penderitaan, haruskah kita musnahkan semua gula-gula yang ada di dunia? Haruskah kita salahkan orangtua yang memperkenalkan gula-gula itu kepada anaknya? Haruskah kita salahkan orang yang pertama kali menemukan cara membuat gula-gula? Termasuk orang yang menjual gula-gula? Haruskah kita salahkan sang bocah atas kelakuannya? Atau haruskah kita salahkan waktu, karena sang bocah masih “bocah”, saat pertama kali merasakan gula-gula?

Di sisi lain, bisakah sang bocah menyalahkan orangtuanya, karena tidak memberi gula-gula?

***

Paku dicabut dari permukaan ban tubeless itu. Panjang. Bunyi angin terdengar kencang mendesis.

*JLEBBB!*

Dalam sekejap, ujung batang besi yang telah diselipkan karet merah tadi ditusukkan dalam-dalam, tepat di lubang luka ban.

***

Prinsipnya sederhana, dan telah berkelebatan dalam pikiran manusia sejak dahulu kala. Bahagia dan derita. Dua hal berbeda yang tak ubahnya kembar dempet; tidak bisa dipisahkan. Mengapa? Karena, kita tidak akan tahu betapa menyenangkannya bahagia, apabila kita belum pernah tahu bagaimana rasanya menderita.

Jadi, harus menderita melulu? Biar gampang bahagia?” Bukan dong. Itu mah sama saja dengan bunuh diri secara perlahan.

Bisa dipikirkan masing-masing deh. Siapa atau apa yang menetapkan batasan “kalau begini bahagia”, “kalau begitu menderita” dalam hidup ini? Orangtua? Agama? Sekolah? Tetangga? Bos? Ego? Guru? Pak Polisi? Pikiran? Ehm… Ya, barangkali itu jawabannya; pikiran.

Percuma bila semesta, tuhan, menganugerahkan dengan limpahan kebahagiaan, kalau pikiran tidak menyadari dan memperlakukan semua itu dengan sebagaimana mestinya. Alih-alih bahagia, bisa saja malah selalu menderita. Sebaliknya, dapat benar-benar dirasakan bahwa bahagia itu sederhana. Bagaimana seseorang bisa dibuat menderita, kalau ia selalu menemukan hal atau alasan kecil yang membuatnya bahagia?

Ada jawaban lain yang lebih tepat selain pikiran? Entahlah. Mungkin ada. Siapa yang tahu, mohon dibagi ya. 🙂

***

Ujung besi “T” tadi telah tertancap kuat di lubang ban tubeless bolong. Lubangnya menjadi lebih lebar.

*ZETTT!*

Kurang dari sepuluh detik kemudian, tukang tambal menarik alat itu kuat-kuat. Menyisakan ban yang lubangnya tambah leb… Loh? Lubangnya kok tertutup. Tertambal “permen karet” bekas berwarna kemerahan itu.

Ban tubeless itu kembali kencang. Siap melajukan kendaraan, mengarungi jalanan, bahkan bertemu dengan paku-paku tajam lainnya. Setiap kali tambalan itu menyentuh aspal, ia menjadi semakin kuat. Lubang kian tertutup rapat.

***

“No one can make You happy but Yourself.”

Mari beranjak. Berbaik sangkalah terhadap kehidupan.

[]

Iklan

2 thoughts on “Keep Moving On

  1. Berbaik sangkalah terhadap kehidupan. Great quote.
    Sesuai dengan ilmu yang pernah saya dengar “Tuhan itu bagaimana prasangka umatnya”.
    love it…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s