Delapan Belas Film Yang Memukau di Tahun 2018

Memilih 18 film dari (sedikit lagi) hampir 1.000 jam durasi film yang saya tonton di tahun 2018 ternyata bukan perkara yang mudah dilakukan. Terlebih lagi, kita selalu berpatokan pada hal yang absolut, bahwa satu film berbeda dengan yang lain, yang nyaris mustahil untuk dibandingkan secara kuantitatif.

Akhirnya daftar ini saya buat dengan prinsip yang sangat mendasar, yaitu pada saat menonton film-film ini, I have a memorable time. Bukan sekedar had a good time, tapi film itu masih membekas di ingatan dan hati saya usai film itu berakhir, dan saya sudah beranjak pergi dari bioskop, atau mematikan layar televisi, layar komputer atau sekedar berpaling dari layar ponsel.

Pilihan jenis layar tontonan tersebut saya pilih karena tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan saya untuk hampir selalu menonton film. Saat makan siang sendirian di food court, saat sedang berlari di atas treadmill, atau bahkan saat menunggu pintu bioskop masuk, selalu ada tontonan dalam genggaman.

Lagi pula, as much as I believe the following statement to be a bit passé, ternyata 2018 adalah a good year in cinema. Variasi cerita yang kaya mendorong film-film yang dirilis sepanjang 2018 beragam. Bahkan penonton pun tak segan untuk berpaling dari film-film yang mengandalkan gimmick semata (kecuali ada pemborong tiket).

Tentu saja, tak semua eksperimen berhasil. At least tidak berhasil membuat saya mengagumi film yang telah ditonton. Dari sekian banyak film dengan high concept of ideas, ada 5 Film Yang Mengecewakan di Tahun 2018, yaitu:

Suspiria
Thugs of Hindostan
Peterloo
Vox Lux
The Little Stranger

Obat untuk mengatasi kekecewaan setelah menonton film yang gagal membuat kita senang? Tentu saja dengan menonton film lain! Itulah yang selalu saya lakukan dari dulu, termasuk di tahun 2018, sampai akhirnya saya menemukan 18 Film Favorit di Tahun 2018. Ini dia:

[eighteen] The Death of Stalin

death_of_stalin(IMP)
The Death of Stalin (Source: IMP)

[seventeen] First Man

first_man-IMP
First Man (Source: IMP)

[sixteen] The Man Who Surprised Everyone

the-man-who-surpised-everyone-IMDB
The Man Who Surprised Everyone (Source: IMDB)

[fifteen] Tel Aviv on Fire

Tel-Aviv-On-Fire-poster_Bristol_Palestine-FilmFest
Tel Aviv on Fire (Source: Bristol Palestine Film Fest.)

[fourteen] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

memories-of-my-body-IMDB
Memories of My Body (Source: IMDB)

[thirteen] A Star is Born

star_is_born-IMP
A Star is Born (Source: IMP)

[twelve] Whitney

whitney-IMP
Whitney (Source: IMP)

[eleven] Spider-Man: Into the Spider-Verse

spiderman_into_the_spiderverse_ver2-IMP
Spider-Man: Into the Spider-Verse (IMP)

And now, the top 10 of the year:

[ten] Cold War

cold-war-_RogerEbert
Cold War (Source: RogerEbert.com)

Satu kata yang terlontar usai menonton film ini adalah “gorgeous!” Terutama buat penggemar jazz, perhatikan bahwa film ini dibuat dengan pacing melodi musik jazz yang megah, yang dimulai dengan kekosongan, diisi dengan riots and chaotic notes, dan diakhiri dengan a beautiful and lingering devastation. Film ini juga sarat dengan imaji indah dalam sinematografi hitam putih dengan komposisi yang tak biasa, yang membuat kita tak berpaling dari layar. Durasi film boleh singkat, namun impresi yang ditinggalkan masih berbekas sampai sekarang.

[nine] A Twelve-Year Night

a-twelve-year-night_Unifrance
A Twelve-Year Night (Source: Unifrance)

Kalau ada film di daftar ini yang membuat saya berkata “I urge you all to watch the film”, maka inilah filmnya. Sepintas mirip The Shawshank Redemption, ada pula yang menyebut filmnya mirip 12 Years a Slave. Kesamaan dengan kedua film hanya sebatas pada dasar ceritanya saja: ini film kisah nyata tentang José Mujica yang ditahan bersama tawanan politik lainnya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dia menjadi presiden Uruguay. Film ini menggambarkan keadaan mereka di penjara, dan mengikuti kisah hidup mereka di penjara sepanjang film, saya tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. They are harrowing, they can be gruesome, but they can be hopeful. Visualisasi tentang usaha mereka bertahan hidup di penjara sangat fantastis. The quietness, you have to see it yourself to feel it. Film ini hadir di Netflix mulai 28 Desember 2018.

[eight] Girl

Girl-ThePlaylist
Girl (Source: The Playlist)

Elegan dan halus. Itulah catatan saya selesai menonton film ini. Performa luar biasa Victor Polster sebagai Lara yang bertekad keras menjadi perempuan seutuhnya membuat film ini berhasil memukau kita. Tak hanya sekedar mengubah fisik, tapi karakter Lara di film ini ditampilkan lengkap dengan perjalanan emosi yang membuat kita tertegun sepanjang film. Pilihan Lara untuk bertahan hidup membuat saya mau tidak mau menorehkan kata berikut untuk film Girl ini: “powerful!

[seven] Andhadhun

andhadhun-TheWire
Andhadhun (Source: The Wire)

Saya sudah penasaran dengan film ini dari trailernya yang sangat unik. Terlebih untuk sebuah film Hindi komersil. Dan rasa penasaran itu sangat, sangat terpuaskan oleh filmnya sendiri. Apalagi di paruh pertama film, dengan puncak keseruan film saat karakter utama mengalami kejadian yang membawa cerita bergulir dengan sangat nyaman untuk diikuti. Silakan baca sendiri semi-spoiler moment di tulisan saya minggu lalu. Yang jelas, film ini adalah film Hindi paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Dan film ini sudah ada di Netflix!

[six] One Cut of the Dead

one-cut-of-the-dead-Variety
One Cut of the Dead (source: Variety)

Kalau sensasi film ini harus ditulis besar-besar dalam huruf kapital: FUN! Rasanya tidak ada film lain sepanjang tahun 2018 yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada penonton lain yang berdiri dari kursi dan terus tertawa sambil bertepuk tangan di beberapa bagian film. Sebuah film dengan konsep yang kalau diceritakan secara lisan atau kita baca cuma bisa membuat kita bingung, namun saat akhirnya kita saksikan sendiri, kita hanya bisa terperanjat dan kagum. Film yang sangat brilian. Sekaligus film ini adalah film yang membuat kita sadar, kenapa kita sangat mencintai film secara umum. Semakin sedikit Anda tahu sebelum menonton film, the more fun you will have. The funniest film in a long time.

[five] Tully

tully-charlizetheron_SlashFilm
Tully (Source: SlashFilm)

Twist film ini membuat saya berpikir berhari-hari. Semacam mengetuk kesadaran dalam diri. Tenang saja, ini bukan spoiler sama sekali. Film ini berhasil membuat saya tertegun, dan akhirnya mengakui bahwa kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan menyelamatkan kita? Semakin saya memikirkan film ini, semakin saya paham bahwa tidak hanya penampilan Charlize Theron yang luar biasa bagusnya yang membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya tahun ini, tapi cerita film ini yang sangat humanis yang membuat film ini layak untuk ditonton. Jason Reitman dan Diablo Cody adalah tim sutradara dan penulis yang sangat paham tentang human beings and their desire to be human.

[four] Shoplifters

shoplifters_RogerEbert
Shoplifters (Source: RogerEbert.com)

Film ini menantang pemikiran kita tentang konsep keluarga dengan cara yang sangat subtle, yang tanpa kita sadari merasuki perasaan kita, yang membuat kita sampai meneteskan air mata di akhir cerita. Selain itu, Hirokazu Kore-eda juga mempertanyakan kembali, apakah konsep villain dan protagonis yang sebenarnya dalam hidup sehari-hari. Bagian ini yang membuat saya terus berpikir sepanjang film, dan terus mencari jawaban pertanyaan tersebut sampai film berakhir. Disajikan dengan cara bertutur yang pelan namun pasti, film ini berhasil memanusiakan manusia dalam konteks yang mudah kita pahami, sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam.

[three] Amanda

amanda_-_mikhael_hers__Variety
Amanda (Source: Variety)

Waktu saya menonton film ini, saya hanya berniat untuk menonton paling tidak separuh durasi, karena ada jadwal diskusi yang harus saya hadiri. Namun niat itu tidak saya penuhi, karena hanya dalam guliran menit-menit pertama, film in berhasil membuat saya tidak beranjak dari kursi, dan menontonnya sampai selesai. Dengan mata berkaca-kaca, saya bertanya ke rekan saya, “What was that we just watched?” Film ini sangat sederhana: seorang pria harus membesarkan keponakannya setelah kakaknya, yang notabene adalah ibu keponakan ini, tewas akibat serangan terorisme. Pergulatan batin dua orang ini menjadi perjalanan utama cerita film yang tertutur dengan rapi, tanpa menghakimi sama sekali, tanpa berpihak sama sekali. How is it possible? Sutradara Mikhael Hers membuat film ini dengan tampilan bak film keluarga di televisi tahun 1970-an, yang menjadi efektif, karena kita bisa menikmatinya dengan tenang, despite all the big questions and anxiety about life in the film. Tidak perlu menjadi melodramatis dan sentimentil untuk membuat film yang menentramkan hati. Film ini membuktikannya.

[two] The Guilty

theguilty-Fotogramas
The Guilty (Source: Fotogramas)

Ada kalanya kita menonton film dan terpukau dengan sense of filmmaking film tersebut. Film ini salah satunya. Mirip dengan film-film seperti Buried atau Locke dan Gravity, di mana keseluruhan cerita dalam satu film dibuat dalam satu kurun waktu, in real time, dan hanya ada satu karakter sepanjang film. Film-film seperti membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam membuatnya. Skenario harus dibuat serapi mungkin agar dramatic moments pas munculnya, serta tentunya, aktor yang memainkan karakter utama harus tampil meyakinkan sepanjang film, karena dialah satu-satunya yang selalu muncul sepanjang film. Ryan Reynolds, Tom Hardy dan Sandra Bullock sudah membuktikannya, dan sekarang, Jakob Cedergren juga membuktikan lewat film The Guilty ini. Duduk dalam satu ruangan tertutup menerima panggilan telpon darurat, ketegangan demi ketegangan film tersaji lewat raut muka, gerak tubuh dan intonasi suara Cedergren yang selalu berubah seiring dengan perkembangan kejadian. Sutradara Gustav Möller menorehkan debut film panjang yang sangat istimewa, perhaps among the best debut films of all time. Tentu saja, film ini pun adalah film thriller terbaik tahun ini.

[one] Roma

roma-Empire

Film seperti Roma belum tentu hadir setahun sekali. Bahkan mungkin belum tentu sepuluh tahun sekali. Film ini memang personal untuk Alfonso Cuaron, pembuatnya. Namun rasa itu berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati, dan akhirnya bisa kita nikmati juga dengan sepenuh hati. Sebagai orang yang lebih menyukai film dengan penuturan cerita yang naratif, saya surprised sendiri bisa menikmati film ini. Mungkin Cuaron tidak akan pernah lupa, bahwa frame dan adegan indah pun perlu kekuatan cerita dan karakter yang membuat momen-momen tersebut tak lepas dari ingatan. Adegan di hutan, adegan di pantai, pemberontakan di jalan, menyaksikan ini semua seperti membuat kita menyaksikan adegan hidup dalam tatanan gambar dan suara yang menakjubkan. This is a work of art worth seeing. This is a beautiful rarity.

Apa film favorit Anda tahun 2018 ini?

Inilah 17 Film Indonesia Favorit Selama 17 Tahun Terakhir (2001 – 2017) Yang Nyaris Jadi #RekomendasiStreaming

Apakah anda mengernyitkan kening membaca kata “nyaris” di judul di atas? Jangan khawatir. Anda tidak sendiri. Kata “nyaris” di atas terpaksa saya gunakan dalam judul, karena tidak ada pilihan.

Kok bisa begitu?

Awalnya saya berniat menulis film-film Indonesia pilihan saya yang ada di aplikasi video streaming. Kalau tahun lalu saya sudah menulis tentang 17 film pendek Indonesia pilihan, maka tahun ini saya ingin menulis tentang 17 film cerita fiksi panjang Indonesia yang ada di OTT platform. Hitung-hitung sebagai #rekomendasistreaming untuk teman-teman menonton di libur panjang akhir pekan 17-an ini.

Tapi setelah melihat koleksi film Indonesia yang ada di beberapa aplikasi legal, saya mengernyitkan kening.

Ternyata cukup banyak film Indonesia, film panjang yang telah dirilis di bioskop sebelumnya, yang tidak tersedia di aplikasi-aplikasi tersebut.
Mungkin ada beberapa pertimbangan dari pemilik film untuk tidak atau belum membuat film-film mereka available di sana. Mungkin juga kontrak sudah berakhir. Mungkin juga masih disimpan untuk aplikasi yang baru nantinya. Entahlah.

Akhirnya saya berganti tujuan penulisan kali ini, dan merasa untuk lebih baik jujur ke diri sendiri: menulis tentang 17 film Indonesia yang paling saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tujuh belas tahun pertama di abad ke-21. Sengaja memang tidak mengikutsertakan film-film yang dirilis tahun 2018, karena tahun 2018 belum selesai.

Dan ini murni pilihan saya pribadi, tidak mewakili teman-teman lain di Linimasa. Pilihan yang semoga terasa jujur, sejujur saya mengakui bahwa daftar ini jauh dari sempurna (hey, what is perfect, after all?).

Ini juga termasuk jujur mengatakan, bahwa sampai sekarang susah buat saya mengakui bahwa horor adalah genre film favorit saya. Saya bisa mengapresiasi film horor yang baik, tapi ketika mengapresiasi film horor, terpaksa saya redam rasa takut saya, dan sepanjang menonton film-film horor tersebut, saya malah sibuk berpikir menganalisa aspek pembuatan film dalam film-film itu. Dengan kata lain, nontonnya pakai mikir, sehingga lupa merasakan. Tapi tak urung saya mengapresiasi film horor Indonesia yang dibuat dengan baik, seperti Pocong 2 (2006), Hantu (2007), dan Pengabdi Setan (2017).

Film-film yang saya sukai, berarti sudah ditonton lebih dari sekali. Dan kata “suka” di sini memang sangat subyektif, karena melibatkan emosi, hati dan perasaan saat menonton dan seusai menonton. Film-film ini, lagi-lagi menurut saya, are timeless. They stand against the time, dan masih meninggalkan kesan yang sama, beberapa malah lebih, saat kita tonton ulang.

Kalau mereka tersedia di aplikasi video streaming, maka saya akan informasikan nama aplikasinya. Kalau belum tersedia, maka saya berharap supaya film-film ini bisa segera tersedia buat kita tonton lagi.

Masih banyak judul lain yang belum disebutkan di sini. Di catatan saya ada sekitar 71 judul film Indonesia yang saya sukai selama 17 tahun terakhir. Tapi dalam suasana kemerdekaan RI, let’s stick to our independence date.

Inilah film-film tersebut (all images are from filmindonesia.or.id):

• Di urutan nomer 17 ada film The Photograph (2007) karya Nan Achnas. A very powerful and intimate film tentang kesepian dan kesendirian seorang fotografer tua yang akan membuat hati kita trenyuh. Sejauh ini, penampilan terbaik Shanty ada di film ini. (available in iflix)

poster_photograph

No pun intended, but there’s earnestness in Ernest Prakasa’s Cek Toko Sebelah (2016) yang mau tidak mau membuat kita tersenyum sepanjang film ini. A good hearted comedy is hard to find in our cinema, and this is a rarity. Inilah pilihan saya di nomer 16. (available in HOOQ)

cektokosebelah-poster

• Saya suka film-film dengan set-up cerita dan kejadian dalam satu kurun waktu dan tempat. Banyak yang bisa diungkap dari cerita yang hanya terpusat pada singular time and place. Ini juga menunjukkan kedisiplinan tinggi dalam pembuatan filmnya. Pilihan saya di nomer 15, Lovely Man (2012) menunjukkan hal ini. Ditambah dengan penampilan gemilang Donny Damara dan Raihanuun, siapa yang tidak terharu melihat perjalanan emosi mereka? (not available anywhere yet)

Poster_Lovely_Man

• Sederhana, bersahaja dan jujur. Slogan politik? Bukan. Tapi tiga kata itu yang bermain di benak saya saat menonton film panjang perdana karya Eugene Panji, Cita-Citaku Setinggi Tanah (2012), di nomer 14. Ditambah pula film anak-anak ini benar-benar bercerita dari sudut pandang anak-anak, sesuatu yang masih jarang berhasil dibukukan di perfilman kita. It’s an underrated gem. (not available anywhere yet)

cita-citaku-setinggi-tanah_poster_lf-c023-12-476991_img_photo

• Sebagai generasi yang masa remajanya dihabiskan tanpa ada film Indonesia yang layak tonton di bioskop, saya senang melihat adik-adik kelas saya menyerbu bioskop saat Ada Apa Dengan Cinta? (2002) dirilis. Tren sesaat? Tidak juga. Saat ditonton lebih dari satu dekade berikutnya, film AADC? masih membuat kita tersenyum. A proof that a good film lasts. Lucky number 13. (available in iTunes)

poster_AdaApaDgnCinta

• Di nomer 12 ada film badminton King (2009) yang akan terus saya ingat sebagai film yang menunjukkan bahwa almarhum Mamiek Prakoso adalah aktor hebat. Lebih dari sebagai komedian ternama, di film ini Mamiek bermain prima sebagai ayah seorang calon atlet yang perasaannya terbagi antara mendukung anaknya menjadi atlet, atau mengingatkan tentang realita hidup. Such an understated performance worth being studied. (not available anywhere yet)

poster_king

Whatever happens to us now? Kita pernah membuat film cerdas yang menggelitik seperti Arisan! (2003), pilihan nomer 11 saya, yang rasanya tidak mungkin akan dibuat di era sekarang. Let this film be a reminder then, that open minded-ness and acceptance shall prevail. (not available anywhere yet)

poster_arisan

• Betapa beruntungnya judul film di nomer 10, Alangkah Lucunya Negeri Ini (2010). Mau dibuat kapan pun, judul filmnya masih applicable. Ditambah lagi dengan cerita komedi satir yang sedikit mengingatkan kita dengan cerita-cerita Charles Dickens, film ini layak saya sebut sebagai salah satu film black comedy paling sukes yang pernah dibuat dalam dua dekade terakhir. Duet sutradara dan penulis Deddy Mizwar dan Musfar Yasin yang jauh lebih baik dibanding Nagabonar Jadi 2. (not available anywhere yet)

poster_alangkah_lucu

• Tidak sekedar menghadirkan a kick-ass revenge film, namun Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak (2017) juga menghadirkan cross-genre yang relatif baru di film Indonesia, yaitu western noir. Relatif baru, karena western sebelumnya hadir lewat komedi parodi film-film Bing Slamet dan Benyamin S. di tahun 70-an. Film pilihan saya di nomer 9 ini adalah film karya Mouly Surya dengan a fearless performance oleh Marsha Timothy yang akan menjadi catatan tersendiri tidak hanya di perfilman Indonesia, tapi juga dunia. (available in HOOQ)

marlina-sipembunuhdlm4babak-poster

• Di nomer 8 ada Berbagi Suami (2006), film tentang female empowerment yang menurut saya susah dipercaya bisa berhasil. But it did, and we’re all the better of it. Film yang menempatkan semua karakter utamanya dengan empati, sehingga kita yang menontonnya pun bisa terbawa dengan jalinan emosi yang dibangun. Film yang sangat menggugah. (not available anywhere yet)

poster_berbagisuami

• Ah, Love (2008). Saya sempat terperanjat saat menyadari bahwa sudah lebih dari satu dekade, kita belum membuat lagi film antologi tentang cinta yang berhasil seperti Love. Pilihan saya di nomer 7, film Love tidak sekedar adaptasi (it is) atau reka ulang dari film-film serupa, tapi film ini seperti dibuat dengan hati, yang mau tidak mau membuat kita masih merasakan kehangatannya saat menontonnya lagi, dan lagi. (available in iflix)

poster_LOVE

• Sebagai pecinta film, menonton Janji Joni (2005) mau tidak mau membuat kita tersenyum. Seolah-olah film ini memberikan validasi atas kecintaan kita terhadap film dan bioskop. Meskipun jalan ceritanya bukan tentang itu, dan dengan jalan penceritaan yang belum sempurna, menonton film pilihan saya di nomer 6 ini seperti mengafirmasi bahwa “hey, it’s okay to spend your life liking films and stuff’. Saya ingat betul, menonton film ini pertama kali dan kedua kali menimbulkan efek “wow! That was cool!” Terima kasih sudah membuat film ini, Joko Anwar. Film ini masih menjadi karya Joko Anwar yang paling saya suka. (not available anywhere yet)

poster_janjijoni1

• Sampai di sini, anda pasti sudah bisa menebak kalau saya sangat menyukai film romansa. Benar: I’m a sucker for good romance. Dan film Ruang (2006), film nomer 5 di daftar ini, adalah film yang saya sebut sebagai salah satu film romansa terbaik yang pernah ada di sinema kita. It never wastes any minute to go straight to drama and romance, membuat sebagian besar adegan di film ini indah dan dapat diikuti dengan baik. Film yang menghadirkan rasa “klangenan” di hati. (not available anywhere yet)

poster_ruang

• Dan inilah film yang seusai menonton pertama kali di bioskop membuat saya terperangah, “What was that I just watched?!” Begitu menontonnya lagi, saya masih terkesima. Posesif (2017), film nomer 4, adalah film yang simply knocked it out of the park. Dan saya percaya bahwa the less you know in advance about the film, the better. What a powerful film that leaves you stunned. (available in iflix)

posesif-poster2

• Apa yang anda ingat saat pertama kali menonton The Raid (2011), film nomer 3, di bioskop? Kalau anda menontonnya di penutupan INAFFF 2011 bersama saya, tentunya anda masih ingat riuh rendah penonton bertepuk tangan dan berteriak. It’s brutal, violent and it spares no nonsense. Film yang harus kita akui telah menempatkan nama Indonesia di peta perfilman dunia, in a very awesome way. (not available anywhere yet)

TheRaid-Poster

• Tidak hanya sepanjang 17 tahun terakhir, namun film Sang Penari (2011), film nomer 2 di daftar ini, adalah salah satu film terbaik Indonesia yang pernah dibuat. Period. Tidak setiap tahun film Indonesia dengan craftsmanship tingkat tinggi seperti ini bisa hadir. Dan adegan terakhir film ini, seperti sudah pernah saya bahas sebelumnya, adalah salah satu final scene paling indah yang pernah dibuat. (available in iflix)

poster-sangpenari

• Dan inilah film Indonesia yang paling saya sukai selama ini. Eliana, Eliana (2003), karya Riri Riza. Lima belas tahun sejak film ini dirilis, dan ternyata kisah perjalanan satu malam ibu dan anak perempuannya menyusuri Jakarta masih menggetarkan hati. Setiap bagian film bertutur dengan efektif. Setiap ekspresi dari raut muka Jajang C. Noer dan Rachel Maryam menyiratkan emosi yang tidak harus diucapkan dengan kata-kata, namun kita bisa merasakan secara mendalam. Watching this film is such a rewarding experience one may struggle with words to express it. A beautiful film. (available in iflix)

poster_eliana

Apa film Indonesia favorit anda selama ini?

#RekomendasiStreaming – 17 Film Pendek Indonesia Untuk Tontonan 17-an

Ini murni kebetulan.
Hari Kamis minggu ketiga, jadwal tetap saya untuk menulis #rekomendasistreaming, untuk bulan Agustus ini bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia.

Tadinya, tulisan ini mau sedikit ‘ambisius’. Ambisinya adalah mengumpulkan 17 film pendek Indonesia terpilih dari 17 tahun terakhir, yaitu tahun 2000 sampai 2017. Pas ‘kan ya? Sudah 17 tahun lho, kita menjalani milenium baru.

Tapi nyatanya, banyak sekali film pendek Indonesia (yang mau saya masukkan ke daftar ini) yang tidak tersedia untuk ditonton di video streaming platform yang ada. Sangat banyak malah.
Mungkin atas pertimbangan para pemiliknya, beberapa film pendek tersebut memang tidak diunggah ke public platform karena terikat perjanjian kerjasama dengan beberapa pihak pendistribusian film. Hal ini lumrah terjadi.
Selain itu, film-film pendek Indonesia yang dibuat sebelum ada Youtube, berarti produksi sebelum tahun 2004, sangat jarang ditemukan.

Film “Penderes dan Pengidep”

Alhasil, karena saya ingin mengajak kita semua menontonnya bersama-sama, maka daftar 17 film pilihan ini akhirnya mengerucut pada film-film pendek yang memang tersedia di platform video streaming yang mudah diakses di mana saja. Lewat perangkat apa saja. Namanya juga #rekomendasistreaming 🙂

Pilihannya acak. Tidak ada yang terbaik, tidak ada yang terburuk. Semuanya murni pilihan saya sebagai fellow audience, yang membuat saya belajar banyak dari film-film ini. Yang bisa mengangkat sisi Indonesia yang berbeda, beragam, dan berani.
Dan yang pasti, film-filmnya stand against the test of time, atau masih layak ditonton kapan saja. Tidak pudar oleh waktu.

Pilihan yang tidak mudah, mengingat ada ribuan, bahkan bisa jadi puluhan ribu, film pendek Indonesia yang sudah dibuat sampai sekarang.

Film “Vampire”

Dan kenapa film pendek? Seperti yang pernah dikatakan oleh Adrian J. Pasaribu, kritikus film Indonesia: “Wajah Indonesia sesungguhnya ada di film pendek”. Kutipan yang juga pernah saya tulis ulang di situs ini. Kutipan yang saya amini immediately, karena format film pendek memungkinkan siapa pun bisa membuatnya tanpa terbebani rating, jumlah penonton bioskop, atau pertimbangan komersial lainnya. Yang penting, ceritanya dituturkan dengan baik dalam waktu singkat, dan bisa mengena.

Maka berikut ini kita bisa saksikan 17 Film Pendek Indonesia Pilihan Untuk 17-an:

Harap Tenang Ada Ujian (2006)
Sutradara: Ifa Isfansyah

Film yang secara tidak langsung menegangkan, tapi secara langsung juga menyentuh. Selalu ada sisi humanis di setiap kejadian bencana alam yang luput dari pemberitaan. Film ini mengangkat bagian tak terungkap itu dengan manis, dan tak terduga.

Sandekala (2015)
Sutradara: Amriy Ramadhan

Indonesia kaya akan cerita urban legend yang seolah tak ada habisnya. Termasuk mitos pulang saat Maghrib. Dan cerita seperti ini mendapat treatment yang pas di film pendek: tanpa ba-bi-bu, langsung ke bagian mengejutkan. Hasilnya? A very effective horror.

Irama Hari (2008)
Sutradara: Steve Pillar Setiabudi

Film ini menangkap apa yang luput dari keseharian kita: suara orang-orang menawarkan jualan makanan yang lalu lalang sepanjang hari. Tanpa kita sadari, suara-suara itu membentuk sebuah ensemble yang harmonis.

Cinta (2008)
Sutradara: Steven Facius Winata

Satu lagi kisah klasik khas Indonesia yang tidak pernah ada habisnya: percintaan antar dua manusia yang berbeda suku, kelas, keyakinan dan kepercayaan. Kisah yang sudah dituangkan jutaan kali dalam berbagai karya seni di Indonesia, dan salah satu dari sedikit yang bertutur dengan baik, adalah film pendek ini.

Cheng Cheng Po (2007)
Sutradara: BW Purbanegara

Bisa dibilang BW Purbanegara adalah satu dari sedikit sekali sutradara film Indonesia yang humanis. He understands human beings, and he makes human human in his films. Bahasa Jawa-nya “nguwongke wong”. Ini terlihat dari karya-karyanya, yang selalu bicara tentang manusia dalam level yang terlihat simpel di permukaan, namun terasa mengena di hati. Film Cheng Cheng Po ini merupakan awal dari filmography-nya yang beragam, dan lebih polished di bidang produksi. Namun film ini masih terasa relevan untuk kita lihat sampai sekarang.

Kara, Anak Sebatang Pohon (2005)
Sutradara: Edwin

Edwin is one of a kind. Seorang pembuat film yang karya-karyanya tidak cukup mengundang satu interpretasi yang “ajeg”. Bahkan ketika ditonton lagi pun, interpretasi kita sendiri pun bisa berbeda jauh dari apa yang kita lihat pertama kali. Seperti film Kara Anak Sebatang Pohon ini. Sebagai film pendek Indonesia pertama yang lolos seleksi Cannes Film Festival di kategori Director’s Fortnight, tentu saja film ini sempat ramai dibicarakan. Namun yang lebih penting, film ini menandai kehadiran seorang Edwin yang selalu memberi nafas segar di antara monotonnya cerita dan gaya penceritaan film Indonesia.

CONGQ (2016)- Episode 7
Sutradara: Lucky Kuswandi

CONGQ adalah sebuah web-series yang sempat populer, dan memang pantas untuk banyak mendapat perhatian. Gaya penceritaan yang ringan namun mengena, permainan para aktor yang sangat relaxed but very game on, membuat kita tersenyum setiap selesai menonton satu episode. Tapi kalau saya boleh memilih the unexpected highlight serial ini ada di episode 7. Kenapa? Tonton saja.

https://www.viddsee.com/player/a67uv

Lawuh Boled (2013)
Sutradara: Misyatun

Sudah 15 tahun terakhir, kota Purbalingga secara konsisten menelurkan film-film pendek berkualitas. Ceritanya selalu berkisar seputar kehidupan sehari-hari di kota itu, orang-orangnya, dan seolah tidak mempedulikan dunia yang lebih besar. Namun dari pengamatan mikro itulah film-film dari kota Purbalingga ini justru terasa nilai universalnya, yang membuat kita semua akhirnya bisa relate to them. Seperti film ini. Lihat saja permainan ciamik ensemble-nya yang hampir semuanya bukan aktor. Detil-detil kecil yang membuat film ini terasa nyata. Masih banyak lagi film-film Purbalingga yang menawan. But this one is pretty special.

Friend (2014)
Sutradara: Yandy Laurens

Baik di film panjang maupun sinetron, sudah sangat jarang kita melihat senior citizens atau lansia menjadi subyek cerita. Biasanya mereka menjadi latar belakang cerita dengan fokus penceritaan di karakter-karakter yang jauh lebih muda. Namun beberapa film pendek Indonesia terakhir menempatkan orang tua sebagai subyek cerita yang manis. Gula-Gula Usia, Wan-An (yang masih menjadi karya terbaik Yandy Laurens), dan film ini. Bercerita tentang kesendirian di usia lanjut, sesuatu yang rasanya menakutkan untuk dibayangkan, berat untuk dijalani, tapi ternyata menyenangkan untuk dibagi. Malah bisa jadi lucu dan kocak untuk dinikmati. It’s the kind of film that lingers on.

https://www.viddsee.com/player/2k3ba

Lewat Sepertiga Malam (2014)
Sutradara: Orizon Astonia

Tema cerita dan style pembuatan film ini seperti menjadi ciri khas Orizon Astonia, dan membuat filmography-nya menjadi menonjol di antara rekan sebayanya. Ada yang kaget, ada yang menganggap tabu, ada yang lega karena akhirnya ada yang menceritakan ke bentuk visual. Menurut Anda? Silakan tonton dulu.

https://www.viddsee.com/player/trkry

Payung Merah (2010)
Sutradara: Andri Cung, Edward Gunawan

Awal dekade ini dimulai dengan cukup banyaknya stylish horror di film pendek Indonesia. Salah satu yang paling berkesan adalah film ini. Tentu saja akting dari pemain profesional sangat membantu kita sebagai penonton dengan cepat masuk ke dalam cerita yang singkat, dan padat. It is stylish, it is short, and it is well told.

Penderes dan Pengidep (2014)
Sutradara: Achmad Ulfi

Satu lagi dari Purbalingga. Film dokumenter yang menceritakan kehidupan sepasang suami istri yang berada di garis kemiskinan, tanpa harus mengeksploitasi kemiskinan mereka. Istri bekerja menjadi pembuat bulu mata palsu, suami bekerja menjadi pembuat gula aren, di mana dia harus naik pohon kelapa berpuluh-puluh meter setiap harinya. Film yang memaparkan keadaan kehidupan as is, tanpa basa-basi. Seperti film-film dari Purbalingga lainnya, pembuatnya masih duduk di bangku sekolah. Semakin meneguhkan pandangan polos dan non judgmental terhadap cerita, yang memang sangat dibutuhkan di sini.

5 Menit Lagi Ah Ah Ah (2010)
Sutradara: Sammaria Simanjuntak & Sally Anom Sari

Sering kali ada ‘putus hubungan’ yang besar antara televisi dan karya audio visual lainnya seperti film panjang, film pendek, sampai video instalasi. Namun lewat film ini, kita diingatkan lagi betapa (masih) kuatnya pengaruh televisi di masyarakat kita. Betapa televisi masih menjadi candu yang tak bisa dilepaskan dari keseharian. Termasuk reality show contest and its aftermath, sesuatu yang sering kita lihat dan dengar, namun jarang yang benar-benar kita perhatikan dengan seksama. Film ini secara akurat memaparkan realita pahit dari pemenang sebuah reality show contest, yang tidak dibuat pahit. Just like life, it continues to struggle. Film yang membuat kita akan ‘manggut-manggut’ berusaha untuk memahami hidup yang keras.

Embed https://www.viddsee.com/player/djq8l

Titik Nol (2009)
Sutradara: Nicholas Yudifar

Dari daftar film pendek di sini, mungkin film ini yang membuat saya langsung teringat dengan idiom “seeing is believing”. Bisa ditambah, “seeing, and hearing, is believing”. Penggunaan puisi sebagai narasi memang tricky dalam film. Makanya jarang digunakan. Sekali digunakan, hasilnya akan menyentuh. Seperti yang ada di film ini. Setelah ditonton ulang beberapa tahun kemudian, masih menggetarkan hati. It’s a rarity.

Balik Jakarta (2016)
Sutradara: Jason Iskandar

Jason Iskandar, yang sudah membuat film pendek sejak SMA, bisa jadi merupakan sutradara muda yang paling berbakat. Selain berbakat, dia konsisten membuat film pendek dengan fokus penceritaan yang cukup tajam. Karya-karyanya selalu bermuara pada persoalan personal, yang mempengaruhi gaya visualnya. Namun di film ini, pendekatannya terasa berbeda. Dengan konsep road trip, Jason menjelajah sebagian isi ibu kota dari sisi yang, sekali lagi, terasa humanis. Definitely worth watching.

Kapur Ade (2014)
Sutradara: Firman Widyasmara

Berbeda dengan film non-animasi, film pendek animasi di Indonesia secara jumlah masih sedikit. Di luar karya iklan atau kepentingan komersil lainnya, setiap tahun hanya ada puluhan, tidak sampai 50, film pendek animasi di Indonesia dibuat. Dari yang sedikit itu, film ini termasuk yang mengesankan. Lagi-lagi soal cerita permasalahan kota besar. Namun fokus cerita yang berpaku pada mata yang masih lugu dan polos membuat kita terbawa sepanjang film ini.

Vampire (2014)
Sutradara: Fitro Dizianto

Sebagai penutup, rasanya saya hanya bisa menggambarkan film ini dengan menggunakan kata berikut dari bahasa slang Jawa Timuran: “ngguatheli pooolll”! Film yang akan membuat Anda … ah, tonton sendiri saja! 😉

Selamat merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, selamat berlibur, dan selamat menonton!

Jaman Tanpa Penanda Jaman

Kecemburuan itu datang lagi. Rasa iri itu menyeruak lagi, tepatnya dua minggu lalu.

Hari Jumat, 7 November lalu, media sosial Indonesia riuh rendah. Video iklan aplikasi LINE yang mengimajinasikan sambungan cerita film Ada Apa Dengan Cinta? (AADC) hadir di dunia maya. Enam pemain utama film hadir, lengkap dengan karakter masing-masing seperti di film aslinya. Tentu saja, Rangga dan Cinta pun masih dibawakan oleh Nicholas Saputra dan Dian Sastro. Sekian tahun berpisah di layar, mereka masih bisa membawakan kedua karakter itu dengan pas. Apalagi video iklan ini durasinya cuma 10 menit. Cerita pun makin fokus ke mereka berdua. Footage film yang menjadi inspirasi, berikut potongan lagu-lagu dari album soundtrack film asli, disisipkan dengan manis.

Sontak sebagian besar orang yang pernah merasakan gegap gempita 12 tahun lalu, saat film dan soundtrack AADC pertama kali dirilis, mendadak heboh. Terutama mereka yang melewati masa remaja, duduk di bangku SMP dan SMU (sebelum balik lagi ke singkatan SMA) pada saat itu, merasa menemukan kepingan lagi kenangan masa silam. Dalam dua hari, video iklan itu menembus angka lebih dari 2 juta views di Youtube. Album soundtrack AADC langsung menembus peringkat pertama album paling laris di iTunes sehari sesudah video iklan dirilis. Kabarnya, rating film AADC di Kompas TV yang ditayangkan dua hari setelah video iklan dirilis, termasuk yang sangat baik. Siapa pengkonsumsi semuanya? Tentu saja mereka yang dulu berusia remaja yang benar-benar menjadi target market film itu dulu.

Dan di sinilah sedikit keirian itu muncul.

Tentu saja ini bukan iri atas larisnya AADC lagi. Apalagi iri melihat Cinta masih bisa masuk ruang tunggu bandara tanpa boarding pass … lagi.

Rasa cemburu itu muncul mewakili generasi 90-an yang hadir nyaris tanpa film Indonesia. Masih pakai kata “nyaris”. Meskipun ada film Indonesia kala itu, tapi tidak ada yang bisa mewakili perasaan remaja yang sedang bergejolak di masanya. Ciiieee … Maksudnya memang tidak ada film yang bisa capture the spirit of its young people begitu.

Padahal ini penting.

Suatu masa biasanya akan diwakili oleh dua hal yang gampang diakses remaja di periode tersebut: musik dan film. Kedua hal ini akan merepresentasikan banyak hal yang bersifat sosiologis dan psikologis kalau mau ditelaah lebih lanjut. Terutama musik dan film lokal. Meskipun mungkin tampilan di layar atau yang terdengar di lagu belum tentu adalah cerminan kondisi saat itu, tapi siapa yang mengkonsumsi mereka? Sebagian besar siapa lagi kalau bukan remaja. Masih banyak waktu luang di luar sekolah, masih suka menghabiskan waktu di bioskop, atau kirim request lagu di radio. Kehadiran musik dan film lokal seakan mewakili apa yang mereka rasakan. Kedekatan bahasa, raut muka dan gaya yang serupa, mau tidak mau bisa mengurangi jarak.

Jadi bayangkan saja kami, yang menjadi remaja di pertengahan tahun 1990-an, harus hidup tanpa film lokal. Boro-boro film remaja. Saat itu, kalau ada film Indonesia masih bisa dibilang “mending”. Cuma sebatas “mending”, karena kalo ditonton pun, ogah-ogahan. Inilah masa yang banyak dicap sebagai “mati suri perfilman Indonesia”. Akibat manipulasi politik dan ekonomis, akhirnya yang muda yang mati tak berdaya. Lebay sih.

Padahal hanya selisih beberapa belas tahun sebelumnya, film Gita Cinta dari SMA dirilis laris di tahun 1979. Eddy D. Iskandar sebagai penulis, laris juga menulis film-film lain, seperti sekuel film ini, Puspa Indah Taman Hati, yang dirilis tak lama setelah Gita Cinta.
Di tahun ini pula, Warkop DKI muncul dengan film Mana Tahan.

Gita Cinta Dari SMA (Courtesy of Wikipedia)
Gita Cinta Dari SMA (Courtesy of Wikipedia)

Tak berselang lama, di pertengahan tahun 1980-an, muncul dua film dengan sosok idola remaja yang bertolak belakang: Lupus dan Catatan si Boy. Satu dari novel, satu dari drama radio. Satu dari kelas ekonomi menengah hampir ke bawah, satu lagi naik BMW dan liburan ke Amrik. (Masih ada yang ngomong pakai kata “Amrik”?)
Dua-duanya punya kesamaan: memaksakan diri jadi franchise, sehingga sekuel demi sekuel dibuat, dan tidak bisa bertahan dari segi kualitas.

Lupus: Tangkaplah Daku Kau Kujitak (Courtesy of Google)
Lupus: Tangkaplah Daku Kau Kujitak (Courtesy of Google)

Mereka terengah-engah, apalagi di awal 1990-an, saat lampu bioskop untuk film lokal hampir meredup. Dan memang sudah meredup saat diakhiri dengan film Rini Tomboy, dan diawali dengan Gadis Metropolis. Film-film dengan istilah “bupati” (buka paha tinggi-tinggi) dan “sekwilda” (sekitar wilayah dada) bersliweran. Plot sama, tinggal ganti judul dan pemain.

Lenyaplah sudah idola remaja di layar lebar. Penanda jaman 1990-an hanya bertumpu pada musik, layar kaca, tanpa ada film lokal.

Titik cerah itu muncul saat gadis kecil bernama Sherina hadir, dan memuncak dengan pemuda galau bernama Rangga yang gemar membaca dan menulis puisi.
Lanjutannya pun masih terasa manis. Film-film macam Jelangkung dan Eiffel I’m in Love juga laris. Makin banyak film Indonesia beredar dengan segment masing-masing. Meskipun indikasi angka laris masih cenderung turun, namun semangat masih tampak nyata.

Remaja awal 2000-an punya strata yang sama dengan remaja akhir 1970-an dan pertengahan 1980-an. Mereka semua punya penanda jaman bernama film remaja Indonesia.