Anak Panah INDOESTRI

“Tukang mah banyak, konseptor yang kurang!” begitu kira-kira yang diserukan oleh banyak pengamat, pecinta dan pelaku untuk para pekerja kreatif sekitar 5-8 tahun yang lalu. Berbarengan dengan dielu-elukannya konsep Ekonomi Kreatif di negara kita.  “Bikin aja disain dan konsepnya, nanti cari tukangnya mah gampang!”

Maka ramailah bermunculan label-label baru yang menjual disain. Menganut aliran anti-mainstream, label-label ini pun memberikan angin segar dan alternatif pada keseragaman produk-produk yang sudah tersedia. Mulai dari fashion, furniture, perhiasan, makanan sampai produk-produk yang tidak pernah ada sebelumnya. Warga muda Jakarta pun bersorak sorai menyambutnya. Pujian pun bertaburan.

BS

2009, Brightspot Market diluncurkan. Semacam bazaar yang menampilkan label-label baru kreasi anak muda. Diselenggarakan di mall-mall Ibukota selalu sesak dengan pengunjung yang rata-rata anak muda. Sepertinya, mereka inilah yang kemudian disebut sebagai “anak hipster”. Apa definisinya, nanti dulu lah. Sabar ya. Makin lama makin bingung juga soalnya.

Namun rupanya, yang disebut “tukang mah banyak” semakin disadari tak selamanya benar. Mencari tukang yang bisa bekerja secara profesional (baca: tepat waktu aja deh dulu) bukan perkara mudah. Disamping kesulitan lain seperti kesulitan berkomunikasi antara disainer dan tukang. Bagaimana bisa memberikan instruksi yang memadai tanpa pernah mengerjakannya sendiri? Belum lagi ditambah supplier-supplier yang dengan mudahnya memainkan harga yang mengakibatkan harga jual semakin tinggi dan tidak lagi bersaing. “Loe cariin gue tukang jahit kemeja pria yang bagus deh, baru gue mau jualan baju laki. Nyari tailor yang bagus tuh susah bukan main” kata salah seorang pemilik label di Brightspot yang saat ini mengkhusukan pada pakaian perempuan.

Apalagi, sebagai pemain pemula yang baru mampu memesan dalam kuantitas sedikit, sering dicuekin oleh para tukang yang lebih mengutamakan pemesan dalam jumlah besar.

Serbuan label-label dari luar negeri pun semakin gencar dengan harga yang lebih murah dan disain yang tak kalah menarik dan uniknya. Tanggapan para disainer pun beragam. Ada yang resah dengan persaingan yang semakin ketat dan berpikir untuk membeli produk jadi dari Thailand dan dijual ulang di Indonesia. Ada pula yang menganggap ini bukan persaingan dan dengan suka cita menjadi bagian dari konsumen label-label luar itu. Dan tentu banyak juga yang menganggap ini sebagai kewajaran persaingan bisnis yang harus dihadapi dengan optimis.

Yang tetap memegang teguh “rejeki sudah ada yang mengatur dan takutlah hanya pada Tuhan” tentu juga banyak.

Ini pulalah yang mungkin menyebabkan Brightspot Market semakin ke sini semakin menjemukan. Para kreator muda yang tergantung pada supplier kesulitan mengembangkan dan mengeksekusinya. Label-label yang ditampilkan pun itu-itu saja. Bahkan ada label yang tetap ada dari awal diadakan. Selain tentunya harga yang bisa dibilang di atas rata-rata. “Namanya juga designer’s products, beda dong! Bukan cuma beli produk tapi beli disain!” Mungkin ini satu-satunya pembenaran. Dan tak bisa dipungkiri, label-label yang bertahan atau bahkan terus berkembang adalah yang disainernya turun tangan sendiri, bikin sendiri. Tukang yang mereka pekerjakan sifatnya adalah “membantu” bukan yang “menghasilkan”.

Sayangnya harga mahal tak selalu berarti kualitas setara. Banyak produk pakaian misalnya, yang tidak nyaman dikenakan. Dicuci sekali langsung tidak proporsional. Atau perhiasan yang ketarik sedikit langsung mbrojol. Dan karena pengerjaan dikerjakan oleh tukang, disainer pun kesulitan untuk menjawab keluhan pembeli. Dan tentunya juga kesulitan mencarikan solusi.

Mundur ke sejarah transaksi jual beli dimulai, pembeli membeli langsung dari produsen. Beli sepatu dari tukang sepatu. Beli baju dari penjahit. Beli perabotan kayu dari tukang kayu. Yang banyak terjadi sekarang adalah pembeli membeli dari pembeli juga.

Sepertinya masalah-masalah inilah yang menjadi dasar pemikiran dilahirkannya INDOESTRI. “A community of learners, makers and all kinds of creative people” begitu deskripsinya. Sebuah gudang di kawasan Lingkar Luar Barat, Jakarta Barat telah disiapkan untuk siapa pun yang ingin belajar bersama menjadi tukang. Mulai jadi tukang kayu, metal, tekstil dan kulit, dan finishingnya. Mentor-mentor pun telah disiapkan. Selain alat, material, ruang kantor, ruang meeting, lounge, perpustakaan, lockers dan toko tentunya.

Untuk bekerja dan belajar di sana, bukan gratis. Peserta harian, dikenakan biaya Rp 100.000,-/hari. Atau paket Rp 450.000/bulan untuk kontrak selama setahun dan Rp 750.000,-/bulan tanpa kontrak. Anggaplah ini adalah biaya “kuliah” bersama para praktisi profesional dan harapan akan terbentuknya komunitas yang terampil berkarya. “SelfMade” adalah spirit yang diusung seperti tertera pada brosur resmi INDOESTRI.

herman

Adalah Leonard Theosabrata, salah satu Panglima Brightspot Market, bersama teman-temannya Herman Tantriady, DJ Mear, dan Eric Widjaja sebagai inisiator. “Kita ingin supaya kita gak cuma bisa jadi konsumen, tapi juga bisa jadi produsen” kata Herman Tantriady saat sedang sibuk menjajakan produk kreasinya Lima Watch di Brightspot Market di depan pelataran Panin Tower, Senayan City.

Kalau kata Tukul “kembali ke laptop”. Kelahiran INDOESTRI merupakan kesadaran untuk kembali ke kemampuan dasar. Kembali menjadi tukang. Tukang yang terampil. Sehingga tak hanya mampu mendesain, tapi juga mengeksekusikannya dengan matang. Karena sudah terbukti, kemampuan mendisain saja tidak cukup untuk menghasilkan produk yang berkualitas dengan harga bersaing.

Bersemangatlah, karena pada dasarnya negara ini adalah negara hand-made. “Dari tangan turun ke hati” kata Josephine Weratie Komara nama lengkap O’bin yang dari dulu lebih senang menyebut dirinya Tukang Kain.

Semoga kelahiran Indoestri menjadi anak panah yang ditarik mundur ke belakang untuk kemudian melejit ke depan dengan lebih cepat dan mantap.

Info: www.indoestri.com

Posted in: ringan

Leave a Reply