Hening yang Liar

Duduk bersila di atas lantai karpet beledu tebal, dalam kamar berpencahayaan temaram. Suhu ruangan diatur seideal mungkin agar tidak kegerahan, atau harus selimutan. Punggung tegak sewajarnya, kedua telapak tangan diletakkan di atas titik persinggungan betis kiri dan kanan. Mata terpejam, dan wangi dari pembakaran lilin aromaterapi bau lavendel (iya lavendel, bukan lavender) berseliweran.

Tarik napas… Embuskan…

Kalimat itu dirapalnya berulang kali dalam hati. Disesuaikan dengan irama napas yang alami terjadi. Terus ia lakukan hingga sempat hilang konsentrasi, ketika isi kepalanya liar ke sana kemari. Teringat soal pekerjaan di kantor, teringat pengalaman nonton film “Annabelle” beberapa hari sebelumnya, teringat pedasnya sambal yang dimakan tadi siang, teringat rencananya ingin menulis posting-an blog tentang sinkretisme Shiva hingga ke tanah Batak dan Bugis, teringat cewek semlohai dengan dandanan menor, teringat artikel “My Family Tree” dan lagu “Eternal Sunshine”-nya Jhené Aiko, teringat tragisnya kondisi terakhir orang yang bunuh diri di Menara BCA kemarin, teringat ini dan itu. Banyak. Semuanya terjadi dalam kondisi kelopak mata yang tertutup rapat.

Kemudian ia tersadar, dan berusaha menyelaraskan konsentrasinya kembali.

Hari ini masih Rabu, masih jauh dari Sabtu, dan Minggu. Namun tenaga dan pikirannya serasa sudah diperas habis tak bersisa. Ia memilih untuk tidak lembur malam ini, namun tidak pula dilewatkan dengan nongkrong dan ngebir. Tubuhnya juga terlalu lelah untuk bisa langsung dibawa tidur. Iseng, ia malah bermeditasi, menjalani kegiatan yang baru dikenalnya beberapa bulan terakhir ini.


Seolah menjadi tren, aktivitas meditasi kian diminati. Terutama oleh kaum urban, mereka yang tinggal di kota besar dan menghabiskan hari-harinya dalam pekerjaan maupun pencitraan. Mereka yang duduk bersekat-sekat, hanya berpindah ruangan ketika rapat, dan terlampau sering penat. Ramai-ramai mereka mendaftar dan mengikuti kelas-kelas meditasi yang ditawarkan. Membayar tarif yang telah ditentukan, lengkap dengan memborong perlengkapan yang disediakan. Termasuk kostum dan alas lantai. Harganya? Biasanya sih cukup untuk beli dua lembar kemeja muscle fit dengan merk berlogo T|X.

Meditasi, yang dulu selalu diidentikkan sebagai kegiatan sehari-harinya para petapa, mistikus India dan sekitarnya, kini telah menjadi gaya hidup alternatif. Istilah meditasi pun sudah mengalami perluasan makna, tak lagi didominasi sebagai praktik religius Hindu, Jain, Sikh, Buddhisme (dengan 40 pilihan objek meditasi) termasuk Zen maupun Tantra, Tao, Shinto, Kejawen, dan sebagainya. Tak juga melulu dianggap semedi yang klenik, mistis, dan berbau supranatural.

Tujuan pelaksanannya telah jauh bervariasi. Di samping sebagai bagian dari tapa brata atau laku keagamaan, sekarang lebih banyak dijalankan sebagai kebiasaan untuk menunjang kesehatan dan kebugaran, meningkatkan performa dan elastisitas badan di ranjang, sampai memperluas pergaulan. Bentuknya juga kian beragam. Salah satu yang paling populer belakangan ini adalah yoga, karena efeknya jelas terlihat pada bodi dan pose asana untuk di-upload ke Instagram.

Pikiran itu sungguh tidak tetap dan berubah-ubah, sukar dikendalikan dan sulit dijaga. Orang bijaksana meluruskannya, seperti pembuat panah meluruskan sebatang anak panah.

Sebagai aktivitas agama ataupun bukan, meditasi relatif tepat disebut sebagai bentuk olahraga, tapi untuk pikiran. Melatihnya untuk lebih mudah tenang dan damai, jauh dari kerisauan, serta kegelisahan. Lebih-lebih bagi mereka yang mendadak muak dengan ritme kehidupan (sejauh ini sih biasanya mereka adalah orang-orang yang tidak perlu lagi pusing mikir soal penghasilan), dan berusaha mencari penjelasan kontemplatif. Pikiran yang tenang, diharapkan bisa mempercepat proses realisasi dogma-dogma keagamaan.

Memang tetap ada sejumlah agama yang mengkategorikan meditasi sebagai ibadah atau wujud bakti (devotion), seperti Tapa Brata Penyepian, Sādhanā Tantrayana, dan sebagainya. Ada pula yang menempatkannya sebagai latihan yang bisa diikuti siapa saja, tanpa harus terikat ajaran agama tertentu. Misalnya dalam retret Meditasi Vipassanā dengan beragam metode, aspek olah fisik dari yoga, serta lain-lainnya. Hanya saja banyak yang terjebak dalam pengistilahan, dan tidak sadar bahwa pada dasarnya meditasi adalah kegiatan untuk memusatkan pikiran pada objek tertentu. Itu sebabnya salat, zikir, wirid, tafakur bahkan kelompok Selawatan, serta penari Sufi yang kopiahnya tinggi dan berputar-putar saya anggap melakukan kegiatan meditatifnya masing-masing.

Sumber: google lah, dari mana lagi coba?

Lebih membumi lagi, banyak aktivitas meditatif yang bisa kita lakukan sendiri. Termasuk, duduk di pojok ruangan sambil menyesap wiski sambil mendengarkan musik atau menyatu dengan keheningan, berkonsentrasi penuh ketika berolahraga angkat beban di gym, mencermati rasa demi rasa masakan yang muncul ketika sedang makan, menyimak isi buku dengan tekun, menyapu, menulis kaligrafi, berbaring di atap rumah memandang langit malam, menonton bioskop sendirian, saat berjalan kaki atau berlari, maupun hal-hal sederhana lainnya. Kita terpisah dari sekeliling, menjadi satu dengan objek yang kita hadapi, terserap dalam pusaran bernama “saat ini” dan tidak lagi terpengaruh detik waktu. Seperti ungkapan Zen populer: “makanlah ketika kau sedang makan, tidurlah ketika kau sedang tidur.” Kurang lebih, demikianlah meditasi. Meskipun pada akhirnya, hasil final dari kegiatan-kegiatan meditatif tersebut berbeda-beda. Ada yang membuat kita lebih bijaksana pada beragam level, tapi ada pula yang sekadar membuat kita lebih tenang dan rileks sehingga bisa tidur lebih pulas. Selebihnya tergantung Anda, ingin menjalaninya sendiri atau dengan bimbingan seseorang. Namun memang lebih baik bila kita–yang masih awam–dituntun figur berpengalaman, asal tarifnya tidak kemahalan.

Selama kamu bernapas, selama itu pula kamu bisa bermeditasi,” kata seorang teman, yang aktif bermeditasi selama ini.

[]

Advertisements

Leave a Reply