Written by

MELIHAT – merasa – menyadari – hening, yang bukan diam karena tidak tahu harus bagaimana dan mengapa, melainkan karena cukup tahu untuk sebaiknya tidak ngapa-ngapain dulu.

Dunia dan kehidupan kita tidak akan pernah surut dari perubahan. Setahun dua yang lalu kita mungkin merupakan seseorang yang reaktif, menggebu-gebu, excited, entah karena berkumpul dalam keramaian atau cuma excited sendiri, dan sekarang kita menjadi seseorang yang cenderung pendiam, masih bisa bergabung dalam keramaian untuk sekadar dikenali sebagai seseorang bukan menjadi si pusat perhatian, mulai dianggap meng-introver (bertindak seperti seorang introver, yang menunggu trigger tepat untuk bisa kembali menunjukkan kepribadian sediakala).

Lalu kita ngeuh; “Oh, iya, kenapa sekarang begini, ya?

Ada yang belajar dari pengalaman, yang menyenangkan maupun tidak. Ada yang menjadi apatis, sudah menggembar-gemborkan energi mental lengkap dengan ekspektasi tetapi seringkali tidak berbuah sebagaimana mestinya. Dan ada yang merasa capek. Sudah cukup, enggak dulu, makasih.

Aktivitas fisik membuat kita capek badan. Dengan bekerja, capeknya bertambah ke pikiran. Sebagai makhluk yang hidup tunduk pada dunia, kita harus bekerja untuk bisa berpenghasilan. Bagi mereka yang belum bekerja, tetap harus bersekolah atau berkuliah, magang, pelatihan dan sejenisnya.

Capek atau kelelahan badan dan pikiran karena aktivitas mata pencarian ini dianggap lumrah. Karena hidup enggak akan bisa semulus pipi bayi jika tidak diupayakan oleh diri sendiri maupun orang-orang di sekeliling kita. Kecuali kita menjadi parasit atau benalu bagi yang lainnya.

Tapi, seringkali capek ini kita perparah sendiri dengan terlalu fokus memerhatikan bahkan mengurusi kehidupan orang lain.

Tanpa kita sadari, energi dan stamina yang kita dedikasikan untuk memerhatikan kehidupan orang lain seperti tong air yang bocor tipis; malah lebih banyak ketimbang energi dan stamina yang mestinya kita gunakan untuk bekerja dan menjalani kehidupan sebagai sebaik-baiknya individu.

Sumber daya kita dikorupsi oleh pilihan kita sendiri.

Memerhatikan dan mengurusi kehidupan orang lain itu bukan sekadar melihat dan bersikap cukstaw. Kita seringkali dengan sengaja nyemplung dan mengorek-ngorek timbunan buangan kehidupan orang lain. Capek.

Mengapa disebut buangan? Karena sesuatu yang laiknya berharga pasti akan disimpan baik-baik, bahkan disembunyikan dari terekspose kepada orang banyak, kalau memungkinkan. Jadi semua perkara yang seseorang tunjukkan, sampaikan, dan bisa dijangkau oleh orang lain bisa dianggap setengah sampah. Mungkin ada gunanya, tapi entah, dan bukan sekarang.

Kemudian dari sekolam timbunan buangan tersebut, kita merasa “bersemangat” untuk memipili, dipilah dan dicopot satu demi satu untuk selanjutnya ditampilkan ke permukaan sambil berteriak: “AHA!”

Excitement yang semu.

Kita, orang-orang, atau siapa saja yang barangkali baru saja dikecewakan oleh hidup akhirnya menyadari bahwa capek setelah menyelam dan mengorek sebagian kecil aspek kehidupan seseorang ternyata enggak benar-benar memberikan faedah.

Cuma, brengseknya, sudah bagus kita berkomitmen untuk fokus membenahi diri sendiri, eh, hunjaman ampas-ampas kehidupan orang lain, bahkan yang asing sekalipun, ditumpuk mentah-mentah di depan muka kita lewat … media sosial.

Capek karena terlalu banyak memerhatikan dan mengurusi kehidupan orang lain yang kebetulan agak kita kenal, mendadak berganti dengan capek tanpa sadar banyak memerhatikan kehidupan orang lain di layar gawai. FYP, sorotan, jangkauan luas, ndasmu gimbal!

Melihat – merasa – menyadari – hening.

Saya masih bolak-balik di antara fase melihat dan merasa, belum benar-benar mampu beranjak ke menyadari. Kadang tipis-tipis. Karena capek, dan ingin bisa mengalihkan energi, stamina, dan perhatian ke perkara yang lebih penting lainnya, yang bisa benar-benar saya usahakan sendiri.

[]

Tinggalkan komentar