SENANG masih bisa dan berkesempatan untuk kembali menulis di sini. Karena itu artinya:
- Saya masih relatif sehat, jasmani dan rohani, dengan pikiran yang cukup lincah memilin narasi, jari-jari yang mampu menekan kunci kibor lawas agak keras dengan sedikit bercak daki, serta hati yang terasa ringan lantaran melihat Mas Roy sempat menulis lagi, dua kali;
- Saya masih relatif leluasa dalam menjalani musim hidup akhir-akhir ini. Leluasa karena memiliki waktu cukup luang untuk iseng menulis, tidak melulu pusing tujuh keliling memikirkan harus mencari uang dari mana dan bagaimana lagi – sesuatu yang dampaknya lebih dekat dengan urat nadi;
- Saya masih relatif memiliki dan bisa mengeksekusi ilusi batin bernama kehendak bebas. Sebuah privilese, mestinya.
Kembali menulis di sini menegaskan tiga hal di atas. Urusan-urusan yang semestinya membuat saya kembali dan terus bersyukur atas keadaan pribadi dalam hidup ini.
Sampai akhirnya malah terasa … egois, kalau perspektif yang sama dipakai melihat sejumlah perkara di Indonesia.
Ya, itu, tadi, privilese yang ilusif.
Saya bersyukur karena masih merasa sehat, sementara banyak yang tidak sadar sedang dibuat sakit oleh lingkungan sekitar dan kehidupannya. Terutama sakit pada jiwa.
Saya bersyukur karena masih merasa menikmati keleluasaan dalam hidup, sementara banyak yang terpaksa harus terhimpit kenyataan tanpa ada peluang untuk benar-benar memperjuangkan kelegaan.
Saya bersyukur karena masih merasa memiliki kebebasan berkehendak, sementara di sana banyak yang justru mengeksploitasi kehendaknya untuk melukai dan mencederai orang lain.
Dengan menulis begini bukan berarti saya menyarankan untuk berhenti bersyukur atau bersyukur diam-diam. Karena dengan berteriak menyuarakan ketidakadilan dan protes pun tetap akan terasa tidak pantas; meneriakkan perlawanan dalam kenyamanan. Malu hati terhadap mereka yang sungguh-sungguh digencet kekuasaan.
Anggap saja dengan menulis lagi di sini hari ini, saya kembali melatih diri untuk belajar mensyukuri hidup dalam lingkaran kemampuan sendiri. Kita hanya mampu memilih satu hal untuk diperjuangkan, tatkala hidup dan kehidupan menghujani kita dengan segudang tantangan, masalah dan kendala.
Jadi, mohon maaf dan izinkan saya untuk merasa senang berkesempatan menulis lagi di sini, karena setidaknya saya bisa diingatkan untuk bersyukur kembali.
Selamat hari raya Nyepi.
Selamat menyambut Lebaran.
Selamat memulai libur panjang.

Tinggalkan komentar