Berlari Sendiri Mengusir Sunyi

Sore itu, Randy sedang pemanasan bersiap untuk berlari di GBK. Mengenakan kaos oblong, celana pendek dan sepatu olahraga Randy tak peduli dengan sekitarnya. Randy pun berlari diantara ratusan warga Jakarta yang melewati sore itu dengan berbagai aktivitas. Diantara para pedagang gorengan, bakso, soto sampai pedagang balon tumpah ruwah. Berlari merupakan olahraga “rakyat”. Hanya lampu petromax pedagang jalanan yang menyoroti. Apalagi sejak tragedi 98, GBK nyaris gulita. Tapi itu dulu.

Dulu sebelum berlari menjadi bagian dari gaya hidup warga Jakarta dari berbagai kalangan. Mulai dari para hipster sampai CEO perusahaan terkenal bahkan konglomerat pun beberapa tahun belakangan ini ikut berlari. Kaos oblong Randy pun mendadak tak lagi memadai. Harus diganti dengan kaos khusus berlari yang bisa menyerap keringat lebih banyak dan ergonomis. Sepatu basket Randy yang tadinya cukup memuaskannya pun harus diganti. Yang sesuai dengan bentuk kaki dan gerakan saat menapak.

Selain penampilan, berlari yang tadinya adalah olahraga individual kini menjadi simbol pemersatu. Terbentuklah beragam club berlari dari beragam latar belakang. Tak kurang dari 50 runners club ada di Jakarta. Sebut saja Jakarta runners Club, Berlari untuk Berbagi, ONP, Cani Runners, Bintaro Runners, bahkan Chubby Runners. Dari yang terbuka untuk semua pelari, sampai yang menentukan prestasi pelari terlebih dahulu sebelum jadi anggota. Kegiatan mereka beragam. Mulai dari rutin berlari di track baru sampai bersama mengikuti race-race yang ada. Bisa dengan mudah terlihat dari disain kaos berlari mereka yang berbeda sendiri.

Lampu sorot kini mengikuti ke mana pun pelari berlari. Semua terpacu untuk berlari lebih cepat dan lebih jauh. Lebih jauh bahkan sampai ke luar negeri. Tercatat New York Marathon, Berlin Marathon, Tokyo Marathon sudah banyak diikuti oleh pelari dari Indonesia. Semua tentu dari sponsor pribadi. Di dalam negeri pun tak kalah hebohnya. Jakarta Marathon, Bromo Marathon, Bali Maraton sampai Rinjani Ultra Marathon. Kalau ingin ikut berlari tapi malas berkeringat banyak dan lebih menganggapnya sebagai kegiatan sosialisasi, tak perlu khawatir. Belakangan mulai banyak “fun run” diselenggarakan. Sebut saja Color Run, Electro Run, dan yang belakangan terdengar adalah The Music Run. Seperti apa lari berekreasi ini, bisa dicari dengan mudah infonya di internet. Keseruan lewat gambar-gambar yang ada bisa jadi membuat semua ingin ikutan.

Kalau lampu sorot dinilai kurang sering, tenang, masih ada beragam media sosial yang bisa membagi pace dan jarak berlari secara otomatis ke semua pengikut. Decakan kagum dan pujian digital pun menjadi bentuk lampu sorot yang bisa didapatkan sehari-hari. Pelaku media sosial pasti banyak yang mengalami kebanjiran postingan rekam jejak lari dari aplikasi macam Nike+, Endomondo, Samsung S Health dan lainnya. Jarak lari, waktu tempuh, pace, sampai foto saat berlari pun bisa dibagi ke semua.Tak berhenti di situ, race digital pun ada. Setiap pelari saling bersaing untuk jarak tempuh yang lebih jauh atau pace lebih cepat dari pelari lainnya yang mungkin tidak dikenalnya dari belahan dunia lain.

Berlari tak lagi sendiri. Tak lagi sunyi. Meriah. Benarkah?

Sejatinya, berlari adalah tetap olahraga individual. Ketika berlari, hanya kaki dan tangan sendiri yang bergerak. Mulut paling terbuka untuk bernapas. Mata melihat ke kanan dan ke kiri dan tak jarang yang menunduk. Walau lari berkelompok, tapi lari tetap sendiri-sendiri. Setiap pelari berhak memikirkan apa pun saat berlari. Masalah pribadi, rumah tangga, pekerjaan dan pemecahannya tak jarang terjadi saat berlari. Bagaimana tidak? Melakukan gerakan yang sama terus menerus dalam waktu yang cukup lama, adalah salah satu bentuk terapi yang menenangkan. Apalagi kalau tanpa bersuara. Ingatkah saat bayi, untuk menidurkan banyak yang ditepuk-tepuk pantatnya cukup lama sampai pulas. Atau mendengarkan suara gemericik air hujan dalam waktu lama. Atau corat coret dengan motif repetitif saat meeting. Atau sekedar berjalan menyusuri tepi pantai yang jauh sambil berdiam diri? Situs http://www.betterhealth.vic.gov.au menyarankan berlari sebagai salah satu terapi untuk OCD, Obsessive Compulsive Disorder.

Terapi yang diberikan saat berlari bisa jadi memang yang amat dibutuhkan oleh warga Jakarta (yang nulis orang Jakarta jadi taunya cuma Jakarta). Tekanan hidup yang katanya semakin meningkat tak lagi bisa diringankan dengan pijatan di Spa. Clubbing pun di satu titik dirasa mulai menjemukandan mainstream. Terbukti tak lagi banyak tempat clubbing yang hits di Ibukota dibanding tahun 90-an sampai awal 2000. Stadium? Kan udah ditutup sama Ahok.

Tapi ada satu terapi lagi yang masih tersisa: berbelanja. Dipadukan dengan berlari, cocok! Karena kini tersedia beragam perlengkapan berlari yang canggih dengan harga yang tak bisa dibilang murah. Kalau gak percaya, silakan mampir ke Car Free Day hari Minggu ini. Jangan kaget kalau di pagi hari menemukan pelari menggunakan flashlight melekat di kepalanya. Ini kisah nyata. Bukan mengada-ada. Perlengkapan berlari ini pun dapat dibeli dengan mudah. Bisa beli online bahkan sampai ke toko online luar negeri. Dengar-dengar, penjualan sepatu Nike di Indonesia adalah tertinggi di dunia. Dan Nike tipe Fly Knit yang dijual mendekati dua juta, selalu ludes saat dilansir. “Ah ini kan belanja buat hobby dan menguntungkan buat kesehatan. Investasi dong!” Ya ya ya…

Alasan orang berlari memang bisa macam-macam. Menurunkan berat badan, kesehatan, sosialisasi, rekreasi, prestasi tapi bukan tidak mungkin juga sebagai sarana peredam tekanan hidup. Hormon Adrenalin yang terpacu saat berlari dan rasa bahagia saat usai memang bisa bikin kecanduan. Apalagi kalau berlari bersama, maka kebahagiaan pun ikut bertambah. Diakhiri dengan pijat urut sesudah berlari, rasanya pasti surga dunia.

Padahal, kalau kesehatan menjadi alasan berlari, maka cukup 5 menit setiap harinya. Kalau untuk mengurangi berat badan, tak bisa hanya berlari. Harus diimbangi dengan diet yang baik. Kalau untuk memenangkan race, sampai saat ini masih didominasi oleh orang Kenya. I wish you luck! Ambisi pribadi, mungkin ini yang bisa membuat orang kecanduan berlari berlama-lama.

Menjadikan berlari sebagai bagian dari gaya hidup adalah baik. Tapi akan lebih baik lagi kalau menemukan alasannya. Tak perlu dijawab sekarang. Sambil berlari berikutnya, saat mulut terdiam, coba cari tau alasannya. Bahkan tak perlu membagi alasan berlari di media sosial. Atau bisa ditulis sebagai catatan di aplikasi berlari. Bisa jadi berlari adalah bentuk pelarian. Tapi bukan jawaban. Apalagi memecahkan masalah.

Iklan

3 thoughts on “Berlari Sendiri Mengusir Sunyi

  1. Ping-balik: Pertama – gitu.in

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s