A Letter to My Past Self

oleh: Nezumi (kontributor linimasa)

Hi N,

Aku tahu surat ini tak kan pernah sampai padamu. Tetapi sesaat lalu terpikirkan olehku kalau dunia ini paralel. Tidak ada masa lalu dan masa depan, semua terjadi di saat yang bersamaan. Kekeke, it is definitely impossible, isn’t it? Can you imagine the chaos if it really happens. And oh, thank God it does not happen. Atau pengertianku tentang dunia paralel yang salah. Ah sudahlah.

Aku membayangkan menulis surat ini pada kamu, aku di lima tahun yang lalu. Geez, I was so young at that time. 22, isn’t it? What a young age. I wish I could always be 22. Kekeke.

Entah apa yang membuat aku menulis ini. Suatu waktu aku hanya terpikir untuk menulis pada diriku di masa depan. Tapi, kok, tidak adil kalau hanya menulis surat untuk diriku di masa depan. Hmm .…

N, I am almost twenty seven now. Quite old isn’t it? Kamu pun tak pernah terpikirkan bahwa akan hidup sampai dua puluh tujuh tahun ya? Atau emang pikiran bahwa sampai ke usia hampir dua puluh tujuh tahun itu praktis tidak pernah terlintas di benakmu, karena, ya, kamu yakin kamu benar-benar akan ke sana? Tapi percayalah sejatinya tidak ada yang benar-benar menjamin kita bisa mencapai rentang usia tertentu. Ayo berdoa buat umur panjang kita yang barokah. Aamiin.

Apa ya? I am trying to project you, aku di lima tahun yang lalu. Berarti itu tahun 2009, ya? Akan ada hal besar yang kamu hadapi di tahun 2009. (sok cenayang banget bahasanya). Kalau menurut hasil refleksiku sekarang sih, itu salah satu dari my life changing experiences, your life changing experiences. Aku perlu kasih tahu ga? (Haish, padahal surat ini ga akan benar-benar dibaca penerimanya juga). Somehow I don’t want to tell it. Hahaha.

Di tahun 2009 juga kamu harus mulai mikir skripsi. Puk puk, kamu kuat. 😀

Oh iya, skripsi itu salah satu dari life changing experiences juga lho. Ah spoiler. 😛

Kalau ada hal yang aku sesali di lima tahun yang lalu, adalah aku menyesal saat kuliah aku tidak banyak membaca buku, apalagi buku sastra. Sampai-sampai kalau sekarang, aku akan bilang, aku ini alumni fakultas sastra atau anak sastra yang murtad. Soalnya ada banyak sekali buku sastra yang belum aku baca.

Dan ya, banyak hal yang tidak aku lakukan dengan serius. Ada hal-hal yang aku pikir, kalau di usiamu atau di lima tahun yang lalu aku lakukan dengan lebih serius, cerita hidupku akan berubah. Meski sebenarnya aku tidak begitu yakin apa aku benar-benar ingin hidupku tidak seperti ini saat ini.

Mungkin saat aku jadi kamu, I wasted much of my time (suatu hal yang tampaknya masih aku lakukan sampai sekarang). Ah alasannya, we were so young that time ya, dan pemahaman kita tentang pentingnya waktu sangat dangkal. Atau we were just simply so young that time.

Tapi, selagi menulis ini, aku kok merasa beruntung ya, you live life the way you live it. Kamu menjalani hidup kita saat itu seperti itu. Tentu ada hal-hal yang patut disesali dan diingat untuk tidak dilakukan lagi (tapi apa, ya? XD), tapi secara umum hidup ini sangat menyenangkan, kan, ya?

Apa lagi yang ingin aku katakan, ya? To sum up everything (lho, tahu-tahu kok diringkas) life is nice. Hidup tidak selalu mudah tapi semua berjalan dengan cukup baik.

Aku ingin bilang juga, aku baik-baik saja. Meski kamu bahkan tidak kepikiran aku ada, ya, aku mau bilang begitu. Ada beberapa hal yang mengganjal saat ini (mulai curhat) tapi saat aku memikirkannya, aku merasa akan baik-baik saja. Oh ya, aku jadi lebih melankolis saat ini. Cukup berbeda dari kamu, aku di lima tahun yang lalu. Ini mungkin bagian dari pendewasaan diriku ya? Aku juga lebih penakut ding, biasa penyakit orang tua. Kamu pasti akan mengalaminya nanti.

So, live your life as you know it. Meski efeknya, kamu akan membuat banyak kesalahan. Jangan berubah atau mengubah caramu hidup, lho, karena itu jelas akan merubah hidupku saat ini.

Ah, I have blabbered enough.

Salam peluk dariku, aku di masa kini.

 

30 Maret 2017

 

Nezumi, “yang sedang banyak melamun di kantor”.

 

Posted in: esai

Tagged as:

Leave a Reply