Saya Pernah Jadi “Buddhis yang Takfiri”

WAKTU ke Asian Civilisations Museum (ACM) Singapura beberapa pekan lalu, kebetulan ada anak-anak sekolah sedang berdarmawisata.

Setelah di-briefing bu gurunya tentang kegiatan observasi dan tugas, mereka pun bebas berkeliling, mengamati, dan mencatat hal-hal menarik dari koleksi benda bersejarah yang dipamerkan di sana. Sampai ada salah satu bocah yang lihat arca ini, lalu heboh sendiri dan menarik perhatian teman-temannya.

Look! They’re kissing! But why they are doing that?” Sambil terus memerhatikan artefak dari Tibet ini. Dia terlihat sangat excited.

Oh, I know! I know! The man is the god, and the woman is a human!” Dengan penuh semangat dia ngomong ke teman-temannya yang mulai berkerumun di situ. Entah dapat inspirasi dari mana sampai bisa menyimpulkan begitu, mungkin gara-gara pernah nonton film bertema mitologi Yunani Kuno yang dewanya dikisahkan punya anak hibrida.

Enggak lama, bu gurunya datang lalu terlihat lumayan kaget dengan objek yang sedang diributkan murid-muridnya.

Miss, this one is the god, and that is a human, right?” tanya si bocah.

Bu gurunya cuma bisa senyum-senyum ditahan, dan menjawab dengan aman “Right! Okay, kids, you can go and see other things. We’re just in the first hall.

Setelah bocah-bocah disingkirkan dari situ, eh bu gurunya kembali dan baca keterangan artefak di sampingnya. Sepertinya penasaran juga, atau persiapan buat lain kali. 😅

Iya, ini adalah patung logam dari tradisi salah satu mazhab besar Buddhis. Faktanya, sosok laki-laki patung tersebut memang menggambarkan seorang Buddha. Hanya saja jangan sampai keliru. Buddha di patung itu bukan tokoh sejarah yang pernah terlahir sebagai pangeran bernama Siddhattha Gotama (Sanskrit: Siddhartha Gautama) di utara India hampir 2.600 tahun lalu, yang kemudian menjadi pencetus Buddhisme.

Patung tersebut menggambarkan Buddha Vajradhara (Penguasa Halilintar) dan pasangannya, Prajñaparamita (Kebijaksanaan yang Sempurna). Penggambaran ini berasal dari tradisi mazhab Tantrayana atau Vajrayana yang dominan di Tibet, Nepal, dan Bhutan. Keberadaannya pun terbatas hanya dalam lingkup penganut atau pembelajar Buddhisme mazhab Tantrayana atau Vajrayana tersebut. Tidak di mazhab-mazhab lain.


Cerita sedikit sebelum lanjut. Ajaran agama Buddha hingga saat ini terbagi dalam tiga mazhab besar:

  • Theravada
  • Mahayana
  • Tantrayana atau Vajrayana
Para Bhikkhu Theravada dalam kegiatan Pindapatta di Samarinda.

 

Para Bhiksu Mahayana Indonesia. Foto: Tribunnews

 

Para Lama Tantrayana. Foto: YouTube.

Secara kasatmata, perbedaan antara ketiganya bisa dilihat sesederhana membedakan antara praktik agama Buddha di Thailand/Burma/Kamboja/Sri Lanka; Tiongkok/Taiwan/Jepang/Korea; dan Tibet/Nepal/Bhutan. Minimal dari desain dan warna jubah para pemuka agamanya, baik yang merupakan Bhikkhu, Bhiksu, maupun Lama. Dari jubah dan penampilan mereka saja sudah terlihat jelas.

Setiap mazhab kembali terbagi dalam beberapa sub mazhab. Terutama Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang menerima modifikasi serta perubahan. Itu sebabnya kenapa ada ajaran Zen (禪); Tendai (天台宗); Shingon (真言宗); Nichiren (日蓮) di Jepang, di Tiongkok ada biara Shaolin, di Taiwan ada perkumpulan sosial Buddha Tzu Chi (財團法人中華民國佛教慈濟慈善事業基金會) yang menyebar hingga ke Indonesia dan punya kompleks gedung gede di PIK sana; maupun aliran Maitreyanisme  (彌勒大道) yang sukses membuat banyak orang mengira Buddha adalah sosok yang bertubuh gendut dan selalu terlihat tertawa gembira, di Tibet ada aliran Nyingmapa; Gelugpa dengan topi kuning; Kagyu; dan beberapa lainnya.

Jangankan orang awam, banyak Buddhis sekalipun yang kerap alpa dengan perbedaan-perbedaan ini. Tanpa analisis dan pemahaman yang mendalam, banyak yang menjadi Buddhis karena kelahiran, alias diwariskan dari orang tuanya tanpa penjelasan yang memadai. Tidak aneh jika setelah dewasa, banyak Buddhis di dunia termasuk Indonesia yang kemudian berpindah agama.

Wajar bila muncul pertanyaan: “Kenapa bisa terpecah-pecah menjadi banyak mazhab begitu?

Jawaban singkatnya adalah: “Karena ada perbedaan dalam penafsiran dan pelaksanaan ajaran.

Perpecahan mazhab dalam agama Buddha terjadi beberapa abad sejak Buddha wafat. Secara rutin setiap beberapa ratus tahun sekali, para Bhikkhu yang sudah merealisasi kesucian batin maupun yang masih manusiawi berkumpul dalam sidang serupa konsili. Agenda utamanya adalah untuk menghimpun semua sabda dan peraturan yang dituturkan oleh Sang Buddha sendiri, sekaligus melakukan pembahasan yang dinilai perlu dalam pengawasan para sesepuh.

Mulai sidang ketiga, tujuan-tujuan yang ditambahkan adalah menjaga kemurnian ajaran dengan menertibkan para “penumpang gelap”, menertibkan para Bhikkhu yang slebor dan urakan, menertibkan praktik-praktik yang bukan berasal dari Buddha sendiri, memerhatikan hasil analisis dan komentar atau tafsir terhadap sabda dan aturan dari Buddha, serta memikirkan cara untuk menyebarkan ajaran supaya tidak hilang di tanah asalnya (India) tapi bukan bertujuan Buddhaisasi. Merupakan kondisi yang tidak terhindarkan, makin lama semakin sedikit saja ulama yang berhasil merealisasi kesucian batin. Menyisakan lebih banyak Bhikkhu yang masih manusiawi dan bisa keliru berpikir.

  • Buddha wafat pada tahun 400 SM. Sidang pertama dilangsungkan tidak lama setelah itu.
  • Bibit-bibit perbedaan dan kontroversi mulai muncul dan dibahas dalam sidang kedua pada tahun 443 SM. Kelompok yang ingin melakukan perubahan aturan menyebut diri sebagai Mahasanghika, sedangkan yang memegang teguh ajaran adalah Sthaviravada. Keinginan Mahasanghika tidak dikabulkan. Mahasanghika merupakan cikal bakal mazhab Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana. Sthaviravada adalah cikal bakal Theravada.
  • Dalam sidang ketiga pada tahun 313 SM (atau hampir 2,5 abad setelah sidang pertama), pengulangan sabda dan aturan dari Buddha berlangsung sembilan bulan lamanya. Akibat penertiban ajaran yang dilakukan, kelompok yang terimbas pun mengungsi ke utara India. Boleh dibilang ini adalah sidang terakhir yang diikuti kedua kelompok bersama-sama.
  • Perselisihan antarkelompok makin tajam. Setiap kelompok menyelenggarakan sidangnya masing-masing.
    Sidang keempat kelompok Sthaviravada berlangsung sekira tahun 83 SM di negara yang kini menjadi Sri Lanka. Sabda dan aturan Buddha dicatat untuk pertama kalinya di atas daun lontar menjadi tumpukan Tipitaka, yang apabila dikumpulkan bisa menjadi berjilid-jilid tebal dan memenuhi satu lemari.
    Kelompok lainnya, Sarvastivada menyelenggarakan sidang keempat di Kasmir sekitar tahun 78 M atas dukungan kerajaan di Afghanistan. Catatan hasil sidang ini hanya disimpan oleh kelompok Sarvastivada, dan terus diwariskan hingga ke kelompok Mahayana. Dari hasil sidang ini pula, ada bagian-bagian kitab suci yang ditambahkan. Menyebabkan Tipitaka milik Theravada berbeda dengan Tripitaka miliki Mahayana. Bukan typo atau salah ketik. Memang Tipitaka dengan bahasa Pali yang dipercaya merupakan bahasa tutur Buddha semasa hidup, lalu dijadikan rujukan mazhab Theravada tanpa pengubahan (penambahan/pengurangan) apa pun. Tripitaka berbahasa Sanskerta dengan sejumlah alasan, yang sejauh ini belum saya pahami sepenuhnya. Mungkin lantaran alasan akademik, mengingat para filsuf dan para scholars Mahayana di masa itu banyak bertutur dan menulis dalam bahasa Sanskerta. Kedudukan Sanskrit sama seperti bahasa Latin.
  • Kelompok Theravada melanjutkan sidang kelima (tahun 1871) dan keenam (1954). Sidang keenam menjadi fenomenal karena bukan hanya dilangsungkan di era modern, namun sekaligus memperingati 2.500 tahun wafatnya Buddha historis.
  • Baru pada tahun 1966, dibentuk organisasi bersama. Tujuannya adalah melakukan rekonsiliasi. Mustahil untuk menyatukan semua mazhab yang sudah ada hampir seribu tahun, melainkan membahas dan menyepakati inti-inti ajaran sebagai syarat untuk tetap bisa dianggap sebagai agama Buddha.
    Secara formal, ada sembilan poin yang disepakati. Karena panjang-panjang, silakan baca sendiri di tautan Wikipedia berikut ini: Basic points unifying Theravada and Mahayana.
    Btw, banyak yang menganggap Buddhisme adalah ajaran penyembahan berhala, padahal hal itu bertentangan dengan poin nomor 3.

Perbedaan antara mazhab-mazhab agama Buddha agak mirip seperti yang terjadi dalam Islam. Antara Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah) dan Syiah, lalu kelompok Ahmadiyyah dan Khawarij pun dianggap bukan Islam. Sementara perbedaan antara sub mazhab dalam Buddhisme lebih mirip seperti denominasi-denominasi gereja dalam Kristen.

Setali tiga uang dengan yang terjadi dalam Islam dan Kristen, tentu ada mazhab agama Buddha yang seakan mendapat privilese mengklaim sebagai ajaran paling benar, tidak tercemar dengan paham-paham lain, dan paling dekat dengan praktik yang dijalankan oleh Buddha Gotama sendiri semasa hidupnya. Dalam hal ini, tentu saja mazhab Theravada.

Dari paparan singkat di atas, kelompok Theravada berpegang teguh pada ajaran yang murni, dan berupaya semaksimal mungkin untuk memastikan semua pokok-pokoknya tetap sama seperti yang pernah diajarkan Buddha sendiri. Sebaliknya dengan kelompok Mahayana dan Tantrayana/Vajrayana yang melakukan sejumlah modifikasi.

Tanpa kedewasaan spiritual, persepsi “Theravada murni, non-Theravada cemar” sangat berpotensi menumbuhkan sikap fanatisme. Memunculkan orang-orang yang merasa berhak dan pantas menghakimi orang lain.

Sebagai seorang pembelajar Theravada, saya pernah bersikap seperti ini terutama kepada penganut mazhab lain. Apabila boleh meminjam istilah dari studi keislaman, saya pernah menjadi seorang takfiri, yang dengan mudahnya mengkafirkan orang lain, menghardik mereka murtad dan sesat dengan penuh kebanggaan yang salah.

Sekali lagi, mengapa saya bisa begitu? Lantaran berpandangan “Theravada murni, non-Theravada cemar!”

Lambat laun saya mulai berpikir, bertindak sekeras dan sepongah itu sama sekali tidak memberikan manfaat apa-apa bagi kemajuan batin sebagai seorang pembelajar Buddhisme, membuat saya makin sombong dan jauh dari sikap loving-kindness, memperbesar ilusi ego merasa sebagai seseorang yang benar dan terkemuka. Amat bangga dengan kebuddhaan (baca: ketheravadaan) saya, tapi justru menjauhkan saya dari praktik kebuddhaan itu sendiri. Bertolak belakang banget!

Sampai akhirnya saya tiba di satu titik, menyadari bahwa perbedaan pemahaman dan kepercayaan memang tidak bisa dihindari, namun bersikap bijak dan manusiawi bisa dilakukan siapa saja. Di sisi lain, siapakah saya? Kok yakin sekali menentukan benar/kelirunya seseorang dalam mengerti Buddhisme? Toh saya sendiri juga belum mencapai kesucian, malah baru mendalami ajaran ini saat kelas 2 SMP.

Apa yang berhasil saya realisasi sejauh ini bila dibandingkan dengan… Dalai Lama? Jelas-jelas merupakan pemimpin tertinggi mazhab Tantrayana/Vajrayana, yang selama ini selalu saya lekatkan dengan label sesat!

Tradisi mematungkan Buddha saja berasal dari berabad-abad setelah kematiannya, apa terus saya harus mengambil martil dan memecahkan semua patung Buddha yang ditemui? Sama sekali tidak mencerahkan.

Hingga detik ini, saya masih seorang pembelajar Theravada. Saya tetap kurang cocok terhadap banyak hal dari mazhab-mazhab yang lain. Beberapa di antaranya:

  • Doktrin Adhi Buddha yang dulu pernah disebut sebagai tuhannya agama Buddha di Indonesia
  • Doktrin tubuh-tubuh metafisika Buddha sebagai objek permohonan
  • Harus bervegetarian supaya bisa mencapai pencerahan
  • Figur Amitabha dan Surga Sukacita yang abadi
Gambaran populer tentang takhta Buddha Amitabha dan surga Sukhavati dalam versi Tionghoa. Foto: ywsjt.blog.163.com
  • Figur Maitreya dalam versi yang beredar saat ini, dan institusi sub mazhabnya
  • Praktik berdoa dan memohon kepada para makhluk-makhluk suci
  • Praktik membaca mantra atau sutra berulang-ulang untuk mengikis karma buruk
  • Pengadopsian figur-figur dari kepercayaan Tionghoa termasuk Dewi Guanyin sebagai bagian dari kosmologi Buddhisme
  • Pengkultusan artefak sebagai benda-benda supersuci
  • Klaim Lu Shengyen sebagai Buddha hidup
  • …dan beberapa lainnya

Bigotry is everywhere. Ketidaksukaan dan kebencian terhadap perbedaan akan selalu ada di mana-mana, bahkan kepada sesama. Sebagai “takfiri” Buddhis, saya telah menjadi bigot kepada Buddhis yang lain. Begitu pula pada rekan-rekan muslim, umat Kristen dengan bermacam denominasi gereja, dan sebagainya. Keberadaan bigotry seakan alamiah, sebagai salah satu fase sebelum kedewasaan spiritual.

Pada akhirnya, kedewasaan spiritual itu bukanlah anugerah atau pemberian. Takarannya terlampau cair untuk dijadikan patokan bagi semua orang. Kesadaran dan penyadaran pun merupakan pengalaman personal, dengan tulisan-tulisan di buku maupun kitab suci sebagai pembentuk bingkainya. Setelah bingkai itu terbentuk, barulah bisa digunakan. Dipasangi sesuatu.

Dulu, saya pasti langsung gerah dan terganggu dengan patung Vajradhara dan Prajñaparamita. Menyebutnya sebagai simbol kesesatan dan penyebab kesalahpahaman.

Sekarang, saya lebih kepengin berkomentar: “keren!”

Selamat menjelang libur (yang bisa dibikin) panjang.

[]

Advertisements

650 Kata

Kapan terakhir kali Anda langsung tertidur pulas, kala tubuh sudah menempel di atas kasur?

Kapan terakhir kali Anda bangun dengan nyaman, tanpa langsung deg-degan dengan setumpuk kegiatan yang harus dilakukan?

Kapan terakhir kali Anda tersenyum pada diri sendiri, di hadapan cermin?

Kapan terakhir kali Anda tanpa sengaja merasakan lembutnya embusan napas, yang menyentuh ujung lubang hidung?

Kapan terakhir kali Anda hidup, untuk hidup?

***

Teringat salah satu poin dalam tulisan Ko Glenn; “Enough is Enough”. Saat generasi pekerja masa kini, merasa tenggelam dalam keletihan dengan mudahnya. Berbanding terbalik dengan perjuangan keras orangtua mereka dan orangtuanya orangtua mereka, yang bisa jadi jauh lebih memprihatinkan ketimbang saat ini gara-gara politik sanering, dipaksa eksodus besar-besaran karena keadaan, dan berbagai keterbatasan lainnya. Naga-naganya, saya adalah salah satu dari kelas pekerja yang mudah berkeluh kesah itu. Digenjot sedikit, sudah angkat tangan. Tapi enggan kalau belum mapan.

***

Hidup?

Melelahkan memang, hidup di masa yang serba materialistis seperti saat ini. Ketika kontradiksi tersaji setiap hari. Pertentangan terus terjadi antara keinginan dan beban. Antara harapan dan kenyataan.

Ajaran-ajaran moralitas mendorong semua pengikutnya untuk selalu bersyukur, berterima kasih atas segala berkah dan anugerah hidup, memetik hikmah dan nilai moral dari setiap peristiwa, benar-benar menikmati proses yang terjadi, serta selalu berpikir dan bersikap tenang dalam segala situasi. Sementara tuntutan hidup modern mendorong semua orang untuk tidak mudah merasa puas, tak pernah bercokol dalam zona nyaman, mengejar eksistensi diri setinggi-tingginya, fokus pada hasil, mesti selalu tertantang untuk melakoni moto “hari ini harus lebih baik dari kemarin, besok harus lebih baik dari hari ini, dan seterusnya”, menetapkan target-target pembuktian kesuksesan hidup berdasarkan anggapan umum, serta berambisi untuk mencapainya.

Semua tuntutan itu menempatkan kemiskinan dan kebodohan sebagai salah satu momok menakutkan. Hantu Blawu yang meninggalkan coreng-moreng memalukan. Benar aja sih. Siapa yang mau miskin harta dan kecerdasan? Termasuk orang-orang kelompok pertama sekalipun. Yang selama ini selalu dibiasakan untuk tetap mampu menjalani hidup, apa pun keadaannya, dengan prinsip: “ndakpapa miskin atau bego, yang penting bahagia, cukup, mau usaha, ndak ngemis, ndak maling.” Sebuah sikap batin yang sejatinya kaya.

Ditimbang-timbang, sebenarnya tak ada yang salah dari cara pandang keduanya. Sama-sama berfaedah bagi kesejahteraan batin maupun jasmani. Kesalahan hanya terjadi apabila anggota kelompok pertama malas berusaha, berpangku tangan pada keadaan, menjadikan nasib sebagai alibi. Kemudian, kesalahan dilakukan orang-orang kelompok kedua bila menggunakan segala cara untuk melancarkan tujuannya. Mencederai kepatutan, tidak memberikan ruang hati untuk simpati sama sekali. Terkenal dengan celetukannya: “di dunia ini cuma ada dua keadaan: mengalahkan atau dikalahkan!”

Terserah Anda, ingin menjadi bagian dari kelompok pertama yang relatif tampak lebih adem ayem, atau menjadi bagian dari orang-orang yang cenderung gelisah mengejar keberhasilan. Barangkali ada yang tertantang berpindah, dari kelompok pertama menjadi kelompok kedua. Karena bekerja terlalu gontai. Ataupun ada yang tersadarkan untuk menjalani hidup yang lebih tenteram. Karena selalu tegang. Kendati pada kenyataannya, ada banyak orang yang hidupnya memang terkesan seimbang. Berkecukupan, namun tetap mampu selow berkehidupan. Apa rahasianya? Entahlah. Langsung tanya mereka saja.

Lalu, apa tujuan dari tulisan ini? Sejujurnya, saya ndak tahu pasti. Setiap orang punya kehidupannya masing-masing. Lengkap dengan daftar tanggung jawab dan hak yang semestinya tidak boleh diintervensi, apalagi dihakimi. Sebab semuanya dibarengi dengan konsekuensi.

Yang pasti, tulisan ini tidak dibuat seolah untuk menjadi pelepas dahaga di tengah gurun kekeringan, penyegar iman di tengah badai keraguan, penguat keyakinan di tengah kabut ketidakpastian. Ini hadir sebagai jeda dari hiruk pikuk hari Rabu Anda pekan ini, mengisi waktu saat berada di dalam kendaraan umum, pengalih pandangan dan perhatian dari segudang agenda kerja, estafet rapat dengan orang-orang asing, maupun setumpuk dokumen yang perlu Anda input dalam kolom-kolom Excel. Toh, setiap orang punya masalahnya sendiri-sendiri, kan? Jadi agak kurang elok rasanya, bila tulisan ini dibuat untuk sok menasihati. Anda–yang baca, saya yakin juga sudah cukup dewasa untuk bisa berpikir sendiri. Dan itu adalah satu-satunya fakta yang kerap Anda lupakan, dan dimanfaatkan para motivator. Hehehe…

***

Ke dermaga mencari peti,

Peti dibuka, isinya kedondong.

Jangan drama jalani hari,

Biar enak, senyum dulu dong.

[]

My Best Friend’s Wedding

Judul tulisan ini memang mirip dengan film komedi romantis yang dibintangi Julia Roberts dan Cameron Diaz di tahun 1997. Judul yang generik sebenarnya, karena kalimat itu bisa saja mengacu pada keadaan yang sebenarnya, yaitu pernikahan sahabat kita. Dan memang hal itulah yang berkecamuk di pikiran saya dalam beberapa hari ini, yang sempat membuyarkan segala konsentrasi dalam pekerjaan, maupun keharusan menulis di linimasa ini.

Teman saya, Agee, akan menikah besok.
Tidak ada kata “akhirnya” di kalimat itu, meskipun keputusan menikah dicapai setelah mereka pacaran selama 9,5 tahun.
Sembilan setengah tahun. Angka yang saya ucapkan berulang-ulang dalam hati with a great disbelief. Apalagi karena saya harus membuat pidato singkat kepada mereka di acara sakral tersebut.

Mungkin berita ini terkesan sepele. Pernikahan, batal menikah, perceraian, batal bercerai, semuanya menjadi santapan kita sehari-hari. Saya pun sebenarnya ingin memilih sikap tak acuh seperti itu, kalau saja tidak ingat bahwa selama hampir satu dekade itu, saya selalu berada di sisi calon mempelai perempuan ini dengan segala “drama” yang ada.

Misalnya, melihat dia menangis nonton Star Wars Episode III di bioskop, sementara penonton lain tegang melihat Ewan McGregor dan Hayden Christensen adu pedang, karena dia beradu mulut dengan pacarnya sebelum film mulai di lobi bioskop.
Terisak-isak di tengah Shrek 3 karena terima SMS “it’s over!”, tapi jauh sebelum sekuel film itu dibuat, eh sudah jadian lagi.

Sempat saya bilang, “Kalau saja kamu dan pacarmu adalah film, ini mungkin lebih buruk dari film A Lot Like Love itu.”
Dia hanya terkekeh, dan bilang, “It’s different, babe. My life, this real life, is very much boring. I stick to one man for the past decade, because I want to spend my life with him. That’s all I know. I don’t quit. I make it work.

Mungkin dalam konteks film komedi romantis, karakter ini bisa kita temui di karakter Jules dalam My Best Friend’s Wedding, atau seperti peran Jennifer Aniston dalam The Object of My Affection (dan sebenarnya, hampir semua peran Jennifer Aniston di film-film lainnya).
Bedanya, karakter di film, apalagi rom-com, hanya mengalami temporary blindness alias “keblaen” dengan karakter lain hanya selama 2 jam, tapi dalam kehidupan nyata, perseverance and persistence can last a lifetime.

Dan dua sifat itulah yang akhirnya membedakan apa yang kita lihat di layar, dan apa yang kita jalani sehari-hari.
Sementara saya menjadi penonton pasif setia film-film di atas yang dengan niat mengumpulkan alamat tautan, kutipan dialog dan lagu soundtrack satu per satu untuk tulisan ini dan playlist di iPod, Agee dan orang-orang lain memilih menjadi sutradara untuk kehidupan mereka. Paling tidak, menulis skenario yang menjadi panduan sampai ke ending.

Cerita real life ini akan jauh berbeda dari reel life yang kita lihat di layar besar atau kecil.
Tidak ada musik latar yang mengiringi mereka ciuman sambil terburu-buru menghabiskan sarapan di pagi hari. Tidak ada editor yang tiba-tiba memotong adegan pertengkaran di malam hari. Tidak ada penata rias yang membuat orang tetap terlihat cantik dan ganteng tanpa bekas iler saat bangun tidur.

Tetapi bagi Agee, dan siapapun yang akan bersumpah untuk saling setia sehidup semati di hari ini, akhir pekan ini dan waktu-waktu yang akan datang, who cares?

After all, a lifetime begins when two people say “I do”.

A template for romantic comedy poster.
A template for romantic comedy poster.

“Ini Bukan Ngomongin TV yang Sembiring Lho …”

… tapi tulisan ini ngomongin TV yang merupakan singkatan dari “televisi”.
Gak punya TV? Tapi punya komputer atau laptop ‘kan?

Soalnya jaman sekarang, kita yang bisa baca blog ini gak perlu TV beneran buat nonton acara TV. Kehadiran layar TV bisa diganti dengan laptop.
Yang penting adalah ada koneksi internet untuk mengunggah atau download serial TV, dan harddisk untuk menyimpan file hasil download serial TV itu.

Gak percaya?

Gak perlu jauh-jauh kalo masih in denial.
Buka Twitter atau Path atau socmed yang Anda buka setiap 2 jam sekali.
Pasti komentar-komentar seperti ini sering kita jumpai:

“Perhatian! “Game of Thrones” episode 2 season 4 sudah tersedia di lapak terdekat.” (Lapak artinya situs buat download torrent episode yang dimaksud. Apa itu torrent? Tanya ke yang bikin status itu aja.)

“Payah nih. “Suits” kok cepet banget sih abisnya season ini? Gak ada tujuan hidup lagi sekarang.” (Gak usah keburu bersimpati. Udah move on kok 6 jam kemudian karena dapet serial lain.)

“Aduh, mas Harry! Mas Harry! Bikin menggelepar ini. Pengen lari-lari ke pantai ama mas Harry!” (Sempet kepikir, perempuan-perempuan ini kok ya segitu ngefans ama Harry tetangga saya. Kenal juga enggak. Ternyata ini nama karakter di serial “Mistresses” yang hobinya gak pake baju.)

Berbagai celetukan di atas ini semakin memperkuat banyak pendapat analis, kritikus sampai pelaku bisnis TV di luar Indonesia tentang masa keemasan program televisi yang kita alami saat ini.
Rata-rata memuji tentang kekayaan cerita dan karakter di serial-serial TV yang njelimet, gak plek-plek baik terus, bisa berbuat jahat untuk kebaikan (anti-hero complex), dan yang jelas, bikin kita betah dan penasaran untuk mengikuti setiap episode.
Malah ada tulisan James Wolcott dua tahun lalu di Vanity Fair yang terang-terangan bilang kalo “TV is Better Than Movies”.

Oh, really?

Mari kita kesampingkan sejenak perdebatan tak kunjung habis itu.

Mari kita ketemu Wawa, teman nonton di bioskop dulu, jaman masih agak mudaan.

Setiap kali ketemu yang cuma setahun sekali, kita sering ngobrol ngalor-ngidul, dan salah satunya saling update tentang film terakhir yang ditonton.
Kebetulan karena tempat tinggal saya dekat dengan bioskop. Tinggal jalan kaki 10 menit, maka saya masih bisa menyempatkan diri untuk nonton film-film terbaru.

“Kalo elo, Wa?”

“Udah gak inget, Val. Udah lama banget.”

“Oh, gitu. Kalo TV series, Wa?”

Tiba-tiba mukanya cerah ceria, sumringah luar biasa.

“Iya, Val! Gue ngikutin “Breaking Bad” kemarin. Wah, edan! Seru banget. Trus “24” yang baru juga seru. Kadang nemenin Nisa (istrinya) nonton drama-drama kayak “Downton Abbey” gitu, eh malah gue ketagihan juga nontonnya. Hahaha.”

“Hah? Busyet. Elo jadi suka nonton serial gitu, Wa?”

“Soalnya anak gue ‘kan masih kecil. Di rumah gak ada pembantu, jadi abis kerja ya langsung pulang ke rumah bantuin istri. Makin males pergi-pergi ke luar. Apalagi kalo hujan, macet. Dan mahal.”

Deg.
Kalau sudah menyangkut masalah uang dan waktu, pemikirannya jadi lain nih.
Lalu saya iseng berhitung a la kadarnya.
Lokasi bioskop kebanyakan ada di dalam mal atau pusat perbelanjaan. Masuk ke mal, perlu parkir. Perlu waktu untuk cari spot dan keluar dari parkiran pas pulang lalu perlu uang untuk bayar parkir.
Mumpung di mal, sekalian belanja yang perlu dibeli, kalau emang perlu dan belum ngomongin belanjaan lain hasil kalap mata, atau sekedar hangout.
Harga tiket film di bioskop 50 ribu buat satu orang. Satu keluarga 200 ribu. Parkir bisa 20 ribu, belanja dan lain-lain bisa 1 juta.
Waktu nonton satu film 2-3 jam, ditambah cari parkir dan keluar dari tempat parkir 30 menit, lalu waktu untuk belanja ditambah 2-3 jam lagi. Itu belum kalo kena macet.

Sementara televisi?
Anda mau mandi atau gak mandi, bebas.
Tinggal pake kaos longgar, celana pendek, cemilan satu keranjang, colokin external harddisk ke TV, beres. Kapan aja mau marathon serial, bebas.
Dan bisa nyalain smartphone secara bebas, buat update reaksi per episode, atau sekedar pamer.
“Aduh, besok pagi-pagi meeting, tapi gimana ini, tanggung banget “House of Cards” gak bisa berhenti!”
Lumayan, dapet icon ketawa dan lope-lope dari temen-temen di Path.

Tapi lebih dari sekedar update status di jaringan media sosial, ketergantungan kita dengan smartphone dilirik dengan cantik oleh Hollywood. Lihat saja akun twitter @ScandalABC atau @AskScandal.
Setiap episode serial “Scandal” ini ditayangkan pertama kali di Amerika Serikat, maka seluruh aktor dan aktris yang terlibat di episode itu akan berinteraksi langsung dengan pengguna Twitter.
Apa yang dibahas? Setiap dialog di setiap adegan. Kedua akun itu pun menyebutkan merek baju dan aksesoris yang dipakai. Spoiler pun dibahas terang-terangan.
Gak mau dengerin spoiler? Mereka pun kasih peringatan. “Stay off Twitter now!”
Tapi ya namanya juga manusia, makin dilarang, makin penasaran. Tetep aja serial ini jadi salah satu serial paling banyak ditonton dan direkam di Amerika Serikat tahun lalu.

Sementara itu, di perhelatan Emmy Awards minggu lalu, saya tergelitik dengan monolog pembawa acaranya, Seth Meyers. Ini katanya:

“That’s what I love about television. She doesn’t play hard to get. She doesn’t demand your full attention. Television has always been the booty-call friend of entertainment. You don’t have to ask TV ‘you up?’ TV is always up. She’ll happily entertain you while you cook dinner or wrap your Christmas presents. She’s not like that high-maintenance diva movies who expects you to put on pants and drive all the way over to her house and buy $40 worth of soda. So thanks anyways, movies, but I’m sticking with TV.”

 

Dear Seth, can we stick to both?

Because we actually can.