“Overdosis, Lalu Terbang Sampai ke Bulan”

KEPO, atau rasa ingin tahu yang berlebihan, mungkin memang sifat alami hampir semua perempuan. Apalagi kalau menyangkut perangai sang suami, terutama dengan sesuatu yang terkesan disembunyikan.


Siang itu, cuaca relatif sejuk. Semua orang bisa kembali merasakan nikmatnya embusan angin yang melewati pundak berpeluh mereka. Kemarin-kemarin, dunia terasa neraka. Mendadak matahari berkumpul dengan sesamanya; ada sembilan matahari lainnya. Lengkap sepuluh jumlahnya di angkasa.

Mereka adalah para putra raja khayangan timur, yang mungkin sedang sama seperti kita dalam cubicle masing-masing; suntuk, menjalani hari dengan tugas yang begitu-begitu saja, lalu bosan dengan rutinitas kerja. Maunya menggila, eh, malah kebablasan.

Tak banyak cingcong, Houyi (後羿) memanah sembilan matahari lain, yang ternyata berupa burung berkaki tiga. Menyisakan sebiji untuk pengaturan musim, pembagian siang-malam, sunbathing, dan keperluan pertanian. Ia pun jadi pahlawan. Dielu-elukan.

Sembilan putranya dibuat mati, ayah mana yang tak sakit hati. Houyi dan istri, Heng’e (娥) diusir dari langit menjadi manusia biasa di bumi. Ibarat konglomerat keblangsak jadi melarat, sang istri terus meratap. Ogah makan, enggan minum, mustahil ketawa, apalagi diajak bersenggama.

Pusing tujuh keliling, Houyi berusaha mencari cara mengembalikan gaya hidup mereka. Barulah ia teringat, di ujung barat sana, bersemayam seorang wanita tua yang sakti mandraguna. Berbekal semangat, ia pun berangkat. Kali-kali aja perjalanannya berbuah manfaat. Hitung-hitung pelarian, sekalian.

Di Pegunungan Kunlun purba, akhirnya ia bertemu dengan si empunya solusi. Ibunda Ratu dari Barat (西王母娘娘). Houyi curhat kepadanya. Menceritakan segala keluh kesah, terutama soal istrinya yang drama. Hingga akhirnya, Ibunda Ratu dari Barat pun iba, dan memberikannya sesuatu. Berbentuk pil, beserta sebuah peringatan. “Anakku, ingatlah bagimu. Pil ini dimakan, tapi jangan bulat-bulat ditelan. Separuhnya saja. Emangnya mau hacep?” Dengan sebuah kotak kayu biasa berwarna cokelat tua, tanpa ukiran, tanpa hiasan, Houyi membawa pil itu pulang.

Sesampainya di rumah, kembali ia temui istrinya yang masih senguk sengak. Melihat sang suami akhirnya kembali, apalagi sambil membawa sesuatu, tangisnya terhenti sejenak. “Apaan itu, beb?” tanya Heng’e singkat. Houyi tidak menjawab, masih letih sepertinya. Sang istri pun kembali mendesak, hingga akhirnya Houyi merespons singkat, “Udah, ntar aja. Kita pake sama-sama.” Lalu ia sembunyikan kotak tersebut di kusen tempat tidur.

Keesokan petang, kebetulan Houyi keluar rumah cari makan. Lagipula, sudah lama juga ia tidak pergi ke Kopi Tiam, melumat roti bakar srikaya renyah dan wangi pandan khas orang suku Hainam. Kemudian ditutup dengan meneguk dua butir telur ayam kampung setengah matang, dicampur sepercik kecap asin dan sejumput merica. Favoritnya.

Aha! Kebetulan!” celetuk Heng’e yang masih penasaran. Mencoba memanfaatkan kesempatan, Heng’e pun berusaha mencari. Ia ubek sana, bongkar sini. Sampai akhirnya berhasil menemukan kotak yang disimpan suaminya di kusen tempat tidur.

*deg-deg… deg-deg… deg-deg…* Ia ambil kotak tersebut, mencoba menginderanya. Tak ada yang istimewa dari tampilan kotak itu, tapi mengapa Houyi menyembunyikannya? Apa isinya? Heng’e makin dibuat belingsatan oleh pikirannya sendiri. Detak jantungnya makin tak keruan saat berusaha membukanya. Ia pun merasakan sensasi menahan nafas untuk pertama kalinya.

Di dalam kotak. Ia hanya menemukan sebuah bola kecil seukuran kelereng. Warnanya kuning agak keemasan. Diendusnya bola tersebut, ternyata baunya seperti toko obat tradisional Cina. “Apaan sih?” tanyanya berulang kali.

Adegan itu mendadak terganggu dengan bunyi decit pintu. “Waduh! Bebeb sudah pulang!” Panik, Heng’e kebingungan. Ia pun menelan bola tersebut bulat-bulat, dan *BLETAK!* ia lemparkan kotaknya jauh-jauh.

Houyi dan Heng’e akhirnya berada di ruangan yang sama. Dalam waktu singkat, wajah pucat Heng’e berubah. Ia malah tersenyum tiga jari. “Kamu kenapa?” tanya Houyi mulai curiga. Tidak hanya senyum, kemudian Heng’e terlihat seperti tidur ayam, agak kehilangan kesadaran. Kecurigaan Houyi terbukti, setelah ia tak lagi menemukan kotak kayu di tempat asalnya. Ya! Istrinya overdosis! Sayangnya Houyi tidak tahu apa yang akan terjadi pada Heng’e.

Keanehan mulai terjadi. Kaki Heng’e terangkat, selendangnya berkibar. Tanpa bisa dikendalikan, ia mulai melayang. Entah menembus atap atau lewat celah jendela, tahu-tahu Heng’e sudah berada di luar rumah. Terbangnya makin tinggi. Houyi berusaha menahannya dengan memanah beban, namun kecepatannya tak terkejar.

Tubuh Heng’e pun terus melayang, dan perlahan efeknya berkurang. Hingga pada akhirnya, Heng’e mulai mampu menguasai fisiknya sendiri, tepatnya ketika ia mendarat di…bulan!

Pil itu memang berhasil membuatnya abadi, tapi jauh dari pujaan hati. Heng’e mendiami bulan, meninggalkan suaminya di kejauhan.

Sekian.


Entah apa hubungannya, konon mitos ini menjadi salah satu latar belakang kebiasaan orang Tionghoa makan kue bulan alias Mooncake (月餅). Bahkan ada beberapa versi cerita lainnya. Tetap dengan tokoh yang sama, Houyi dan Heng’e–yang kemudian berubah nama lantaran urusan politis menjadi Chang’e (嫦娥)–serta ending cerita senada.

Happy Mid-Autumn Festival!

Tradisi makan kue bulan selalu dilangsungkan tepat saat purnama pertama musim gugur, atau jatuh setiap tanggal 15 bulan 8 penanggalan Imlek. Lebih klop, kue bulan dimakan di luar ruangan, tepat di bawah siraman cahaya rembulan. Tahun ini, berlangsung Senin (8 September) kemarin, ketika Gandrasta mem-posting tulisan tentang biji kesayangan yang hilang.

Momen itu dikenal dengan Pertengahan Musim Gugur atau Mid-Autumn Festival (中秋節). Bisa jadi, kisah Houyi-Heng’e tadi berlangsung di tanggal yang sama. Meskipun lagi-lagi belum menjawab apa kaitannya dengan kue bulan, yang sebenarnya merupakan variasi dari Kue Pia biasa (sebutan Pia yang sama seperti dalam Bakpia Jogja, Lumpia Semarang, Popia Medan, Sumpia, dan sejenisnya).

Apabila Kue Pia biasa kebanyakan hanya diisi pasta hitam kacang hijau atau Tausa (), kue bulan memiliki bentuk yang lebih besar dan tebal. Kulitnya tidak renyah, karena dihiasi dengan gambar Heng’e maupun syair keberuntungan empat kata bahasa Tionghoa. Bisa diisi dengan bermacam adonan pasta manis, namun ada kuning telur asin di bagian intinya. Itu kue bulan yang populer di Indonesia.

Lebih dari itu, Heng’e pun dipuja menjadi Dewi Bulan. Perlambang keabadian maupun romansa percintaan (dewi khusus bagi para jomblo), ia menjadi salah satu dewi populer dalam kepercayaan paganisme tradisional Tiongkok, Taoisme, lalu Khonghucu. Sampai akhirnya tersinkretis dalam Buddhisme mazhab Mahayana. Hari Pertengahan Musim Gugur pun kemudian menjadi salah satu hari besar dalam budaya Tionghoa, yang sampai saat ini terus dirayakan begitu saja. Baik sebagai aktivitas religius, maupun peninggalan budaya.

Terlepas dari kisah Houyi dan Heng’e, Festival Pertengahan Musim Gugur bisa jadi merupakan warisan budaya dinamisme manusia purba. Kala manusia masih menyembah matahari, bulan, dan benda-benda angkasa lainnya (bandingkan Heng’e sebagai Dewi Bulan dengan Candrama, Dewa Bulan dalam tradisi Hindu India, yang ditampilkan sebagai pemuda sterek dalam serial Mahadewa). Selain itu, sebagai masyarakat agraris, purnama pertama di musim gugur menandakan berhentinya musim tanam dan bersiap menjelang musim dingin. Itu sebabnya, Festival Pertengahan Musim Gugur juga bisa disebut sebagai “Thanksgiving-nya Tionghoa”. Saat ketika mereka mengucap syukur atas hasil panen, dan seluruh anggota keluarga kembali berkumpul sebelum salju turun. Tak ketinggalan, kue bulan pun dipersembahkan di altar mendiang leluhur, dalam sebuah persembahyangan.

Curiganya, tradisi perayaan Pertengahan Musim Gugur dan menyantap kue bulan sudah ada jauh lebih lama sebelum kisah tentang Houyi dan Heng’e mulai disampaikan dan terus berkembang. Kebayangnya, seorang kakek kebingungan ketika ditanya para cucu perihal kue bulan. Akhirnya cerita tadi tercipta, dengan kalimat awal yang khas “dahulu kala…”

Namanya juga mitologi, seringkali hadir belakangan. Masalahnya, seperti hampir yang terjadi dalam semua kebudayaan dunia, mitologi kerap diterima mentah-mentah sebagai kisah suci. Bahkan tokoh-tokoh di dalamnya pun dianggap sebagai dewa dan dipuja. Akan tetapi, sebagai sebuah tradisi budaya, kebiasaan ini jelas harus dipertahankan, lengkap dengan semua makna dan pemahaman yang ada di baliknya. Toh, rasanya enak juga.

Sumber: cnbc.com

Hal-hal menarik lain ada pada inti kuning telur asin dalam kue bulan, dan cara memotongnya dalam penyajian. Ternyata, ada hubungannya dengan perjuangan untuk kemerdekaan.

Pada era tahun 1300-an, utara Tiongkok masih dikuasai bangsa Tatar berupa Dinasti Yuan. Kemenangan bangsa Han menggunakan strategi gerilya rancangan Zhu Yanzhang (朱元璋) dengan strategi gerilya. Awalnya, kue bulan disajikan tanpa inti. Tapi bagian tengah kue bulan disisipkan kertas pesan rahasia untuk komando penyerangan. Bukan sebuah kebetulan, penyerangan besar-besaran dilangsungkan pada tanggal 15 bulan 8.

Selain itu, kue bulan biasanya dipasarkan sebanyak empat buah dalam satu paket. Dulunya, setiap permukaan kue bulan dicetak dengan frase khusus terdiri dari empat kata dengan susunan seperti koin kuno Tiongkok. Untuk membaca pesan rahasia, setiap kue bulan harus dipotong menjadi empat bagian. Lalu setiap potongan disusun sedemikian rupa agar pesan bisa terbaca. Setelah dipahami, kue bulan pun dimakan untuk menghilangkan bukti. Cerdik!


Saat ini, semuanya tampak menjadi bagian dari seremoni. Festival Pertengahan Musim Gugur dijalani sebagai ritual. Kue bulan dimakan sebagai bagian dari kebiasaan atau memang doyan. Sayangnya kerap tanpa saling memberikan doa dan harapan: “Semoga Anda sukses dan sehat” sebelum memakannya.

Semoga Anda sukses dan sehat!

[]

Posted in: ringan

Leave a Reply