Mimpi Buruk Yang Indah

Beberapa tahun ke belakang ini kita sering sekali mendengar kata crowdfunding. Apa sih crowdfunding itu? Patungankah? Ya bisa dibilang begitu. Penggalangan dana mungkin lebih tepatnya. Suatu usaha atau proyek yang digalang beramai-ramai oleh suatu kelompok atau individu tertentu untuk menghasilkan suatu produk. Yang kemudian produk tersebut bisa dijual secara masal atau dalam jumlah tertentu. Menurut Eric Markowitz:

What means to “crowdfund” in the first place, when there are no customers (just backers), no products (just projects), no business owners (just creators), and no payments (just pledges).

Ketiga aspek itu saling berkaitan. Hilang salah satu maka proyek atau sebuah ide tidak akan menjadi sebuah produk yang bisa diperjualbelikan.  Idenya bisa berupa apa saja. Produk fisik, album musik, film, atau mungkin game komputer. Apa saja selama ada yang tertarik dan memenuhi kesepakatan awal maka ide tersebut bisa menjadi sebuah produk.

Sementara itu sekelompok anak muda dari Bandung tengah mempunyai mimpi untuk membuat game horror. Namun mereka sedang berpikir keras bagaimana untuk merealisasikan gagasan mereka. Karena mereka sadar dana yang dibutuhkan tidak sedikit untuk membuat produk tersebut. Mereka bernaung di bawah payung bernama Digital Happiness–sebuah perusahaan game developer–.itu membutuhkan dana segar sekitar 25 ribu dollar. Sekitar 250 juta kalau kurs di 10.000 rupiah. Uang yang tidak sedikit. Mending laku. Kalau gak ada yang beli? Bangkar, Mang. 

Rupanya mereka tidak kehilangan akal. Mereka coba lempar ide/proyek mereka dengan mengkampanyekannya di situs crowdfunding bernama indiegogo. Hal ini punya dua efek. Cek ombak dan sekaligus proyek mereka bisa menjadi terealisasi menjadi sebuah produk. Solusi yang cermat. Kalaupun tidak ada yang berminat ya setidaknya tidak berspekulasi dengan mengeluarkan dana yang tidak sedikit.

dreadout2

Game horror survival itu bernama DreadOut. Dengan tokoh sentralnya seorang siswi SMA bernama Linda Meilinda (meni Sunda pisan ih). Yak. Memang hantu lokal itu lebih menyeramkan dari punya bule. Untuk skoring musiknya pun mereka memakai lagu yang sangat Indonesia, Lengsir Wengi, lagu pemanggi kuntilanak. Silakan klik judul lagu tersebut malam hari, sendirian, kalau berani. Untuk skoring musik mereka juga dibantu oleh alunan suara dari Sarasvati, band pop lokal dari Bandung namun sarat aroma mistik. Pas.

Gayung bersambut, ternyata terhitung dari tanggal 29 Maret hingga 18 May 2013 dana yang dibutuhkan itu sudah melampaui target. Yang terkumpul 29.067 ribu dollar. Keren ya. Kurang dari dua bulan lho. Mereka sekarang bersanding sejajar dengan Neil Young dan pemutar musik khusus file FLAC bernama Pono Player yang dikampanyekan melalui Kickstarter. Atau Rob Thomas dengan film Veronica Mars yang juga merealisasikan mimpinya melalui crowdfunding. DreadOut sekarang sudah bisa dibeli di Steam dengan pembelian (untuk sementara) online.

Our truest life is when we are in dreams awake. – Henry David Thoreau

Patungan yuk! 

3 thoughts on “Mimpi Buruk Yang Indah Leave a comment

Tinggalkan Balasan