Oh Begini Rasanya…

5 tahun belakangan ini, punya bisnis makanan sudah menjadi simbol status baru. “It’s like having an Hermes, you know” kata seorang sosialita ibukota yang wajahnya sering nongol di halaman majalah. Ada yang menyebut dirinya sendiri “restaurateur”, “foodpreneur”, atau seluas “entrepreneur”. Buat penikmat makanan, tentunya ini adalah kabar gembira. Bisa mencicipi makanan yang belum pernah dijual dan lebih mudah didapatkan. Sebut saja Bagel, Taco, Artisant Ice Cream, Fusion Padang Sushi dan banyak lagi termasuk makanan Nusantara yang tadinya hanya bisa didapatkan kalau pulang kampung. Tak ketinggalan pula kebangkitan nasional makanan yang sebenarnya sudah pernah ada. Sebut saja Cireng, Burger, Steak. Belum lagi kehadiran makanan sehat seperti almond milk, smoothies, flourless cake, organic fried rice dan jutaan lainnya.

Kalau bicara soal rasa buat lidah perawan yang belum pernah mencicipi, batasannya tentu tidak bisa enak atau tidak enak. Apa pembandingnya? Ketika lidah berkenalan dengan rasa baru, urusannya lebih ke cocok atau tidak cocok. Suka atau tidak suka. Kalau tidak suka tentu tidak masalah. Kalau suka baru masalah. Loh kok? Ya karena invasi makanan-makanan baru ini umurnya sering lebih pendek dari umur percintaan tanpa rasa. Bayangkan kalau lidah keburu kepincut, eh sudah tutup. Sebel kan? Pilihan satu-satunya coba bikin sendiri.

Alasannya restoran, warung, cafe baru datang dan pergi beragam. Mulai dari tidak menguntungkan, salah pengelolaan, sampai sesederhana pemiliknya bosan. Ada pula tempat-tempat makan yang bertahan lama walau sepi pengunjung. Biasanya gosip yang berkembang “tempat cuci uang” atau “buat panggung yang punya aja kok…”. Tak sedikit juga yang baru melek susahnya jualan makanan. Mulai dari kesulitan bangun pagi untuk masak, kekurangan modal, bahan yang tersedia tidak memadai, salah pilih tempat sampai ditipu business partner atau chef dibajak pengusaha lain. Oh begini rasanya…

Tangan adalah syarat mutlak untuk memasak. Ada tangan yang memasak ada pula tangan yang tinggal tunjuk suruh orang lain yang masak. Tahun 2000, sepasang tangan asli Madiun ini memasak di Surabaya. Masakannya sederhana. Sambal Udang. Mulai dari jam 3 subuh, sepasang tangan ini berurusan dengan cabai. Semua yang pernah atau suka masak pasti tau berurusan dengan cabai bukan perkara gampang. Mengucek mata setelah memegang cabai bisa jadi malapetaka. Sambal kreasinya kemudian dimasukkan ke dalam botol-botol plastik kecil, untuk dijual. Mulai tahun 2011, Sambal Udang ini dijual online seharga Rp 12.000,- per botol. Dan saat ini, tak kurang dari 2000 botol per hari terjual ludes. Hitung saja sendiri omzetnya. Ngiler duitnya atau sambalnya?

2013-12-14 16.55.33

Pemilik sepasang tangan itu adalah IE Lany Siswadi, lebih dikenal dengan Ibu Rudy. “Nih liat, jari-jariku penyok-penyok… Mana ada boss kok jarinya jelek begini?” Kata Ibu Rudy di suatu siang sambil menawarkan Pepes Kepiting Kecil yang biasa disebut Yuyu. Tidak seperti restaurateur yang sering tampil di majalah, tampilan Ibu Rudy bisa dibilang acak-acakan. “Lah ya aku bangun jam 3 pagi setiap hari. Dandan yo males…”. Tentu lumayan berbeda dengan tampilan para restaurateur yang sering tampil di media.

Banyak orang yang mengagumi dedikasinya. Dan banyak juga yang menganggap ini adalah sebuah kebodohan. “Orang jaman dulu itu gak percayaan sama orang buat mengelola bisnisnya, makanya bisnisnya segitu-segitu aja. Coba kalau dia berani mendistribusikan tugasnya, bisa jadi lebih kaya dia”. Tentunya ini pilihan. Karena bukan tidak mungkin Ibu Rudy sudah puas dan menemukan kebahagiaan hidup dengan yang dilakukan dan penghasilan yang diterimanya. Sebagian pemilik bisnis makanan menemukan kebahagiaan saat memasak. Kehidupannya adalah di dapur. Aroma bumbu sudah masuk ke dalam pembuluh darahnya sehingga kalau sehari saja tidak kena bisa sakaw.

Ada banyak pengusaha bisnis makanan yang jari-jarinya seperti lebih menikmati hidupnya dengan meracik bumbu daripada menghitung duit. Mereka terus mengembangkan resep makanan dagangannya, memperbaiki, dan menambah daftar menu baru. Mempertahankan resep, bahan dan cara memasak tradisional pun dijabani demi menghasilkan rasa dan kualitas yang prima.

2013-05-18 13.58.50

Sebut saja Mama Mimi di Makassar, ketekunannya telah menjadikan restorannya sebagai salah satu destinasi wisata kuliner se Asia Tenggara pilihan William Wongso. Di usianya yang tak lagi muda, Mama Mimi masih terjun ke dapur. Membuat kue bolu yang mengembang dengan cantik tanpa menggunakan bahan kimia adalah ambisinya saat itu.

2013-11-24 11.52.09

Atau Koh Rudy, satu-satunya pedagang Pempek Belida di Palembang sejak 30 tahun lalu. Demi tetap menggunakan Ikan Belida yang sudah punah di Palembangnya sendiri, Koh Rudy harus mendatangkannya dari Banjarmasin. “Mereka menangkap Ikan Belida dengan menggunakan listrik, habislah semuanya mati!”

2013-12-09 01.18.44

Tak perlu jauh-jauh pula berbicara soal dedikasi pada makanan. Mampirlah ke tikungan kawasan Cikini. Temukan Pak Deyan pemilik Sop Janda (yang ternyata singkatan Jawa Sunda). Pak Deyan tadinya karyawan hotel di seberang warungnya yang sekarang. Walau sudah memiliki karyawan, Pak Deyan tetap penentu standar rasa kuah Sop Janda.

Serahkan keperawanan lidah kita pada mereka. Apalagi kalau lidah termasuk golongan yang rapuh kalau dikhianati.

 

Posted in: ringan

3 thoughts on “Oh Begini Rasanya… Leave a comment

Leave a Reply