Mau Nonton Apa?

Sebut saja dia mbak XY.

Usianya mungkin sekitar 22 tahun. Tidak mungkin lebih tua, karena dia masih berlari lincah setelah turun dari busway. Seperti pekerja metropolian seusianya, dia sering kesal melihat macet. Kekesalan itu tak berlangsung lama. Paling tidak sudah mereda saat masuk parkiran mall sebelum jam buka. Dia berjalan melenggang ke lift yang membawanya ke lantai paling atas di mall ini. Sambil memainkan hape dengan cekikikan tanpa melihat sekeliling, dia keluar lift menuju ruangan yang luas. Dengan penuh keyakinan , dia masuk ke sebuah pintu dengan tulisan “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk“.

Jelas-jelas dia punya kepentingan. Sangat penting malah. Saking pentingnya, dia pun perlu mentransformasi dirinya sedemikian rupa. Dalam beberapa jam, pintu pun dibuka, dan … oh la la!

Mbak XY kini tampil anggun dengan cepolan sanggul yang terikat rapi di atas kepala. Lipstik merah di bibir serasi dengan riasan muka yang menambah usianya. Mbak XY tidak lagi jalan sambil cekikikan. Langkahnya santai. Dia tahu arah yang dituju. Sesekali dia menyapa rekan-rekan kerjanya, baik yang berbaju biru gelap maupun berseragam putih. Dia menuju meja panjang di sebuah sudut. Setelah duduk, dia menyalakan komputer, printer, lalu mengangkat tulisan “Closed”. Sambil tersenyum, dia berkata:

Selamat datang. Mau nonton apa?

Ya, mbak XY dan teman-teman seprofesinya yang tersebar di seluruh penjuru bioskop di seluruh dunia ini adalah orang pertama yang menentukan nasib kita dalam 2-3 jam ke depan. Apalagi kalau anda termasuk orang yang belum tahu mau nonton apa, dan baru memutuskan mau nonton apapun yang ada di bioskop saat itu. Misalnya:

Selamat datang. Mau …

“Uuuhh … Guardians of the Galaxy itu film apa ya, mbak? Kok kayak kartun tapi ada orangnya gitu? Kalo Grace of Monaco itu apa ya, mbak?”

Ini jawaban dari mbak XY: “Guardians itu film action komedi, banyak visual effect. Kalo Grace film drama.

Jawaban yang cukup netral, dan tidak menyesatkan. Atau mungkin anda sudah tahu apa yang mau anda tonton, tapi teman atau pasangan anda ragu-ragu.

The Great Gatsby yuk. Leonardo DiCaprio tuh.”

“Aaahh film apaan? Sejarah minyak rambut? Ogah. Kaya jadul gitu. Mending Fast & Furious.”

“Yaelah, bukannya kemaren udah nonton?”

“Ya gak papa. Filmnya lebih jelas lah, kebut-kebutan. Daripada judulnya gak familiar?”

Dan ujung-ujungnya, “Mbak, kalo Fast & Furious yang jam 7 malem, masih ada? Kalo gak ada, yang jam 9 deh. Kalo gak ada juga, The Great Gatsby aja, tapi jangan yang kemaleman. Dan kalo bisa duduknya di pojok, tapi jangan terlalu ke belakang.”

Ini yang dilakukan mbak XY:

  • tetep senyum
  • klik jam tayang film di depan customer
  • bilang, “Yang merah terisi, yang hijau masih kosong”, dengan nada suara otomatis
  • mungkin dia menjerit dalam hati “Yang ngantri masih panjang, cepetan milihnya, hadeeuh!”

Atau mungkin dia tidak berkomentar apa-apa selain, “Tiketnya harap dicek kembali, ya. Terima kasih, dan selamat menonton.”

Maklum, kalau dalam sehari ada 5 kali jam pertunjukan di masing-masing studio, katakanlah ada 4 studio di satu bioskop yang kapasitas kursi di tiap studio sekitar 150 kursi, berarti mbak XY dan teman-temannya harus berhadapan dengan sekitar 1.000 orang. Itu kalau tiap orang rata-rata beli 3 tiket.

Kalau 2 tiket? Ya makin banyak orang. Dan itu berlangsung setiap hari. Mungkin sebelum sempat kesal, udah keburu ada orang lain yang ngantri di belakang. Terlebih lagi, meja kerja mbak XY ini tidak boleh tidak beroperasi. Kalau mbak XY kebelet ke kamar kecil, ya ada loket lain yang harus buka. Kalau break makan, ada rekan lain yang akan menggantikannya.

Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg
Foto diambil dari http://pontianak.tribunnews.com/foto/bank/images/Bioskop.jpg

Lalu kapan mbak XY nonton? “Ya kalo lagi off, mas. Sama aja, pake tiket, ngantri dari depan. Cuma ya kita udah tau lah mau nonton apa, hahaha.” Kerja tiap hari di bioskop, gak bosen emangnya nonton di bioskop? “Ya ke bioskop lain, mas. Tapi kadang nonton juga di sini. Kan enak ya, udah kenal sama temen-temen sendiri. Kalo bosen, ya nggak juga sih, mas. Kan filmnya ganti terus tiap minggu. Filmnya beda-beda gitu, ya gak pernah bosen lah.”

Somehow, her answer restores my faith in cinema, again. Jawaban yang terdengar dewasa dari usianya, mungkin karena tuntutan profesi juga, membuat saya makin percaya bahwa mbak XY dan rekan-rekannya adalah garda depan pengalaman menonton kita. Dari ujung jarinya, dia bisa membantu kita menentukan pilihan yang berujung kalau gak jadi seneng ya jadi bete. Dari tutur katanya, kita bisa tahu mana film yang rame, mana film yang sepi penonton. Dari pengalaman berinteraksi dengan ratusan sampai ribuan orang sehari, dia sudah bisa membaca karakter orang hanya dengan penglihatan sepintas saat mereka antri. Sesuatu yang mungkin layak untuk dianalisa mendalam, tapi tidak di ranah yang ringan ini.

Kalaupun ada yang mengancam kehadiran mbak XY, mungkin bisa jadi kehadiran online ticketing. Orang-orang seperti saya dan anda yang sudah tahu mau nonton apa, di mana dan jam berapa, pasti senang sekali dengan fitur human-less interaction ini. Apalagi ini hari Kamis, banyak film baru yang mulai keluar di bioskop hari ini. Pasti pengen buru-buru check jadwal bioskop deh selesai baca tulisan ini. Tapi beda lho rasanya disapa langsung dengan:

“Selamat datang. Mau nonton apa?”

2 thoughts on “Mau Nonton Apa? Leave a comment

  1. Teringat saat mau menonton film ‘Maaf Saya Menghamili Istri Anda’. Disapa staff tiket, “selamat datang. Mau menonton apa?”

    Baru menjawab, “maaf…”

    Dijawab dengan senyum, “saya maafkan. Maaf Saya Menghamili Istri Anda, berapa orang?”

    Kecil, tapi sangat menyentuh. Sisi humor seperti itu jarang terlihat lagi 🙂

Leave a Reply