Pernah mendadak melamun saat mendengarkan lagu?
Saat nada mulai mengalun, mungkin baru bagian intro saja dan belum terdengar lirik, sontak kita terpaku. Kita bisa tiba-tiba tersenyum, atau malah diam-diam menangis, saat lirik lagu mulai terdengar.
Pernah mengalami hal di atas ‘kan?
Beberapa waktu lalu, saya lupa persisnya di platform media sosial apa, saya menemukan tulisan singkat yang kurang lebih mengatakan seperti ini: “Tindakan paling bahaya yang pernah orang lakukan, adalah menyematkan kenangan pada lagu.”
Reaksi saya spontan tertawa membaca tulisan itu, karena yang saya rasakan justru sebaliknya. Sungguh menyenangkan kalau kita bisa memberikan kenangan tertentu pada satu atau beberapa lagu. Kenangan yang bisa berupa kejadian, atau persona dari orang-orang yang pernah hadir di dalam kehidupan kita.

Lagu atau musik, dan juga hasil karya seni lain seperti film, lukisan, foto atau obyek seni lainnya, sering kali mewakili perasaan kita yang tidak bisa kita telaah dan jabarkan secara gamblang lewat tulisan atau kata-kata. Kalau sebuah lagu atau musik sudah menyentuh hati secara abstrak lewat spektrum emosi, acap kali otak jadi kelabakan untuk menelaah secara runut mengapa sebuah karya bisa mewakili perasaan.
Meskipun saya suka menulis surat, kadang kala tak cukup kata-kata yang bisa saya tulis untuk mendeskripsikan perasaan saya terhadap orang yang saya sukai.
Jauh sebelum streaming music platforms menjadi hal yang biasa kita gunakan sehari-hari, jauh sebelum internet hadir, saya akan membuat kompilasi lagu-lagu yang bisa mewakili perasaan saya. Kompilasi ini saya buat dalam bentuk kaset. Sumber lagu-lagunya dari radio. Begitu kaset 60 menit penuh terisi lagu-lagu yang saya anggap pas, saya akan menulis judul masing-masing lagu dengan tulisan tangan di sampul kaset. Kalau perlu, saya gambar secara khusus, atau ditulis dengan gaya huruf yang kesannya “romantis”.
Dari kaset, lalu naik kelas ke compact disc (CD). Metodenya sama, mengumpulkan lagu-lagu yang membuat saya melamun tentang orang tersebut, membayangkan hari-hari indah kalau kita jadian, padahal yang ditaksir belum tentu suka sama kita.
Setelah era memiliki musik secara fisik meredup, saya masih membuat beberapa playlists di streaming music platforms yang ada. Bedanya, kalau dulu saya sering membuat saya playlists untuk beberapa orang yang dituju, kali ini saya lebih sering membuat playlists untuk beraktivitas, atau sekadar membuat suatu momen menjadi memori.
Misalnya saja, karena saya suka jalan kaki atau jogging, cukup banyak beberapa playlists yang saya buat untuk kebutuhan ini. Atau kadang saya juga membuat playlists untuk sekadar menemani membaca.
Kadang-kadang saya menelusuri lagi beberapa playlists lama yang pernah saya buat. Kalau playlists yang dibuat untuk menemani beraktivitas, biasanya tidak ada rasa tertentu. Kalau memutar lagi playlists lama yang pernah saya buat untuk orang-orang tertentu, kadang-kadang saya jadi tersenyum sendiri.
“Kok bisa ya, dulu suka sama lagu ini?”
Lalu ujung-ujungnya, pertanyaan ini berekor pada pertanyaan lain, yaitu, “Kok bisa ya, dulu suka sama dia?”

Setelah bertahun-tahun, saya sadar, bahwa sometimes we outgrow our memories. Semakin kita bertambah umur, semakin kita bertambah pengalaman dan pemahaman akan hidup, ada beberapa bagian dalam masa lalu kita yang ternyata sudah tidak menjadi bagian penting lagi dalam hidup kita. Contoh kecil, beberapa lagu dalam playlists kita yang kita buat beberapa belas atau puluh tahun lalu. Mungkin kalau kita dengarkan sekarang, perasaan kita sudah berbeda. Atau sudah tidak ada lagi perasaan tertentu terhadap lagu-lagu itu.
That is okay. Time changes, we grow up, our feelings evolve, and our memories are in greater distances from us every time.
Sekitar sebelas tahun lalu, kalau saya mendengar lagunya Tulus “Jangan Cintai Aku Apa Adanya”, saya akan langsung “meleyot”. Sekarang? Biasa saja. Demikian juga kalau mendengar lagunya Justin Timberlake yang judulnya saya lupa, saya langsung mematikan, karena lagu itu pernah di-post mantan saya di Path untuk pacar barunya waktu itu. Sekarang? Biasa saja. Malah mendengarkan ulang lagu-lagu ini sambil senyum-senyum, karena mengingat tingkah laku diri sendiri waktu itu.
We outgrow our feelings and memories.
Jadi saya tidak pernah takut untuk menyematkan kenangan tertentu atau imajinasi saya terhadap orang tertentu terhadap lagu atau musik yang kita dengar. Biarkan ada sekeping memori baik dalam suatu karya yang masih bisa kita nikmati sampai kapan pun nanti.
Karena nanti kita bisa senyum dan bergumam, “I live a good life, don’t !?”
Dan kalau saya ingin memotret perasaan saya saat ini, mungkin ini playlist-nya.
Tinggalkan komentar