Written by

AUTENTIK pada masanya untuk berpikiran bahwa hidup itu riuh, harus ramai, penuh ingar-bingar dan kebisingan keseharian. Lalu, keberisikan itu pun seolah-olah menjadi tujuan, aspirasi yang ingin dicapai sebagai penanda “hidup” dan adanya “kehidupan” yang bergulir.

Sedari bangun tidur, memulai aktivitas rumahan, berangkat ke tempat kerja atau memulai usaha untuk mendapatkan pekerjaan, berdesakan dengan orang lain dalam armada pengangkut apa pun jenisnya, bergulat dengan tugas dan tantangan sepanjang hari, mengambil jeda lelah sambil terus berupaya menguatkan diri agar sanggup “hadir” sampai akhir hari, ditipu kehidupan, berusaha menipu kehidupan … semuanya bising. Atau harus dibuat bising.

Bahkan banyak dari kita yang secara tidak sadar maupun lantaran terindoktrinasi harus bisa sebising mungkin. Dan kerap, saking tenggelam dalam kebisingan keadaan maupun yang kita–berusaha–ciptakan, kita kebingungan sendiri. Kita tersesat dalam keberisikan yang berkumpul, bertambah, mendera dan berlalu secara terus-menerus.

Hidup tentu memerlukan sumber daya dalam segala bentuk dan macamnya. Menghindari bising secara total? Mustahil! Semustahil menyelubungi matahari dengan seprai bekas.

Jadi, apa yang bisa kita lakukan?

Setiap orang dalam hidupnya masih sedang berada dalam fase yang berbeda. Ada yang baru dan masih belajar tentang bagaimana menjadi bising yang efektif dan efisien, ada yang sedang mencoba mengganti seperangkat kebisingan yang telah diakrabinya sekian lama dengan yang baru. Tidak sedikit pula yang baru menemukan bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara dua atau lebih gelombang keberisikan hidup yang terjadi silih berganti dan barangkali tengah meraba-raba cara untuk bisa “mendengar” ruang jeda tersebut. Sedikit di antara kita, mungkin termasuk langka adalah mereka yang bisa “mendengar” melampaui kebisingan; memiliki karsa untuk membentuk ruang hening, setidaknya untuk dirinya sendiri.

Karsa hening bukan sekadar menutup ruang dengar, memblokade segala keberisikan yang ada dan bisa terjadi, bukan menolak untuk terpapar, bukan mengasingkan diri, bukan memotong dan mematikan indra pendengaran.

Karsa hening adalah kemampuan dan kemauan untuk tegar, tak terpengaruh serta tak memengaruhi kebisingan yang telah, sedang, akan terjadi. Termasuk, tidak goyah saat kita sedang dihakimi lewat keberisikan orang lain.

Kita, atau saya, mungkin saat ini masih dalam fase bergembira ria berenang dangkal dalam kolam bising yang sedang saya tempati. Seringkali kehilangan seimbang diri, berulang kali kepeleset dan berakibat lecet di dengkul, siku dan bagian-bagian tubuh lain. Berisik, berisik, berisik, mengaduh, berteriak, bersorak, terkaget-kaget dengan dentuman keberisikan orang lain dan segala rupa yang berasal dari luar diri.

Mungkin akan, atau belum, berkemampuan atau berkesadaran untuk berdiri lebih tegak, dan beranjak demi bisa menghargai bahwa dalam keheningan pun bisa berarti kehidupan.

Menjaga daya hidup dalam hening.

[]

Tinggalkan komentar