Edisi Terakhir Linimasa

IMG_3357


Anggap saja delapan cangkir kopi tersebut masing-masing dibagikan oleh pelayan kepada kita. Untuk kamu dan para penulis linimasa. Satu cangkir untuk Fa. Cangkir lainnya untuk Glenn. Juga untuk Gandrasta. Nauval pilih cangkir paling ujung. Dragono ambil cangkir sebelahnya. Agun kebagian cangkir paling kanan. Sedangkan aku paling kiri, dan kamu cangkir tengah. Kita angkat satu-satu cangkir itu. Menyesapnya perlahan. Mengawali pagi dengan saling memandang dan mengobrol pada sebuah ruang yang tenang. Kita saling menghadap. Berpandang-pandangan. Tertawa dan menertawakan masing-masing dari kita. Lagu Loving You sayup-sayup terdengar. Michael Jackson ikut menemani. Ini pasti lagu pilihan Gandrasta.

Anggap saja, cangkir itu postingan kami di linimasa. Kemudian anggap saja ini adalah pertemuan pagi rutin kita yang terakhir. Perjamuan terakhir.

Setiap yang diawali, sebaiknya harus diakhiri. Begitu pun kami. Setelah setiap hari menyajikan secangkir kopi pagi, kami memikirkan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang bergegas. Tergopoh-gopoh di kala fajar. Mempersiapkan diri untuk beraktivitas dan kemudian tenggelam dalam kegiatan masing-masing. Bekerja. Kuliah. Menjadi buruh kantoran. Menjadi wartawan. Menjadi bagian dari drama kehidupan.

Kamu didepanku. Berharap cangkir kopi itu tetap delapan dan bukan dua.

Kamu adalah pendengar yang baik. Selalu tersenyum saat kami sedang asyik ngobrol tentang sesuatu yang sebetulnya kamu ndak begitu paham tentang obrolan itu. Mata yang berbinar-binar. Tawa yang berderai dan yang membuat kami krasan adalah saat kamu ikut menuangkan pendapat atas apa yang sedang kami diskusikan. Kami dan kamu. Kita. Kehadiran kamu pada kita, membawa wewangian tersendiri. Aroma semerbak yang membuat kami terus semangat bercerita.

Kita tidak pernah memerdulikan apa password warung kopi ini. Toh kita tak pernah mengapit gawai saat berjumpa. Tak ada kontak mata percuma. Pembeli boleh datang dan pergi. Tapi sahabat akan terus berdiskusi, kalau bisa, hingga pagi lagi.

Tapi apa boleh bikin. Toh hidup terus berjalan. Ada tidaknya kita di sudut ruang sebuah warung kopi, dunia tetap baik-baik saja. Perjumpaan kita tidak memberikan apa-apa kecuali saling menitipkan rasa bahagia di hati masing-masing. Kopi hanya sebuah pengantar kalimat dan obrolan hangat. Diskusi sok serius dan tema konyol yang diusung, terkadang membuat kita melupakan kepedihan yang tergores dan masih membekas. Tak apa. Lupakan luka untuk sementara waktu. Kita berupaya untuk saling cerita. Sesekali luka itu kita buka, untuk sama-sama kita doakan, menjadi penanda kehidupan dan demi kesehatan masa depan.

Obrolan setiap pagi di warung kopi tidak semuanya berguna. Bahkan memang tidak dimaksudkan untuk menjadi berguna. Habiskan waktu sejenak. Bertemu sahabat sudah semestinya adalah obat. Penyembuh rasa gelisah. Menentramkan hati yang gundah. Tempat mencurahkan keluh kesah. Karena sahabat ada saat kita merasa apa yang sedang kita jalani terasa mulai berat. Beban yang sebaiknya memang tidak untuk dipanggul sendirian dan tidak pas jika “sesuatu” ini diceritakan pada pasangan.

Pada akhirnya ketika tegukan terakhir ditandaskan kita harus segera beranjak. Banyak urusan yang perlu diselesaikan.

Usia muda bukan berarti kita tidak boleh mati. Ketika usia sudah ada yang menentukan, maka kita hanya bisa manutan. Pasrah. Berserah. Begitu juga linimasa. Sejatinya tidak ada yang berhak membuatnya mati begitu saja. Malaikat pencabut nyawa tidak mendapat amanah dari Tuhan untuk mencabut izin kami duduk di sudut ruang warung kopi. Deretan sofa yang berhadap-hadapan dan meja kayu yang menjadi saksi bisu.

Hanya saja kami tidak punya banyak pilihan. Ada prioritas yang semakin jelas dan arus segera tuntas. Jalani urusan dan tenggelam olehnya tanpa sempat kita mampir lagi di warung kopi setiap pagi.

Terima kasih.

Agak berat memang untuk memutuskan bahwa apa yang begitu kami cintai, banggakan dan perjuangkan harus selesai. Fa beralasan ingin lanjutkan hidup dengan konsentrasi kuliah. Glenn berdalih ingin mengembangkan usaha nasi ayam jagoannya. Gandrasta lebih memilih habiskan waktu bersama Sekar. Nauval ingin konsentrasi menulis resensi filem dan menuangkannya dalam buku non-fiksi yang akan terbit tahun depan. Dragono memutuskan menjadi editor surat kabar yang baik dan benar. Agun berencana membina rumah tangga dan konsentrasi penuh untuk tugas baru yang menjadi kewajibannya itu. Aku satu-satunya yang tidak punya alasan. Sekadar pria kesepian yang ditinggalkan di sudut ruang. Akhirnya aku pun beringsut perlahan. Meninggalkan warung kopi penuh kenangan.

Sofa itu masih ada di sana. Bedanya, kami tak lagi hadir. Warung kopi itu tetap terus banyak pelanggan, kami saja yang tak menyempatkan mampir. Kamu masih di sana. Duduk di antara sofa kita. Hingga malam. Hingga lampu dipadamkan.

Delapan cangkir kopi itu tidak pernah hadir lagi.

Hello, midnight lover, you’re the one I adore
And I’ll be thinking of you ’til the stars are no more
If it’s cloudy or blue, I’ll stay here with you
We’ll make a wish, and then we’ll kiss, a love forever true
Instead of going out to some restaurant, I’ll stay here with you

 

 


 

 

 

 

Untungnya. Semua kata-kata diatas ternyata salah judul. Harusnya: “Jika Ini Edisi Terakhir Linimasa”. Hahahaha! Selamat menikmati hari Sabtu… 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in: Hidup

15 thoughts on “Edisi Terakhir Linimasa Leave a comment

  1. Sebagai silent reader tadi saya sudah sempat mengeluarkan setitik air di ujung mata.. Untung kecepatan membaca saya lumayan hingga airmatanya belum sempat menitik tapi sudah kebaca ending. Good job, guys. I love u already.😘

Leave a Reply