Karena Semua Banci Punya Fantasinya Sendiri-Sendiri

IMG-20140819-WA0001

Valeta sedang mengoles gincu. Kali ini lebih tebal dari biasanya. “Diana Ross” katanya. “Pernah ketemu?” “Belanda lah cyin….(belum lah, cyin…)” jawabnya sambil membenarkan wig panjang. Ketika Valeta bernyanyi di atas panggung gemerlap,  dengan lincah dan gemulai menari sambil menyanyi lipsync. Valeta tampak begitu menghayati perannya malam itu.

Bagi para penonton yang belum pernah menonton Diana Ross live, pun bisa membayangkan. Tak sedikit yang ikut bernyanyi bersama sambil melambaikan tangan.” And baby, everytime you touch me, I become a hero. I’ll make you safe no matter where you are. And bring you everything you ask for nothing is above me. I’m shining like a candle in the dark when you tell me that you love me…” semua larut dalam suasana. Bahkan ada yang menitikkan air mata.

Selain Valeta yang begitu menghayati perannya. Tanpa pernah bertemu apalagi menginterview Diana Ross, para penonton pun begitu mendalamo tanpa perlu pernah menonton konser Diana Ross live. Semua bahagia dan puas. Semua hidup dengan fantasinya sendiri-sendiri.

Panggilan “banci’ dan “cong” dari bencong sering kita dengar di kalangan pergaulan ibukota. Itu bukanlah ejekan, tapi simbol keakraban. Maknanya bisa beragam. Terserah saja yang memanggil dan dipanggil. Kesepakatan tak tertulis. Bisa untuk yang suka membatalkan rencana bersama last minute. Bisa untuk yang rempong alias ribet dalam segala hal. Bisa untuk yang sulit memutuskan. Bahkan bisa untuk yang sering bergonta ganti pasangan. Asik sajalah.

Valeta hampir setiap malam berfantasi. Tergantung peran yang ingin dibawakan malam itu. Demikian pula dengan kita semua. Tergantung peran yang kita bawakan  dan fantasi kita pada hari itu. Jadi diri sendiri? Apa bisa tanpa fantasi?

Konsepsi kehidupan yang sesuai dan sempurna tak mungkin ada tanpa fantasi. Fantasi yang bisa timbul dan tumbuh dengan subur dari apa yang kita lihat dan rasakan sehari-hari. Menonton Sex and The City, membawa orang berfantasi untuk tinggal di New York sambil makan bagel berangkat ke kantor dengan selendang beterbangan tertiup angin. Mendengarkan lagu Laskar Pelangi membuat banyak orang jadi semangat menjalani hidup yang penuh kekurangan dan keterbatasan. Menonton iklan makanan, bisa membuat air liur tumpah ruah. Membayangkan hari pernikahan, bahkan sudah ada diantara dua telinga anak perempuan sejak SD.

Berfantasi adalah hak segala manusia. Hak paling penting. Bahkan lebih penting dari hidup layak. Karena fantasi memiliki energi yang maha dahsyat untuk menggerakkan kita melakukan apa pun. Apalagi fantasi memiliki sifat dasar tak terbatas. Bahkan melebihi batas realitas.

Ketika melihat orang yang sedang salah kostum, sebelum mengejeknya coba tanyakan dulu apa fantasinya saat di pagi hari ketika memutuskan untuk mengenakan pakaian itu. Kalau tidak berani menanyakan langsung, kita bisa mencoba merekanya sendiri. Menghakimi dalam hati? Silakan saja. Itu juga hak kita sebagai yang melihat. Atau ketika sahabat media sosial dengan rajin selfie. Adalah sangat mengasyikkan untuk menebak apa fantasinya ketika sedang berpose.

Suatu pagi ketika sedang membuka Path, sekilas mengejutkan karena adanya iklan rokok di timeline. Wow, Path sudah bisa pasang iklan? Segerombolan yuppie sehabis pesta tampak berfoto dengan pose yang memancarkan gairah kehidupan yang mapan. Dilatar belakangi gedung tinggi di malam hari sebagai simbol pencapaian puncak. Penuh energi positif, siap menyambut masa depan yang gilang gemilang. Benar-benar hanya dibutuhkan sebuah logo rokok di pojok kanan atas, maka jadilah poster iklan rokok.

Apa fantasi mereka saat berpose seperti itu, sangat bisa diduga saat melihat iklan di TV atau halaman fashion majalah. Iklan merefleksikan kehidupan kini mulai berbalik. Kehidupan merefleksikan iklan. Demikian pula dengan film. Kita sering mendengar bagaimana orang biasa berbicara atau bertengkar seolah sedang menjadi bintang sinetron. Atau seorang berbadan indah berjalan melenggak lenggok di mall seperti layaknya model sedang berjalan di catwalk. Sebuah penelitian penting bahkan menyimpulkan bahwa aktivitas seksual seseorang banyak difantasikan dari apa yang ditonton dan dibacanya.

Pernahkah menyaksikan bagaimana para pria berotot sedang berkaca di locker gym? Bisa membuat istri atau pacar mereka ilfil. Atau mengira mereka gay. Pertanyaan paling mendasarnya tentu, dari mana referensi mereka saat sedang berpose menuntaskan fantasinya? Sekilas bisa ditebak dari sampul majalah fitness pria, atau bokep. Hasil pemikiran sendiri? Tiba-tiba muncul tanpa referensi apa pun? Mana mungkin?!

Seorang temansedang setengah mati berlatih yoga. Fantasinya satu: supaya bisa headstand di mana pun dia berada. Untuk kemudian diposting di beragam media sosial pribadinya. Sepasang kenalan setelah menikah memutuskan untuk tinggal di Ubud. Fantasinya diawali dari film-film romantis yang sering ditonton oleh sang istri. Berangkat ke kantor berjalan kaki atau menaiki sepeda. Melihat pemandangan hamparan sawah setiap hari. Kehidupan yang santai jauh dari hiruk pikuk kota besar macam Jakarta.

Silakan teruskan contoh-contoh bagaimana fantasi mempengaruhi hampir setiap gerakan dan keputusan sehari-hari. Nikmatilah sebelum berfantasi dilarang. Kalau Lupita Nyong’O bilang “every dreams are valid” maka every fantasies are also valid. Asal saja saudara kembar valid yang bernama validasi tak dilupakan. Karena Valeta hanya berfantasi di atas panggung saat malam, tidak sepanjang hari apalagi selama hidup, Cong!

Posted in: ringan

Leave a Reply