Delapan Belas Film Yang Memukau di Tahun 2018

Memilih 18 film dari (sedikit lagi) hampir 1.000 jam durasi film yang saya tonton di tahun 2018 ternyata bukan perkara yang mudah dilakukan. Terlebih lagi, kita selalu berpatokan pada hal yang absolut, bahwa satu film berbeda dengan yang lain, yang nyaris mustahil untuk dibandingkan secara kuantitatif.

Akhirnya daftar ini saya buat dengan prinsip yang sangat mendasar, yaitu pada saat menonton film-film ini, I have a memorable time. Bukan sekedar had a good time, tapi film itu masih membekas di ingatan dan hati saya usai film itu berakhir, dan saya sudah beranjak pergi dari bioskop, atau mematikan layar televisi, layar komputer atau sekedar berpaling dari layar ponsel.

Pilihan jenis layar tontonan tersebut saya pilih karena tuntutan pekerjaan yang memang mengharuskan saya untuk hampir selalu menonton film. Saat makan siang sendirian di food court, saat sedang berlari di atas treadmill, atau bahkan saat menunggu pintu bioskop masuk, selalu ada tontonan dalam genggaman.

Lagi pula, as much as I believe the following statement to be a bit passé, ternyata 2018 adalah a good year in cinema. Variasi cerita yang kaya mendorong film-film yang dirilis sepanjang 2018 beragam. Bahkan penonton pun tak segan untuk berpaling dari film-film yang mengandalkan gimmick semata (kecuali ada pemborong tiket).

Tentu saja, tak semua eksperimen berhasil. At least tidak berhasil membuat saya mengagumi film yang telah ditonton. Dari sekian banyak film dengan high concept of ideas, ada 5 Film Yang Mengecewakan di Tahun 2018, yaitu:

Suspiria
Thugs of Hindostan
Peterloo
Vox Lux
The Little Stranger

Obat untuk mengatasi kekecewaan setelah menonton film yang gagal membuat kita senang? Tentu saja dengan menonton film lain! Itulah yang selalu saya lakukan dari dulu, termasuk di tahun 2018, sampai akhirnya saya menemukan 18 Film Favorit di Tahun 2018. Ini dia:

[eighteen] The Death of Stalin

death_of_stalin(IMP)
The Death of Stalin (Source: IMP)

[seventeen] First Man

first_man-IMP
First Man (Source: IMP)

[sixteen] The Man Who Surprised Everyone

the-man-who-surpised-everyone-IMDB
The Man Who Surprised Everyone (Source: IMDB)

[fifteen] Tel Aviv on Fire

Tel-Aviv-On-Fire-poster_Bristol_Palestine-FilmFest
Tel Aviv on Fire (Source: Bristol Palestine Film Fest.)

[fourteen] Kucumbu Tubuh Indahku (Memories of My Body)

memories-of-my-body-IMDB
Memories of My Body (Source: IMDB)

[thirteen] A Star is Born

star_is_born-IMP
A Star is Born (Source: IMP)

[twelve] Whitney

whitney-IMP
Whitney (Source: IMP)

[eleven] Spider-Man: Into the Spider-Verse

spiderman_into_the_spiderverse_ver2-IMP
Spider-Man: Into the Spider-Verse (IMP)

And now, the top 10 of the year:

[ten] Cold War

cold-war-_RogerEbert
Cold War (Source: RogerEbert.com)

Satu kata yang terlontar usai menonton film ini adalah “gorgeous!” Terutama buat penggemar jazz, perhatikan bahwa film ini dibuat dengan pacing melodi musik jazz yang megah, yang dimulai dengan kekosongan, diisi dengan riots and chaotic notes, dan diakhiri dengan a beautiful and lingering devastation. Film ini juga sarat dengan imaji indah dalam sinematografi hitam putih dengan komposisi yang tak biasa, yang membuat kita tak berpaling dari layar. Durasi film boleh singkat, namun impresi yang ditinggalkan masih berbekas sampai sekarang.

[nine] A Twelve-Year Night

a-twelve-year-night_Unifrance
A Twelve-Year Night (Source: Unifrance)

Kalau ada film di daftar ini yang membuat saya berkata “I urge you all to watch the film”, maka inilah filmnya. Sepintas mirip The Shawshank Redemption, ada pula yang menyebut filmnya mirip 12 Years a Slave. Kesamaan dengan kedua film hanya sebatas pada dasar ceritanya saja: ini film kisah nyata tentang José Mujica yang ditahan bersama tawanan politik lainnya selama 12 tahun, sebelum akhirnya dia menjadi presiden Uruguay. Film ini menggambarkan keadaan mereka di penjara, dan mengikuti kisah hidup mereka di penjara sepanjang film, saya tidak bisa berkata-kata lebih banyak lagi. They are harrowing, they can be gruesome, but they can be hopeful. Visualisasi tentang usaha mereka bertahan hidup di penjara sangat fantastis. The quietness, you have to see it yourself to feel it. Film ini hadir di Netflix mulai 28 Desember 2018.

[eight] Girl

Girl-ThePlaylist
Girl (Source: The Playlist)

Elegan dan halus. Itulah catatan saya selesai menonton film ini. Performa luar biasa Victor Polster sebagai Lara yang bertekad keras menjadi perempuan seutuhnya membuat film ini berhasil memukau kita. Tak hanya sekedar mengubah fisik, tapi karakter Lara di film ini ditampilkan lengkap dengan perjalanan emosi yang membuat kita tertegun sepanjang film. Pilihan Lara untuk bertahan hidup membuat saya mau tidak mau menorehkan kata berikut untuk film Girl ini: “powerful!

[seven] Andhadhun

andhadhun-TheWire
Andhadhun (Source: The Wire)

Saya sudah penasaran dengan film ini dari trailernya yang sangat unik. Terlebih untuk sebuah film Hindi komersil. Dan rasa penasaran itu sangat, sangat terpuaskan oleh filmnya sendiri. Apalagi di paruh pertama film, dengan puncak keseruan film saat karakter utama mengalami kejadian yang membawa cerita bergulir dengan sangat nyaman untuk diikuti. Silakan baca sendiri semi-spoiler moment di tulisan saya minggu lalu. Yang jelas, film ini adalah film Hindi paling menyenangkan untuk ditonton tahun ini. Dan film ini sudah ada di Netflix!

[six] One Cut of the Dead

one-cut-of-the-dead-Variety
One Cut of the Dead (source: Variety)

Kalau sensasi film ini harus ditulis besar-besar dalam huruf kapital: FUN! Rasanya tidak ada film lain sepanjang tahun 2018 yang membuat saya tertawa terbahak-bahak, bahkan sampai ada penonton lain yang berdiri dari kursi dan terus tertawa sambil bertepuk tangan di beberapa bagian film. Sebuah film dengan konsep yang kalau diceritakan secara lisan atau kita baca cuma bisa membuat kita bingung, namun saat akhirnya kita saksikan sendiri, kita hanya bisa terperanjat dan kagum. Film yang sangat brilian. Sekaligus film ini adalah film yang membuat kita sadar, kenapa kita sangat mencintai film secara umum. Semakin sedikit Anda tahu sebelum menonton film, the more fun you will have. The funniest film in a long time.

[five] Tully

tully-charlizetheron_SlashFilm
Tully (Source: SlashFilm)

Twist film ini membuat saya berpikir berhari-hari. Semacam mengetuk kesadaran dalam diri. Tenang saja, ini bukan spoiler sama sekali. Film ini berhasil membuat saya tertegun, dan akhirnya mengakui bahwa kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan menyelamatkan kita? Semakin saya memikirkan film ini, semakin saya paham bahwa tidak hanya penampilan Charlize Theron yang luar biasa bagusnya yang membuat film ini menjadi salah satu film favorit saya tahun ini, tapi cerita film ini yang sangat humanis yang membuat film ini layak untuk ditonton. Jason Reitman dan Diablo Cody adalah tim sutradara dan penulis yang sangat paham tentang human beings and their desire to be human.

[four] Shoplifters

shoplifters_RogerEbert
Shoplifters (Source: RogerEbert.com)

Film ini menantang pemikiran kita tentang konsep keluarga dengan cara yang sangat subtle, yang tanpa kita sadari merasuki perasaan kita, yang membuat kita sampai meneteskan air mata di akhir cerita. Selain itu, Hirokazu Kore-eda juga mempertanyakan kembali, apakah konsep villain dan protagonis yang sebenarnya dalam hidup sehari-hari. Bagian ini yang membuat saya terus berpikir sepanjang film, dan terus mencari jawaban pertanyaan tersebut sampai film berakhir. Disajikan dengan cara bertutur yang pelan namun pasti, film ini berhasil memanusiakan manusia dalam konteks yang mudah kita pahami, sekaligus meninggalkan kesan yang mendalam.

[three] Amanda

amanda_-_mikhael_hers__Variety
Amanda (Source: Variety)

Waktu saya menonton film ini, saya hanya berniat untuk menonton paling tidak separuh durasi, karena ada jadwal diskusi yang harus saya hadiri. Namun niat itu tidak saya penuhi, karena hanya dalam guliran menit-menit pertama, film in berhasil membuat saya tidak beranjak dari kursi, dan menontonnya sampai selesai. Dengan mata berkaca-kaca, saya bertanya ke rekan saya, “What was that we just watched?” Film ini sangat sederhana: seorang pria harus membesarkan keponakannya setelah kakaknya, yang notabene adalah ibu keponakan ini, tewas akibat serangan terorisme. Pergulatan batin dua orang ini menjadi perjalanan utama cerita film yang tertutur dengan rapi, tanpa menghakimi sama sekali, tanpa berpihak sama sekali. How is it possible? Sutradara Mikhael Hers membuat film ini dengan tampilan bak film keluarga di televisi tahun 1970-an, yang menjadi efektif, karena kita bisa menikmatinya dengan tenang, despite all the big questions and anxiety about life in the film. Tidak perlu menjadi melodramatis dan sentimentil untuk membuat film yang menentramkan hati. Film ini membuktikannya.

[two] The Guilty

theguilty-Fotogramas
The Guilty (Source: Fotogramas)

Ada kalanya kita menonton film dan terpukau dengan sense of filmmaking film tersebut. Film ini salah satunya. Mirip dengan film-film seperti Buried atau Locke dan Gravity, di mana keseluruhan cerita dalam satu film dibuat dalam satu kurun waktu, in real time, dan hanya ada satu karakter sepanjang film. Film-film seperti membutuhkan kedisiplinan yang tinggi dalam membuatnya. Skenario harus dibuat serapi mungkin agar dramatic moments pas munculnya, serta tentunya, aktor yang memainkan karakter utama harus tampil meyakinkan sepanjang film, karena dialah satu-satunya yang selalu muncul sepanjang film. Ryan Reynolds, Tom Hardy dan Sandra Bullock sudah membuktikannya, dan sekarang, Jakob Cedergren juga membuktikan lewat film The Guilty ini. Duduk dalam satu ruangan tertutup menerima panggilan telpon darurat, ketegangan demi ketegangan film tersaji lewat raut muka, gerak tubuh dan intonasi suara Cedergren yang selalu berubah seiring dengan perkembangan kejadian. Sutradara Gustav Möller menorehkan debut film panjang yang sangat istimewa, perhaps among the best debut films of all time. Tentu saja, film ini pun adalah film thriller terbaik tahun ini.

[one] Roma

roma-Empire

Film seperti Roma belum tentu hadir setahun sekali. Bahkan mungkin belum tentu sepuluh tahun sekali. Film ini memang personal untuk Alfonso Cuaron, pembuatnya. Namun rasa itu berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya seni yang dibuat dengan sepenuh hati, dan akhirnya bisa kita nikmati juga dengan sepenuh hati. Sebagai orang yang lebih menyukai film dengan penuturan cerita yang naratif, saya surprised sendiri bisa menikmati film ini. Mungkin Cuaron tidak akan pernah lupa, bahwa frame dan adegan indah pun perlu kekuatan cerita dan karakter yang membuat momen-momen tersebut tak lepas dari ingatan. Adegan di hutan, adegan di pantai, pemberontakan di jalan, menyaksikan ini semua seperti membuat kita menyaksikan adegan hidup dalam tatanan gambar dan suara yang menakjubkan. This is a work of art worth seeing. This is a beautiful rarity.

Apa film favorit Anda tahun 2018 ini?

Lima Adegan dan Lima Penampilan Mengesankan di 2018

Sedikit break away dari tradisi menampilkan 10 film favorit setiap tahunnya, tahun ini saya melihat banyak sekali momen-momen dan penampilan di film yang patut kita apresiasi.

Sering kali kita malah mengingat sebuah adegan tertentu dari suatu film. Belum tentu film tersebut berhasil memukau kita secara keseluruhan, namun ada beberapa momen dalam film tersebut yang membekas dalam ingatan kita. Jangan heran juga, even good small moments can be found in not so good films.

Some scenes do excellent work on their own.

Oleh karena itu, inilah lima momen dalam film yang dirilis sepanjang tahun 2018, yang sangat mengesankan buat saya:

Crazy Rich Asian – adegan mahjong

crazyrichasians-mahjong-AngryAsianMan_dot_com
Crazy Rich Asian (source: Angry Asian Man)

Kalau sekedar mau memperlihatkan teknis permainan mahjong lengkap dengan psychological undertone, maka anda bisa melihat cuplikan adegan mahjong di fim Lust, Caution karya Ang Lee. Sementara di film Crazy Rich Asian, adegan mahjong ditampilkan apa adanya. Lengkap pula dengan makna permainan yang disampaikan Rachel (Constance Wu) kepada Eleanor (Michelle Yeoh). Namun yang membuat keseluruhan adegan mahjong ini sangat membekas di ingatan justru terletak di akhir permainan, saat ibu Rachel (Tan Kheng Hua) berdiri, menjemput Rachel, dan menatap Eleanor dari kejauhan tanpa kata-kata. That scene, that particular scene between two single mothers. Dua orang tua tunggal, dua ibu, dua orang yang seharusnya menjadi rival satu sama lain, namun akhirnya sama-sama mengerti keputusan yang diambil untuk melindungi anak masing-masing, dilakukan tanpa dialog sama sekali. Acknowledging two single mothers in an Asian (themed) movie? Brilliant.

Museo – adegan perampokan museum

Museo-THR
Museo (source: The Hollywood Reporter)

Film Museo menceritakan kisah nyata perampokan museum antropologi di Mexico City oleh pelaku amatir yang menggegerkan kota tersebut di tahun 1985. Dibintangi Gael Garcia Bernal yang bermain cemerlang, film ini sebenarnya lebih fokus kepada konflik keluarga antara karakter Bernal dengan orang tuanya. Namun adegan perampokan yang dihadirkan pada babak pertama film justru mencuri perhatian dan membuat kita teringat terus sepanjang film. Selama 15 menit, adegan perampokan dihadirkan tanpa kata-kata, minim musik, dan membuat adegan serupa lain di film Ocean’s 8 yang juga dirilis tahun ini tidak ada apa-apanya.

** SPOILER ALERT BEGINS **

Andhadhun – adegan pemindahan jasad

andhadhun-ZeeNews
Andhadhun (source: Zee News)

Bisa jadi film Andhadhun adalah the sleekest thriller from Hindi cinema this year. Mungkin tidak hanya dari India saja, ya. Film ini sangat mengesankan, karena dari awal, ide cerita untuk menempatkan seorang pianis menjadi pura-pura buta dibuat untuk kesan playful. Namun seiring dengan cerita berjalan, sang pianis terpaksa harus menjadi saksi pembunuhan di depan mata, or the lack of them for the sake of pretending. Adegan pelaku pembunuhan yang harus memindahkan jasad yang mereka bunuh di depan pianis yang berpura-pura tidak mengetahui seluruh kejadian tersebut, sungguh sangat menakjubkan.

*** SPOILER ALERT ENDS ***

Roma – adegan penyelamatan di pantai

Roma-DenOfGeek
Roma (source: Den of Geek)

Sungguh susah memilih hanya satu momen yang paling berkesan di film Roma, karya terbaik Alfonso Cuaron ini. Setiap adegan dibuat dengan teliti, membuat kita seolah-olah melihat karya seni yang dibuat dengan pendalaman yang luar biasa. Kalau boleh memilih satu, maka adegan penyelamatan anak-anak di pantai yang membuat saya terkesan. Tingkat kesulitan pengambilan gambarnya sangat tinggi. Namun Cuaron tidak melupakan emosi di setiap karakter yang membuat kita mengambil nafas panjang saat melihat adegan ini, dan menghela nafas panjang penuh kelegaan di akhir adegan.

First Man – adegan pendaratan di bulan

first_man-Polygon_com
First Man (source: Polygon)

Film Alien sudah berikrar di tagline poster mereka, bahwa “in space, no one can hear you scream”. Tidak cuma menjerit, namun mungkin berkata-kata. Itulah mengapa adegan pendaratan di bulan di film First Man sangatlah bermakna. Bahwa saat pertama kali menginjakkan kaki dan melihat bagian dari alam semesta di luar bumi, tidak ada ekspresi atau kata yang bisa mewakili perasaan diri. It’s just silence, and nothing but silence. Maka keheningan di film ini menjadi suatu kemegahan tersendiri yang layak kita alami di layar lebar.

Adegan-adegan lain di film-film yang saya tonton sepanjang tahun 2018 yang juga membuat saya terkesan adalah bagian konser Live Aid di film Bohemian Rhapsody dan dialog panjang di dalam mobil di film Lemonade.

Sementara itu, inilah lima aktor dengan penampilan akting yang paling mengesankan di tahun 2018:

• Gading Marten (Love for Sale)

gading-love-for-sale-(duniakudotnet)
Gading Marten – Love for Sale (source: Duniaku.net)

Less is more. Saya selalu percaya bahwa (hampir) setiap aktor yang terbiasa melawak, bermain di film atau serial komedi, tahu pentingnya timing saat mereka berakting. Gading Marten membuktikan hal itu dalam film Love for Sale. Tanpa perlu terjebak menjadi terlalu dramatis, karakter Richard dihadirkan secara natural, yang membuat karakter ini semakin nyata dan dekat dengan kita. Penampilan terbaik Gading Marten sejauh ini.

• Eva Melander (Border)

eva-border-(bfi_dot_org_dot_uk)
Eva Melander – Border (source: BFI)

Dengan muka semi-monster yang membuat kita bergidik saat melihat karakter Tina pertama kali di film Border, kita malah diajak semakin berempati dengan karakter ini seiring cerita bergulir. Inilah kehebatan Eva Melander yang memerankan karakter ini. Dia memberikan sentuhan humanis di setiap tatapan Tina yang menyiratkan hasrat untuk diterima, dan dalam konteks film ini, dicintai orang lain. Penampilan yang tidak mungkin kita lupakan.

• Jakob Cedergren (The Guilty)

jakob-the-guilty-Vulture_dot_com
Jakob Cedergren – The Guilty (source: Vulture)

Apakah film Buried bisa berhasil tanpa penampilan Ryan Reynolds? Apakah film Locke bisa berhasil tanpa penampilan Tom Hardy? Pertanyaan yang sama patut kita sampaikan untuk film The Guilty ini. Sepanjang film, hanya ada satu aktor, yaitu Jakob Cedergren, yang memandu kita menyusuri kisah tegang di satu lokasi, dengan bermodalkan voice over lewat telepon, dan penampilan Jakob Cedergren seorang diri. Raut muka, suara dan gerak tubuhnya selalu mengindikasikan perubahan yang terjadi di cerita, dan membuat kita tidak beranjak dari kursi. Such a brilliant actor in an equally brilliant film.

• Zain Al Rafeea (Capernaum)

zain-capharnaum03-AsiaPacificScreenAwards
Zain Al Rafeea – Capernaum (source: Asia Pacific Screen Awards)

Anak kecil yang tumbuh di jalanan mempunyai ekspresi berbeda dengan anak kecil kebanyakan. Air muka yang keras di wajah yang muda adalah kombinasi yang sulit ditemukan di film. Namun sutradara Nadine Labaki lewat film Capernaum berhasil menemukannya lewat penampilan gemilang aktor cilik Zain Al Rafeea. Mulai dari adegan pertama saat dia menuntut orang tuanya di pengadilan karena melahirkan dirinya, kita dibuat ternganga oleh penampilannya yang menjadi the main anchor film ini. Rasanya susah untuk percaya bahwa inilah penampilan pertama kali Zain Al Rafeea di film. A remarkable debut.

• Rami Malek (Bohemian Rhapsody)

rami-bohemian-NME_dot_com
Rami Malek – Bohemian Rhapsody (source: NME

Tidak perlu dijelaskan lebih panjang lagi: Rami Malek is Freddie Mercury. Komitmen luar biasa Malek untuk menjadi Mercury tak perlu kita telaah dan telusuri lagi. It’s all there on the screen. Memang banyak yang menyebutkan bahwa kesuksesan fenomenal film Bohemian Rhapsody sebagian besar terletak pada katalog lagu-lagu Queen yang dihadirkan dalam porsi pas di film ini. Namun apakah mereka bisa menjadi efektif tanpa penampilan Malek? He is, indeed, the champion.

Penampilan lain yang juga berkesan buat saya adalah performa dari these leading ladies: Charlize Theron (Tully), Rani Mukerji (Hichki), dan Toni Collette (Hereditary).

Coming up next: film-film yang paling berkesan di tahun 2018!

Apa adegan dan penampilan di film yang membuat anda terkesima tahun ini?

(Susahnya Cari) 10++ Film Paling Berkesan Di Tahun 2017

The inevitable has happened.
Yang saya pikir tidak akan mungkin terjadi, akhirnya terjadi juga.
Apakah itu?

Saya jarang ke bioskop.
Oke, mungkin kata “jarang” di sini bukan berarti hampir tidak pernah. Mungkin yang lebih tepat, frekuensi pergi ke bioskop untuk menonton film berkurang cukup signifikan. Jumlah film yang saya tonton di bioskop berkurang sangat banyak. Untuk pertama kalinya, angkanya sedikit di bawah 100.

Sementara jumlah film, di luar serial televisi dan stand-up comedy, yang saya tonton di aplikasi streaming meningkat pesat. Jumlahnya tidak perlu saya sebutkan dengan pasti. Let’s just say, lebih sedikit dari 3 kali lipat angka untuk film yang ditonton di bioskop.

Saya masih mencintai aktivitas menonton film di bioskop. Masih belum ada yang bisa mengalahkan sensasi menonton film di layar lebar dengan kualitas gambar dan suara yang prima. Kita lebih bisa berkonsentrasi menonton di bioskop dengan baik ketimbang menonton di rumah. The social experience of filmgoing in cinema remains unbeatable.

Hanya saya, akhirnya saya punya non renewable source bernama waktu. Kalau harus memprioritaskan antara menonton good content at home dan mindless content at cinema, maka saya akan memilih yang pertama. Jujur saya akui, tawaran film di bioskop lokal tahun ini cukup underwhelming. Sementara film-film yang tidak tayang di bioskop kita namun diputar di aplikasi streaming, sebagian besar dari mereka overwhelmingly good, terutama dalam hal storytelling.

Maka untuk pertama kalinya juga, saya akan menggabungkan daftar film-film yang saya tonton di bioskop dan di aplikasi video streaming menjadi satu daftar singkat film-film yang paling berkesan saat ditonton di tahun 2017. Aturannya cukup simpel:
• film dirilis di bioskop lokal untuk pemutaran umum di tahun 2017 (saya exclude film-film yang diputar di festival film yang diadakan tahun ini)
• film dirilis untuk pertama kalinya di aplikasi video streaming legal yang ada di Indonesia (saya menggunakan Netflix, Amazon Prime Video, iflix, Hooq, dan pembelian berkala di Google Play dan iTunes Store Indonesa)

Ada beberapa film yang rasanya susah saya lepaskan dari kerangka “top 10” pendataan, karena mereka juga memberikan kesan yang mendalam saat ditonton. Yang saya lakukan adalah mencari kindred spirits dari film-film tersebut, dan menempatkan dalam angka yang sama.

Apa saja film-film itu? Ini dia:

• (sepuluh) • Istirahatlah Kata-Kata & Marlina the Murderer in Four Acts

Kiri: Istirahatlah Kata-Kata (source: pardo.ch)
Kanan: Marlina the Murderer in Four Acts (image: thejakartapost.com)

Dua film yang sekilas terasa jauh sekali paralelnya. Namun jika kita lihat lagi, film ini mempunyai banyak kesamaan. Sama-sama menampilkan karakter utama yang terjepit, meskipun mengkonfrontasi masalah mereka dengan cara yang berbeda-beda. Sama-sama memilih untuk banyak ‘diam’ dengan efektif. Tetapi yang saya suka dari kedua film yang sangat well-thought-of ini adalah, they both know what to shoot. Both films know how to frame their scenes. Setiap adegan yang direkam kamera nyaris tidak ada yang terbuang percuma, karena hampir semuanya efektif dalam bercerita. Two films at almost polar extremes, but two films that remain one of the best our cinema have ever made.

• (sembilan) • Whitney: Can I Be Me

Whitney: Can I Be Me (source: dogwoof.com)

Cukup banyak dokumenter musik yang saya tonton tahun ini, tapi yang membuat saya terhenyak hanya film ini. Sutradara Nick Broomfield memang mempunyai akses footage asli Whitney Houston yang mungkin bisa membuat iri pembuat film lain. Tapi di tangan pembuat film lain, mungkin film dokumenter ini tidak mempunyai emotional punch yang kuat, seperti yang ditampilkan film ini apa adanya, tanpa harus mengeksploitasi atau memanipulasi mereka yang diwawancarai. Sisi lain Whitney Houston, yang membuat hati kita mencelos, akhirnya bisa ditampilkan dengan utuh di sini. Documentary-wise, this is Whitney’s own “Amy.

• (delapan) • The Lego Batman Movie

The Lego Batman Movie (source: BusinessInsider.com)

Masih ingat dengan film ini? Mungkin sebagian dari kita sudah lupa, karena memang film ini hadir di awal tahun, bukan di waktu yang lebih family-friendly, seperti tengah tahun saat liburan sekolah. Dan memang, hasil secara komersial di sini kurang menggembirakan. Toh film ini tetap membuat saya terbahak-bahak, sekaligus kaget. Kenapa kaget? Karena banyak lapisan cerita tentang the need to acknowledge and regard your enemies to live yang disampaikan dengan baik, lewat humor absurd, dan mudah dimengerti. An unexpected triumph.

• (tujuh) • A Death in the Gunj & Newton

Kiri: A Death in the Gunj (source: IndiaToday.in)
Kanan: Newton (source: rediff.com)

Tahun 2017 bukanlah tahun yang baik untuk film Hindi. Banyak film mainstream yang “gatot”, baik dari segi artistik maupun komersil. Dari sedikit yang berhasil lewat jebakan ini, ada dua yang sukses menghinggapi pikiran saya cukup lama setelah selesai menonton. A Death in the Gunj adalah film berbahasa Inggris tentang tragedi yang menimpa sebuah keluarga saat mereka berlibur di kota Gunj tahun 1979, lengkap dengan segala intrik coming of age beberapa karakternya. Newton bercerita tentang petugas pemilihan umum idealis yang harus mengumpulkan suara penduduk di daerah konflik. Keduanya sama-sama film “kecil” yang berbicara cukup lantang tentang the changing of society di dua era yang berbeda. Dan keduanya sama-sama menempatkan human and humanity right in front of and the centre of the story. Keduanya juga tidak terburu-buru dalam bercerita, sehingga leisure pace yang mereka ambil semakin membuat kita menyukai karakter-karakter yang ditampilkan.

• (enam) • Arrival

Arrival (source: FilmInquiry.com)

Meskipun Blade Runner 2049 lebih megah dalam segi visual efek dan sinematografi, nyatanya film karya Denis Villeneuve sebelumnya yang meninggalkan kesan paling dalam. Arrival hadir di awal tahun ini. Namun sensasinya masih terasa sampai di penghujung tahun. Sebuah film sci-fi yang tidak hanya membuat kita terkesima, tapi juga memikirkan dan mempertanyakan kembali konsep kemanusiaan yang selama ini kita yakini. Bonus point juga bahwa film ini, di antara sedikit film lainnya, yang membuat kita harus mencari bioskop dengan kualitas suara terbaik untuk menikmati setiap sensasi tata suara filmnya.

• (lima) • Our Souls at Night

Our Souls At Night (source: Aspekt.Nu)

Nobody makes film like this anymore. Dan di sinilah Netflix beserta pasukan aplikasi video streaming lain hadir untuk menyelamatkan jenis film drama dewasa seperti ini, yang masih ditunggu dan mempunyai pangsa pasar penonton yang setia menunggu. Mungkin terakhir kali kita bisa dibuat “klangenan” dengan romansa a la Our Souls at Night ini adalah saat Clint Eastwood bercumbu dengan Meryl Streep dalam Bridges of Madison County. Demikian pula dengan Jane Fonda dan Robert Redford yang mensahkan bahwa cinta bisa hadir kapan saja, di mana saja, dan bisa diusahakan. Film yang menawarkan cinta apa adanya, tanpa berlebihan. Ritesh Batra continues his winning streak after The Lunchbox, The Sense of an Ending, and now, this lovely work.

• (empat) • Posesif

Posesif (source: CNNIndonesia.com)

Film yang, kalau mengikuti istilah zaman now and then, totally caught me off guard. Saya tidak tahu banyak dan tidak mencari tahu tentang film ini sebelum menontonnya. Tetapi dengan metode yang sama, sering kali film yang saya tonton berakhir mengecewakan. Tidak untuk film ini. Meskipun ada beberapa bagian cerita dan karakterisasi yang, kalau mengikuti logika, bisa dirombak supaya bisa lebih proper (whatever that is), toh film ini masih tetap mencengangkan dalam konteks yang baik. Film ini unggul karena mengangkat isu yang nyaris terlewatkan secara kasat mata: kekerasan dalam hubungan asmara antar remaja. Teenage love story is a staple in storytelling, terutama di media hiburan kita. Namun sisi lain dari kisah kasih tersebut, tak banyak yang mau mengungkapkannya. Film ini hadir dengan konsep kuat, penampilan prima dari hampir seluruh pemerannya, dan pembuatan yang sangat baik. One of the best Indonesian films in recent memory.

• (tiga) • Wind River

Wind River (source: NPR.org)

Another winning surprise. Taylor Sheridan, sutradara film ini, adalah penulis skenario film gacoan saya di Oscar tahun lalu, yaitu Hell or High Water. Film tentang pencurian bank yang bertutur secara efektif tentang karakter-karakternya. Namun dalam Wild River kali ini, Taylor ups his ante. Film thriller yang bercerita dengan efektif tentang the beast within humans yang mungkin terjadi di antara kita. Terasa berlebihan uraian psikologis singkat saya? Coba tonton saja film ini. The seemingly and deceivingly simple action whodunit mystery actually reveals much about crime and humanity. Film yang membuat kita merasa tegang sepanjang durasi ceritanya, dan salah satu yang terbaik yang pernah dibuat.

• (dua) • Coco

Coco (source: Pixar.wikia.com)

Film yang membuat saya menangis, dan rela saat airmata tumpah karena ceritanya yang luar biasa. Entah bagaimana bisa Pixar kembali sukses menerjemahkan konsep hidup yang terdengar sulit, menjadi sebuah tontonan yang menakjubkan. Seperti Inside Out yang sebenarnya mengenalkan anak-anak kepada isu kesehatan mental, maka Coco selangkah lebih berani menghadirkan konsep bahwa memaafkan adalah pilihan. Bahwa konsep “forgive and forget” yang selama ini diagung-agungkan orang dewasa, ternyata tak selamanya berbuah manis. Sebagai orang yang meyakini hal ini, Coco berhasil membuat saya trenyuh. Ditambah lagi dengan pencapaian efek visual yang semakin nyaris sempurna, dan lagu tema yang mengharukan, Coco termasuk film favorit Pixar saya sepanjang masa.

• (satu) La La Land

La La Land (source: The Hollywood Reporter)

This is it. Tidak ada film lain di tahun ini yang membuat saya terkesima, tertegun, terbuai dan terpaku sepanjang film, meskipun sudah berulang kali ditonton di layar lebar. Tidak ada film lain di tahun ini yang membuat saya tersenyum dan terharu di saat yang bersamaan, because of the magic. This is magical filmmaking at its best. Seperti yang pernah saya tulis di sini di awal tahun, La La Land terasa istimewa karena kedekatan saya dengan format filmnya. Tapi lepas dari itu, setelah saya menontonnya lagi di rumah, film ini masih terasa istimewa, karena keberhasilannya membawa kita lepas sejenak dari kepenatan dunia yang terlampau pekat akhir-akhir ini. And the film excels in being the right one at the right time. Film seperti La La Land tak akan hadir setiap tahun. Dan itu yang membuatnya semakin terasa istimewa.

Tunggu.

Masih ada lagi.

Dari 10+ film yang paling berkesan ditonton di tahun 2017, manakah yang menjadi film favorit saya tahun ini?

Sayangnya, film favorit saya tahun ini tidak ditemukan di bioskop lokal maupun aplikasi streaming legal di sini. Saya mendapatkannya lewat jalur tidak resmi, dan untuk kasus film ini, it’s worth doing the hassle.

Film favorit saya tahun ini adalah The Big Sick yang diangkat dari kisah nyata penulis skenarionya, komedian Kumail Nanjiani dan istrinya, Emily V. Gordon. Film komedi humanis yang terasa dekat dengan kita, karena menyentil hubungan kemanusiaaan yang sangat universal. Adegan favorit saya ada di bagian menjelang akhir film, saat Kumail akan pergi meninggalkan orang tuanya untuk pindah ke kota lain. Sang ayah menghampiri, sambil mengantarkan kotak makan siang untuk Kumail, karena ibu Kumail masih marah akan kepindahan Kumail, tetapi masih insists agar Kumail tidak lupa makan siang. Any mother and anyone with mother would surely laugh and be able to relate to that scene.

The Big Sick (source: AustinChronicle.com)

Apa film-film favorit Anda tahun ini?

Sebelas Serial Yang Paling Betah Ditonton Di Tahun 2017 Yang Hampir Jadi #RekomendasiStreaming

It’s impossible to watch everything on TV. Sungguh sebuah hil yang mustahal atau hal yang mustahil untuk bisa menonton semua apa yang ada di televisi dan aplikasi video streaming.
Misalnya saja, serial Friends. Serial ini masih ada di beeberapa aplikasi streaming. Ada 10 musim penayangan serial ini. Masing-masing musim penayangan terdiri dari 23 atau 24 episode dengan durasi sekitar 22 menit per episode. Untuk menamatkan keseluruhan serial ini, diperlukan waktu 3 hari, 14 jam dan 32 menit, tanpa jeda, tanpa tidur sama sekali.

Itu baru satu serial.

Masih ada ratusan serial lain dalam satu aplikasi atau satu stasiun televisi. Sementara dalam genggaman kita, bisa diunduh belasan sampai puluhan aplikasi, dari dalam dan luar negeri, dan televisi kita mampu menampung ratusan saluran.

Time is not a renewable source, demikian seorang teman pernah menulis di media sosialnya. Saya setuju. Makanya pilihan serial yang saya tonton biasanya saya cari tahu sebanyak-banyaknya informasi tentang serial itu terlebih dahulu.

Tiga serial yang juga menyenangkan untuk ditonton. Dari atas: 13 Reasons Why, Dear White People, The Deuce.

Sedikit berbeda dengan film panjang: sebisa mungkin saya tidak tahu banyak tentang film itu, karena hanya dalam waktu kurang lebih 2 jam, semua cerita bisa tertuang dan terjelaskan dalam trailer singkat, atau sinopsis yang agak panjang. Sementara trailer atau sinopsis umum serial, bukan sinopsis per episode, biasanya kurang bisa mewakili jalan cerita yang akan berkembang sepanjang 10 atau 20 episode dalam satu musim penayangan.

Dan, lagi-lagi, we are living in the golden age of great storytelling on television. Setiap saluran televisi, kabel, streaming, berlomba-lomba menghamburkan uang untuk memproduksi tayangan bermutu, demi menarik penonton dan pelanggan yang rela menghabiskan uang dan waktu untuk berlangganan dan menonton serial-serial ini.

Daftar berikut terpilih dari sekitar 50 serial yang saya tonton sampai tuntas satu musim penayangannya. Masih jauh dari sekitar 400-an serial (Amerika) yang ada setiap tahunnya. Pilihannya tentu saja bersifat personal, termasuk pilihan untuk menonton serial apa. Makanya, saya ingin juga melihat serial apa saja yang teman-teman tonton dan suka. Saya yakin, list kita pasti berbeda. Rekomendasi teman-teman juga pasti berbeda.

And that’s the beauty of sharing our differences.

Sekarang, mari kita lihat pilihan serial tahun ini versi saya:

• (sebelas) • American Gods

American Gods (source: Amazon)

Setelah Hannibal usai, maka pilihan saya untuk serial yang paling stylish and stylized adalah “American Gods”. Fantasi absurd yang mungkin membutuhkan sedikit usaha ekstra untuk mencerna jalan ceritanya. Tapi “American Gods” memungkinkan kita untuk sekedar menikmati visualisasi yang mencengangkan, dan pelan-pelan, kita dibawa untuk sedikit memahami gaya penceritaannya yang tidak biasa.

• (sepuluh) • Will & Grace – Revival

Will & Grace (source: Today.com)

Saat mendengar serial ini dibangkitkan kembali, saya skeptis. Sudah lebih dari satu dekade sejak serial ini berakhir. Are the characters still the same? Thank God they are! Will, Grace, Karen, Jack masih lucu, masih cerdas, dan ini yang penting: semakin relevan.

• (sembilan) • Abstract: The Art of Design

Abstract: The Art of Design (source: Pinterest)

Di awal tahun, saya sempat kaget ada serial unik ini. Delapan episode singkat, masing-masing berdurasi sekitar 30 menit, bercerita tentang proses kreatif dan a glimpse of life dari delapan desainer dengan disiplin kerja yang berbeda-beda. Ada desainer grafis, interior desainer, desainer sepatu sampai desainer mobil. Kesamaan mereka? The light in their eyes and faces yang berbinar saat menceritakan profesi dan karya-karya mereka. It’s addictive. Membuat kita terpacu.

• (delapan) • The Keepers

The Keepers (source: tvseriesfinale.com)

Dari beberapa serial dokumenter kriminal tahun ini, “The Keepers” masih yang membuat saya takut. This is a true horror story. Cerita tentang pelecehan seksual yang dilakukan sebuah institusi keagamaan dengan pengaruh dan kekuasannya, ternyata masih, bahkan semakin menjadi-jadi sampai sekarang. Serial ini juga menunjukkan pentingnya thorough investigative report, meskipun perlu berpuluh-puluh tahun untuk menyelesaikannya.

• (tujuh) • Top of the Lake: China Girl

Top of the Lake: China Girl (source: thechristianpost.com)

Terus terang, this is a surprise pick. Serial “Top of the Lake” season 1 dibuat dengan sangat baik, sehingga susah membayangkan kalau musim penayangan selanjutnya akan bisa menyamai kualitas prima tersebut. Ternyata, menurut saya, malah ada improvement. Tidak terlalu menguji kesabaran penontonnya, malah semakin shocking and adventurous, yang rasanya tidak mungkin dibuat oleh Jane Campion. But she excels. Begitu pula dengan trio aktor dengan performa yang menakjubkan: Elisabeth Moss, Nicole Kidman, Gwendoline Christie. We root for them, we yearn for them.

• (enam) • The Marvelous Mrs. Maisel – Season 1

The Marvelous Mrs. Maisel (source: IMDB)

Dari tim pembuat “Gilmore Girls”, tidak salah kalau kita sempat merasa serial ini punya vibe mirip “Gilmore Girls”, hanya saja ber-setting New York di akhir 1950-an. Lengkap dengan dialogue bantering yang cepat, karakter perempuan yang cekatan, dan cerewet. Nyaris menjadi annoying, sampai diselamatkan oleh kehadiran Mrs. Maisel di panggung melakukan stand-up comedy routine di setiap episode. Akhirnya serial ini tidak “gengges” lagi, malah miraculously becoming lovely, and genuinely funny.

• (lima) • The Crown – Season 2

The Crown season 2 (source: tvline.com)

Serial yang sangat saya antisipasi tahun ini, and it does not disappoint. At all. Semakin berani dalam mengupas sisi kehidupan royal family yang kita belum tahu sebelumnya, dan semakin megah dalam produksinya. Dan semakin lama kita mengikuti season ini, semakin kita memahami jati diri Queen Elizabeth II yang sesungguhnya: apa yang membuat dia menjadi dirinya sekarang. This is a drama series with the most lavish royal treatment, dengan setiap episode mempunyai penceritaan kelas tinggi.

• (empat) • Stranger Things 2

Stranger Things 2 (source: Vulture.com)

Yang saya tidak antisipasi adalah serial ini menjadi serial horor. Selayaknya sekuel film atau seri, musim penayangan berikutnya sudah tidak lagi sibuk mengenalkan karakter satu per satu. Now it’s all about action, adventure, and apparently, goriness. Namun fokus ke petualangan ini tidak lantas menjadikan serial ini tidak menarik lagi. Justru sebaliknya. Keseruan petualangan fantastis “The Famous Five”, meskipun mereka sering terpisah sepanjang serial, masih sangat nikmat untuk diikuti dan ditonton sekaligus dalam satu kali putar. Sangat layak untuk menghabiskan 8 jam sekaligus.

• (tiga) • The Handmaid’s Tale – Season 1

The Handmaid’s Tale (source: godawa.com)

Bagaimana mungkin cerita tentang dystopian future yang ditulis lebih dari 30 tahun lalu, ternyata masih relevan dan mungkin bisa terjadi? Demikian dengan serial ini, yang membuat kita saat menontonnya terus berpikir, “This can happen to us anytime now.” Sangat layak meraih Emmy Awards sebagai Drama Seri Terbaik tahun ini, dan membuktikan bahwa Elisabeth Moss adalah salah satu aktris terbaik yang ada saat ini. She breathes and lives the role and elevates the series. This is her best yet.

• (dua) • BoJack Horseman – All Seasons (4)

BoJack Horseman (source: newmovies.net)

Saya baru mengetahui serial animasi ini beberapa bulan lalu. Begitu hooked dengan beberapa episode awal, langsung tancap gas menghabiskan satu season, lalu season berikutnya, dan tanpa sadar, sudah sampai empat musim penayangan. Seperti banyak serial-serial Netflix lain, it gets better by each season. Cerita tentang seorang bintang televisi 90-an yang sudah pudar popularitasnya punya banyak issues yang terkait kehidupannya. Mulai dari ageism, racism, fame, celebrity culture, sampai materialism dan politik. Mungkin inilah salah satu dari sedikit sekali serial komedi satir saat ini.

• (satu) • Master of None – Season 2

Master of None season 2 (source: screencrush.com)

Masih jadi misteri terbesar bagi saya, bagaimana Aziz Ansari membuat serial ini dengan penuh hati. Sebagai seorang imigran, dia berhak membuat serial yang memperlihatkan kemarahan, atau paling tidak, bersuara lantang mengeluarkan kritik terhadap berbagai isu sosial di Amerika Serikat. Atau bersikap sinis. Nyatanya, Aziz memilih cara untuk menyampaikan pemikiran kritisnya tentang isu rasialisme dan migran lewat komedi yang manis. Kalau Anda menyempatkan menonton serial ini, and you must, maka Anda akan setuju bahwa there is no mean bones in Aziz’s body of work here. Semuanya ditampilkan apa adanya, dan masih meninggalkan perasaan hangat di hati. Episode Thanksgiving dalam musim penayangan serial “Master of None” kali ini adalah the finest hour of television this year.

Sekarang, apa pilihan Anda?

Sepuluh Buku, Sepuluh Kutipan, Berpuluh-puluh Kali Lipat Kenangan

Book is timeless. Buat saya, ini artinya tidak perlu harus mengejar membaca buku baru yang dirilis di tahun yang sama. Masih dalam pemikiran saya juga, buku yang baik adalah buku yang menarik untuk dibaca kapan saja. Kalau perlu, lintas abad.

Buku-buku Balai Pustaka mulai saya baca waktu saya duduk di sekolah menengah. Artinya lebih dari tiga perempat abad setelah buku-buku itu diterbitkan pertama kali. Toh semuanya masih memikat untuk diikuti. Baik itu kisah pergolakan batin kakak beradik Tuti dan Maria, ataupun kisah Midun yang terus ditimpa kemalangan.

Begitu pula dengan tahun ini. Saat mulai menulis tulisan hari ini, dan melihat daftar buku yang saya baca sepanjang tahun, mendadak tersadar kalau sebagian besar buku-buku tersebut tidak dirilis tahun ini. Paling lama dirilis di awal tahun 1970. Hanya sebagian kecil yang dirilis tahun ini.

Toh 99% buku ini masih menyenangkan untuk dibaca. Baik tahun ini, tahun lalu, atau dibaca ulang di tahun-tahun yang akan datang. Book is always timeless. Rangkaian kata-kata yang diolah dan diramu menjadi cerita yang menemani kita dalam situasi apa pun, kapan pun.

Kalau tahun lalu saya merilis lima kutipan dari lima buku, maka tahun ini, dari 53 buku yang saya baca dari awal tahun sampai minggu ini, ada 10 buku yang meninggalkan kesan paling dalam. Tentu saja beserta kutipan yang membuat saya terus mengingat buku-buku tersebut. Ini dia:

The Orphan Master’s Son (penulis: Adam Johnson)

The Orphan Master’s Son (source: Goodreads)

Novel yang penceritaannya sangat epik. Begitu pula humor-humor keringnya. Kita dibawa ke dalam cerita a la petualangan James Bond, sekaligus kisah romansa a la film-film Hollywood klasik, yang semuanya berlatar belakang kehidupan di Korea Utara. It’s an eye opener of what living in North Korea is like. Dan tidak ada cara yang lebih efektif dalam menceritakannya selain dengan candaan yang miris, dan mengena.

Kutipan favorit:

“A name isn’t a person,’ Ga said. ‘Don’t ever remember someone by their name. To keep someone alive, you put them inside you, you put their face on your heart. Then, no matter where you are, they’re always with you because they’re a part of you.”

So You’ve Been Publicly Shamed (penulis: Jon Ronson)

So You’ve Been Publicly Shamed (source: Slate.com)

Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, buku ini membuat saya berpikir berkali-kali lagi sebelum menulis apapun di media sosial. Kasus-kasus pelecehan di media sosial yang diangkat di buku ini semuanya true stories. Tanpa harus menjadi paranoid, buku ini mendorong kita untuk berhati-hati. Meskipun resiko tertinggi dari kehati-hatian yang berlebih adalah, like it or not, we start losing ourselves.

Kutipan favorit:

“We’re creating a culture where people feel constantly surveilled, where people are afraid to be themselves.”

Half Broke Horses (penulis: Jeannette Walls)

Half Broke Horses (source: Amazon)

Tidak ada rencana membaca buku ini. Namun baru di halaman-halaman pertama, saya langsung terpaku. Ini adalah fictionalized true story tentang bagaimana seorang ibu membesarkan anak putrinya di tengah Great Depression di Amerika di awal tahun 1930-an, dan kecintaannya terhadap alam terbuka. Lebih menarik dari buku sebelumnya, “The Glass Castle”, yang jauh lebih populer.

Kutipan favorit:

“If you want to be reminded of the love of the Lord, just watch the sunrise.”

The Vegetarian (penulis: Han Kang)

The Vegetarian (source: tribes.org)

Seperti menonton film Korea dengan genre drama eksperimental: absurd, nyeleneh, unik dan mencekam. Penggambaran metafora tentang alam dan manusia dijabarkan dalam kalimat-kalimat singkat yang tegas. Kita seperti ikut ditelanjangi saat membacanya.

Kutipan favorit:

“Time was a wave, almost cruel in its relentlessness”

The Lost Art of Reading: Why Books Matter in a Distracted Time (penulis: David L. Ulin)

The Lost Art of Reading (source: Amazon)

Saya beli buku ini karena judulnya. Dan akhirnya memang mendapatkan apa yang dimaksud judul bukunya: opini dan analisa tentang indahnya menghabiskan waktu membaca buku. That’s it? That’s it! Bukunya kecil, tidak terlalu tipis, tapi sangat berguna sebagai a gentle reminder saat kita sudah mulai kehilangan waktu untuk membaca buku.

Kutipan favorit:

“Reading is an act of contemplation, perhaps the only act in which we allow ourselves to merge with the consciousness of another human being. We possess the books we read, animating the waiting stillness of their language, but they possess us also, filling us with thoughts and observations, asking us to make them part of ourselves.”

The Nix (penulis: Nathan Hill)

The Nix (source: Goodreads)

Tak pelak lagi, inilah buku favorit saya tahun ini. Karakter-karakter yang cerdas, tangkas, full of wit, dan sangat hidup, mengisi halaman demi halaman buku ini dengan penuh percaya diri. Meskipun mereka harus bolak-balik tersandung masalah hidup, yang membuat ceritanya terus bergulir. Ada satu halaman di buku ini yang membuat saya tertawa kencang, karena membayangkan adegan a la lawakan Srimulat kalau adegan dalam buku tersebut diterjemahkan menjadi sebuah pertunjukan. A total riot, and this book is totally hilarious!

Kutipan favorit:

“Sometimes we’re so wrapped up in our own story that we don’t see how we’re supporting characters in someone else’s.”

Ways of Seeing (penulis: John Berger)

Ways of Seeing (source: Amazon)

Buku ini pernah menjadi acuan dalam analisa seni kontemporer, terutama dalam seni rupa, baik itu lukisan, fotografi, sampai ke obyek sehari-hari. Buku ini merupakan adaptasi dari serial dokumenter di BBC pada awal tahun 1972. Melihat isinya pun, buku ini masih relevan untuk dijadikan sebagai reference guide dalam mengeksplor ideologi-ideologi yang mungkin tersimpan secara tersembunyi dalam bentuk seni yang kita lihat.

Kutipan favorit:

“To be naked is to be oneself.
To be nude is to be seen naked by others and yet not recognised for oneself.”

• The Ocean at the End of the Lane (penulis: Neil Gaiman)

The Ocean at the End of the Lane (source: Amazon)

Maaf, Neil Gaiman. You are a productive writer, but I’m not a productive reader of yours. Akhirnya ini menjadikan kesempatan untuk membaca novel Neil Gaiman sebagai sebuah event, karena belum tentu setahun sekali terjadi, dan saat selesai, ada rasa puas yang tercurah dalam hati. Demikian pula dengan novel ini. Cerita fantasi dari memori seorang pria tentang masa kecilnya menjadi bacaan yang membuat hati kita mencelos di akhir cerita.

Kutipan favorit:

“I lived in books more than I lived anywhere else.”

Fifth Avenue, 5 A.M. (penulis: Sam Wasson)

Fifth Avenue 5 A.M. (source: Amazon)

Buku ini mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi di balik layar pembuatan film Breakfast at Tiffany’s. Mulai dari mengira-ngira mood Truman Capote saat novella karyanya dibeli hak cipta adaptasi filmnya oleh Hollywood, lalu mengira-ngira perasaan hati Audrey Hepburn saat menjalani syuting film tersebut, sampai mengira-ngira efek film ini yang memang masih terasa sampai sekarang. Semuanya memang dikira-kira oleh penulis buku ini, dan hasilnya mengejutkan: each story feels so real. Salah satu surprise discoveries in literature yang pernah saya alami.

Kutipan favorit:

“We don’t want to make a movie about a hooker,” he assured her, “we want to make a movie about a dreamer of dreams.”

The Sympathizer (penulis: Viet Thanh Nguyen)

The Sympathizer (source: Goodreads)

Kalau dilihat sekilas dari tema cerita, tentang seorang penyusup di perang Vietnam yang menjadi imigran di Amerika Serikat sebelum kembali ke Vietnam untuk melawan komunis, terlihat kompleks. Padahal it’s a page-turner. Kejadian demi kejadian yang terkesan absurd malah terlihat believable, berkat kecerdikan penulis dalam memanipulasi pikiran kita: is the narrator antagonist, or protagonist, or both? Novel yang mengajak kita terus penasaran, sampai di akhir halaman.

Kutipan favorit:

“We don’t succeed or fail because of fortune or luck. We succeed because we understand the way the world works and what we have to do. We fail because others understand this better than we do.”

Happy reading!

Akhirnya, 10 Film Paling Memorable Yang Ditonton Di Bioskop di Tahun 2016

Sudah Kamis ke-4 di bulan Desember. Meskipun masih ada 10 hari lagi sampai di penghujung tahun, yang berarti masih ada film-film baru yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan, tetapi daftar tahunan ini memang lebih baik dirilis sekarang. Kalaupun ada perubahan, nanti kita akan melihat sendiri perubahannya saat Anda menerima notifikasi bahwa tulisan ini telah diperbarui.

Yang jelas, postingan ini meneruskan tradisi saya merekap “top 10 the most enjoyable cinema going experience” dalam satu tahun. Biasanya saya menulis di blog pribadi, tetapi setelah bergabung dengan Linimasa, maka saya akan meneruskan kebiasaan itu di sini.

Aturannya sederhana saja: filmnya saya tonton di bioskop. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dari minggu terakhir Desember di tahun sebelumnya sampai seminggu sebelum minggu terakhir Desember tahun ini.

Dari ratusan film yang saya tonton dalam satu tahun, terus terang saya bingung kalau ditanya filmnya bagus apa enggak. Kalau ditanya apakah saya menikmati atau tidak, maka jawabannya akan jauh lebih mudah.

Dan 10 film (plus) di sini adalah rangkuman dari sensasi itu. Ketika berada di dalam bioskop, pandangan saya hanya tertuju apa yang ada di layar. Ikut berpikir, tertawa, takut, senyum, sedih atas apa yang sedang ditonton. Ketika selesai menonton, masih memikirkan filmnya. Kadang masih berdecak kagum.

Every filmgoing experience is a very personal, subjective experience. Saya masih sangat percaya akan hal ini.
Artinya sederhana saja. Apa yang kita suka, belum tentu orang lain suka. Yang kita nikmati, belum tentu bisa dinikmati orang lain, bahkan orang yang paling dekat dengan kita.

Jadi, selamat membaca daftar di bawah.

Oh, satu lagi catatan khusus tentang tahun ini.

Ada jarak waktu yang cukup lama, selama lebih dari 6 bulan, di saat saya tidak menemukan pengalaman nonton yang menyenangkan di bioskop. Waktu itu, terakhir merasa puas menonton film di bioskop bulan Februari. Lalu kepuasan itu baru muncul lagi di bulan Agustus. Dalam jeda waktu 6 bulan antara Februari sampai Agustus itu rasanya seperti sleepwalking keluar masuk bioskop.

Film-film apa itu?

Silakan.

10. The Shallows

The Shallows
The Shallows

Inilah film yang memecah kebuntuan absennya pengalaman menonton yang menyenangkan buat saya di bioskop tahun ini. Jaraknya lebih dari 6 bulan dari film nomer satu. Indeed, it’s a pure pleasure. Sensasinya sama persis waktu menonton film Buried, yang dibintangi suami Blake Lively sendiri, yaitu Ryan Reynolds. Formula “one-person-alone-against-the-inexplicable-horror” masih bekerja dengan baik di film ini. An unexpected victory.

 

9. Room

Room
Room

By any accounts, it is a harrowing film. Namun pendekatan cerita yang tidak sensasional menjadikan film ini tidak membuat kita merasa claustrophobic. It has a very grounded storytelling, ditambah dengan penampilan gemilang ibu dan anak (Brie Larson dan Jacob Tremblay) yang membuat kita susah melupakan film ini begitu keluar dari bioskop, dan merasa lega.

 

8. The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years
The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years

Tidak banyak yang perlu saya jelaskan tentang film ini, yang tidak hanya sebuah dokumenter, tapi sebuah surat cinta terhadap The Beatles. Sudah cukup jelas penjelasan singkat di tulisan sebelumnya tentang momen musik di film sepanjang tahun ini. Lagi pula, if you can relive singing along The Beatles and watching them on big screen, then it’s already a winning experience.

 

7. Train to Busan

Train to Busan
Train to Busan

Saya jatuh cinta dengan premise film ini yang bisa dijabarkan dengan sangat mudah: kejar-kejaran zombie di dalam kereta. Sudah cukup untuk membuat penasaran. Dan hasilnya pun membuat saya seru sendirian di dalam bioskop. When put in good use, Korean dramatic storytelling clearly shows its strength. This film proves it.

 

6. Kubo and the Two Strings

Kubo and The Two Strings
Kubo and The Two Strings

Sampai pertengahan tahun ini, film animasi cantik ini masih menjadi favorit saya. Di saat langkanya cerita asli di film animasi, film ini hadir dengan cerita yang penuh percaya diri tentang anak kecil yang berjuang menyelamatkan ibunya. Sebuah petualangan seru yang ketika ditonton, it immediately puts a smile on a kid in us.

 

5. The Wailing

The Wailing
The Wailing

Pengalaman yang kontras dengan “Train to Busan”. Durasi panjang film ini (lebih dari 2,5 jam) alih-alih membosankan. Saya tegang ketakutan sepanjang film. Padahal cerita klenik dengan intrusi makhluk supernatural yang mengganggu ketenangan satu kampung adalah cerita yang sering kita dengar sehari-hari. Namun di tangan sutradara mumpuni macam Na Hong-Jin, teror ini terlihat nyata. Salah satu film terbaik tahun 2016.

 

4. Neerja

Neerja
Neerja

Meskipun cukup banyak menonton film Hindi sepanjang tahun, namun hanya ada satu tempat di daftar saya kali ini. Dan pilihannya lagi-lagu jatuh ke film yang dengan mudah kita jelaskan secara singkat: kisah nyata pramugari Pan Am asal Mumbai yang tewas saat menyelamatkan seluruh penumpang dari pembajakan pesawat. Kekhawatiran akan kemungkinan treatment cerita menjadi lebay khas Bollywood pupus saat menonton film ini. Adegan pembajakan digarap selayaknya a proper thriller. Penampilan Sonam Kapoor sebagai Neerja membuatnya naik kelas sebagai aktris. Tapi yang mencuri perhatian adalah Shabana Azmi sebagai ibu Neerja yang harus menghadapi kesedihan. Dua penampilan berkesan tahun ini yang sangat, sangat membekas di hati.

 

3. A Monster Calls

A Monster Calls
A Monster Calls

Betapa susahnya mendeskripsikan kehilangan kepada anak laki-laki yang memasuki masa pubertas. In fact, betapa susahnya mendeskripsikan emosi kepada semua anak di masa usia tanggung. Kita semua mengalami hal ini. Maka dari itu, menonton film ini tanpa terasa akan menguras air mata. Entah itu lega atau sedih, yang jelas cerita fantasi ini bisa menjadi tontonan yang mewakili saat kata-kata tidak mampu mendeskripsikan perasaan kita terhadap kehilangan. And of course, the feeling of letting go. Film yang layak, sangat layak, untuk ditonton berulang-ulang, to understand our own emotions.

 

2. Your Name

Your Name
Your Name

Jujur, pada awalnya saya skeptis dengan film ini. Apa lagi yang mau ditawarkan oleh anime Jepang dengan tema percintaan remaja? Apalagi ditambah dengan cerita tentang time traveling.
Namun keraguan saya buyar bahkan di menit-menit pertama. Saya tidak ingat lagi kapan terakhir menonton film yang membuat saya tersenyum sepanjang film. Tanpa adegan yang dibuat mengharukan, the film actually brings hope and joy. It will make you believe in falling in love all over again.

 

1. Spotlight

Spotlight
Spotlight

Begitu selesai menonton, saya perlu “melipir” untuk menenangkan diri. Sempat ada rasa marah dan muak. Apalagi ini kisah nyata. Akhirnya mau tidak mau memang kita harus menerima kenyataan bahwa “organized religion can commit organized crime”. Apapun agamanya, apapun kejahatannya. Saya menonton film ini di awal tahun 2016. Ternyata isi ceritanya relevan sepanjang tahun, bahkan mungkin sepanjang masa. Membuat miris memang. Toh film ini memang mengandalkan kekuatan cerita yang sangat, bahkan mungkin terlalu powerful. Makanya, saya lompat kegirangan di depan televisi saat film ini diganjar Oscar sebagai Film Terbaik. In a rarity, the best film is indeed an important film to tell.

Sebagai bonus, ada 5 film yang saya tonton di bioskop tahun ini yang juga berkesan, yaitu: A Copy of My Mind, Don’t Breathe, Hacksaw Ridge, Pink, dan Sully.

Lalu 5 film kontemporer lain yang tidak saya tonton di bioskop, namun tidak kalah berkesan: Born to be Blue, Creed, Grandma, Hell or High Water, dan Sing Street.

(All posters, except Your Name and Neerja, are taken from IMP Awards. Neerja poster comes from filmywave. Your Name poster comes from Quora.)

Sepuluh Serial (Televisi) Yang Paling Membuat Betah Ditonton di Tahun 2016

Tulisan “televisi” di judul memang sengaja saya taruh dalam tanda kurung. Kenapa? Karena batasan televisi saat ini sudah bukan berarti tayangan broadcast yang kita terima di kotak, atau sekarang layar tipis, yang biasanya diletakkan di ruang tamu. Kita menonton serial televisi bisa dari gawai: ponsel, tablet, laptop.

Sebelum tidur biasanya saya menonton sebentar di ponsel, lalu pause, dan aplikasi akan mengingat posisi terakhir tontonan tersebut saat saya mengaksesnya melalui televisi lewat alat bantu streaming box. Kita yang menentukan sendiri apa yang mau kita tonton, dan kapan kita mau menonton.

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Westworld.
Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Westworld.

Lalu perhatikan lagi judul tulisan yang Anda baca sekarang ini.

Sengaja saya gunakan kata “yang paling membuat betah ditonton” untuk ‘sekedar’ mengganti kata-kata ‘top 10’ atau ’10 yang terbaik’. Sebenarnya ini sempat membuat saya kepikiran. Terutama dalam menyusun daftar yang segera Anda baca.

Apa yang membuat saya memilih serial A dibanding serial B? Padahal keduanya sama-sama ditonton. Lalu kenapa serial A posisinya lebih tinggi? Lebih prestisius?

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Masters of Sex
Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Masters of Sex

Tidak gampang memang menyusun daftar seperti ini. Saat mulai menyusunnya pun, saya jadi sadar, bahwa saya menghabiskan banyak waktu untuk menonton tayangan televisi. Terlalu banyak? Bisa jadi. Apakah saya menyesal? Tidak sama sekali.

Dan di saat saya sadar bahwa saya tidak menyesali waktu yang dihabiskan untuk menonton serial-serial inilah, saya tahu bahwa serial-serial ini mempunyai kekuatan storytelling, atau bertutur cerita, yang membuat kita betah untuk mengikutinya.

Mengikuti serial televisi seperti mengundang orang masuk ke ranah pribadi kita. Ke ruang tamu kita. Ke tempat tidur kita. Kita jadi familiar dengan karakter-karakter rekaan tersebut.

Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Mom.
Serial bagus lainnya yang saya tonton, but does not make the cut here: Mom.

Jadi pada akhirnya, daftar ini hanya memuat sepuluh serial yang membuat saya senang mengikutinya. Setia menunggu setiap minggu untuk melihat kelanjutannya. Setia menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton semua episodenya. Dan semuanya diakhiri dengan senang karena telah menghabiskan waktu bersama mereka.

Silakan dibaca, dan ditonton:

10. Black Mirror – Season 3

Black Mirror
Black Mirror

I don’t know how Netflix does it, or what Netflix executives influence the series’ showrunners. Tapi musim penayangan terakhir serial “Black Mirror” tahun ini mempunyai pace yang berbeda dari dua musim sebelumnya. Masih relevan dengan situasi sekarang. Masih sesuai dengan keadaan kita sekarang yang terobsesi dengan dunia digital. Tetapi setiap episode di season 3 ini mempunyai keunikan sendiri. Dan rasanya tidak berlebihan kalau episode ke-4, “San Junipero”, is the finest hour of television this year. Siap-siap selalu bernyanyi “Heaven is a Place on Earth” sesudahnya.

 

9. Timeless – Season 1

Timeless
Timeless

Serial “Timeless” ini seperti antitesis dari kebanyakan serial serius lainnya: it is fun, fun and fun. Memang genre-nya drama. Fokusnya ke petualangan menjelajah waktu. Dan disitulah kenikmatannya: ini jenis serial old school adventure, di mana kita bisa menikmati tanpa berpikir terlalu banyak, sambil tetap mendapatkan trivial knowledge tentang sejarah dunia. Mulai dari petualangan Perang Dunia ke-2, sampai nyaris gagalnya pendaratan manusia pertama di bulan di tahun 1969. Selalu seru ditunggu setiap minggu. (Terlalu memaksakan untuk berima? Begitulah.)

 

8. Gilmore Girls: A Year in the Life

Gilmore Girls: A Year in the Life
Gilmore Girls: A Year in the Life

Enam belas tahun setelah serial “Gilmore Girls” mulai, dan sembilan tahun setelah episode terakhirnya ditayangkan, saya sangat menunggu serial cerdas ini. Karakter-karakter utamanya dibuat sangat percaya diri. Omongan mereka selalu berisi. Dan yang lebih penting, storytelling. Selalu ada cerita dari setiap karakter, terutama empat karakter utama. Menemukan mereka lagi setelah hampir satu dekade seperti menjumpai teman lama, atau saudara jauh. Mind you, saya termasuk yang tidak suka dengan ending mini seri empat episode kali ini. Namun seperti layaknya teman lama atau saudara jauh, nobody’s perfect. Nothing is. Toh itu tidak membuat kita berhenti mencintainya dan mencintai mereka. Once you love Star Hollow and its residents, you will love the city and its people forever.

 

7. Narcos – Season 2

Narcos
Narcos

Lebih brutal, lebih keras, dan lebih engaging. Setelah kita diperkenalkan dengan karakter-karakter utama di season 1 “Narcos”, maka musim penayangan kali ini lebih fokus ke usaha menangkap Pablo Escobar. Banyak adegan action yang justru memperlihatkan betapa seriusnya serial ini digarap, dan diriset dengan baik. Entah kenapa serial ini diperpanjang sampai dua musim penayangan lagi, karena kita tahu pada akhirnya bagaimana cerita ini berakhir. But hey, any surprises are always welcome.

 

6. This is Us – Season 1

This is Us
This is Us

Premis awal serial “This is Us”, yang sengaja dibuat menyesatkan kita, memang menarik. Cerita tentang enam orang yang lahir pada tanggal yang sama. Namun setelah twist cerita dibeberkan di penghujung episode pertama, pertanyaan berikutnya adalah “what’s next?”. Dan kita semakin kaget dengan twist cerita di episode-episode selanjutnya. Anehnya, semuanya dikemas dalam feel-good drama, beberapa memang sengaja dibuat untuk membuat kita merasa terharu. Toh di tengah carut marutnya dunia, serial ini berusaha untuk menjadi positif apa adanya. And yes, every hour of each week spent watching this series is a time well spent.

 

5. Veep – Season 5

Veep
Veep

Mungkin serial ini yang bikin bukan manusia. Entah bagaimana, kok ya bisa serial “Veep” ini bertambah lucu di setiap musim penayangannya. Padahal showrunner atau produser kreatif musim ini berganti orang. Dan ceritanya masih berkutat di hal yang sama. Tapi itu tidak mengurangi kelucuannya sama sekali. Malah jauh lebih gila. Julia Louis-Dreyfus memang layak diganjar Emmy Awards lima tahun berturut-turut. Tak pernah sedikit pun kita bosan melihatnya, atau melihat karakter-karakter lain yang memang kocak. Salah satu komedi terbaik yang pernah ada di televisi.

 

4. Fresh Off the Boat – Season 2 & 3

Fresh Off The Boat
Fresh Off The Boat

Finally. Akhirnya setelah mengikuti selama ini, serial “Fresh Off the Boat” baru masuk ke daftar ini sekarang. Kenapa? Karena cerita keluarga imigran asal Taiwan ini sudah menemukan akarnya, justru di Amerika. Lepas dari segala kecanggungan adaptasi budaya, keluarga Huang sekarang berusaha untuk embrace their home di Orlando. Dan masih tetap lucu. Penampilan Constance Wu tetap menjadi daya tarik utama, meskipun anak-anak yang beranjak remaja sekarang akan mulai mencuri perhatian.

 

3. The Crown

The Crown
The Crown

Serial paling indah tahun ini. Apa ya terjemahan yang paling pas untuk kata majestic? Yang jelas, kata itulah yang paling pas menggambarkan serial “The Crown” ini. Indah, dan humanis. Episode favorit saya adalah saat Ratu Elizabeth II mengakui ke tutornya bahwa dia tidak pernah mendapat formal, dan selalu merasa tertinggal dalam hal ilmu pengetahuan. Who knew?

 

2. American Crime Story: The People VS OJ Simpson

American Crime Story: The People vs OJ Simpson
American Crime Story: The People vs OJ Simpson

Meskipun tayang di awal tahun 2016, namun miniseri ini masih menyisakan kesan mendalam. “The People vs OJ Simpson” masih berkutat di teori bahwa there is always so much to tell beneath a story we already know, namun itu masih membuat kita membelalakkan mata. Ternyata banyak cerita yang belum kita tahu dari berita yang sudah kita tahu. Selain itu, rasanya tidak ada miniseri lain tahun ini dengan performa dari setiap aktor yang nyaris sempurna semuanya. The best miniseries of the year, by far.

 

1. Stranger Things

Stranger Things
Stranger Things

Saya tidak pernah menonton keseluruhan serial satu season dalam sekali tonton seharian … sampai serial ini hadir. The child in us jumps out in joy watching it. Mengambil bagian-bagian terbaik dari cerita-cerita Stephen King, film-film buatan Steven Spielberg di awal 1980-an, dan menggabungkannya menjadi satu film panjang seperti “Stranger Things” ini is nothing but genius. Kalau Anda belum menonton, then you know what to do in this holiday month.