DULU, waktu masih bujangan (bukan bajingan, … atau bujangan bajingan?) mana pernah saya terpikir kalau urusan masak-memasak bisa jadi sebegitu stressful terutama bagi yang melakukannya. Karena bukan cuma aktivitas memasaknya saja, di situ ada proses perencaan, berhitung bujet, pengaturan waktu supaya sempat berbelanja bahan, sempat memilih bahan yang baik dengan harga yang masuk akal, keburu masak dengan timing yang pas, yang berarti tidak ngebut dan gelagapan, masakan pun terhidang sebelum diri sendiri maupun hadirin hadirat sekalian telanjur kelaparan.
Nah, sebagai bujangan yang juga perantauan, yang pergi pagi ke kantor dan pulang selewat magrib, kalau mau makan, ya, tinggal beli. Dua faktor utamanya adalah rasa dan harga. Rasanya enak, harganya rada tinggi, masih oke. Kalaupun rasanya biasa-biasa saja, setidaknya jangan mahal-mahal amat lah. ~Masih ingat banget, bisa dapat seporsi makan siang dengan dua lauk, ikan atau ayam dengan sayur, dan teh tawar hambar hangat gratis antara Rp10 ribu-Rp15 ribu.~ Kalau bisa juga (kesannya) seimbang, ada sayur dan protein. Walaupun biasanya kalau beli makan/makan di warung nasi, Warteg atau Warsun sekitar kantor, sayur-sayuran lauk entah masih ada kandungan nutrisinya atau cuma tinggal serat doang.
Sekarang, dalam kondisi hidup beberapa tahun terakhir ini, rasanya agak kurang bijak kalau makan siang dan malam tidak dimasak sendiri. Belum tentu juga rasanya kebeneran di lidah. Jadi lebih banyak terpapar dengan perkara yang sangat amat disepelekan di lingkungan yang patriarkis seperti … pretty much everywhere.
Saya tinggal berdua. Masing-masing punya preferensi kuliner yang berbeda, dan tentu saja karakteristik masak-memasak dan bersantapnya sekalian.
Dalam perkara masak dan makan ini, saya berupaya semaksimal mungkin untuk bisa fair. Mencoba mengurangi mental load yang satu, tanpa justru menambah mental load di aspek yang lain. Jadi ada hari-hari ketika saya masak untuk berdua, saya masak satu menu untuk saya sendiri, maupun saya masak dua menu berbeda dalam porsi perorangan untuk kami masing-masing.
Dari situ, barulah tersadar kalau preferensi saya dalam memasak itu cenderung spesifik: Masakan yang sederhana.
Parameternya adalah kompleksitas bahan, durasi pramasak, durasi masak, dan porsi.
(Almost) Gone are the days when I have two or three different dishes for a regular lunch or dinner at home. ~Terus, karena ini jadi merasa sangat-sangat bajingan ketika dulu sudah ada beberapa lauk di bawah tudung nasi, tapi malah emoh dan masak telur atau mi instan. Sudahnya tidak menghargai masakan yang disajikan, itu wajan dan perkakas bekas masak telur atau mi goreng instan enggak dibersihkan sekalian.
Kembali ke soal preferensi masakan yang sederhana tadi, saya akhirnya “bersahabat” dengan menu tumisan, menu tumis yang bersaus siram, dan menu rebusan ringan yang tidak sampai berjam-jam seperti ketika ingin memasak Soto Daging ala Jawa Timur, Rawon ataupun Kari Thailand Massaman. Padahal semuanya dimasak pakai bumbu instan, bukan yang dibuat benar-benar from scratch.
Ini membuat saya mengapresiasi lebih para chef, koki atau juru masak, pemengaruh alias influencers kuliner, dan para warganet yang membagikan menu-menu masakan sederhananya, yang bisa di-recook, serta hasilnya oke (mulai dari level edible sampai enak banget), terlebih kalau takarannya untuk 1-2 porsi. Jadi ringkas masaknya, ringkas juga makannya. Enggak sampai menyisakan 2 porsi atau lebih.
Kompleksitas bahan
Banyak masakan Indonesia dan mancanegara yang lezat, tapi bahan yang dibutuhkan tidak hanya banyak, melainkan rumit dan spesifik. Kalau begini, masak-memasaknya lebih cocok jadi aktivitas rekreatif atau sosial sekalian, saat harus menjamu dan ingin meninggalkan kesan mendalam. Misalnya gulai.
Durasi pramasak
Apa saja yang mesti dilakukan sebelum proses utama masaknya berlangsung? Diungkep berapa jam? Dimarinasi semalam atau 48 jam? Dibersihkan, dikeringkan, digarami, lalu dipanggang atau dimasukkan ke airfryer selama 20 menit dikali dua sesi, kayak bikin babi garing untuk Kana Moo Grob atau tumis babi garing dan sayur kailan.
Durasi masak
Soal durasi, masak tumis kangkung saus tiram dan bikin bistik (yang steak) bisa dibilang sama-sama kilatnya. Tumis kangkung dimakan sama nasi, bistik bisa dimakan pakai kentang goreng atau tumis (saute) jamur. Bandingkan saja dengan bikin Pepes Ikan atau Botok Udang, misalnya.
Karena persoalan durasi ini juga, saya jadi makin cinta Nasi Pecel. Meskipun lagi-lagi bumbu pecelnya yang siap saji, tinggal dicampur air panas.
Porsi
Pada saat ada menu yang menarik untuk dicoba, eh, ternyata kalkulasi bahan dan campurannya untuk 4-5 porsi. Ternyata proses penyesuaiannya enggak semudah dibikin sepertiga atau seperempat. Salah-salah, bisa jadi rasanya kurang nyampe dan berantakan.
Penginnya masak yang straightforward, jangan malah diajak bermatematika dan mengira-ngira.
Lalu, karena alasan ini juga, makanya agak jarang bikin meal prep sampai seminggu. Bukan lantaran bosan memakan menu yang sama sepanjang pekan, tapi mempertimbangkan ruang yang tersedia dalam kulkas. Berkotak-kotak wadah plastik mesti ditata sedemikian rupa di antara minuman dingin, kudapan dan … kudapan (hehehe …)
Dengan ini semua, perspektif saya soal makan-makan makin bertambah.
Makan yang cukup, selalu berusaha menghabiskan makanan yang diambil/jangan buang-buang makanan. Jika rasanya enak, silakan tambah lagi. Setelah kelar makan, bersihkan. Minimal rapikan, biar gampang dibersihkan.
Soalnya, kalau sudah beli bahan dan masak sendiri dengan sedemikian capeknya, ternyata gagal dan rasanya enggak karuan, hati agak mencelus waktu membuang yang harus dibuang. Apalagi in this economy.
Maaf tanpa foto, soalnya kapasitas penyimpanan sudah penuh. Padahal tadi mau pamer masakan, hehehe …
[]
Tinggalkan komentar