PERTANYAAN ini barangkali masuk kategori purba; sudah berulang kali dipertanyakan dari dulu tapi tak kunjung definitif jawabannya.
Secara internal, saking luas dan beragamnya budaya yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air, kita tidak akan pernah bisa menunjuk satu sampai lima masakan dan penganan yang secara konsensus bisa digelari sebagai “makanan khas Indonesia”. Jangankan yang senegara, yang satu pulau saja pun tidak gampang untuk sepakat soal ini.
Contohnya soal Pempek dari Sumatera bagian selatan. Jika kita menggelari Pempek sebagai makanan khas Indonesia, warga di pulau Kalimantan, Sulawesi, Papua dan Jawa mungkin bisa protes dan mengajukan makanan populer khas daerah mereka masing-masing.
Jangankan lintas pulau, Pempek Palembang (yang selama ini lebih dikenal di seantero negeri) saja tergolong berbeda aliran dengan Pempek Jambi yang, CMIIW, bertekstur cenderung lebih empuk karena komposisi daging ikannya yang lebih banyak.
Bayangkan saja perdebatan serupa untuk Sate, Soto, Lontong Sayur, Sayur Asem, Ketan Bungkus, Lepat, Lemang dan lain sebagainya.
Namun, saya baru ngeuh kalau sebenarnya lain konteks, lain pula pendekatannya. Jika perdebatan di dalam negeri mustahil berkesudahan, akan berbeda ceritanya ketika kuliner Indonesia dibawa dan dipasarkan ke luar negeri. Bisa dipersempit dan menjadi semakin fokus.
Pencetusnya dari sini, nih.
Waktu mampir dan lihat pameran kuliner bulan lalu, ybs yang merupakan seorang celebrity chef finalis MasterChef setempat lagi sesi masak-masak sesuatu, lah, singkatnya.
Ybs yang adalah seorang keturunan Vietnam demo masak sambil sesi interaktif dengan penonton. Tibalah saat menjawab pertanyaan seorang anak kecil tentang “apa, sih, makanan Vietnam kesukaanmu?” Khanh Ong setidaknya menyebut dua atau tiga nama masakan dan kudapan yang semuanya terdengar asing. Tidak pernah tahu atau lihat sebelumnya. Salah satunya, kalau enggak salah dengar, adalah Bánh bò nướng atau Vietnamese Sweet Pancake, yang dari tampilannya seperti adonan tipis kue Terang Bulan (iye, iye, … Martabak Manis) dan disantap dengan sangraian kelapa serut.
Selama ini kita tahu bahwa makanan khas Vietnam adalah Phở (dibaca: fe) yang sederhananya adalah mi kuah dengan irisan daging sapi mentah (yang kemudian akan matang setelah terendam kuah kaldu panas) pakai mi beras agak lebar, atau selain itu juga ada Bánh mì, roti lapis dengan bahan utama baget Vietnam yang kadang saking gede bentukannya, garing (dan keras) permukaannya bisa bikin sudut bibir tergores dan luka. 😅
Sudah, paling dua itu doang. Tapi, meskipun, atau justru karena yang terkenal hanya dua itu doang, orang-orang non-Vietnam dan warga internasional pada umumnya langsung mengenali bahwa makanan khas Vietnam adalah Phở dan Bánh mì.
“Eh, gue pengin makan makanan Vietnam, nih. Bánh mì, yuk!“
Phở Vietnam Selatan dan Vietnam Utara saling berbeda. Versi selatan disajikan pakai taogether dan beragam daun hijau segar, sedangkan versi utara paling-paling hanya ada daun bawang yang ikut disiram kuah panas sampai layu.
… dan karena dua jenis makanan ini sudah identik dengan kuliner Vietnam, restoran Vietnam, di mana saja, pasti setidaknya menjual Phở dan Bánh mì sebagai menu utama, atau yang dikenali. Apakah mereka menyediakan menu lainnya? Tentu saja ada, kayak Bò Lúc Lắc (daging sapi tumis) maupun Broken Rice, tetapi gambarnya seringkali kalah gede dibanding mi kuah yang lebih mudah dikenali dari kejauhan.
Dengan pendekatan yang demikian, terkhusus ditujukan untuk mempopulerkan masakan Nusantara di luar negeri, kira-kira bisakah kita sepakat apa saja masakan yang masuk dalam kategori unik dan mudah diidentikkan dengan Indonesia?
Sate? Mungkin. Karena meskipun restoran Malaysia juga menjual Satay, mereka tetap lebih terkenal dengan Nasi Lemak atau Nasi Kandarnya.
Nasi Goreng? Ini agak dilematis, sih. Restoran Malaysia, Singapura, bahkan Sri Lanka juga menyajikan “Nasi goreng-styled fried rice”-nya masing-masing.
Pempek? Wah, agak susah, ya. Susah dibuat karena enggak setiap negara atau kota punya pasokan ikan air tawar yang karakteristiknya cocok dijadikan Pempek. Walaupun sebenarnya Pempek punya potensi karena bersaing dengan Fish Cake Thailand yang isinya kopong maupun Otak-otak Malaysia yang relatif manis.
Soto? Punya potensi. TAPI … Soto versi mana dulu? Soto Ayam biasa yang kuahnya kuning agak bening pakai bihun atau sohun dengan nasi disajikan terpisah dan bumbu instannya tersedia di swalayan Asia itu, atau kah ada versi spesifik Soto lainnya yang cenderung lebih mudah dimasak dan memiliki karakteristik rasa unik sehingga membuatnya outstanding, dan membuat orang non-Indonesia bisa bilang: “Yup, I know Soto, it’s an Indonesian dish, right?“
Yakin kah Soto? Nasinya dicampur atau dipisah? Apakah itu bukan Sop? Sop Ayam atau Sop Buntut? Atau Sop Iga, lantaran daging dan tulang buntut kebanyakan enggak dianggap bahan makanan berharga dalam kuliner barat? Atau malah Misop seperti di Medan, yang mungkin bisa mirip Phở karena berbahan dasar mi dan kuah kaldu beserta isinya? 🤣
OH! Apa mending Bakso aja? Cukup mudah disantap karena semua ada dalam satu mangkuk. Baksonya pun berbeda dengan Italian meatball karena cenderung lebih halus. Iya, tampaknya Bakso bisa jadi makanan yang identik dengan Indonesia. Cukup outstanding.
Cukup ringkas untuk dinikmati secara utuh tanpa berset-set pelengkap layaknya ketika kita makan Penyetan, karena harus ada nasi, lauk yang digoreng atau dibakar, dan sambal untuk menjadi hidangan yang lengkap. Untuk orang yang tidak bisa mengkonsumsi pedas berarti hanya bisa makan nasi dan ikan/ayam/bebek goreng/bakar, dan berasanya begitu saja. Kurang mantap kesannya.
Ya, kurang lebih demikian. Obrolan virtual kita bermuara pada bakso. Tapi enggak menutup kemungkinan nanti muncul lagi pertimbangan lain untuk memastikan jawaban dari “apa sih makanan khas Indonesia (di luar negeri)?”
[]
Maaf, masih belum bisa upload foto. Jadi cukup dibayangkan saja tampilan dan rasanya. Hehe! Dan tulisan Linimasa kali ini dipersembahkan untuk yang berulang tahun hari ini. Panjang umurnya serta mulia!

Tinggalkan komentar